
Dua bulan kemudian, waktu magang Tiara telah tiba. Tiara bangun pagi buta saking antusiasnya untuk mengikuti magang hari pertama. Bahkan, ia sangat semangat membangunkan Rama dengan brutal sekali agar tidak telat mengantarnya nanti.
Ti**ng tong. Ting tong. Tiba-tiba, bel rumah kediaman keluarga Rama berbunyi di pagi hari. Bu Ina yang sedang duduk di meja makan menunggu anak dan menantunya pun segera berjalan menuju pintu.
"Siapa pagi-pagi begini bertamu? Perasaan aku tak ada janji dengan siapa pun," gerutu Bu Ina pada diri sendiri.
Setelah membuka pintu, terlihatlah seorang lelaki seperti seumurannya sedang berdiri dan tersenyum ramah kepadanya. Bu Ina tak mengenali lelaki tua itu namun tetap menyilakan masuk sebagai bentuk penghormatan dan kesopanannya.
"Silakan duduk, Pak. Dengan Bapak siapa?" tanya Bu Ina ramah.
"Saya Latif. Orang tua Nafisa, teman Nak Rama," jawab lelaki tua yang bernama Latif dengan tatapan ragu.
Mendengar nama Nafisa, sontak saja raut wajah Bu Ina berubah masam karena ada rasa yang ditahan. Bu Ina tetap mencoba bersikap seramah mungkin untuk menghargai tamunya.
"Kira-kira, ada perlu apa, Pak?" tanya Bu Ina menjaga kesopanan.
"Saya ingin bertemu dengan Nak Rama. Apakah ada di rumah?" jawab Pak Latif menunduk menahan malu.
"Ada. Sebentar biar saya panggilkan," sahut Bu Ina sambil beranjak dari sofa dan berjalan ke lantai dua.
Kemudian, Bu Ina pun kembali bersama Rama dan Tiara di sampingnya. Rama segera menyalami Pak Latif dengan hormat sekaligus penasaran. Mereka berempat pun duduk di ruang tamu penuh ketegangan sehingga ruang tamu yang begitu luas terasa pengap ketika mereka bernapas.
"Maaf. Ada perlu apa dengan saya, Pak Latif?" tanya Rama seramah mungkin.
"Langsung saja ya, Rama. Maaf jika saya lancang mengatakan ini namun saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Nafisa sedang sekarat sekarang. Tak mau makan. Tak mau minum obat. Sangat terpuruk dan keadaannya semakin memburuk," ucap Pak Latif tak bisa lagi membendung air matanya.
"Inna lillaah," ucap Rama dan Bu Ina serempak, hanya Tiara yang masih diam berusaha menata hatinya karena sudah mulai menerima firasat buruk dari ucapan ayah Nafisa.
"Bagaimana bisa terjadi, Pak? Bukankah dia rajin kontrol ke dokter?" tanya Rama iba.
"Traumanya semakin menjadi-jadi sehingga membuatnya kadang menangis dan berteriak tiba-tiba. Setiap hari harus meminum obat penenang agar tak teringat dengan trauma pernikahannya dan membuatnya menangis berjam-jam. Sekarang, dia dirawat di rumah sakit karena badannya sangat lemah. Nafisa mengatakan bahwa kanker yang dideritanya tumbuh lagi dan takut umurnya tak lama lagi," jawab Pak Latif menahan kesedihan mendalam.
"Tenang saja, Pak. Untuk biaya pengobatan, semua akan saya tanggung karena memang sudah dibicarakan dengan Nafisa. Yang penting dia cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala," sahut Rama berusaha menenangkan.
__ADS_1
Bu Ina mendelik tak percaya dengan pernyataan Rama yang menanggung biaya pengobatan Nafisa. Mulutnya tiba-tiba sangat gatal untuk segera bicara empat mata dengan putranya yang sulit dipahami jalan pikirannya.
"Bukan itu maksud saya, Rama. Maaf jika saya lancang mengatakan ini. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Satu-satunya harapan Nafisa ingin menyembuhkan traumanya terhadap pernikahan dan laki-laki agar bisa lebih tenang menjalani hari-harinya yang sudah dibayangi kematian," papar Pak Latif memperihatinkan.
Kemudian, Pak Latif menunjukkan foto Nafisa yang tergolek lemah dengan wajah pucat dan semakin tirus di kamar rumah sakit. Berbagai alat medis menempel di badannya seoerti infus, oksigen, dan beberapa kabel di dadanya. Memang dangat terlihat kuyu dan sayu membuat sedih siapa pun yang melihatnya.
"Apa perlu saya carikan psikiater baru untuk menanganinya, Pak?" tanya Rama kasihan.
"Boleh. Apa pun yang terbaik tentu saya dukung. Tapi... Nafisa ingin tinggal di Jakarta," jawab Pak Latif gamam.
"Kenapa, Pak? Bukankah Nafisa yang menginginkan pengobatan di Semarang agar dekat dengan orang tuanya?" tanya Rama semakin bingung dengan pembicaraan ayah Nafisa yang sangat bertele-tele.
"Katakan secara tegas apa maksud kedatangan Pak Latif kemari?" tegas Bu Ina tak tahan dengan Pak Latif yang begitu mengulur-ulur waktu.
"Maaf. Saya ke sini ingin melamarkan Rama untuk putri saya. Saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan dia di sisa hidupnya karena satu-satunya harapan dia adalah menikah dengan Rama... Walaupun harus menjadi yang kedua. Setidaknya, bantu putri saya mewujudkan keinginannya karena saya takut jika ini adalah permintaan terakhirnya," terang Pak Latif menatap Rama penuh harap.
Tiga orang di hadapan Pak Latif pun terkejut mendengar pernyatannya yang bagai petir di siang bolong. Mereka terlihat emosi namun ekspresi yang mereka tunjukkan berbeda-beda. Bu Ina mendelikkan mata tak percaya. Rama terperangah seakan apa yang didengarnya hanya di mimpi saja. Tiara menunduk sangat dalam menahan tangisnya.
"Saya mohon Rama. Hanya kamu harapan saya satu-satunya untuk membahagiakan anak saya yang sedang sekarat. Walaupun tidak memulihkan keadaannya, setidaknya biar dia lebih semangat menjalani hidupnya," pinta Pak Latif mengesampingkan harga dirinya.
"Bapak ini bagaimana? Dulu, Anda menolak lamaran Rama mentah-mentah dan membuat anak saya hampir gila karenanya. Sekarang, malah melamar anak saya untuk menikahi putri Anda. Pak, anak saya sudah bahagia dengan istrinya," tegur Bu Ina sedikit bernada tingga karena sudah habis kesabarannya.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak tahu kalau ternyata putri saya begitu mencintai Rama. Bahkan, sampai sekarang perasannya masih sama. Jadi tolong bantu saya mewujudkan mimpi terakhir putri saya. Tidak apa walaupun hanya nikah siri dan sementara. Tak masalah jika Rama sudah tidak mencintainya. Yang penting, Nafisa bisa sembuh dari traumanya dan bisa menikah dengan Rama sehingga saya bisa tenang dapat mewujudnya mimpi satu-satunya saat ini," bujuk Pak Latif memohon.
"Saya tidak bisa, Pak. Walaupun hanya formalitas, pernikahan tetap pernikahan. Jika sudah ada akad, maka tanggung jawab saya sama saja," sanggah Rama penuh penekanan.
"Tidak usah berperan sebagai suami yang sesungguhnya. Yang penting, tolong menikahlah dengan anak saya. Kasihan dia yang sedang berjuang melawan sakit dan traumanya sendirian. Cuma Rama yang dia inginkan," desak Pak Latif pelan-pelan.
Tiba-tiba, Pak Latif beranjak dan bersujud di kaki Rama. Rama pun terentak sehingga ia segera menghindar dan membimbing Pak Latif berdiri.
"Abang, Mama, Tiara berangkat duluan ya. Takut telat kan ini hari pertama magang," cetus Tiara tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dengan ekspresi datar namun matanya menyimpan luka yang luar biasa dalamnya.
"Sayang, Abang antar ya," sahut Rama.
__ADS_1
"Nggak, Bang. Biar Pak Rahmat yang mengantar Tiara. Abang selesaikan dulu urusannya," sangkal Tiara berusaha tersenyum sebisanya namun gagal untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Ngga. Aku antar. Nanti aku pulang lagi untuk menyelesaikan ini," bujuk Rama sambil mendekati Tiara.
Tiara pun menepis tangan Rama yang hendak menyentuh bahunya. Ia menghindar karena tak ingin air matanya tumpah di sana. Bu Ina pun menatap Tiara penuh iba dan tak tahu lagi bagaimana harus menenangkan menantu kecilnya yang tentu sangat terpukul.
"Nggak, Bang. Tiara ingin sendiri dulu. Tiara harap Abang bisa mengerti," tegas Tiara tak bisa diganggu gugat.
"Tapi, Ra," cegah Rama tak diindahkan Tiara.
Tiara malah menyalami tangannya dan mencium tangannya sekilas. Kemudian, beralih mendekap Bu Ina sebentar untuk sedikit menguatkan batinnya yamg berhasil dikoyak keadaan.
"Sayang, kamu belum sarapan loh. Sarapan dulu yuk sama Mama," bujuk Bu Ina tak tahan melihat kesedihan yang menggelayut di paras menantu kesayangannya.
"Nggak, Ma. Udah siang. Takut telat. Nanti biar Tiara sarapan di sana aja," tolak Tiara sopan.
"Iya udah. Hati-hati ya, Anak Mama. Semoga magangnya dilancarkan. Mama sayang Tiara," ucap Bu Ina sambil mengusap rambut Tiara.
"Iya, Ma," jawab Tiara singkat karena sudah sangat berat menahan tangisnya.
Bu Ina dan Rama melepaskan kepergian Tiara dengan sama khawatirnya namun Tiara benar-benar sedang tidak ingin diganggu sehingga mereka hanya bisa berharap Tiara akan lekas ceria seperti biasa. Tiara melangkah gontai tak menyangka, hari pertama magangnya malah disambut dengan peristiwa yang menebas semangatnya. Rasanya ia ingin pingsan untuk melupakannya walaupun hanya sementara.
Selepas kepergian Tiara, suasana menjadi semakin tegang. Rama tak menyangka jika niat baiknya malah akan berakhir seperti ini. Sedangkan Bu Ina ingin segera melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah berpijaran di kepalanya.
"Rama, mohon dipertimbangkan. Satu bulan saja menikah dengannya. Biarkan dia merasakan kebahagiaan yang tidak bisa kami berikah kepadanya. Kalau begitu saya pamit. Ini nomor saya dan ini alamat rumah sakit Nafisa dirawat barangkali ingin memastikan kondisinya," ucap Pak Latif sambil meninggalkan secarik kertas berisi tulisan yang sudah dijelaskannya.
Selepas kepergian Pak Latif, Bu Ina menyorot Rama penuh amarah. Ya. Ini kali pertama Bu Ina sebegitu marah dan kecewa dengan putra bungsunya. Sampai bingung bagaimana menyikapi peristiwa ya menghancurkan pagi cerahnya. Rama pun sama hancurnya karena hubungannya dengan Tiara kembali carut-marut setelah satu bulan terdapat kemajuan.
"Rama, kamu keterlaluan!" sentak Bu Ina ketus dan mengangkat tangan untuk menampar putra bungsunya yang selalu disayang.
Plaaaakkkk! Tampar Bu Ina di pipi kiri Rama.
Rama hanya diam menerima tamparan Bu Ina yang baru pernah dirasakannya. Ia paham betul bahwa ini adalah tingkatan kecewa yang sudah luar biasa bagi Bu Ina. Selepas menampar Rama, Bu Ina pun memeluk putranya dengan air mata berderai-derai.
__ADS_1