
Rama menyambut Riza dan Aksa dengan tulus, sedangkan Tiara hanya duduk menunduk di kasur. Tiara begitu ketakutan melihat tatapan tajam Riza yang memojokkannya. Rama menyilakan keduanya duduk di sofa dan dia duduk di kasur di samping Tiara untuk lebih menenangkan istrinya yang seperti terguncang.
"Dari mana nih? Atau sengaja nginep sini, Mas?" tanya Rama basa-basi.
"Habis ada urusan kerja di Bandung jadi sekalian nginap dulu aja buat hiburan dan menghilangkan lelahnya. Oh iya, jangan sungkan panggil saja Aksa dan Riza. Kami lebih muda darimu, Bang" jawab Aksa.
"Oke. Kalian juga memanggilmu Rama aja," sahut Rama.
"Kenapa kalian di sini juga?" tanya Riza selidik.
"Kami habis menghadiri pernikahan di Lembang, sekalian mampir ke sini aja buat hiburan," jawab Rama santai.
"Semenjak nikah, Tiara jadi betah di Jakarta ya. Biasanya sebulan sekali menyempatkan pulang. Makasih udah bantu jagain adik kita ya, Bang Ram," celetuk Aksa mencairkan suasana.
"Iya bagaimana lagi. Aku lagi banyak tugas, Mas. Bang Rama sih beberapa kali menawari pulang, tapi aku belum bisa. Niatnya minggu depan mau pulang," jawab Tiara sedikit berbohong.
Kapan aku menawari pulang? Tatapan Rama berbicara kepada Tiara.
"Udah keenakan di sana ya? Ada yang ngurusin. Ada yang manjain. Nggak ada yang galakin kayak ini," sahut Aksa senyum-senyum sambil melirik dan berkedip ke arah Riza.
"Hihi," tawa lirih Tiara.
Tiara pun tersenyum melihat tingkah Aksa yang selalu santai dan bisa mencairkan suasana. Riza yang paham maksud Aksa hanya berdehem dan membuang muka pura-pura tidak tahu. Kemudian, ia menatap mata Rama tajam.
Visual Riza (Sumber: Pinterest)
"Ram, kamu harus menjaga Tiara lebih ketat. Dia itu anak bandel, susah dibilangin. Jangan bolehkan dia keluyuran malam-malam sendirian," tegas Riza tiba-tiba angkat suara.
"Mas, aku ini udah besar. Jangan perlakukan aku seperti anak-anak lagi," protes Tiara memohon.
"Tapi kamu memang masih anak-anak. Kamu masih harus dijaga. Masih harus diarahkan! Nggak kapok hampir dibegal?" bantah Riza emosi.
__ADS_1
"Mas Riza, yang udah lewat ya udah. Ngapain dibahas juga. Toh, sekarang aku ke mana-mana diantar Abang," bela Tiara ikut tersulut.
"Baguslah. Memang sudah seharusnya seperti itu. Dan, satu lagi. Jangan pernah lagi dekat-dekat dengan Kenzie. Kalian udah punya jalan masing-masing," sahut Riza.
"Mas, aku ini nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Ken. Apa salahnya kita masih berteman. Aku tahu batasannya. Aku tahu posisi aku sekarang. Aku tentu nggak akan macam-macam. Mas lebih baik nggak usah berlebihan deh," tampik Tiara semakin kesal.
"Sorry, aku nggak paham maksud pertengkaran ini. Sebenarnya, ini ada apa?" tanya Rama berusaha menengahi.
"Nggak tau tuh Mas Riza. Sukanya marah-marah terus kalau sama aku padahal aku nggak salah apa-apa," jawab Tiara merengut.
"Terserah kamu!" sahut Riza memungkasi pertengkaran.
Riza segera bangkit dengan tatapan mengintimidasi yang ditujukan kepada Rama dan Tiara. Tiara melengos, sedangkan Rama mengangguk sopan karena menangkap kekhawatiran di wajah Riza. Setelah itu, Riza begitu saja pergi tanpa permisi.
"Mas Riza kapan sih berubah? Masih suka ngatur aku," gerutu Tiara.
"Begini biar aku jelaskan. Kalian jangan salah paham," ucap Aksa tenang.
"Ra, asal kamu tahu ya. Segalak dan senyebelin apa pun kakakmu itu, Riza adalah orang yang paling mengkhawatirkan keadaanmu saat ini. Dari awal tahu kamu dijodohkan, dia tentu sangat menentang. Dia sangat takut kamu tertekan, apalagi umurmu masih terlalu muda untuk menjalani rumah tangga. Namun, dia bisa apa ketika kamu malah sudah menyetujuinya. Sebenarnya, kalau kamu berani menentang tentu dia akan menjadi pendukungmu di garda terdepan, termasuk aku juga sih," terang Aksa di akhir kalimatnya melirik Rama penuh makna dan tangannya mengepal di pangkuan.
Rama pun dapat menangkap keganjilan dari sikap Aksa kepadanya. Sebenarnya, tatapan matanya tak jauh beda dengan Riza namun Aksa lebih bisa menyembunyikan karena sikapnya yang cenderung lebih tenang dan tidak mudah terprovokasi. Matanya bicara lebih banyak dibanding bibirnya namun kata yang terlontar berbeda dengan yang diucapkan.
"Kami tahu, kamu melakukan ini tentu karena sayang kepada Kakek. Kami juga sangat menyayangkan kamu harus menikah dengan lelaki yang tak kamu kenal. Kakak mana yang nggak khawatir kalau adik gadisnya tersiksa dengan pernikahannya. Kakak mana yang nggak cemas bila adiknya tak bahagia dalam rumah tangganya. Kakak mana yang tak patah hati jika sampai adiknya disakiti. Ketakutan itu selalu membayang di pikiran Riza. Bahkan, hampir setiap hari dia menunggu kabarmu namun gengsi untuk menghubungi dulu," lanjut Aksa.
Tiara mulai meneteskan air mata menyadari betapa selama ini Riza begitu menyayanginya. Memang, ia akui selama ini mereka selalu bertengkar di rumah namun ia sangat menjaga adiknya di luar. Ia tak segan menghajar siapa pun yang menyakiti Tiara.
"Mas Aksa. Hiks hiks hiks," tangis Tiara pecah.
"Lanjut nggak nih?" tanya Aksa setengah bercanda.
Tiara hanya membalas dengan anggukan.
__ADS_1
"Apalagi saat tau kamu hampir dibegal karena pulang malam sendirian. Aku dan Riza tentu cemas sekaligus marah. Kami hampir pergi ke Jakarta untuk menjemputmu secara paksa kalau nggak dilarang Ayah Bunda. Membiarkan kamu pulang sendiri saja kami nggak akan tega, apalagi tahu sampai ada yang menodong dengan senjata dan melukaimu juga. Saat itu, rasanya ingin sekali kukuliti penodongnya dan lelaki yang katanya suamimu itu. Bagaimana penjagaannya sampai keadaanmu separah itu?" papar Aksa dengan tatapan penuh dendam.
"Mas Aksa, ini bukan salah Abang Rama. Dia udah berangkat jemput aku, tapi aku yang bandel dan tetap nekat pulang sendiri. Dia malah yang menolongku," sanggah Tiara meluruskan perkara.
"Berhenti membelanya. Kamu boleh cinta, tapi jangan buta. Bedakan mana yang peduli karena sayang dan mana yang peduli karena kewajiban. Melindungimu memang sudah menjadi tugasnya. Jadi kalau dia melakukannya, itu bukan lagi menjadi hal yang istimewa namun memang itulah tanggung jawabnya," bantah Aksa.
"Mas, tolong. Jangan ikut berlebihan seperti Mas Riza. Namanya musibah kan nggak ada yang tau. Toh, Tiara juga baik-baik saja sampai sekarang," sahut Tiara menenangkan kakaknya.
"Kami nggak berlebihan, Ra. Kami begitu karena kami sangat menyayangimu. Ini alasan mengapa kami sulit memercayai kamu bersama lelaki lain karena belum tentu ada yang setulus kamu dalam menjagamu," jelas Aksa.
Sebelum Tiara menimpali ucapan Aksa, Rama lebih dulu menepuk pahanya sebagai penanda menyuruhnya dia.
"Sa, terserah. Mau percaya atau enggak kamu ke aku, semua nggak akan mengubah takdir kalau Tiara adalah istriku. Jadi, berhenti terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga kami. Tenang saja. Selama masih dalam jangkauanku, selalu kuupayakan yang terbaik untuknya," tegas Rama menahan amarahnya.
Rama merasa kesal karena dipermalukan sekaligus diremehkan di depan istrinya namun ia berusaha menahan diri. Bagaimanapun, Tiara adalah kakak sepupu Tiara. Tak nyaman dan tak pantas juga bermasalah dengannya.
"Oke. Baguslah kalau begitu. Mekipun kami lebih muda darimu, kami nggak akan takut bertindak lebih jika sampai Tiara kenapa-napa. Camkan itu! Permisi. Selamat malam dan beristirahat!" ucap Aksa dengan suara agak meninggi dan beranjak keluar dari kamar.
Selepas kepergian Aksa, Rama dan Tiara sibuk dengan pikiran masing-masing. Rama masih mengepalkan tangan antara marah dengan diri sendiri dan marah kepada kedua kakak Tiara. Ia marah pada diri sendiri mengingat kejadian pembegalan yang menimpa Tiara dan marah kepada dua kakak Tiara karena harga dirinya benar-benar dilukai.
"Abang, jangan terlalu dipikirkan kata-kata Mas Riza dan Mas Aksa. Mereka memang suka berlebihan kalau soal aku jadi jangan diambil hati," ucap Tiara sambil mengusap bahu Rama.
Rama pun menghembuskan napas pelan-pelan untuk menenangkan diri. Suasana hatinya terasa lebih baik. Ia akhirnya bisa memaklumi karena Tiara cucu perempuan satu-satunya jadi dijaga dengan ekstra.
"Meskipun, selamanya kamu adalah adik mereka namun kamu sudah menjadi istriku. Kamu adalah pakaianku dan aku adalah pakaianmu. Kita harus bisa saling menutupi aib dan kekurangan masing-masing. Sebesar apa pun masalah kita, jangan sampai keluar dulu sebelum kita cari bersama solusinya," tegas Rama memperingatkan.
"Iya, Abang," sahut Tiara patuh.
"Soal kakakmu. Aku mungkin akan lebih tegas jika sikap mereka masih seperti itu," ujar Rama.
Tiara menjawab dengan anggukan.
...****************...
__ADS_1