Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Bukan Lupa, tetapi Tidak Tahu Saja


__ADS_3

"Selamat datang, Anak Mama. Kangen banget setengah bulan jauh dari kamu. Rumah sepi juga," sambut Bu Ina memeluk Tiara yang baru tiba di rumah bersama Rama.


Tiara menyambut pelukan Bu Ina dengan hangat, sedangkan Rama pergi ke kamar untuk membawa barang-barang Tiara. Tiba-tiba, dua anak berusia sekitar delapan tahun berlarian mengitari mereka sedang berebut selembar kertas yang berisi gambar orang-orangan ala anak kecil. Salah satunya adalah Mahesa, anak kedua dari Rio (kakak pertama Rama). Satunya lagi adalah Sekar, anak pertama dari Rissa (kakak kedua Rama). Kemudian, menyusul seorang gadis sekitar 14 tahun, anak pertama Rio yang bernama Anjani. Setelah melihat Bu Ina dan Tiara sedang berpelukan, langkahnya tiba-tiba terhenti dan memasang muka masam. Tak lama, ia berlalu dari ruang itu dengan wajah penuh kebencian.


"Oma, Mahes merebut gambar Sekar," rengek Sekar hampir menangis dan menyerah mengejar Mahesa yang sangat aktif.


"Mahes cuma pinjam kok, Oma. Emang pelit Sekar-ung ini," bantah Mahesa balik mengejek.


Bu Ina pun melepaskan pelukannya kepada Tiara. Kemudian, ia dan Tiara pun bersama-sama menatap Mahesa dan Sekar yang sudah berdiri di depan mereka. Tatapan mereka sama-sama memohon untuk diberi pembelaan dan keadilan. Mahesa yang jahil dan Sekar yang manja memang partner yang sangat cocok untuk bertengkar dan membuat suasana menjadi gempar.


Bu Ina menatap kedua cucunya dengan senyum sangat menawan. Bahkan, tanpa sepatah kata pun bisa membuat mata kedua cucunya kembali luluh. Diusapkan kepala Mahesa dan Sekar penuh kelembutan.


"Mahesa sudah meminta izin kepada Sekar kalau mau meminjam gambarnya?" tanya Bu Ina penuh kelembutan sambil menatap mata hitam Mahesa.


"Enggak izin, Oma!" bantah Sekar menyela.


"Tapi, aku kan mau pinjam, Sekar!" bela Mahesa tak mau kalah.


"Berarti Mahesa belum izin ya?" tanya Bu Ina sembari tersenyum.


"Hehe. Belum, Oma," jawab Mahesa cengengesan.


"Kalau mengambil milik orang tanpa izin itu namanya apa ya, Mahes?" tanya Bu Ina begitu sabar.


"Mencuri, Oma. Tapi, Mahes nggak mencuri. Mahes hanya mau lihat, nanti dikembalikan kok," jawab Mahesa masih membela diri.


Tiara pun berlutut menyejajari tinggi dua anak yang sekarang sudah menjadi keponakannya. Tiara menatap mereka bergantian dengan ramah dan lembut.


"Mahesa, kalaupun nanti dikembalikan jika tidak meminta izin namanya merebut bukan meminjam. Meminjam itu boleh, tapi merebut itu perbuatan tidak baik. Coba kalau mainan kesayangan Mahesa diambil paksa oleh Sekar, bagaimana perasaan Mahesa?" tanya Tiara berusaha membantu Bu Ina untuk menengahi mereka.


"Tentu Mahes marah dan sedih, Tante " jawab Mahesa begitu polos.


"Nah, kalau barang Sekar diambil paksa oleh Mahes tentu Sekar juga merasakan hal yang sama," tutur Tiara dengan nada kanak-kanak.


"Iya, Tante," sahut Mahesa menunduk menyadari kesalahannya.


Pandangan Tiara beralih kepada Sekar yang sedari tadi diam menunggu ditanya-tanyai juga.

__ADS_1


"Sekar, kalau Mahesa meminta izin meminjam gambar Sekar. Apa Sekar akan membolehkan?" tanya Tiara sambil tersenyum.


Mendengar pertanyaan Tiara, Sekar pun antusias dan berbinar mata beningnya.


"Iya Sekar akan membolehkan kok, Tante. Tapi, Sekar mau menyelesaikan dulu gambarnya," jawab Sekar membalas senyuman Tiara juga.


"Anak baik," ucap Tiara sambil membelai lembut rambut Sekar.


Tiara kembali menatap Mahesa penuh kehangatan. Ia sangat berhati-hati dalam bertindak karena takut terjadi kesalahpahaman.


"Mahesa Sayang, sudah tahu kesalahan Mahesa?" tanya Tiara lirih dan menatap matanya penuh kasih sayang.


"Mahes merebut gambar Sekar, Tante," jawab Mahesa menyiratkan penyesalan.


"Kalau begitu, apa yang harus Mahes lakukan?" tanya Tiara lagi dengan suara manja.


"Minta maaf sama Sekar," jawab Mahesa tidak bersemangat.


"Anak pintar. Ya sudah. Lakukan," sahut Tiara tersenyum bahagia karena inilah pertama kalinya berinteraksi secara langsung dengan keluarga Rama, selain Bu Ina.


"Iya, Mahes. Makasih," sahut Sekar tersenyum menerima gambarnya yang belum selesai diwarnai.


"Bagaimana kalau kita menggambar bersama?" cetus Sekar tiba-tiba mendapat ide brilian.


"Boleh. Tante Tiara ikut juga ya?" ajak Mahesa kembali bersemangat.


"Sekar, Mahes, Tante Tiara kan baru sampai dari Surabaya. Jadi biarkan Tante istirahat dulu ya. Tante capek. Nanti main lagi setelah Tiara beristirahat," sela Bu Ina lemah lembut.


"Yaaaah," ucap kedua cucunya kompak kecewa.


"Nanti main lagi. Sekarang, Mahes dan Sekar mau bantu Oma siapkan pesta ulang tahun Om Rama nggak?" tanya Bu Ina sembari tersenyum lebar.


"Maauuuuuu! Ayo, Oma!" ucap Sekar dan Mahesa kompak lagi sambil memegang tangan Bu Ina di kanan kiri.


Tiara sangat terkejut dengan berita yang diterimanya. Untung, ia dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya sehingga tak terlihat aneg di mata Bu Ina. Iya bagaimana tidak aneh, istri sampai tidak tahu ulang tahun suaminya. Tentu sungguh keterlaluan.


"Biar Tiara bantu juga ya, Ma," tawar Tiara sambil berdiri.

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Kamu istirahat aja. Temani Rama. Barangkali, setelah denganmu, Rama bisa lebih bersemangat menyambut ulang tahun yang selalu dilupakannya. Mungkin, sengaja melupa. Lagian udah ada Risa, Rio, Kartika, Dimas, Bi Siti, Pak Rahmat, dan tiga cucu Mama yang udah membantu," sahut Bu Ina tulus dan memohon.


"Iya sudah kalau seperti itu. Tiara pamit ke kamar ya, Ma," pamit Tiara sambil sedikit membungkuk dan menunduk.


"Iya, Sayang," sahut Bu Ina sambil mengikuti tarikan kedua cucunya yang sangat bersemangat.


Tiara kembali ke kamar dengan langkah gelisah. Matanya menatap ke jalan di depan namun pikirannya ke mana-mana. Ia tak tahu harus memberikan kado apa untuk ulang tahun suaminya yang sangat mendadak. Ia pun diliputi penyesalan karena tak memerhatikan hal sepenting itu tentang suaminya.


...****************...


Sesampainya di kamar, Tiara menutup pintu dengan lemas. Rama yang sedang duduk santai sambil bermain ponsel pun bingung melihat istrinya yang tampak tak bergairah seperti kehilangan cahaya kehidupan. Badannya utuh namun matanya kosong entah sedang menatap apa.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Rama meletakkan ponselnya di meja.


Tiara tidak menyahut karena tidak mendengarkan perkataan Rama. Ia malah berjalan seperti orang linglung dan duduk di kasur mematung.


Rama sangat khawatir melihat kondisi istrinya yang seperti sedang banyak beban pikiran. Segera ia beranjak dan mendekati Tiara untuk memastikan keadaannya. Rama berlutut di depan Tiara sambil menatap matanya.


"Tiara, what's wrong?" tanya Rama akhirnya memulangkan kesadaran Tiara.


Tiara terperanjat saat melihat Rama sudah berlutut di hadapannya. Ia tak menyadari kedatangan Rama. Bahkan, ia sempat bingung bagaimana bisa sudah ada di kamar Rama.


"Tiara, jawab! Jangan bikin cemas," desak Rama sambil meraih kedua tangan Tiara dan mengecupnya secara bergantian.


"Abang kenapa nggak bilang kalau hari ini ulang tahun?" tanya Tiara dengan wajah datar masih menunjukkan kebimbangan.


"Tidak penting. Toh, setiap hari kita juga bertambah usia," jawab Rama ringan.


"Tapi, penting bagiku. Maafkan aku yang nggak tahu soal itu ya, Bang? Jadi, aku belum siapin kado apa-apa buat Abang," sesal Tiara menundukkan kepala tak berani menatap suaminya.


"Hei, Tiara. Istriku tersayang. Dengarkan baik-baik. Cukup kamu aja. Kamu itu kado terindah buat aku. Aku nggak butuh kado lainnya," tegas Rama mengeratkan genggaman tangannya kepada Tiara.


"Aku hanya butuh ini," lanjutnya sambil menunjuk dada Tiara dengan telunjuk yang hampir menyentuh salah satu sumber kehidupan anak-anaknya kelak.


Tiara pun yang hampir baper, tiba-tiba langsung membeliak karena terpecah sudah keromantisan di matanya. Ia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Rama dan menyilangkan kedua tangan di dada.


"Abang!" seru Tiara waspada.

__ADS_1


__ADS_2