
Tiara
Abang, hari ini aku pulang ke kos Wanda ya. Aku mau menenangkan diri dulu. Tolong jangan paksa aku pulang.
Abang🐶
Oke. Pakaianmu bagaimana?
Tiara
Tadi aku udah beli sepulang magang sama Wanda.
Abang 🐶
Oke. Makan teratur. Besok pulangnya aku jemput boleh?
Tiara
Boleh
Setelah merasa cukup membalas pesan Rama, ia pun meletakkan ponsel di meja belajar Wanda. Ia memijit keningnya yang begitu pening memikirkan kejadian pagi tadi yang membuatnya sangat terpukul. Mengizinkan Rama untuk peduli dengan penyakit Nafisa saja sudah hatinya cemas jika cinta mereka akan bersemi kembali. Apalagi ini, meminta Rama untuk menjadi menantu bahkan rela anaknya dimadu. Kenyataan semacam itu tentu terbayang pun tidak di kepalanya.
Untung, suasana hatinya yang sedang berantakan tak berpengaruh di pekerjaannya dan tetap bisa profesional menjalani magang hari pertamanya. Namun, perbedaan sikapnya yang menjadi lebih banyak murung dan diam cukup dapat terbaca oleh firasat Wanda.
"Ra? Kamu ada masalah apa?" tanya Wanda membawa segelas air putih untuk membantu menenangkan sahabatnya.
"Nggak apa kok, Nda. Hanya sedikit capek aja baru hari pertama udah banyak kerjaannya," jawab Tiara setengah bohong.
"Capekmu beda. Ini bukan Tiara yang biasanya. Kamu homesick?" tanya Wanda berusaha mencari tahu.
Tiara menggelengkan kepala dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya.
"Hei, Tiara," seru Wanda yang terkejut melihat air mata mengalir di pipi Tiara.
Wanda segera mendekat memeluk sahabatnya dengan sangat erat. Wanda ikut berkaca-kaca saat Tiara benar-benar menangis terisak tanpa suara. Sungguh, ia tak bisa membayangkan seberat apa beban Tiara hingga menangis sepilu itu. Tak hanya iba, empatinya begitu dalam mendapati sahabatnya yang selalu ceria mendadak menangis dengan nada teramat menyedihkan pun memedihkan.
"Everything will be ok, Dear. Kamu boleh menangis sekerasnya. Kamu boleh sedih. Kamu boleh kecewa. Apa pun yang sedang kamu rasakan saat ini, terima dia dan jangan ditahan bila terlalu menyakitkan. Ayo nggak apa-apa kalau mau nangis keras juga. Aku tahu apa yang sedang kamu lalui pasti sangat berat. Sabar dan kuat ya. Aku di sini akan selalu menemanimu," ucap Wanda berusaha menenangkan sahabatnya.
"Wanda," rintih Tiara pilu.
Air mata Tiara semakin deras mengalir membuat Wanda ikut menangis tersedu-sedu.
"Ada apa, Ra?" tanya Wanda masih terisak.
Tiara pun melepas pelukan Wanda dan mengajaknya duduk di kasur. Disekanya air mata dan menarik napas untuk menenangkan diri dari segala kepenatan. Tak lupa, ia pun mengusap air mata Wanda dan tersenyum kepada sang sahabat yang telah dibuat sedih oleh tangisannya.
"Aku tak tahu harus memulai dari mana. Tapi, aku mohon biar ini menjadi rahasia kita dulu. Jangan beri tahu Febi dan Nia sekali pun," pinta Tiara dengan suara parau.
"Oke. Kenapa, Ra?" tanya Wanda cemas.
"Nda. Sebenarnya, Abang yang biasa antar jemput aku itu suamiku," jawab Tiara liriih.
Wanda pun membeliak tak menduga sebelumnya. Bahkan, sikap mereka yang akhir-akhir ini terlihat lebih dekat juga tak membuatnya curiga karena merasa hal itu wajar. Wanda pun malu sendiri karena kadang ia dan sahabatnya bergunjing serta memuja-muji tentang Rama di depan Tiara.
"Sejak kapan? Kok bisa?" tanya Wanda terkejut bukan main.
__ADS_1
"Udah hampir sembilan bulan," jawab Tiara.
"Kok baru cerita?" cecar Wanda semakin penasaran.
"Iya banyak hal yang aku takutkan jadi aku masih sembunyikan dari kalian. Tapi, kupikir ini saatnya aku memberitahumu. Kita nikah karena perjodohan saat kakekku sakit dan memang sudah menjadi wasiat dari almarhum Papa Abang," jelas Tiara sambil tersengal-sengal akibat bekas tangisnya.
"Apa salahnya sih cerita? Seenggaknya kalau tahu dia suamimu, aku dan duo cerewet itu takkan bicara macam-macam soal suamimu," sesal Wanda.
"Tak masalah. Toh kalian nggak akan nekat dan membahayakan juga. Kalian kan kalau soal dia hanya besar mulut di belakang saja. Pas bertemu juga menciut paling nyalinya," sahut Tiara berusaha kembali bercanda.
"Ya aku dukung banget. Setidaknya, kamu udah nggak terobsesi dengan Kan Ken lagi. Duuh, Say. Tembok kalian terlalu tinggi. Mending yang udah jelas yang seiman aja biar mudah menentukan hubungannya mau dibawa ke mana," ujar Wanda antusias.
"Iya sih. Tapi, ya memang penyesuaiannya lumayan karena selisih umur kita jauh jadi kadang bertengkar, kadang diem-dieman. Sekarang aja udah nggak terlalu galak. Dulu, beeeeh. Luar biasa kulkas tiga pintu, sekarang dua pintu aja lumayan," sahut Tiara mulai mencair suasana hatinya.
"Udah biasa itu mah. Lalu, kenapa kamu seperti ini? Ada masalah?" tanya Wanda khawatir.
"Iya. Panjang ceritanya, tapi intinya Abang punya cinta pertama. Dia sempat dilamar Abang tapi orang tuanya menolak. Kemudian, mereka kembali bertemu saat kami mudik ke Surabaya. Cewek itu sebelumnya sudah menikah namun sudah bercerai karena ceweknya sakit-sakitan dan suaminya menikah lagi. Dia diusir keluarga suaminya karena tak bisa memberi keturunan. Lalu, kemarin ayahnya datang ke rumah untuk melamar Abang agar Abang mau menikahi anaknya yang sedang sekarat katanya. Aku nggak tahu harus bagaimana, Wanda," cerita Tiara dengan air mata kembali menyungai di pipi merahnya.
"Ada ya orang kayak gitu. Emang ayahnya nggak tahu kalau Abangmu udah beristri?" tanya Wanda mulai emosi.
"Nah itu. Tahu, Nda. Tapi ayahnya rela jika anaknya dijadikan yang kedua. Bahkan sangat mendesak walaupun pernikahan itu formalitas belaka untuk mewujudkan mimpi satu-satunya sang anak dan mengobati traumanya," jawab Tiara kembali terisak.
"Gilaaaaa! Ini edan sih. Nggak habis pikir aku. Ayahnya nggak akan kayak gitu kalau anaknya nggak bilang duluan pastinya. Tapi, aku kok merasa ada yang ganjil ya. Kamu percaya anaknya benar-benar sakit?" tanya Wanda mencoba membuka pikiran jernih Tiara.
Tiara terdiam seketika. Tangisnya mereda dan akal sehatnya kembali bekerja.
"Kalau cuma dengan alasan anak sekarat, aku pikir ayahnya nggak akan mendesak sampai sebegitunya. Nggak mungkin ayahnya bertindak sejauh itu tanpa obrolan mendalam dengan putrinya. Menurutmu make sense nggak?" tanya Wanda membantu Tiara berpikir dengan sudut pandang berbeda.
"Iya juga ya, Nda," jawab Tiara membenarkan.
"Tadi sih Abang menolak. Mama Mertua lebih-lebih. Tapi, Abang juga kelihatan agak bingung dan menimbang-nimbang," sahut Tiara bingung sendiri namun kali ini sudah lebih tenang.
Bercerita dengan Wanda memang selalu membuatnya menjadi lebih tenang karena pembawaan Wanda memang dewasa dan bisa mengayomi teman-temannya.
"Kalau Abang menolak, lalu apa yang kamu bingungkan?" tanya Wanda berusaha mengurai kerumitan pemikiran Tiara.
"Iya aku shock aja, Nda. Takut kalau tiba-tiba Abang berubah pikiran dan menerimanya. Namun, aku juga kasihan karena dari fotonya juga teman Abang itu memang memprihatinkan. Seperti tidak punya semangat hidup lagi. Kalau sampai amit-amitnya dia meninggal sebelum impiannya terwujud, memang tidak apa? Aku kasihan dengan cewek itu juga," jawab Tiara mengungkapkan sedikit demi sedikit kebimbangannya.
"Iya masalah Abang berubah pikiran kan masih dalam anganmu saja. Kamu takut Abangmu berubah pikiran, tapi kamu sendiri juga nggak konsisten. Kadang, kamu itu memang terlalu mudah kasihan sama orang, tapi suka mengabaikan perasaan dan rasa nyaman diri sendiri. Emang kamu siap berbagi suami?" tanya Wanda tidak menakut-nakuti, tapi lebih membantu Tiara untuk mengikuti kata hatinya.
"Enggak lah, Nda. Eh aku bingung juga sebenarnya," ucap Tiara meragukan jawabannya.
"Jangan bilang kamu setuju?" tanya Wanda mendelik sengit.
"Enggak sih, Nda," sahut Tiara mengusap wajahnya.
"Sih? Pakai sih? Berarti ada tapi-nya dong? Hei. Sadar, Say? Kamu itu makin ke sini makin ngelantur aja. Coba tenang dulu dan bukannya mengusir ya. Cuma, bukankah lebih baik hal ini segera didiskusikan dengan suamimu daripada kamu gila begini. Daripada kamu hanya menerka-nerka dan takut sendiri, lebih baik bicarakan empat mata dengan gamblang biar kamu juga cepat tenang. Ini maap banget loh bukan tak mau menampungmu, tapi masalah yang kamu hadapi itu perlu heart to heart dengan suami," saran Wanda tak ingin sahabatnya gegabah dan memutuskan tanpa pemikiran matang.
"Iya sih ya, Nda. Gemas sendiri, tapi nggak ada diskusi malah jadi beban pikiran tanpa solusi," sahut Tiara membenarkan saran Wanda.
"Iya itu tempe, Nona Manis. Kamu ngambek begini, nginap di sini. Besok masalah yang kamu hadapi juga masih sama saja, kan? Mau nggak mau juga harus menyelesaikannya to? Kalau begini, kamu cuma lari dari masalah bukan mengurangi masalah. Batinmu butuh penjelasan biar lebih tenang," tutur Wanda lebih membuka hati Tiara.
"Duuh. Ngomong-ngomong, thanks banget Kakak Cantikku. Akhirnya, aku batal tersesat di pikiranku sendiri," ucap Tiara kembali tersenyum lebih tulus dan guratan di wajahnya mengendur menandai suasana hati yang membaik saat ini.
"Makanya, kalau butuh cerita ya cerita aja. Semua kepala punya porsinya. Jika memang tak sanggup memendam sendirian, ya ceritakan daripada penat sendiri tapi nggak ada solusi. Udah lebih baik, kamu hubungi Abangmu atau mertuamu. Mereka pasti khawatir dengan keadaanmu," suruh Wanda seperti mendikte anak TK.
__ADS_1
"Ngusir nih?" canda Tiara.
"Aih ini bocah emang perlu digetok kepalanya kayaknya," sahut Wanda gemas.
"Iya. Iya, Wanda Sayang. Sensi amat," celetuk Tiara cengengesan.
Tiara segera meraih ponselnya dan menelepon Rama. Sambil menunggu Rama mengangkat telepon, ia pun menarik napas untuk lebih menenangkan suara dan batinnya agar tetap cool dan tak terkesan plin-plan. Tak lupa, ia mengaktifkan pengeras suara agar Wanda ikut mendengarkan.
"Halo, Ra. Ada apa?" tanya Rama di seberang sana.
"Abang lagi sibuk nggak?" tanya balik Tiara pura-pura dingin.
"Nggak ini. Habis mandi aja. Kenapa?" ucap Rama semakin penasaran.
"Abang udah makan belum?" basa-basi Tiara sambil melirik Wanda yang gemas sedari tadi dan membuat Wanda memasang wajah galak seperti akan memalak.
"Udah tadi siang. Kamu udah makan?" tanya Rama terdengar lesu dan tak bersemangat lagi.
"Belum," jawab Tiara singkat masih gengsi minta dijemput.
"Bassiiiiiiii. Nggak usah banyak cingcong. Segera cauw dari sini!" bisik Wanda ingin mencubit Tiara.
Tiara pun mencebikkan bibir.
"Makan dulu lah. Jangan buat aku khawatir. Kalau kamu begini, aku jemput sekarang malah. Akan kupaksa kamu pulang," ancam Rama membuat Tiara menatap Wanda tersenyum girang sambil menunjuk-nunjuk ponselnya.
"Ya udah kalau mau jemput ya jemput aja nggak usah pakai mengancam," sahut Tiara masih menjaga gengsinya.
"Serius?" tanya Rama dengan suara lebih bersemangat.
"Kalau kelamaan, keburu berubah pikiran," jawab Tiara sok ketus.
"Oke. Wait! Ya udah. Aku berangkat ya," tegas Rama langsung mengakhiri panggilannya.
Tiara pun tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Tinggal bilang minta jemput aja alasannya muter-muter. Emang ribet kamu tuh. Mau, tapi gengsinya tinggi," tukas Wanda gemas.
"Iya udah loh. Toh suaminya peka," sahut Tiara santai sedikit menggoda Wanda.
"Iya iya yang udah punya SUAMI. Punya SUAMI aja sombong," seloroh Wanda.
"Iya nggak apa. Seenggaknya, ada yang bisa disombongkan. Makanya, cepat cari cowok sana. Cari suami kalau perlu biar bisa sombong juga. Dokter cinta masa jomblo," balas Tiara mengatai Wanda.
"Lama-lama aku usir beneran nih anak," cetus Wanda.
Mereka berdua pun tertawa bersama. Ya candaan dan saling mengatai memang bahasa sayang mereka.
"By the way, makasih wejangannya ya Mami Wanda," ucap Tiara tulus.
"Sama-sama, Bocil Manja," sahut Wanda sambil memeluk sahabatnya, kemudian kembali berkata, "Benar kan kataku? Everything will be ok. Makanya diskusikan, jangan dipendam. Nggak harus sama aku, yang penting kamu bisa mengeluarkan penatnya."
Tiara pun mengangguk. Kemudian, ia tatap Wanda penuh terima kasih kepada sahabatnya yang selalu ada di setiap susah senangnya.
...****************...
__ADS_1