Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Siapa, Bang? Mantanmu Lagi?


__ADS_3

Di sana, Susan menjerit lirih dan menutup mata karena malu melihatnya. Bayu pun menunduk dan menyesal karena matanya harus ternodai untuk kedua kali. Sedangkan Hans dan Hendra hanya senyum-senyum dan geleng kepala. Selvilah yang paling tercengang sekaligus patah hati karena melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Rama mencium Tiara.


Rama tidak tahu harus bagaimana membuat mereka diam, akhirnya satu-satunya cara yang ada di kepalanya hanya menyumpal bibir Tiara dengan bibirnya. Menggertak saja tidak lantas membuat mereka takut, malah semakin tertantang untuk melanjutkan perang. Benar saja, Tiara dan Selvi akhirnya sama-sama diam walaupun ruangan menjadi hening dan penghuninya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Maafkan jika kesan pertama pertemuan ini tidak mengenakkan, Hans. Semoga pertemuan selanjutnya bisa lebih baik lagi. Karena keadaan sudah tidak kondusif, lebih baik aku pamit bersama rekan-rekan ya, Hans. Maaf. Kami duluan. Terima kasih atas kerja sama dan perjamuannya," pamit Rama buru-buru.


"Oke, Ram. Aku mengerti. Hati-hati di jalan kalian," sahut Hans tetap ramah.


Selepas kepergian Rama dan rekannya, Hans menyorot Selvi dengan tatapan tajam. Ekspresinya berubah total menjadi garang.


"Kamu itu kenapa bikin masalah? Kamu sendiri yang merekomendasikan perusahaan Rama, tapi kamu juga yang membuat masalah dengan mereka. Please! Kalau ada dendam pribadi, aku mohon jangan dibawa-bawa di pekerjaan. Jangan sampai dendammu itu menghancurkan reputasiku. Bersikap profesional. Nggak akan ada kesempatan kedua," ancam Hans tegas.


"Iya aku kesal saja dengan Rama yang tidak profesional. Di rapat sepenting seperti, kenapa dia membawa pelakor itu? Sangat tidak profesional. Kenapa kamu malah membelanya? Kamu tertarik dengannya?" bantah Selvi masih dikuasai kemarahannya.


"Bukan membela, tapi memang kamu yang menyulutnya. Padahal selama rapat juga dia diam. Tak mengganggu jalannya. Wajarlah Rama membawanya kan memang aku tak mengharuskan dia membawa siapa saja. Lagian, kamu ngapain cemburu? Rama udah jadi suami orang," sahut Hans mencoba meluruskan pemikiran Selvi.


"Iya bagaimana aku tak cemburu. Dua tahun kita menjalin hubungan dan dia tak kunjung memberi kepastian. Tiba-tiba, minta putus tanpa alasan. Tahu-tahu, udah nikah karena perjodohan. Bayangin aja bagaimana sakitnya," bela Selvi mendamba atensi.


"Itu urusan kalian, tidak ada urusannya denganku. Silakan dendam. Silakan marah. Silakan lakukan apa saja yang kamu inginkan. Tapi, jangan sampai menurunkan citra perusahaan. Jangan campurkan urusan pribadi dengan bisnis karena ranahnya sudah berbeda. Kamu itu model internasional, harusnya sudah lebih paham tentang profesionalitas. Aku beri kesempatan kamu bekerja denganku karena kamu bilang ingin belajar tentang bisnis. Jangan sampai melenceng dari tujuanmu," ucap Hans mempertingatkan.

__ADS_1


"Iya. Iya. Bawel," sahut Selvi mencebik.


"Di keluarga, kamu memang sepupuku. Tapi, kalau urusan kerja tetap kamu adalah sekretarisku. Belajarlah membedakan cara bersikap di rumah dan di kantor. Aku tidak mau dianggap memilihmu cuma karena kamu adalah keluargaku. Tunjukkan kalau potensimu memang layak diakui untuk berada di sini," ceramah Hans memungkasi perdebatan mereka.


Selvi hanya mengangguk kesal. Ia tak menyangka jika Hans dengan mudah bisa membaca taktiknya dan tidak membelanya sama sekali. Bahkan, Hans dengan tegas menentang dan terang-terangan menunjukkan ketidakpedulian. Namun, bukan Selvi kalau sampai kehabisan cara. Otak liciknya kembali bekerja dan segera tersenyum sengit untuk langkah selanjutnya. Ia tak mau kehilangan Rama untuk kedua kali karena Rama adalah satu-satunya lelaki yang selalu meratukannya dan menuruti semua inginnya, meskipun sikap cuek dan dinginnya sangat membosankan.


...****************...


Malam keberangkatan Rama dan Tiara ke Surabaya pun telah tiba, mereka diantar oleh Bayu ke stasiun. Rama mengambil cuti tiga hari saja untuk mengantar Tiara. Kemudian, membiarkan Tiara menghabiskan liburannya bersama keluarga dan ia kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja. Ia akan menjemput Tiara lagi setelah Tiara menghendaki.


Saat sampai di peron, Tiara mencari tempat duduk yang longgar dan duduk dengan senang hati. Wajahnya begitu sumringah mengingat sebentar lagi kerinduannya kepada keluarga segera terobati. Hatinya sangat tak sabar menunggu kedatangan kereta sambil menyantap camilannya.


Rama sedikit kerepotan karena harus mendorong koper dan membawa tas laptop Tiara, sedangkan Tiara hanya menjinjing satu tote bag besar berisi makanan minuman tentunya. Namun keceriaan Tiara begitu menghibur dan membuat lelahnya tidak terasa. Baginya, saat ini yang terpenting adalah membuat Tiara bahagia karena ia sudah berjanji kepada Tuhan dan orang tuanya.



"Iya. Pesawat lebih menghemat waktu menurutku jadi tidak terlalu lelah juga. Lagian, aku bepergian seringnya urusan kerja jadi memang lebih efisien jika naik pesawat," jawab Rama berbalik menatap Tiara dalam-dalam hingga membuat Tiara tertunduk malu.


"Tapi, naik kereta lebih seru. Bisa menikmati lebih banyak pemandangan hijau. Hamparan sawah. Deretan pepohonan dan pegunungan di kejauhan. Situasi pedesaan yang asri dan menenangkan. Aku yakin, Abang pasti suka," sahut Tiara sambil mengalihkan pandangnya ke lalu-lalang penumpang di sana.

__ADS_1


Rama hanya membalasnya dengan senyuman tertulusnya.


"Sebenarnya, aku juga ingin mencoba naik pesawat, tapi aku takut. Aku akrofobia," ujar Tiara dengan wajah murung.


Hati Rama tersentuh melihat ekspresi Tiara berubah drastis dalam hitungan detik saja. Ia usap kepala istrinya dengan gemas agar purna kemuraman di wajahnya.


"It's ok. Aku nggak akan memaksa kamu harus naik ini itu. Senyamanmu aja. Kalau suatu saat ingin coba melawan fobiamu juga aku akan menemani. Yang penting, jangan pergi jauh sendirian karena bisa-bisa kakakmu menggantung dan mengulitiku hidup-hidup," hibur Rama.


Tiara pun tersenyum karena ucapan Rama mengingatkannya kepada Aksa dan Riza yang pasti sudah ribet sendiri di rumah untuk menunggu kepulangan adik tercinta. Tak lama setelah itu, kereta mereka pun tiba. Setelah petugas memberi aba-aba boleh masuk, Tiara dan Rama segera masuk ke gerbong luxury melalui gerbong eksekutif terlebih dahulu.


Saat di gerbong eksekutif, Rama tiba-tiba berhenti menatap wanita yang sedang berdiri di depannya. Tiara yang mengekor di belakang tak sempat menghindar jadi menabrak punggung Rama yang berhenti mendadak. Tiara melongok ke depan dan terlihat jalan masih lengang namun mengapa Rama masih berhenti.


"Awww," pekik Tiara memegangi jidatnya yang menabrak Rama.


"Abang, ngapain sih berhenti nggak pake lampu sign dulu gitu. Sakit kan jidatku," pekik Tiara merajuk.


"Rama," panggil wanita di depan Rama dengan mata yang berbinar-binar penuh harap.


"Iya, Nafisa," sahut Rama terbata-bata karena panggilan Nafisa menariknya dari lamunan.

__ADS_1


Hati Rama berdebar hingga tangannya mengepal dengan gemetar untuk menahan gemuruh di dadanya. Ia kesal dengan diri sendiri karena terlalu berlebihan merespon panggilan Nafisa. Tiara hanya menatapnya keheranan.


"Siapa, Bang? Mantanmu lagi?" bisik Tiara.


__ADS_2