
"Kamu sedang cemburu, Ra?" tanya Rama menatap istrinya dalam-dalam.
"Nggak!" bantah Tiara mentah-mentah sambil memalingkan wajah.
"Hust, jangan keras-keras nanti mengganggu penumpang lain," bisik Rama gemas.
"Bodo amad," sahut Tiara lirih.
" Kamu cemburu, kan? Hei mulutmu bilang enggak, tapi matamu mengiyakan," goda Rama.
"Ngapain aku cemburu sama orang yang menyayangi wanita lain. Percuma! Lebih baik hidup menjanda daripada harus berbagi cinta apalagi harus berbagi pria," sahut Tiara tanpa melihat Rama.
"Hust. Mulutnya itu sembarangan sekali. Sini. Makanya jangan langsung menyimpulkan. Dengarkan ucapan suamimu dulu dengan benar jangan langsung nyambar, Sayang," tutur Rama penuh kelembutan.
Mendengar panggilan sayang dari Rama, ego dan gengsi Tiara pun runtuh. Ia memutar kepala pelan dan menatap wajah suaminya yang sedang tersenyum manis kepadanya. Ia berusaha tetap tenang walaupun dadanya kembang kempis menahan debar yang begitu mendominasi perasaan.
"Jangan coba menggoda-goda aku dengan kata manis. Aku tahu kamu banyak alasan! Nggak pantes kulkas tiga pintu kayak kamu berubah jadi pujangga. Silakan goda wanita lain saja," tampik Tiara.
"Yakin boleh?" canda Rama semakin ingin memancing kecemburuan Tiara.
"Abang stop!" bantah Tiara berusaha menutupi perasaan groginya.
Rama memiringkan badannya ke arah Tiara yang masih malu-malu mengakui rasa cemburunya.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Ini sangat serius," ucap Rama mode dewasa.
"Katakanlah," sahut Tiara pura-pura malas.
"Aku serius dengan pernikahan kita. Aku berani menikahimu tentu karena aku sudah yakin untuk move on dari masa lalu. Jangan cemburu berlebihan. Selama aku menjadi suamimu, sampai saat itu juga jiwa ragaku adalah milikmu," terang Rama membuat wajah Tiara bersemu merah.
Tiara tertawa mendengar ungkapan hati Rama. Tentu bukan karena lucu, tapi karena dia bingung harus menyahut apa namun tentu hatinya sangat bahagia. Selain itu, tawanya juga untuk menyamarkan dirinya yang sedang tersipu malu.
"Apa yang lucu, Ra? Aku lagi nggak bercanda ini," rayu Rama.
"Iya aku pengen ketawa aja liat mukamu, Bang. Biasa aja bisa nggak sih?" sahut Tiara pura-pura terkekeh namun terkesan wagu.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan," bantah Rama tak terima.
"Kenapa Abang bisa hangat dengan wanita itu dan sangat dingin denganku?" tanya Tiara tiba-tiba berubah murung.
__ADS_1
Rama diam sejenak mencari alasan mengapa bisa demikian namun tak jua ia temukan. Ia tak tahu juga dengan dirinya yang bisa berubah-ubah tanpa bisa direncana. Ia merasa semua terjadi secara alami mengikuti emosi saja.
"Kurasa sama saja," sanggah Rama.
"Aku merasa beda, Bang," bantah Tiara.
"Mungkin, karena aku sudah mengenalnya lebih lama," sahut Rama berusaha melogikakan perasaannya.
"Karena pernah menjadi orang spesial di hatimu juga?" sela Tiara ketus.
"Iya mungkin," jawab Rama sambil menggaruk kepala dengan wajah polosnya.
"Isshh. Menyebalkan. Ya udah. Menikah saja dengannya. Toh dia sudah jadi janda kan? Rampungkan cerita kalian yang belum kelar. Sekarang kan Abang udah sukses dan bukan anak nakal lagi, pasti ayahnya sangat setuju," cerocos Tiara sambil melirik sinis dan memalingkan muka.
"Nggak gitu juga dong, Ra. Nggak usah bicara aneh-aneh. Kami itu hanya teman lama. Udah gitu aja. Cemburu sewajarnya aja sih, Ra," tampik Rama sambil menyisir rambut ke belakang dengan tangan dan menghela napas panjang.
"Aku nggak cemburu!" tolak Tiara lirih namun menekankan suara.
"Ya udah. Terserah kamu," imbuh Rama mengalah.
"Kok malah terserah. Nggak nyambung," tukas Tiara tajam.
Rama memejamkan mata sambil menengadahkan wajah untuk meredam gejolak emosinya. Ia mencoba meluaskan sabarnya untuk menghadapi sikap Tiara yang sedang merajuk.
"Dia itu sakit, Ra. Kanker ovarium. Rahimnya diangkat jadi tidak bisa punya anak. Itu yang bikin dia diceraikan suaminya," ucap Rama membuka perkara agar Tiara tak lagi salah paham kepadanya.
Sontak, Tiara duduk dan menghadap ke Rama dengan kedua tangan membungkam mulutnya. Matanya membola penuh kesangsian berharap ia hanya salah dengar.
"Aku berjanji akan membiayai pengobatannya karena dia belum bisa kerja lagi dan sungkan minta orang tuanya karena masih ada tanggungan adiknya. Pengobatannya cukup mahal dan ia sudah tidak ada tabungan. Aku harap, kamu mengizinkan ya?" jelas Rama tak ada yang ditutup-tutupi namun sedikit takut jika Tiara akan salah paham dengan kepeduliannya.
Sejurus, dada Tiara seakan terhantam benda tumpul saat mengetahui kepedulian Rama terhadap Nafisa. Ada sedikit cemburu namun segera teredam oleh sisi kemanusiaannya yang lebih cepat bekerja.
"Nggak apa-apa, Abang. Tolonglah dia. Kasihan ya, Bang. Udah sakit parah malah diceraikan dan diusir suaminya pula. Harusnya dia dikasih support biar cepat sembuh," isak Tiara tak sanggup membayangkan kemalangan yang menimpa Nafisa.
Akhirnya, Rama bisa bernapas lega melihat respon Tiara yang di luar dugaannya. Meskipun, di awal tampak kaget dan hampir emosi namun ia salut karena Tiara bisa lebih menguasai diri. Rama pun mengusap rambut Tiara untuk menenangkan istrinya yang sampai sesenggukan.
"Terima kasih ya, Ra. Syukurlah kalau kamu bisa memahami situasinya. Aku bangga sama kamu. Iya kita bantu support sebisanya. Uang bisa dicari lagi. Toh kita juga udah cukup buat sehari-hari," ucap Rama.
"Iya, Abang. Memang sudah seharusnya Abang seperti itu. Kita diberi kelebihan rezeki jadi untuk apa kalau bukan untuk membantu orang. Apalagi dia... teman Abang," sahut Tiara pelan merasakan sedikit keganjilan.
__ADS_1
Rama dapat merasakan kemelut dalam diri Tiara sehingga ia mendekat. Diraihnya kepala Tiara dan ia cium ubun-ubunnya penuh cinta. Ya dia sangat yakin sudah benar-benar mencintai istrinya.
"Tenang saja. Aku udah nggak ada rasa sama sekali dengannya. Rasa sayangku sebatas teman seperti rasa ke temanku yang lainnya juga. Hatiku milikmu, aku pastikan itu," jujur Rama untuk menenangkan istrinya.
Tiara pun menatap Rama penuh haru. Ia bisa merasakan ketulusan yang dilimpahkan oleh Rama. Saat menyelia ceruk mata Rama, ia jua tak menemukan kepura-puraan dan kebohongan sedikit pun. Bahkan, seluruh tatapan, ucapan, dan gestur tubuhnya sangat mendukung jika memang kejujuran yang sedang ditunjukkannya.
"Abang mencintai Tiara?" tanya Tiara memastikan walaupun sebenarnya semua sudah kentara namun tetap butuh kepastian.
"Haruskah dijawab? Bukankah semua sudah bisa kamu rasakan?" jawab Rama.
"Harus. Aku ingin kepastian," sahut Tiara.
Rama menggenggam tangan istrinya yang sangat dingin. Entah efek AC kereta atau memang dia sedang gugup. Ia kecup pelan-pelan punggung tangan Tiara secara bergantian.
"Rama Putra Dewantara mencintaimu, Mutiara Salsabila. Bahkan, sangat mencintaimu," ungkap Rama sambil menatap mata Tiara dalam-dalam.
Tak disengaja, air mata merembes dari mata Tiara tanpa tanda maupun isyarat sebelumnya. Ia tak dapat menjawab pernyataan Rama karena ia pun belum memahami bagaimana perasaannya kepada Rama. Sebelum semua pasti, ia belum berani mengungkapkan apa yang masih menjadi keraguan.
"Tak apa jika kamu masih ragu dengan perasaanmu. Aku paham, semua butuh waktu. Aku nggak akan memaksa dan biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku masih sabar menunggu jawabanmu. Mari saling mengenal dan jangan ada yang ditutup-tutupi lagi," cetus Rama yang dapat membaca keraguan di hati Tiara.
Suasana tiba-tiba hening di antara Rama dan Tiara yang masih saling mengaitkan tangan seakan enggan dilepaskan. Karena sudah mulai larut malam, sebagian penumpang sudah dimanja oleh mimpinya, beberapa masih sibuk dengan ponsel atau pekerjaannya, beberapa masih berusaha menemu kantuknya. Hingga yang terdengar jelas hanya ada deru kereta.
"Abang," panggil Tiara lirih.
"Apa, Sayang?" tanya Rama antusias.
"Kapan tanganku akan dilepaskan? Aku lapar, Bang. Kalau begini, bagaimana aku bisa makan," jawab Tiara menghancurkan momen romantis di antara mereka.
"Mengganggu momen saja," serapah Rama kepada perut Tiara yang tak mau memahami suasana.
Rama segera melepaskan tangan Tiara sedikit kesal karena keromantisan yang sudah berusaha ia bangun sedemikian manis, tiba-tiba dihancurkan oleh perut Tiara yang mudah kelaparan. Namun, ia selalu gemas dengan sikap Tiara yang sangat jujur apa adanya walaupun kadang banyak tingkah dan labil luar biasa.
Di sisi lain, Tiara bisa bernapas lega karena jantungnya hampir meledak mendapat ungkapan cinta dari Rama. Bahkan, ia sampai menahan napas saat Rama menggenggam tangannya penuh kasih sayang. Sampai akhirnya, kelaparan menolongnya untuk lolos dari jerat pesona Rama.
"Makanlah. Aku mau tidur," ucap Rama setengah merajuk.
"Oke, Abang. Mimpiin aku ya," sahut Tiara menggoda karena gemas dengan suaminya.
"Malas," jawab Rama sambil menarik selimut ke badannya dan memejamkan mata.
__ADS_1
Salah sendiri bikin orang hampir jantungan. Mending tidur saja sana karena bertatapan lama denganmu sangat tidak baik untuk kesehatan jantungku. Ucap Tiara kepada Rama dalam hati.
...****************...