
"Aww. Pelan, Ra. Sakit!" seru Rama menahan perih.
Tiara tetap mengompres memar di sudut bibir Rama yang mulai membiru keunguan. Ia tak memedulikan rintihan Rama yang kesakitan. Setelah darah terhapus dari bibir Rama, Tiara segera mengambil salep memar dan mengoleskannya pelan-pelan. Setelah itu, ia ambil balsem di plastik yang sama karena Tiara membeli keduanya di apotek sebelum kembali ke hotel.
"Balsemnya mau aku yang olesin atau kamu sendiri?" tawar Tiara.
"Olesin aja," jawab Rama pasrah seraya membuka kemejanya.
Tiara sudah tidak kaget melihat Rama bertelanjang dada karena sudah terbiasa. Namun, ia agak panas dingin ketika harus menyentuh kulitnya. Ia usap perut Rama yang dipukul Pak Bima. Tidak ada memar ataupun bengkak, tetapi Rama mengaduh ketika agak ditekan. Tiara pun mengoleskan balsem ke area yang Rama tunjukkan. Setelah itu, Rama berbalik badan dan Tiara segera mengoleskan balsem juga ke punggungnya.
Sejenak, Tiara terhipnotis oleh tubuh kekar milih Rama. Akan tetapi, ia segera mengalihkan perhatian dengan pergi ke wastafel untuk cuci tangan. Setelah itu, ia berusaha membuang pikiran anehnya jauh-jauh..
"Abang, kok Abang diem aja dipukul bapak buncit tadi?" tanya Tiara lesu.
"Iya masa harus memukul orang tua. Nggak sopan lah," jawab Rama terkekeh mendengar panggilan bapak buncit.
"Tapi, dia kan malah memukul Abang duluan. Dia nggak sopan dan membahayakan Abang," bantah Tiara.
"Selagi bukan hal darurat, aku malas menyelesaikan masalah dengan tangan. Lagian, hal buruk itu jangan dibalas dengan keburukan juga karena malah akan memperburuk keadaan. Membela diri di depan orang yang membenci cuma buang-buang tenaga karena sekeras apa pun kita tunjukkan kebenarannya tentu ia takkan pernah percaya," sahut Rama.
Tiara mangut-mangut mendengar paparan Rama.
"Abang, aku bukan pelakor, kan?" tanya Tiara lagi.
"Bukan lah. Aku memutuskan menerima perjodohan tentu karena udah nggak ada hubungan dengan wanita lain," jawab Rama kesal.
"Kalau Abang masih pacaran dengan dia berarti Abang nggak jadi nikah sama aku dong ya? Paling nikah sama dia ya?" ucap Tiara penasaran.
"Bisa nggak sih nggak usah bahas dia. Dia cuma masa lalu. Udah fokus aja ke masa depan kita!" tutur Rama agak meninggi.
"Ya udah loh. Nggak usah pake ngegas kali, Bang. Tanya baik-baik juga. Sensi amat kayak pantat bayi," sahut Tiara.
"Kamu samain aku dengan pantat bayi?" tanya Rama tak habis pikir.
"Iya. Nggak terima? Apa mau pantat sapi?" jawab Tiara melawan.
"Terserah," ucap Rama memungkasi pembahasan yang tak penting itu.
Tiara pun rebahan dan berguling-guling di samping Rama untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia sebenarnya ingin mengganti gaun dengan baju biasa namun rasa malas telanjur mengakar dalam dirinya.
"Abang Rama," panggil Tiara mengagetkan Rama yang hampir terlelap.
"Apa?" sahut Rama malas.
"Hehe," Tiara cengengesan.
"Lapar?" tanya Rama.
"Iya. Hehe," jawab Tiara manja.
__ADS_1
"Ya udah. Pesan makan bukan senyum-senyum kurang kerjaan," suruh Rama ketus.
"Ish. Galak amat. Dasar kulkas tiga pintu," gerutu Tiara namun masih terdengar jelas oleh Rama.
"Nggak usah ngedumel. Cepat pesan kalau lapar!" desak Rama gemas.
"Mau pesen di luar apa di resto sini aja, Bang?" tanya Tiara semakin cerewet.
"Terserah," jawab Rama cuek karena mengantuk.
"Pesan resto sini aja deh. Abang mau pesan apa?" tanya Tiara lagi.
"Terserah!" jawab Rama meninggikan suaranya.
"Aih kupikir terserah hanya akan jadi senjata perempuan ternyata laki-laki juga," cetus Tiara sebal.
"Udah kalau mau pesan ya pesan aja. Aku makan apa pun yang kamu pesan. Nggak usah bawel, aku mau tidur dulu," ucap Rama memberi ultimatum.
Rama pun terpejam hingga Tiara menjadi kesepian karena tidak ada partner bertengkar. Bukannya pesan makan, Tiara malah ikut terlelap di samping Rama hingga laparnya hilang karena ketiduran.
...****************...
Rama terbangun saat merasa ada yang bergerak di ketiaknya. Ia membuka mata pelan-pelan dan melihat Tiara yang masih terpejam namun sudah mencari kehangatan. Setelah mendapat posisi nyaman di bawah ketiak Rama, Tiara pun kembali terlelap. Rama menatapnya dengan gemas dan membiarkan Tiara nyaman di sana.
Rama mengedarkan pandang ke sekitar dan tidak menemukan tanda-tanda ada makanan. Ia mendapati ponsel Tiara tergolek di atas bantal langsung menduga istrinya tertidur sebelum sempat memesan makanan. Agak lama ia menahan pegal di lengannya karena takut Tiara terbangun jika tangannya bergerak dan berpindah posisi.
Tiba-tiba, Tiara menggeliat dan membuka mata perlahan-lahan. Rama sudah bersiap-siap jika Tiara mendadak kaget dan mendorongnya lagi. Namun, Tiara malah memiringkan badan ke Rama dan satu tangannya terangkat lalu dijatuhkan di dada Rama seakan tubuhnya adalah guling.
"Belum jadi makan?" tanya Rama bisa bernapas lega karena Tiara tidak lagi mendorongnya.
"Oh iya. Aku ketiduran. Pantas aja aku bisa selemas ini," jawab Tiara sangat manja.
"Ya udah pesan makan," suruh Rama sambil memindahka posisi tangannya ditekuk ke atas dengan telapak tangan dijadikan alas kepala.
"Aku nggak punya tenaga buat memesan, Abang. Pesenin ya," pinta Tiara sambil menunjukkan puppy eyes-nya.
Rama tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah manja istrinya. Tanpa ba bi bu, ia langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping kasur dan mencari kontak resto hotel.
"Mau makan apa?" tanya Rama dengan mata fokus ke ponsel.
"Apa aja yang penting enak," jawab Tiara malas.
Saat Tiara menyadari jarinya sedang bermain di dada Rama yang tak terbalut kain apa pun, Tiara pun terhenyak dan kantuknya hilang seketika. Ia duduk di samping Rama dengan menunduk malu. Untung saja, dia tidak mendorong tubuh Rama lagi.
"Kenapa? Sudah siuman?" ledek Rama tersenyum.
"Apaan sih," sahut Tiara.
Setelah selesai memesan makanan, Rama meletakkan ponselnya di meja lagi. Ia pun menatap Tiara yang wajahnya merona malu-malu kucing.
__ADS_1
"Bilang aja ingin dimanja. Nggak apa-apa kok. Sini Om belai, Dek," goda Rama sambil merentangkan tangannya siap menerima pelukan Tiara.
Wajah Tiara semakin merah padam. Entah mengapa, ia merasa bahagia sekaligus malu luar biasa saat Rama meledeknya. Sikap Rama yang berubah-ubah membuat Tiara bisa merasakan berbagai emosi saat dekat dengannya. Kadang, jengkel. Kadang, aneh. Kadang, penasaran. Kadang, senang. Seringnya bingung dan biasa saja.
"Abang, mau kutendang?" teriak Tiara sambil melotot untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Dedek Emes jual mahal banget loh. Padahal mukanya malu-malu mau gitu. Sini mumpung Om lagi nganggur loh, Dek," canda Rama mencolek pipi Tiara.
Rama semakin senang menggoda Tiara saat melihat wajah Tiara bersemu merah. Ia terus melemparkan seloroh yang membuat Tiara semakin salah tingkah dan mati kutu.
"Dasar Om-Om Ganjen, Om-Om Genit," omel Tiara pura-pura marah.
Tiara memukul-mukul pelan dada bidang Rama untuk menetralkan jantungnya yang hampir meledak karena Rama. Rama pun sangat gemas melihat istrinya begitu salah tingkah.
"Yah salting ini bocah," ledek Rama semakin menjadi-jadi.
"Abaaaaang cukup!" rengek Tiara sudah tidak tahan dengan candaan Rama yang benar-benar membuatnya mati kutu.
Tiba-tiba, Rama bangkit dan langsung menyerang Tiara sampai Tiara jatuh terlentang di kasur. Ia mengungkung tubuh Tiara di bawah tubuhnya hingga Tiara bergeming. Tiara berusaha memberontak namun Rama malah semakin menunduk dan menindih badan Tiara.
Mata Tiara membola saat menyadari wajah Rama sudah berjarak satu jengkal dari wajahnya. Ia sangat ketakutan karena tatapan Rama seakan hendak memangsanya saat itu juga.
"Kalau begini bagaimana?" goda Rama setengah berbisik.
Entah respon apa yang ditunjukkan tubuh Tiara, ia hanya merasakan seperti ada sengatan listrik kecil di sekujur tubuh hingga membuatnya pasrah dan enggan melawan. Meskipun dalam hati ia takut setengah mati namun ia penasaran apa yang akan Rama lakukan selanjutnya. Dalam hati, ia meyakini bahwa Rama tidak akan mengingkari janji untuk tidak macam-macam tanpa persetujuan Tiara.
Kenapa malah jadi pasrah? Kalau sudah begini, aku yang mati kutu sendiri. Ini nggak bisa dibiarkan. Seluruh tubuhku udah merespon dengan baik dan aku ingin sekali menerkamnya saat ini juga. Bagaimana ini aku terperangkap permainanku sendiri. Batin Rama terguncang.
Melihat Rama yang tiba-tiba diam kebingungan, Tiara pun mendapat celah untuk menyerang balik Rama. Dendamnya harus dituntaskan saat itu juga.
"Kenapa Abang diam? Makanya jangan suka menggoda, tergoda sendiri baru tau rasa," ejek Tiara menantang.
"Eh nantangin. Kamu pikir aku nggak berani?" tanya Rama sambil menahan diri.
"Ayo ayo. Berani nggak?" tantang Tiara semakin menjadi-jadi.
Tok. Tok. Tok
Tiara dan Rama serentak menengok ke arah pintu. Tiara bisa bernapas lega. Lain halnya dengan Rama, ia mendengus kesal.
Syukurlah. Selamat aku. Batin Tiara.
Sial. Mengganggu saja. Batin Rama.
Cuupp
Satu kecupan Rama yang mendarat di kening Tiara cukup membuatnya terdiam. Rama segera meraih kemejanya dan memakai sembarang. Ia segera membuka pintu. Di sana, sudah berdiri pelayan resto dengan troli yang berisi pesanan Rama. Rama pun menyilakan pelayan itu masuk untuk menata makanannnya di meja samping televisi. Setelah menjalankan tugas, pelayan itu pamit undur diri.
Tiara melompat dari kasur dengan bahagia karena sudah terbebas dari kungkungan Rama dan tatapannya yang sangat bahaya. Menghidu aroma masakan, perut Tiara pun keroncongan.
__ADS_1
...****************...