
Keesokan hari sekitar pukul 07.00, seorang petugas hotel mengantarkan paket kotak berhias pita berukuran 45 x 45 x 50 cm atas nama Rama Putra Dewantara. Tiara sangat antusias menerimanya dan tak sabar untuk membukanya. Ia letakkan paket di atas kasur dan ia melompat di sampingnya.
"Abang, paketnya aku buka ya!" teriak Tiara kepada Rama yang sedang mandi.
Sebelum Rama menjawab, Tiara sudah membuka ikatan pita di kotak itu seraya berkata pada diri sendiri, "Iya. Buka aja, Ra. Hihi."
Tiara pun senyum geli mendengar percakapan yang ia buat sendiri. Ia merasa heran sekaligus kagum karena paketnya dibungkus dengan kotak bagus, tentu ia pun mulai menerka-nerka apakah tokonya dekat dengan lokasi hotel atau memang Rama adalah pelanggan istimewa di sana. Dilihat dari pengemasan
Setelah kotak terbuka, Tiara membuka kotak dan ia semakin terheran-heran karena tidak hanya jaket yang ada di dalamnya. Ada dua atasan wanita, satu celana jeans panjang wanita, satu jaket panjang, satu sweater rajut, dua kaos Rama, dan dua celana jeans Rama. Yang lebih membuat Tiara melongo adalah semua pakaian dari brand internasional dan tentu mahal. Tiara juga terlahir dari keluarga yang berada meskipun tak sekaya Rama namun dia selama ini lebih suka membeli brand lokal yang kualitasnya bagus. Baginya, yang penting nyaman, simpel, dan pantas dipakai.
"Paket udah datang, Ra?" tanya Rama tiba-tiba mengagetkan lamunan Tiara.
Tiara lebih terkejut ketika Rama keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang membalut di pinggangnya. Sejenak, ia terpana saat Rama berjalan ke arahnya dengan badan masih sedikit basah dan aroma harum menguar di seluruh penjuru kamar. Namun, ia segera beralih sebelum pikiran kotornya kembali bekerja.
"Abang, ngapain pakai handuk doang ih. Pakai baju kek," ucap Tiara sambil melempar bantal ke Rama.
Tanpa sengaja, bantal yang dilempar Tiara malah mengenai simpul handuk Rama hingga handuk Rama pun melorot jatuh ke lantai bersamaan dengan bantal itu. Mereka berdua pun menahan napas dan mematung sebentar seolah waktu berhenti berputar. Keduanya sontak memucat seperti mayat.
"Abaaaaaang!" pekik Tiara sambil menangkupkan tangan ke wajahnya.
Rama pun kelabakan segera membalut pinggangnya lagi dengan handuk. Napasnya memburu hingga jantungnya berdetak semakin cepat. Ia sangat malu karena Rama junior telah terekspos di hadapan Tiara namun ia berusaha tetap terlihat tenang dan cool.
"Kamu sengaja ya?" goda Rama sambil meletakkan bantal di kasur lagi.
"Hei, jaga mulut Anda! Astaga mataku ternodai," sambat Tiara masih menutupi wajah dengan napas tidak beraturan.
Melihat sikap Tiara yang sangat malu dan ketakutan, tercetuslah di pikiran Rama untuk semakin menggoda istrinya. Tangan Rama yang dingin perlahan melepaskan tangan Tiara dari wajah. Dengan mata terpejam, muka Tiara bersemu merah entah sebab malu ataupun marah.
"Kecil-kecil sudah paham benda pusaka ya. Ternyata, nggak sepolos yang kukira. Bagaimana mau mencoba?" ledek Rama.
Tiara pun membuka mata tidak terima. Ia meradang. Ia sudah memahami trik Rama, jika didiamkan tentu godaannya akan semakin gila dan berusaha membuatnya tak berdaya. Ia tak mau ditindas lagi oleh suaminya.
"Hei, Om-Om Mesum! Benda pusaka cuma segitu saja, kamu bangga? Kamu pikir aku bisa tergoda? Helo. Jangan mimpi ya," sahut Tiara sangat menantang, meski dalam hatinya ketakutan.
"Jangan salah. Dia bisa berkembang pesat dalam hitungan kecepatan cahaya. Jangan bilang nggak tergoda dulu sebelum mencoba," sambut Rama menyeringai.
Mata Rama berkilat dan melirik Tiara penuh makna. Rama pun berjalan mendekat dengan tatapan tajam yang cukup menggempur keberanian Tiara. Tiara pun menghindar beringsut ke belakang namun gerakannya kalah cepat oleh Rama yang tiba-tiba melompat ke kasur dan membelenggu tubuhnya.
"Abang, ingat janji yang nggak akan macam-macam tanpa persetujuanku, kan?" tanya Tiara gemang.
"Salah siapa menantang," jawab Rama menyengih.
__ADS_1
Rama menggigit bibir bawahnya dengan tatapan liar. Tiara di bawah kungkungannya semakin gemetar. Tak disangka, melihat wajah Tiara yang gelisah sangat menggemaskan sekaligus membuat gerah. Bahkan, Rama junior bisa merespon dengan cepat apa yang ada di pikirannya. Ia pun terjaga dan siap melaksanakan tugasnya.
"Ampun, Abang! Aku belum siap!" ucap Tiara memohon dengan mata berkaca-kaca.
Menatap mata Tiara yang sudah menggenang, hasrat Rama pun terguncang. Ia tak tega dan segera melepaskannya, meskipun harus sedikit kecewa.
Tiara pun melepaskan diri dari Rama pelan-pelan sambil mengambil atasan berwarna milo dan celana berwarna mocca yang dibelikan Rama. Setelah turun dari kasur, ia segera berlari sambil tertawa sangat puas.
"Haha. Abang tertipu! Dasar Om-Om Mesum!" seru Tiara kegirangan.
Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Tiara berbalik badan dan menjulurkan lidah kepada Rama yang masih diam di atas kasur.
"Kali ini, kamu kulepaskan. Nanti, jangan harap aku punya pengampunan!" ancam Rama sambil tersenyum.
"Takuuuut!" ejek Tiara sambil menutup pintu kamar mandi.
Rama pun geleng-geleng kepala. Melihat keceriaan Tiara tentu sudah cukup mengobati kekecewaannya. Niat awal Rama juga tidak ke sana namun rasa itu hadir begitu saja. Untung saja masih bisa dikendalikan hingga Tiara tidak harus menjadi korban.
...****************...
Setelah Tiara keluar dari kamar mandi, Rama sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi. Tatapannya kepada Tiara begitu taksa. Ia sedang berusaha menutupi perasaannya.
Tiba-tiba, hujan turun dengan deras hingga membuat suasana di kamar Tiara dan Rama semakin sendu. Rama sibuk dengan ponsel sambil menata perasaannya yang belum bisa baik-baik saja, sedangkan Tiara sedang merias diri sambil berbantahan dengan pikirannya.
"Kemasi barang-barangmu! Bawa seperlunya untuk satu malam," perintah Rama yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Untuk apa, Bang?" tanya Tiara gamang.
"Nurut aja. Jangan banyak tanya!" jawab Rama menusuk.
Nyali Tiara pun menciut ketika kepribadian dingin Rama kembali. Ia tidak berani membantah kalau sudah begini. Ia pun memasukkan satu baju, satu celana, dan seperangkat skin care ke tas jinjing yang sudah berisi pakaian Rama.
"Yah ujan. Kita jadi pergi, Bang?" tanya Tiara mencoba mengendurkan kekakuan suasana.
"Nunggu hujan reda," jawab Rama ketus.
"Ohh," ucap Tiara membulatkan mulut.
"Ayo sarapan dulu!" ajak Rama sambil menjinjing tas yang akan dibawa di perjalanan mereka.
Tiara pun menurut dan mengekor di belakang dengan perasaan tak tentu. Ia tak tahu harus bagaimana jika Rama sudah tak kondusif seperti ini. Ia pun merutuki mulutnya yang kadang barbar dan ceplas-ceplos tak tahu suasana.
__ADS_1
Sesampainya di resto, Rama meletakkan tas jinjingnya di kursi untuk menandai tempat duduk ia dan Tiara. Setelah itu, ia berjalan menuju deretan hidangan dan hanya memesan secangkir kopi hitam tanpa gula kepada pelayan. Kemudian, duduk diam sembari menunggu pesanan diantar.
Berbeda dengan Rama, Tiara memesan scrambled eggs with roast mini potatoes karena tidak tersedia di meja prasmanan. Kemudian, ia juga mengambil salad buah dan air mineral juga. Setelah itu, ia kembali ke tempat duduk dengan gamam.
Tidak menunggu lama, secangkir kopi hitam tanpa gula dan sepiring scrambled egg pun datang dibawa dalam satu nampan. Tiara menerimanya dengan ramah, sedangkan Rama hanya diam seolah tak memedulikan.
"Abang cuma pesan kopi? Nggak pake roti gitu?" tanya Tiara.
Rama hanya mengangguk tanpa suara. Tiara pun mati kutu dibuatnya. Saat Tiara sedang menyantap makanan, tiba-tiba saja Rama menatapnya sangat dalam. Ia menjadi sungkan untuk melanjutkan makan. Tiara menyendok scrambled eggs beserta kentangnya dan mengulurkan kepada Rama.
"Abang, mau?" tawar Tiara.
Rama tersenyum sekilas dan menerima suapan Tiara. Diam-diam, Tiara merasa senang karena Rama mau menerima suapannya berarti Rama tak benar-benar marah kepadanya. Rama pun terlihat menikmati makanan yang disuapkannya.
Setelah selesai sarapan, Rama dan Tiara masih bertahan dalam diam. Tiara merasa bosan menunggu hujan yang tak kunjung reda, terlebih sikap Rama yang masih dingin membuatnya tak bisa bercanda untuk mencairkan suasana. Matanya berbinar ketika melihat pengunjung hotel berfoto di taman depan resto menggunakan payung. Ia pun menemukan cara untuk mengobati rasa jemunya.
"Abang, aku mau foto kayak gitu. Abang mau fotoin?" tanya Tiara sambil menunjuk keluar.
Rama berpikir sejenak, kemudian mengiyakan. Tiara langsung bangkit dan berjalan keluar diikuti Rama. Ia meminjam payung transparan yang disediakan di depan resto untuk berfoto dan Rama dengan sabar pun menuruti kemauannya.
(Sumber: Pinterest)
"Abang, terima kasih bajunya. Bagus ya buat foto," ucap Tiara sambil melihat hasil gambar di ponselnya.
"Syukurlah kalau kamu suka. Kalau mau belanja, kamu boleh pakai kartu yang kukasih sepuasnya. Kalau minta diantar, bilang aja biar aku cari waktunya," jawab Rama mulai hangat lagi.
"Oke, Abang. Aku mau menikmati hujan dulu boleh ya di sana. Aku bosan menunggunya. Mana nggak reda-reda," pinta Tiara dengan puppy eyes-nya.
Kalau sudah semenggemaskan itu, Rama tak bisa membantah kemauannya. Ia luluh seketika hingga tak ada pilihan selain mengiyakan.
"Jangan lama-lama, nanti masuk angin," pesan Rama dan dibalas anggukan oleh Tiara.
Rama pun memilih menunggu Tiara di depan resto sambil menyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan kebosanannya. Ia menatap Tiara yang terlihat bahagia ketika air dari ujung payung menetes ke tangannya. Mungkin terlihat sedikit kekanak-kanakan namun bisa menghibur Rama.
(Sumber: Pinterest)
...****************...
__ADS_1