Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Cahaya di Rumah Rama


__ADS_3

"Mama," panggil Rama resah saat membuka pintu dan tak mendapati Bu Ina di ruang depan.


Tiara masih diam mengekor Rama. Ia sengaja tak bicara untuk memberi kejutan kepada Bu Ina yang begitu dirindukannya.


"Tuan, Ibu sedang istirahat di kamar. Tadi beliau demam, tapi belum mau minum obat," jawab Bi Siti yang langsung menghampiri Rama setelah mendengar panggilannya.


"Mama sakit?" tanya Tiara cemas mengintip dari balik punggung Rama.


"Non Tiara!" sebut Bi Siti terkejut sampai lupa menjawab pertanyaan Tiara.


"Iya, Bi," sahut Tiara sambil berjalan mendekati Bi Siti dan bersalaman dengannya.


"Alhamdulillah. Non udah pulang. Ibu itu kangen banget sama Non lho. Tiap hari cerita kalau rumah jadi sepi karena Non nggak pulang-pulang. Kasihan Ibu. Kayak nggak ada semangat gitu. Tuan Rio dan Non Rissa juga sibuk jadi belum bisa menyempatkan pulang katanya," kata Bi Siti mengadu penuh keibaan.


"Iya udah. Terima kasih udah nemenin Mama ya. Aku sama Abang liat Mama dulu ya," sahut Tiara terburu-buru.


"Iya, Non," timpal Bi Siti lega dan turut bahagia karena rumah itu akan kembali hidup dengan kehadiran Tiara.


Bagaimanapun, Bi Siti juga merasakan perbedaan suasana rumah semenjak kehadiran Tiara di sana. Tiara yang sangat manja malah membuat Bu Ina nampak bahagia menghadapinya karena ketiga anaknya sibuk berkarir dan mengurus rumah tangganya. Rama yang biasanya dingin dan hanya berbicara seperlunya saat bersama Bu Ina, sekarang menjadi lebih banyak bercanda dan tak sekaku sebelumnya. Bi Siti dan Pak Rahmat pun merasakan kehangatan itu karena Tiara tak segan bercanda dan bercengkerama dengan mereka sehingga suasana rumah terasa begitu cair.


Rama dan Tiara pun masuk ke kamar Bu Ina tanpa mengetuk pintu karena memang pintu tidak terkunci. Bu Ina sedang memejam pun terjaga seketika saat pintu terbuka. Ia melirik sekilas ke arah pintu dan melihat Rama yang berdiri di sana. Kemudian, dipejamkan lagi matanya yang terasa berkunang-kunang.


"Mama sakit?" tanya Rama berjalan perlahan menuju Bu Ina.


"Enggak. Cuma kecapekan aja kok, Ram," jawab Bu Ina datar.


"Mama, aku kompres mau?" tawar Tiara masuk ke kamar Bu Ina membawa semangkuk air hangat dan handuk kecil.


Mendengar suara Tiara, Bu Ina sontak membuka mata dengan berbinar dan berusaha duduk dengan susah payah sampai Rama harus berlari demi membantu mamanya. Tiara pun mempercepat langkah saat melihat Bu Ina yang berkaca-kaca sembari mengulurkan tangan untuk memeluk menantu kecilnya. Tiara meletakkan air hangat dan handuk di atas nakas, kemudian langsung meloncat ke kasur Bu Ina dengan haru biru. Bu Ina pun menyambutnya penuh suka cita sekaligus tak menyangka.


"Sayang, akhirnya kamu pulang," tangis Bu Ina memeluk erat Tiara.


"Iya, Ma. Maafin Tiara yang udah ninggalin Mama dan Bang Rama. Maaf ya, Ma," sahut Tiara tak kalah terisak.


"Mama sempat takut kalau kamu nggak akan pulang lagi. Mama kesepian nggak ada kamu, Sayang. Jangan tinggalkan Mama lagi ya," pinta Bu Ina parau dan terbata-bata.


"Insyaallah, Ma. Tiara kangen Mama," sahut Tiara membenamkan wajahnya di bahu ibu mertua tercintanya.


"Iya. Mama juga kangen Tiara. Lain kali, kalau Rama nakal bilang aja ke Mama. Jangan pergi-pergi dan bikin Mama cemas tak keruan. Kamu itu anak Mama. Mama nggak akan membeda-bedakan antara kamu dan Rama. Kalau memang Rama salah, Mama akan menegurnya," tegas Bu Ina dengan tangis yang mulai reda.


"Iya, Ma. Mama jangan sakit-sakit lagi juga ya. Aku kompres, nanti makan terus minum obat ya, Ma," pinta Tiara sambil melepas pelukan mereka.


Bu Ina pun mengangguk dan menuruti kemauan menantu kecil kesayangannya. Rama terenyuh menyaksikan kedekatan istri dan mamanya. Ia bisa merasakan kerinduan yang mereka rasakan juga. Kecemasannya terhadap Bu Ina pun berkurang karena Bu Ina terlihat lebih bugar setelah bertemu dengan Tiara.


"Abang katanya mau rapat. Mama aman sama aku kok. Tenang aja. Walaupun aku anak manja, tapi aku bisa menjaga dan merawat Mama. Sana pergi!" usir Tiara terkekeh membuat Bu Ina pun tersenyum sembari gelengkan kepala.


"Malah ngusir. Woi, dia Mamaku," protes Rama.


"Tapi, aku juga anak Mama. Iya kan, Ma?" tanya Tiara mencari pembelaan.


"Iya, Sayang," sahut Bu Ina tersenyum sambil mengusap rambut Tiara.


"Tuh, kan? Udah kerja sana! Sana rapat sama MANTAN!" suruh Tiara pura-pura sinis.


"Tuh, kan. Mulai lagi ini anak," sahut Rama berjalan mendekati Tiara dengan niat menggelitiki istrinya yang suka ceplas-ceplos itu.


Tiara pun mengetahui taktik yang disusun Rama sehingga ia bersembunyi di balik punggung Bu Ina untuk menghindari serangan dari suaminya. Bu Ina pun kembali sumringah merasakan kembali hangat candaan anak dan menantunya yang kadang seperti Tom and Jerry.

__ADS_1


"Mama, Abang nakal. Abang mau gelitikin aku," adu Tiara berlindung di belakang Bu Ina sambil menjulurkan lidah kepada Rama.


"Udah, Rama. Cukup. Kalau masih ada urusan, sana berangkat saja. Mama sudah membaik kok. Apalagi ada Tiara di sini, Mama pasti akan lekas sembuh," ucap Bu Ina berusaha menengahi mereka.


"Mama selalu aja bela Tiara. Curang. Tukang ngadu!" kilah Rama pura-pura marah.


"Biar. Wleekk," sahut Tiara melet-melet membuat Rama gemas sendiri.


"Hiss. Aku makan kamu lama-lama," timpal Rama menahan diri karena sedang ada Bu Ina.


"Udah, Rama. Sana berangkat," suruh Bu Ina.


"Iya udah, Ma. Rama berangkat deh. Ada Tiara aja, anaknya diusir," gerutu Rama sembari menyalami mamanya.


"Ayo, turun! Antar suamimu sampai depan!" suruh Rama kepada Tiara.


Kalau Sang Suami sudah bertitah, Tiara pun tak lagi bisa membantah. Walaupun dengan bibir manyun, Tiara turun dari kasur dengan wajah lesu.


"Tiara antar anak manja Mama dulu ya. Nanti Tiara akan segera kembali membawa makanan sama air kompres baru karena ini udah kurang hangat ternyata," ucap Tiara mengambil mangkuk air hangat.


"Nggak usah kompres. Mama makan sama minum obat aja cukup, Ra," sahut Bu Ina lemah lembut.


"Iya udah. Mama tunggu ya," timpal Tiara.


"Udah taruh aja," suruh Rama mengambil mangkuk dari tangan Tiara dan mengembalikannya ke atas nakas.


Tiara hanya melongo tak mengerti maksud dari sikap Rama.


"Rama berangkat dulu ya, Ma," pamit Rama dibalas dengan anggukan beserta senyum termanis Bu Ina.


Rama pun keluar dari kamar Bu Ina dengan menggandeng tangan Tiara. Bu Ina kembali berbaring dengan kepala yang terasa lebih ringan dari sebelumnya. Bukannya turun ke tangga, Rama malah menuntun Tiara menuju kamar mereka. Tiara yang berusaha mengelak ternyata kalah kuat dengan suaminya sehingga hanya bisa pasrah daripada melawan terlalu lelah.


"Sekarang, kita sudah di kamar. Berarti, aku bebas melakukan apa pun yang kumau ya?" goda Rama menatap genit istrinya yang kini didera kecemasan dan berjalan mundur menjauh dari Rama.


Rama pun mengejarnya dengan langkah perlahan namun menyita seluruh perhatian Tiara. Rama menggigit sebelah bibir dan mengerling nakal membuat jantung Tiara seakan berpacu.


"Abang, sana kerja!" desak Tiara mencoba mengalihkan perhatian Rama dengan suara bergetar.


"Abang butuh asupan Tiara dulu biar kerjanya makin semangat," timpal Rama yang tiba-tiba meraih badan mungil Tiara.


Digendongnya Tiara dan direbahkan di kasur yang beberapa minggu ini ditiduri Rama seorang diri. Rama segera mengungkung Tiara hingga badan Tiara terkunci di bawah tubuh kekar nan jangkung milik Rama. Kedua tangan Rama pun tak kalah sibuk menekan pelan tangan Tiara agar tak dapat melepaskan diri.


"Lepasin tanganku, Bang. Sakit," rengek Tiara berbohong untuk menutupi rasa groginya.


"Aku udah berkali-kali jadi korban kejahilanmu, jadi maaf kalau nggak bisa menuruti begitu saja perintahmu tanpa jaminan apa pun," sahut Rama yang menatap Tiara dengan mata berkilat penuh damba.


Sebelum Tiara menjawab, Rama melepaskan tangan Tiara dengan gerakan cepat dan kedua tangannya berganti berlabuh di samping kanan kiri kepala Tiara. Sebelum Tiara mengelak, Rama juga terlebih dahulu memagut bibir Tiara dengan lembut membuat Tiara semakin tak bisa berkutik. Kemudian, bibir itu menyusuri pipi kiri Tiara perlahan sampai berhenti di cuping telinga Tiara dengan pipi saling menempel.


"Kali ini, jangan menolak. Aku sangat menginginkanmu. Aku janji takkan berbuat lebih," bisik Rama membuat sekujur tubuh Tiara merinding.


"Abang, jangan begini," berontak Tiara menggeliat di bawah kungkungan Rama.


"Lalu, maumu bagaimana?" bisik Rama manja, "Mau begini?" tanya Rama seraya menggigit lirih telinga Tiara.


Tubuh Tiara pun bereaksi tak biasa. Tubuhnya menegang seperti tersengat aliran listrik, kemudian entah melemas, penasaran, atau terlalu pasrah menerima permainan Rama selanjutnya. Bahkan, gigitan Rama yang diulang beberapa kali berhasil meloloskan des@han Tiara yang membuat Rama sempat terdiam.


"Eeeehh, Abang geli," elak Tiara manja.

__ADS_1


"Kenapa kamu semakin menggoda, Sayang?" ucap Rama yang menjauhkan wajah dari telinga Tiara karena takut kelepasan sebelum mendapat lampu hijau dari wanitanya.


Rama pun menatap Tiara dengan mesra membuat Tiara tersipu malu namun berusaha untuk membalasnya. Tiara memainkan kancing kemeja Rama untuk meredam debaran dadanya yang seperti sedang diberondong petasan. Dengan mengerahkan sekuat tenaga, kedua tangan Tiara mengusap lembut pipi Rama membuat Rama tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Abang, selesaikan rapatnya dulu sana. Aku masih di sini nungguin Abang kok. Nggak pergi-pergi lagi," bujuk Tiara.


"Tapi, Abang masih ingin bersamamu," bantah Rama sangat manja.


"Nanti kan setelah kelar semua urusan bisa sebebasnya. Besok juga libur, jadi banyak waktu kita bersama juga," cetus Tiara memberi pengertian.


"Tapi, aku maunya sekarang," rengek Rama.


Entah mendapat keberanian dari mana, mendadak Tiara berani melingkarkan tangan di leher Rama dan menarik Rama untuk mengikis jarak di antara mereka. Tiara bahkan berani mengawali pagutan hangat mereka. Kali ini, Rama tak bermain sendirian karena Tiara sudah bisa melawan meskipun masih lembut dan malu-malu. Di dalam mulut mereka seakan sedang ada peperangan dua ular yang saling bertukar bisa dan anggur manis yang begitu memabukkan sampai keduanya benar-benar dimabuk kepayang. Bahkan, Tiara tak lagi sungkan lagi mendes@h kala tangan jahil Rama memainkan salah satu dari dua buah manis yang tersembunyi di balik bajunya.


Tiba-tiba, dering telepon Rama menjeda permainan panas mereka yang sudaj hampir naik kelas. Sekali dua kali, Rama bisa mengabaikan karena enggan mengusaikannya.


"Abang, barang kali telepon penting. Udah berkali-kali bunyi lo, Bang," bujuk Tiara mengakhiri cumbuan mesra mereka.


Tiara mengusap bibir Rama yang basah menggunakan ibu jarinya dan menatap Rama manja. Rama mendengus kesal dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas dengan tubuh masih mengungkung istrinya yang diam-diam bernapas lega.


"Halo, Ram. Kita ganti tempat pertemuan kita di ruang VVIP Golden Resto," ucap Hans di telepon.


"Oke. Terserah. Shareloc aja, Hans," sahut Rama malas karena batinnya tentu berdecak sangat kesal.


"Oke. Kita udah stay," tambah Hans membuat Rama tercengang.


"Oke," sahut Rama lesu.


Setelah Hans mematikan panggilannya, Rama melihat jam yang melingkar di tangan dan ternyata lima belas menit lagi rapat harus dimulai. Ia pun melepaskan tubuh Tiara dengan malas. Tiara pun menunjukkan senyum termanisnya agar muka sang suami tak kecut lagi.


"Abang ganti kemeja ya? Udah lecek begini," bujuk Tiara lembut.


Rama pun mengangguk patuh tanpa suara. Kemudian, Tiara segera mengambilkan kemeja baru untuk Rama dan meletakkannya di kasur. Tiara membantu melepaskan dasi dan kancing kemeja Rama. Tiara juga membantu Rama lepas-pasang kemejanya.


"Sayang," panggil Tiara membuat mata Rama membola seketika.


"Abang yang semangat kerjanya ya, aku tunggu kepulanganmu," imbuh Tiara membuat Rama berangsur melunak.


"Iya, Sayang. Tolong jagain Mama ya," sahut Rama.


"Iya. Abang hati-hati ya. Jangan nakal sama MANTAN!" tutur Tiara saat dasi Rama sudah terpasang rapi.


Rama pum sangat gemas dan menciumi dahi Tiara bertubi-tubi sampai Tiara kesal.


"Abang, udah sana berangkat!" suruh Tiara menahan bibir Rama dengan telapak tangannya.


Kemudian, Tiara memutar tubuh Rama dan mendorongnya mendekati pintu. Dengan berat hati, Rama pun terpaksa membuka kunci. Kemudian, Tiara yang memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. Saat keduanya baru selangkah keluar kamar, tiba-tiba Bu Ina sedang berjalan di depan kamar mereka. Bu Ina sampai berhenti canggung dan sangat terkejut mendapati keduanya keluar dari kamar.


"Lho, katanya mau rapat? Kok masih di sini? Kenapa kemejanya beda?" goda Bu Ina memberondong pertanyaan membuat dua sejoli mati kutu tak bisa berkata-kata.


Jedeeeerrrr!


Lidah Rama dan Tiara mendadak kelu. Bahkan, otak mereka seakan buntu tak bisa memikirkan alasan paling logis untuk menjawab pertanyaan Bu Ina. Pipi keduanya bersemu merah begitu tersipu. Mereka kira Bu Ina masih lemas dan belum bisa berjalan-jalan namun ternyata Bu Ina yang memergoki mereka keluar dari kamar. Bahkan, mereka serempak menunduk membuat kecurigaan Bu Ina semakin kuat namun membuat Bu Ina senyum-senyum sambil menggelengkan kepala.


Ayo otak. Jalanlah! Kenapa tiba-tiba kayak amnesia begini. Ronta batin Tiara.


"Kenapa? Kok diam?" ledek Bu Ina.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2