Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Enigma Arjuna


__ADS_3

"Akhirnya, aku bisa bernapas lagi," ucap Tiara saat menemani Wanda menunggu ojek online-nya datang sekaligus menunggu Rama yang tak kunjung nongol batang hidungnya.


"Memangnya, kamu dari tadi nggak bernapas? Bukankah menyenangkan dipindah di divisi lain, jadi nambah pengalaman. Aku tentu mau banget dipindah ke marketing," sahut Wanda sedikit iri.


"Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba, Pak Hadi menawari pindah ya aku tertarik dong. Kesempatan emang, kan? Tapi, setelah merasakan di sana. Gila sih ritme kerjanya. Dikejar deadline dan tugas yang aduhai. Nggak bisa santai. Kepala divisinya super duper galak, sombong, angkuh, dan menekan. Gila pokoknya, Nda. Aku doakan semoga kamu nggak merasakan di sana deh. Mending di divisi lain," terang Tiara masih memendam kekesalan selepas merasakan kerja rodi.


"Memang sih, aku dengar divisi marketing itu rumornya horor. Tapi, pengalaman bekerja di sana juga bagus banget," kata Wanda mangut-mangut.


"Iya bagus sih. Melatih mental dan berpikir cepat juga. Orangnya juga humble. Tapi, kepala divisinya aja yang rese dan bikin pening kepala. Masa aku dituduh jadi simpanan papanya. Gila kan?" decak kesal Tiara.


"Papanya?" tanya Wanda sangsi.


"Iya. Pak Hadi. Dia anak sulung Pak Hadi. Iya kali aku mau sama aki-aki. Ngadi-ngadi emang tuh orang. Iya kalaupun aku mau sama duda kan yang masih muda juga banyak, ngapain pulak sama lansia. Mana aku dituduh mau jadiin papanya sugar daddy. Dia juga memperingatkan aku untuk menolak jika Pak Hadi menembak karena tak mau punya ibu tiri sepertiku. Sinting, kan? Jadi karyawannya aja kalau nggak karena magang itu aku ogah apalagi jadi ibu tirinya. Aku masih waras kali. Yang bujang aja mau pada ngantre," jawab Tiara mengeluarkan uneg-unegnya.


Wanda terkekeh sedikit mendengar penuturan sahabatnya yang tak habis pikir sampai dituduh sebegitunya. Keirian Wanda pun mulai pudar berganti simpati karena ia sedikit memahami kekesalan Tiara.


"Kenapa dia berspekulasi seperti itu?" tanya Wanda penuh minat.


"Karena Pak Hadi memindahkan aku ke divisinya. Katanya, di divisi itu tak sembarang dan tak mudah untuk dimasuki. Dia menakut-nakuti juga kalau dipindah ke sana berarti antara Pak Hadi tertarik denganku atau kinerjaku. Mungkin juga karena kinerjaku buruk juga," sahut Tiara masih emosi.


"Kok malah jadi ngeri dengarnya. Bagaimana kalau benar-benar Pak Hadi mengincarmu untuk menjadi sugar baby?" goda Wanda mencoba meredakan emosi Tiara namun malah kian menyulutnya.


"Wanda, stop. Ke napa kamu ikut-ikutan nggak waras sih? Gila kali ya. Ogah lah," bantah Tiara marah.


"Iya aku juga melihat ada yang aneh sih jadinya. Entah ada maksud apa Pak Hadi, tapi aku yakin ada sesuatu yang terselubung dan masih ditutupi," ujar Wanda mendadak serius.


"Nda, jangan menakut-nakuti deh," rengek Tiara yang sudah malas cemas.


Wanda terkekeh menyaksikan sahabatnya sudah sangat tertunduk lesu. Sepertinya hari ini memang Tiara telah melewati hari yang berat dan penuh tekanan. Wajah sumringah yang ditunjukkannya setiap waktu, tiba-tiba redup dan tergambar betul letih di sana. Wanda pun mengusap rambut Tiara seperti seorang kakak yang begitu sayang dengan adiknya.


"Eh ojolku datang. Aku duluan ya. Nanti atau besok, ceritamu dilanjut lagi. Menarik untuk didengar," ledek Wanda membuat Tiara memanyunkan bibirnya.


Setelah Wanda berlalu, tiba-tiba sebuah mobil sport mewah berwarna putih berhenti di depannya. Tiara tak memedulikannya karena


memang belum pernah melihat sebelumnya. Ia menengok sana-sini untuk mencari keberadaan suaminya yang tak kunjung datang padahal ia sudah di sana selama lima belas menit. Biasanya, sebelum pulang pun Rama sudah menunggunya terlebih dahulu.


Pemilik mobil itu menurunkan kaca mobilnya dan melongok ke arah Tiara yang sedang duduk sendiri di halte.


"Hei!" panggil pemilik mobil itu yang ternyata adalah Arjuna.


Setelah melihat Arjuna, Tiara menunduk hormat kemudian berbalik menatap atasannya.


Haa hee haa hee. Seenak jidat aja ganti nama orang. Untung anak bos. Kalau bukan, udah kugeprek-geprek kasih cabe setan, iblis kalo bisa. Batin Tiara merutuk.


"Ada apa, Pak?" tanya Tiara sok ramah walaupun dalam hati tentu dongkol sekali.


Arjuna melambaikan tangannya memberi isyarat Tiara untuk mendekat ke mobilnya. Tiara pun menuruti dan melongok ke jendela mobil Arjuna.


"Besok ikut audit ke Bogor. Berangkat lebih pagi. Pukul tujuh harus sudah siap di sini. Kalau punya ponsel, digunakan sebaik-baiknya terlebih jika ada informasi penting. Dunia kerja itu berbeda dengan kuliah!" titah Arjuna tegas tak bisa dibantah.


Bahkan sebelum Tiara mengiyakan, Arjuna terlebih dahulu melesat dari hadapan Tiara dengan kecepatan tinggi. Sungguh, sempurna kebencian Tiara terhadap lelaki 27 tahun itu. Ia sudah berusaha seramah dan sebaik mungkin namun dibalasnya dengan angkuh dan penuh kesombongan.

__ADS_1


"Mentang-mentang punya jabatan, seenaknya aja nyuruh tanpa mengindahkan tanggapan. Dasar sombong! Nyebelin! Baru bisa menaklukkan CEO kejam, ini dapat ujian kepala divisi killer. Oh my God, apakah aku tak punya kesempatan hidup tenang?" ronta Tiara kepada diri sendiri sambil kakinya menginjak-injak bumi untuk melampiaskan kekesalannya.


"Ehem," dehem seseorang di belakang Tiara.


Sontak saja, Tiara mematung dan membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Dengan gaya anggun, dia memutar badan ke belakang dan memang suaminya sudah berdiri di sana masih dengan setelan jas lengkapnya. Hanya dasinya yang agak dilonggarkan.


"Mana CEO yang kejam?" tanya Rama menyorot galak.


"Abang lah. Siapa lagi," jawab Tiara cengengesan tanpa dosa.


Rama pun menjewer telinga Tiara dan membawa Tiara masuk mobil seperti emak-emak yang menyuruh anak bandelnya pulang untuk mandi. Tiara hanya menuruti dengan sisa kekesalan yang belum dituntaskan.


Setelah mereka berdua masuk, mobil pun melesat dengan cepat. Kali ini, Tiara merasa ada yang berbeda. Rama menjadi lebih garang dan ugal-ugalan dalam mengendarai mobilnya. Suasana di dalam mobil menjadi menyeramkan seperti akan ada pembunuhan, ya pembunuhan karakternya. Bahkan, Tiara yang mencoba membuka kata untuk menanyakan perihal keterlambatan Rama menjempunya, Rama tak menanggapi sama sekali.


Sesampainya di rumah, Tiara dan Rama membersihkan diri. Lalu, keduanya beraktivitas seperti biasa dan masih saling mendiamkan. Bu Ina hanya memerhatikan dari kejauhan sambil menggelengkan kepala karena kedua anaknya masih seperti tom and jerry versi halal.


...****************...


Selepas makan malam, Tiara menyiapkan barang-barang yang akan dibawa audit seperti laptop dengan perangkat pendukungnya dan buku catatan serta alat tulis barangkali dibutuhkan. Sebenarnya, Tiara bisa saja mengemasnya besok pagi namunia malas melihat Rama karena kesal didiamkan tanpa alasan. Setelah selesai membereskan barang bawaan, Tiara meletakkan tas itu di dalam nakas. Rama hanya memerhatikan kesibukan istrinya sambil memainkan ponsel dan menikmati segelas susu yang tadi dibuatkan Tiara.


"Tiara," panggil Rama gakak.


"Apa?" sahut Tiara ketus.


"Sini!" suruh Rama.


Tiara pun menengok ke belakang dan melirik sengit ke arah Rama. Kemudian, berdiri dan beranjak ke sofa.


"Duduk!" suruh Rama sambil memberi isyarat mata kepada Tiara agar duduk di sampingnya yang sudah merentangkan satu tangan untuk menjadi sandaran istrinya.


"Merapat!" sentak Rama sambil mendelik.


"Sini aja. Tiara dengar kok," bantah Tiara semakin badmood.


Gurat wajah Rama mengendur dan lebih rileks.


"Bisa nggak sih nurut jangan melawan terus," bujuk Rama melembutkan suara karena menyadari suasana hati istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Karena Rama menbujuk dengan lembut, Tiara terpaksa harus menurut. Ia merapatkan badan ke Rama walaupun masih memberi jarak di antara mereka. Rama pun menggeser duduknya dan mengikis jarak hingga lengan Tiara menempel di dadanya. Diusapnya mahkota Tiara.


"Kamu kenapa? Capek ya?" tanya Rama sambil mencuri kecup di pelipis Tiara.


Tiara pun melengos membuang muka.


"Capek lah. Udah di kantor dapat mentor nyebelin. Pulang-pulang didiemin suami sendiri. Abang pikir aku nggak butuh teman cerita apa? Salahku apa? Abang itu punya kepribadian ganda atau bagaimana sih? Kadang manis, kadang galak, kadang baik, kadang kejam, kadang bentak-bentak, kadang sayang-sayang, kadang perhatiannya bikin meleleh, kadang dingin dan beku seperti kulkss tiga pintu. Abang itu suka banget mempermainkan perasaan Tiara. Paham?" omel Tiara sambil melipat tangan di dada dan mendengus kasar.


"Lalu, Abang harus bagaimana, Mutiara?" tanya Rama manja sambil meletakkan dagunya di bahu Tiara dan mencium ceruk leher Tiara sekilas.


"Abang, tolong bibir dan sikapnya dijaga dulu. Nggak ngerti situasi, main nyosor aja! Tiara lagi marah ini. Jangan sampai Tiara bunuh Abang karena nambah dongkol nih," rajuk Tiara sambil menyingkirkan kepala Rama dari bahunya. Ya selain karena ia sedang jengkel, jenggot dan kumis tipis Rama sangat menggelitik kulitnya membuat dia tersengat sensasi tak biasa.


"Ya udah sini terusin marahnya. Menghadap Abang dong. Ikhlas nih kalau mau dipukul-pukul juga buat melampiaskan kemarahanmu. Mumpung Abangmu lagi baik ini," ucap Rama sambil memegang bahu Tiara dan membimbing untuk menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Melihat keseriusan dan kesungguhan di mata Rama. Tiara pun berani memukuli dada Rama dengan kepalan tangannya samb mengerang untuk melampiaskan kekesalannya.


"Hari ini, Tiara kesal banget sama mentor baru Tiara, Bang. Masa Tiara dituduh jadi simpanan Bapaknya gara-gara dipindah mendadak di divisinya. Padahal, Tiara nggak tahu. Tiba-tiba, ditawarkan ke divisi marketing kan tentu langsung setuju karena bisa mendapat pengalaman baru. Entahlah otaknya nggak beres itu orang. Masa dia bilang nggak mau punya ibu tiri sepertiku. Ya aku juga kan ogah sama bapak-bapak kali kayak udah nggak ada yang bujang aja. Punya Om-Om satu aja ngerepotinnya minta ampun," cerocos Tiara dengan wajah lucunya membuat Rama menahan gemas untuk mencium bibir lancipnya.


"Aku nggak ikut-ikutan kok kena juga," protes Rama masih menyimak.


"Udah. Abang diem dulu. Belum kelar nih!" sentak Tiara membuat Rama diam sukarela.


"Terus, Tiara langsung disuruh kerja. Namanya baru di sana kan Tiara masih belajar jadi nggak bisa kerja cepat. Berkali-kali, Tiara kena marah sama kepala divisi sombong itu. Padahal, mentor yang sebelumnya baik banget, Bang. Herannya, karyawan di sana walaupun ditekan namun mereka terlihat tenang, mungkin karena sudah terbiasa ya? Mungkin, iya. Mana Tiara diremehkan punya kemampuan apa sampai boleh masuk di divisinya lewat jalur Pak Boss. Katanya, kalau Pak Boss sampai begitu tandanya ada dua kemungkinan, yaitu pertama Pak Boss tertarik dengan kemampuan atau aku dan kedua karena kinerjaku buruk sehingga perlu diperbaiki oleh sistem kerja di divisi itu," cerocos Tiara lebih merendah.


"Pak Boss suka menggodamu?" tanya Rama selidik.


"Enggak lah. Apaan. Orang jarang juga bertemu dengan beliau," jawab Tiara meninggi lagi tak terima.


"Lalu, apa alasan Pak Boss memindahkanmu ke sana?" tanya Rama mulai merasa ada yang tak beres.


"Katanya karena kinerjaku bagus dan bisa cepat memahami serta adaptasi jadi dipindah ke divisi lain agar bisa belajar lebih banyak," sahut Tiara membusungkan dada dengan bangga namun lain halnya dengan yang ditangkap oleh otak Rama.


"Oh iya. Lalu, mobil yang tadi di depamu?" tanya Rama akhirnya mengeluarkan pertanyaannya yang dipendam sejak sore tadi.


"Nah itu orang nyebelin yang aku maksud, Bang," jawab Tiara sambil menunjuk-nunjuk udara.


"Dia mau menawari tumpangan?" tanya Rama sedikit tak suka.


"Enggak lah. Mana ada dia menawari tumpangan. Dia memberi informasi untuk menyuruhku ikut audit ke Bogor besok dan aku udah harus stay di kantor pukul tujuh. Belum juga aku jawab, dah ngacir aja tuh orang. Antar aku lebih pagi ya, Bang?" sahut Tiara lesu.


"Kamu langsung disuruh ikut audit? Kamu kan masih magang?" timpal Rama semakin tak enak hati.


"Iya di sana aku dan Wanda diperlakukan seperti karyawan full time. Nanti gaji mengikuti katanya," ucap Tiara sedikit berbinar mengingat dia digaji bekerja di saja walaupun hanya magang.


"Bagus sih sebenarnya kalau seperti itu berarti dia benar-benar mengajarimu bekerja. Manfaatkan kesempatan itu selagi ada. Ini kan udah pilihanmu ya harus bisa tanggung konsekuensinya," sahut Rama mencoba menenangkan istrinya.


"Iya sih, Bang. Ya udah deh. Abang mengizinkan aku ikut audit, kan?" rengek Tiara memohon.


"Iya boleh. Cuma satu hari, kan?" sahut Rama tersenyum.


"Nah ini. Oh iya. Ponsel mana. Ponsel. Duh," jawab Tiara rusuh sendiri sambil berdiri dan mencari ponselnya. Ia pun mengingat ponsel itu belum dikeluarkan dari tasnya. Ia segera berlutut di depan nakas dan mengambil ponsel di tasnya.


Tiara pun mengecek ponselnya sambil duduk di samping Rama. Benar saja, Arjuna sudah mengirim pesan tentang acara audit yang akan ia ikuti. Di sana tertulis bahwa acara audit dilaksanakan dalam dua hari.


"Pantesan tadi marah-marah. Dia udah kirim pesan, tapi belum aku buka. Ternyata acaranya dua hari, Bang. Boleh ya? Ini timku ada 4 orang kok dan aku ada teman cewek," bujuk Tiara tak mau melewatkan kesempatan emasnya.


"Ya udah. Janji jaga diri ya? Jangan lupa beri kabar kalau longgar," sahut Rama dengan berat hati.


"Oke, Abang. Makasih, Suamiku," ucap Tiara sambil memeluk manja suaminya.


"Boleh lihat wajah mentor yang udah membuat aku harus dipukuli istriku?" tanya Rama.


Dalam keadaan masih memeluk Rama, Tiara menyerahkan ponselnya dan menunjukkan foto profil Arjuna yang tertera di ponselnya walaupun kontak Arjuna belum disimpan olehnya.


Melihat foto profil yang ditunjukkan Tiara, Rama terkejut sampai membelalakkan mata. Bahkan, dahinya berkerut dan sejenak diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Ini namanya Arjuna?" tanya Rama dengan ekspresi yang tak dapat diterjemahkan dan enigma.


...****************...


__ADS_2