Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Perdebatan Sengit


__ADS_3

"Selvi, ngapain kamu di sini?" tanya Rama selidik.


"Pak Rama sudah kenal Selvi? Bagus kalau begitu. Selvi ini sepupu sekaligus sekretaris saya yang baru," jawa Hans.


Selvi tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Tiara. Tiara berbalik menatapnya dengan biasa saja.


"Ini kopi dengan sedikit gula khusus kubuatkan untukmu," ucap Selvi sambil meletakkan secangkir kopi ke depan Rama sambil bertingkah genit.


Dasar cacing kepanasan. Uler keket. Umpat Tiara dalam hati kepada Selvi yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri.


"Terima kasih," jawab Rama dengan malas.


Ngapain ini Om-Om menanggapi. Kan jadi makin merasa bersinar ini uler keket. Omel Tiara dalam hati.


"Kok ada orang dari luar ikut dalam acara rapat ini?" sindir Selvi sambil duduk di samping Hendra.


"Dia asisten pribadiku. Pak Hans, apakah rapat sudah bisa dimulai? Sepertinya waktu sudah pukul satu," jawab Rama mengalihkan topik.


Selain karena Rama disiplin waktu, ia mengatakan itu juga karena untuk menghindari pertengkaran antara Tiara dan Selvi akan terulang. Ia tahu Selvi sangat suka memancing emosi dan terlalu menggebu-gebu jika sudah marah. Sedangkan, Tiara tidak mudah terpancing sindiran Selvi namun malah berbalik menyindir sehingga Selvi semakin hilang kendali.


"Sepertinya, kita perlu mengganti panggilan agar lebih santai. Bagaimana kalau panggil aku Hans saja dan aku panggil kamu Rama. Biar lebih akrab dan nggak terlalu formal. Aku tidak suka terlalu kaku," cetus Hans.


"Oke, Hans," jawab Rama.


"Bagaimana kalau langsung pada pokok masalahnya? Tak perlu basa-basi atau pengantar formal yang buang-buang waktu," tawar Hans santai.


"Ide bagus," sahut Rama mulai tertarik.


Hendra segera menyalakan laptop, proyektor, beserta perangkat pendukung lain yang sudah disiapkan untuk rapat tersebut. Setelah membuka power point tentang materi rapat, Hans segera berdiri sambil memegang wireless remote laser pointer.


"Tanpa dijelaskan panjang lebar tentu Anda sudah membaca surat undangan dan proposal yang sudah saya kirimkan. Di sini, saya sedang merencanakan proyek pembangunan perumahan sejumlah 1500 unit beserta infrastruktur pendukungnya yang terbagi menjadi lima kompleks di kawasan Bogor. Untuk tanah, kami sudah menemukan tiga titik strategis yang dekat dengan stasiun, tol, pusat perbelanjaan, dan pusat kesehatan juga. Untuk legalitas dan keabsahan tanah, sudah aman. Dua kompleks lainnya masih dalam proses karena lokasi yang kami survei sebelumnya ternyata tidak mendapat izin dari lingkungan setempat. Perizinan lainnya akan diurus setelah terjalin kerja sama," papar Hans sambil menunjuk satu per satu point yang dijelaskan di layar.


Rama, Bayu, dan Susan menyimak penjelasan Hans dengan seksama. Sesekali, Susan mencatat poin yang penting di notebook-nya. Sedangkan Tiara, dia sangat mengantuk mendengarkan pemaparan Hans yang seperti dongeng sebelum tidur untuknya.


"Saya mengajak Dewantara Group bergabung dengan proyek kami karena saya tahu bahwa perusahaan Anda sudah lebih dari 60 tahun berpengalaman dalam pengembangan properti di Indonesia dan telah sukses melakukan pengembangan properti mencakup perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan, dan kawasan industri jadi tidak diragukan lagi loyalitas dan kualitasnya. Kerja sama bidang properti, terlebih properti hunian, tentu memiliki pasar yang besar dan terus mencatat pertumbuhan yang positif sehingga saya optimis kerja sama ini akan saling menguntungkan," jelas Hans lebih lanjut.

__ADS_1


"Tentu, kami berkomitmen untuk bisa mengerjakan proyek ini dengan baik, berkualitas, dan tepat waktu. Bahkan, dalam pengerjaan proyek, kami selalu menggunakan bahan baku milik sendiri agar terjamin kualitasnya dan meminimalkan kecurangan dalam pengadaan bahan di lapangan. Oleh karena itu, kami tentu sangat bangga jika Dewantara Group berkenan turut mengembangkan pembangunan proyek perumahan ini. Mungkin, ada yang ingin ditanyakan dari kamu, Rama? Atau mungkin dari pegawaimu?" imbuh Hans.


"Berapa nilai investasi untuk proyek ini, Hans?" tanya Rama menginterupsi.


"Nilai investasi proyek ini mencapai lima ratus miliar rupiah," jawab Hans yakin.


"Baik. Lima ratus miliar ini untuk dua ribu rumah ya. Berarti target pasarnya kalangan menengah atau menengah ke atas ya?" tanya Rama lagi.


"Tepat sekali. Kami mengambil daerah yang dekat stasiun dan tol karena sasaran utama kami adalah orang yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Manalagi dengan adanya KRL, saya optimis akan banyak peminat karena mudah akses ke mana-mana dengan biaya terjangkau. Selain itu, hunian yang akan kami bangun terletak di dekat perkampungan yang masih asri jadi udara masih sejuk dan kualitas air juga bagus. Untuk orang yang sudah terbiasa dengan suasana Jakarta, tentu hunian strategis dengan nuansa pedesaan yang sejuk, tenang, dan biaya hidup tidak terlalu tinggi jadi kemungkinan besar akan dilirik oleh mereka," terang Hans lebih rinci.


"Nice! Menarik. Lalu, untuk share nilai investasinya bagaimana?" tanya Rama mulai antusias.


"Untuk pembagiannya, Bangun Jaya 60 persen dan Dewantara 40 persen. Bagaimana, Rama? Bisa dipertimbangkan?" tanya Hans tersenyum penuh harap.


Rama menatap Bayu, kemudian Bayu mengangguk sebagai isyarat bahwa proyek yang ditawarkan memang lumayan menjanjikan. Setelah itu, Rama beralih menatap Hans dengan senyum optimis. Rama berdiri dengan tenang.


"Deal?" ucap Rama sambil mengulurkan tangan penuh keyakinan


Hans menyambut dengan gembira. Ia berdiri sambil bertepuk tangan. Kemudian, menjabat tangan Rama dengan erat dan optimis.


Orang di sana pun bersalaman satu per satu dengan ramah, kecuali Selvi dan Tiara yang masih menabuh genderang perang.


"Pak Rama, MOU akan kami buat dalam beberapa hari ini. Setelah semua berkas dan lampiran beres, penandatanganan resmi akan kami infokan selanjutnya," ucap Hendra.


"Baik. Silakan atur saja," sahut Rama.


Kesepakatan kerja sama pun menjadi penutup rapat. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Makan siang tersebut sudah dipesan oleh Hans sebagai jamuan istimewa karena Rama bersedia memenuhi undangannya. Di sana, tersedia berbagai olahan daging, seafood, sayur, dan buah yang ditata sedemikian rupa.


Setelah makan siang selesai, mereka pun berbincang-bincang ringan untuk menunggu waktu habis sesuai jadwal pemesanan. Karakter Hans yang mudah akrab dan banyak bicara bisa lebih mencairkan suasana, meskipun Rama lebih banyak diam dan menyimak saja. Tidak hanya dengan Rama, Hans juga bisa beramah-tamah dengan karyawan Rama juga.


"Rama, aku masih belum habis pikir kamu menikah dengan gadis semuda ini. Atau memang seleramu yang imut-imut seperti ini?" canda Hans.


Rama tersenyum kecut merasa diorek privasinya. Ia memang sangat tidak nyaman dengan karakter Hans yang ceplas-ceplos, meskipun dalam hal bisnis tentu dia tidak diragukan.


"Atau mungkin dijodohkan? Tapi, sepertinya tidak mungkin. Zaman sekarang masa masih ada perjodohan," imbuh Selvi nimbrung pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Haha. Masih zaman jodoh-jodohan gitu? Kayak zaman Siti Nurbaya aja," seloroh Hans samb tertawa.


"Tapi, kalau dijodohkannya sama CEO tampan tentu cewek mana yang bisa menolak, kan? Kalaupun tidak cinta, yang penting uangnya jalan. Bisa jadi sugar dady juga kan ya lumayan," timpal Selvi semakin gila.


Tiara mendelik kesal karena muak dengan tingkah Selvi yang selalu mencari perhatian. Pura-pura lugu, tapi ternyata benalu.


"Kalau dijodohkan memang kenapa? Toh akhirnya, kita bahagia dan saling cinta," ujar Tiara yang terpaksa angkat suara karena dia semakin dipojokkan.


"Saling cinta? Kamu yakin? Sebagian besar perjodohan yang akhirnya berujung luka dan perceraian karena ternyata belum bisa berdamai dengan masa lalunya," tanya Selvi semakin meremehkan.


"Kalau begitu, berarti perjodohan kami termasuk dalam sebagian kecil," jawab Tiara emosi.


"Kamu ya. Pandai sekali bersilat lidah. Pasti kamu sangat agresif sampai Rama mau dijodohkan denganmu," ucap Selvi marah sendiri.


"Tentu. Kalau bukan karena aku pandai, mana mungkin bisa merebut hatinya. Kenapa Mbak jadi sewot sendiri? Mbak iri? Apa Mbak salah satu wanita yang terobsesi dinikahi CEO tampan, tapi belum kesampaian? Kamu cemburu aku menikah dengan mantanmu?" serang balik Tiara membuat Selvi mendelik.


"Hei. Kamu kok lancang sekali. Bisa-bisanya Rama memiliki istri anak kecil sepertimu?" tukas Selvi menunjuk-nunjuk Tiara.


"Tidak apa kecil, yang penting Bang Rama bisa menerima. Toh yang tua juga belum tentu dewasa," ejek Tiara bangga.


Orang di ruangan itu hanya diam menyimak perdebatan sengit antara Tiara dan Selvi yang ada saja topik untuk saling memojokkan. Rama hanya mendengus kesal sambil memijit pelipisnya yang tidak pening.


"Lucu juga mendengarkan perdebatan wanita berebut pria. Jadi begini jawaban teka-tekinya. Aku tidak menyangka kalian bisa seakrab itu karena Rama," sarkas Hans sambil bertepuk tangan.


Akrab? Cuih. Ini Om-Om nalarnya bagaimana? Bisa-bisanya seperti ini dibilang akrab. Umpat Tiara dalam hati.


"Rama, semoga pertengkaran dan dendam mereka tidak memengaruhi kerja sama kita ya," celetuk Hans tersenyum geli pada Rama.


"Tidak akan, Hans. Itu kan urusan mereka," sahut Rama pening mendengarkan mantan pacar dan istrinya bertengkar.


"Abang, tapi dia duluan," protes Tiara mencari pembelaan.


"Apa kamu bilang bocah? Jangan mencari pembelaan ya," teriak Selvi berdiri sangat emosi.


"Terus kenap..." suara Tiara tiba-tiba terhenti karena bibirnya sudah disumpal oleh Rama.

__ADS_1


__ADS_2