
Dua hari setelah surat permohonan kerja sama Bangun Jaya Group diterima, Rama menerima undangan untuk makan siang sekaligus perkenalan mengenai kerja sama mereka. Untuk menghadiri pertemuan itu, Rama mengajak Bayu dan Susan --mungkin ditambah Tiara juga jika bersedia.
Tiara keheranan mendapati Rama bangun pagi buta. Ia nampak sibuk dengan laptop kesayangannya dengan berkas-berkas berserakan di meja. Tiara mengerjap-ngerjapkan mata untuk memastikan memang Rama sedang duduk di sofa dalam keremangan kamar.
Hoaaaam. Tiara menguap.
"Udah bangun?" tanya Rama dengan mata masih fokus ke laptopnya.
"Udah ini. Abang nggak tidur?" tanya balik Tiara.
"Udah tadi. Apa aku mengganggu tidurmu?" jawab Rama fokus.
"Enggak. Abang mau ada meeting penting ya?" sahut Tiara merem melek menahan kantuk.
"Iya," jawab Rama singkat.
"Abang nggak lupa kan hari ini aku mau mudik?" ucap Tiara sambil duduk dengan malas.
"Enggak. Tiket kita kan malam, aku meeting-nya siang kok," sahut Rama masih fokus dengan pekerjaannya.
"Sebenarnya, aku sendiri juga nggak apa-apa. Abang kan sibuk. Pasti Ayah Bunda bisa ngertiin kok," ujar Tiara.
"Enggak!" jawab Rama tegas dan singkat.
"Hiissss. Abang ketus amat," decak kesal Tiara.
"Hm..." sahut Rama Cuek.
Tiara paham jika Rama sudah bekerja, ia cenderung lebih tak acuh dengan orang maupun suasana di sekitarnya. Jika ada yang mengusik konsentrasinya, siap-siap saja mendapatkan tatapan mematikan yang jauh lebih pedas dari caci maki dan umpatan.
Tiara pun beranjak dari kasur dan berjalan menuju pintu dengan langkah gontai. Tanpa menatap, Rama menepuk tangan sekali dan naluri Tiara langsung merespon untuk berhenti. Ia sudah memegang gagang pintu namun urung membukanya dulu.
"Mau ke mana?" tanya Rama masih dengan mata tak menatap Tiara.
"Mau ambil minum sama camilan," jawab Tiara
__ADS_1
"Nyalakan lampu!" suruh Rama.
"Ih..." rajuk Tiara namun tetap menuruti Rama untuk menyalakan lampu.
"Sekalian buatkan aku kopi. Bisa tidak?" sambung Rama dengan sikap dingin.
"Kok jadi meremehkan. Kamu pikir aku sebodoh apa sampai nggak bisa membuat kopi," sungut Tiara.
"Ya udah kalau bisa nggak usah banyak bicara. Sana pergi buatkan. Kopi satu sendok teh dan gulanya setengah sendok teh aja," instruksi Rama.
"Hm..." sahut Tiara sambil membuka pintu dengan kesal.
Ia pun turun menuju dapur yang hanya didatanginya untuk mengambil minum, makan, atau sekadar meletakkan alat makan kotornya. Sesampainya di dapur, ia segera membuka rak khusus gelas dan ia mengambil salah satu yang biasa digunakan Rama. Kemudian, ia ambil kotak bening yang berisi kopi. Lalu, ia beralih ke dua wadah berisi butiran putih yang hampir mirip dan ia langsung menduga salah satunya adalah gula. Untuk memastikan, Tiara pun membuka wadah sebelah kanan dan mencicipinya. Asin. Ia pun menjulurkan lidah dan merinding setelah mencobanya sambil mengambil kotak yang satunya --yang ia yakini sebagai gula, meski bentuknya aneh lebih memanjang dan bening.
Ia mulai meracik kopi terbaik buatannya. Setelah memegang sendok teh di tangan kanan dan kiri, Tiara menyendok gula terlebih dahulu dengan tangan kanan dan sendok di tangan kiri untuk meratakan serta mengurangi kelebihan takaran. Setelah itu, ia menyendok kopi dengan sendok di tangan kanan hingga kopi menggunung.
"Satu sendok teh. Kalau menggunung begini mah bisa jadi beberapa sendok teh ya," ucap Tiara bermonolog.
Tangan kiri Tiara bekerja meratakan kopi agar sejajar dengan batas lengkuang sendok di tangan kanannya. Setelah dirasa pas, ia masukkan ke gelas dan segera mengembalikan barang yang dipakai ke tempat semula, kecuali gelas dan sendok teh di tangan kanannya. Ia sempat ragu dan takut tidak sesuai dengan yang diinginkan Rama.
Tiara pun menyakinkan diri bahwa takaran yang dibuatnya sudah sesuai instruksi Rama. Ia pun menambahkan air panas dari dispenser pelan-pelan. Setelah diaduk, ia mencium bau kopi yang menguar seperti bau kopi pada umumnya. Akhirnya, ia sangat percaya diri dan bangga bisa membuatkan kopi untuk suaminya. Meski ini pertama kalinya membuat kopi, tetapi ia yakin akan enak karena sesuai takaran Rama. Jadilah, kopi istimewa yang dibuat dengan cinta.
Eh cinta? Memang, Tiara mencintai Rama? Entahlah.
"Ayah, Bunda, anakmu sudah bisa membuat kopi," ucap Tiara pada diri sendiri dengan bangga dan tersenyum gembira.
Tiara mengambil nampan. Lalu, meletakkan segelas kopi, botol minumnya, dan satu toples kukis rasa coklat di atasnya.
"Sedang apa, Non? Pagi-pagi, sudah di dapur," tanya Bi Siti yang tiba-tiba muncul dari kamarnya yang tepat di samping dapur.
Tiara pun terlonjak lirih karena terkejut dengan suara Bi Siti. Ia pun mengusap dadanya yang berdebar sambil mengatur napas.
"Astaga. Bi Siti ngagetin aja," jawab Tiara sambil menoleh Bi Siti
"Oh maaf, Non. Saya tidak bermaksud mengagetkan," ucap Bi Siti menunduk.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Bi. Ini aku abis ambil minum sekalian bikin kopi buat Bang Rama," sahut Tiara tersenyum manis.
Bi Siti pun mengangkat wajah dan lega menatap majikan kecilnya sangat ramah padanya.
"Harusnya bangunkan saya saja biar Non nggak usah repot-repot," ujar Bi Siti.
"Alah. Cuma kopi juga, Bi. Lagian Bang Rama minta aku yang buatin bukan nyuruh buat bilang ke Bi Siti. Abang udah bilang takarannya kok," sahut Tiara penuh percaya diri.
"Oh seperti itu. Syukur deh, Non," timpal Bi Siti.
"Ya udah, Bi. Aku balik ke atas dulu ya. Selamat bekerja dan semangat ya, Bibi cantik yang paling rajin sedunia," pamit Tiara dengan sangat ceria.
"Siap, Nona manis gula-gula," jawan Bi Siti sambil tersenyum bahagia.
Setelah Tiara pergi, Bi Siti membereskan barang-barang yang digunakan Tiara. Walaupun ia kembalikan ke tempat semula namun penataannya sedikit berantakan. Ia melihat kopi, satu kotak garam, dan kotak di sampingnya sudah bergeser dari tempat semula. Ia mengernyitkan dahi, lalu menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran buruknya jauh-jauh.
Saat sampai di kamar, Tiara membuka pintu dan berjalan sangat hati-hati seperti putri Solo. Rama pun menggeser beberapa berkasnya agar Tiara bisa meletakkan nampan di sana. Setelah itu, Tiara pun duduk di samping Rama.
"Kok lama?" tanya Rama tiba-tiba.
Tiara menyipitkan mata dan melirik sinis kepada Rama yang masih mengabaikannya.
"Udah dibuatin masih protes terus," jawab Tiara ketus.
"Mana kopinya sini," suruh Rama tak mengindahkan jawaban Tiara
"Masih panas, Abang," bantah Tiara.
"Ambilkan," desak Rama.
Tangan Rama telurur menunggu Tiara mengambilkan segelas kopinya. Dengan bibir monyong-monyong seolah sedang mengomel, Tiara mengambilkan kopi Rama yang masih sedikit mengepul asapnya. Ia pun menyerahkan kopi itu kepada Rama yang masih fokus dengan layar laptopnya
Rama menerima segelas kopinya tanpa terima kasih ataupun menoleh barang sebentar saja. Ia meniup sebentar kemudian menyesapnya perlahan. Matanya tiba-tiba teralih dari layar laptop dan bola matanya berputar-putar ke sana-ke sini seolah sedang mencari cicak di dinding. Dahinya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.
"Bagaimana kopi istimewaku yang dibuat dengan sepenuh hati ini?" tanya Tiara sangat antusias.
__ADS_1
Mata Tiara membola dan penuh harap.