Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Cinta Pertama dan Terakhir


__ADS_3

"Aku tak bisa memastikan, tapi senyampang kamu mau kuperjuangkan tentu akan kupertahankan bagaimanapun rintangan di depan. Soal setia, tentu aku bersungguh-sungguh dan takkan pernah ada selingkuh. Aku tak menuntut balasan yang sama. Aku mohon jika kamu tersiksa dengan pernikahan kita, katakanlah dan akan kulepas dengan lapang dada. Tapi, harapan terbesarku tentu ingin bersamamu selamanya," jawab Rama serius.


"Abang yakin dengan perasaan Abang?" tanya Tiara semakin memperdalam tatapannnya.


"Kalau nggak yakin dengan perasaanku, aku nggak akan menikahimu," jawab Rama tegas.


"Sejak kapan Abang yakin denganku?" selidik Tiara semakin dalam.


"Saat aku mengetahui wasiat Papa, aku yakin pilihan beliau tidak akan sembarang. Sejak ijab qabul terucap, aku semakin sadar bahwa pernikahan tak hanya tentang akad di lisan dan bukti di atas kertas. Lebih dari itu, tanggung jawabku bahkan tak hanya berhenti di dunia, tapi sampai akhirat juga. Mencintaimu dan menjagamu sudah menjadi keharusan yang kujalani penuh keikhlasan. Selama kamu masih sudi menjadi istriku, aku akan selalu yakin denganmu dan membersamai dalam suka dukamu," papar Rama menggenggam kedua tangan istrinya yang sedikit gemetar.


"Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang baik buat Abang. Masih sering kekanak-kanakan," sahut Tiara menunduk dan mulai menitikkan air mata.


"It's okay, Sayang. Inilah alasan kita dipersatukan. Biarkan kelebihanku menutup kekuranganmu dan kelebihanmu menutup kekuranganku. Kalau kita sudah sempurna dalam segala hal, kita mungkin takkan diciptakan berpasangan karena tidak ada celah yang menbuat kita saling mengisi. Kita belajar bersama ya. Maafkan semua ucapan dan sikap yang sering menyebalkan ya. Terima kasih udah mau pulang ya, Sayang. Sunggguh, aku bahagia," timpal Rama sangat tulus.


Tiara pun tersenyum mengangguk walaupun air matanya masih bercucuran. Tiara merasa sangat lega. Sampai-sampai, sakit hatinya sembuh seutuhnya lantaran menyaksikan betapa tulus dan serius suaminya.


"Abang, aku mau menyeka air mata. Mukaku agak gatal. Kalau Abang pegangin terus, bagaimana aku mengusapnya?" celetuk Tiara menghancurkan keromantisan yang sudah terbangun begitu syahdu di antara mereka.


Rama pun mendesis tak terima namun segera melepas genggaman tangannya pelan-pelan. Ia tak kecewa atau marah sama sekali, tetapi tentu rasa gemas tak dapat ditahan hingga ia mencubit hidung Tiara yang membuat istrinya itu mengaduh kesakitan. Setelah mencubit, Rama pun ikut duduk di samping Tiara memasang mimik galak.


"Kok dicubit?" protes Tiara mengusap hidungnya yang dicubit Rama.


"Salah sendiri menghancurkan keromantisan," sahut Rama pura-pura kesal.


"Iya namanya aja gatal. Nggak nyaman. Abang juga katanya banyak kerjaan malah ngegombal terus," bela Tiara tak mau kalah.


"Yang minta diusap perutnya siapa?" tanya Rama meringis menahan untuk tak menggemasi istrinya.


"Aku. Tapi, kan..." jawab Tiara masih mencoba berkilah.


"Yang tanya-tanya dulu siapa?" tanya Rama memotong ucapan Tiara.


"Aku. Tapi, kan..." jawab Tiara tak menyerah mencari pembelaan.


"Udah nggak usah tapi-tapi. Emang banyak alasan ini bocah. Udah lah aku mau lanjut kerja biar kita bisa cepat pulang dan manja-manjaan deh," ujar Rama hendak beranjak dari sofa namun membungkuk mencondongkan badan ke Tiara.


Rama tiba-tiba mengerling nakal saat jarak wajah mereka hanya lima senti. Tiara pun mengusap dadanya karena tatapan ramah sungguh tak ramah dan tak baik untuk kinerja jantungnya.


"Boleh minta satu kecupan agar bisa bekerja dengan tenang?" tanya Rama tersenyum teramat manis.


"Dasar genit!" pekik Tiara berusaha menutupi rasa malu dan wajahnya yang bersemu merah.


Rama pun meraih dagu Tiara dan mendongakkannya agar mereka saling bersitatap. Dengan jarak yang semakin dekat, jantung Tiara bak siap meledak. Lidahnya kelu dan badannya mendadak beku mendapat serangan mematikan Rama yang enggan ditolak namun sungkan diiyakan.

__ADS_1


"Satu kecup aja ya?" pinta Rama sedikit memaksa namun tetap menunggu persetujuan.


Dengan malu-malu dan tatapan mata ke bawah, Tiara pun mengangguk kecil membuat senyum Rama tersimpul lebar. Pelan-pelan, Rama melabuhkan bibirnya kepada kekasih halal yang sudah sejak lama dinanti kepulangannya. Rama tak langsung melepaskan kecupan itu karena ada sedikit kerinduan yang ingin dituntaskannya saat itu juga. Ia malah membimbing Tiara berdiri. Tiara langsung memahami apa yang harus dilakukannya setelah itu, ia pun berjinjit untuk mengimbangi Rama dan melingkarkan tangan di leher suami jangkungnya itu. Hanya bibir mereka yang saling memberi sapuan lembut namun terasa legit dan candu sehingga keduanya enggan menyudahi.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka sebelum Rama dan Tiara sempat menjeda aktivitas panasnya. Ada dua pasang mata yang membelalak menyaksikam mereka yang masih berpagut bibir. Rama dan Tiara sontak saja menyudahi dengan rasa canggung sekaligus malu luar biasa.


Bayu yang sudah beberapa kali memergoki kedua insan halal itu pun tetap tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Berbeda dengan orang yang mengekor di belakangnya, ia adalah Kenzie. Matanya nanar bertanya-tanya mendapati wanita yang selama ini dikaguminya bercumbu dengan Rama. Kenzie tentu sangat terpukul melihat pemandangan pelik yang menyakiti mata sampai hatinya. Kalau hanya kecupan di pipi, mungkin lazim bagi abang dan adiknya. Namun, yang mereka lakukan tentu sudah di luar batas kelaziman antarsepupu. Kenzie teramat kecewa sampai tak lagi bisa berkata-kata, bahkan satu bulir air mata tanpa sengaja lolos dari matanya membuat Tiara gagu dan tak tahu lagi harus bagaimana.


"Bisa nggak, kalau masuk itu ketuk pintu dulu," sentak Rama menutupi kecanggungannya.


"Iya lagian biasa juga aku langsung nyelonong kan, Bang. Mana tahu kalau ada Mbak Tiara juga," protes Bayu mengedipkan mata karena sedari tadi melongo belum dapat mencerna pemandangan mesra Rama dan Tiara.


"Tiara," sebut Kenzie terbata-bata.


Tiara hanya menunduk dan tak berani menyahut Kenzie yang tatapannya meminta penjelasan.


"Oh iya Kenzie. Maaf atas hal yang tak sepatutnya kamu lihat. Tapi, jangan berpikir macam-macam. Kami ini suami istri," sela Rama meluruskan karena ia tahu Kenzie tentu belum mengetahui perihal status mereka.


Raut Tiara menegang sekejap karena tertegun dengan pernyataan Rama namun ia segera mengendur kala membayangkan jika Rama tak meluruskan tentu Kenzie akan berpikir yang iya-iya tentangnya. Siap tak siap, statusnya dengan Rama tentu memang harus dipublikasikan agar tak menimbulkan asumsi-asumsi negatif dengan kedekatan mereka. Tiara pun mencoba menelisik jauh ke dalam perasaannya, rasanya aneh ketika merasakan tidak ada getaran ganjil saat bertemu Kenzie. Ia hanya merasakan malu sekaligus kasihan menyelia kekecewaan di wajah lelaki yang pernah merajai hatinya.


"Suami istri? Sejak kapan? Bukannya Tiara masih kuliah?" tanya Kenzie dikejutkan bertubi-tubi hingga kewarasannya belum sepenuhnya bisa menerima.


"Hampir satu tahun? Tapi, kata teman-teman Tiara, Pak Rama itu Abang Tiara," protes Kenzie dengan mimik ambigu.


"Iya Tiara memang memanggilku Abang," sahut Rama santai sambil berjalan menuju meja kerjanya.


Berbeda dengan Tiara yang masih mematung tanpa bicara. Sekujur tubuhnya seakan beku saat otaknya mendadak berhenti bekerja. Ia tak tahu bagaimana harus menyikapi situasi ini.


"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Rama memberi isyarat agar Bayu dan Kenzie mendekat.


Bayu pun mendekat penuh antusias, sedangkan Kenzie berjalan gontai dengan pikiran tertinggal kepada sosok Tiara yang ternyata sudah tak bisa diperjuangkannya. Ia melirik sekilas ke arah Tiara yang menatap masygul kepadanya.


Setelah Bayu dan Kenzie berbincang-bincang dengan Rama, Tiara pun duduk masih dengan pikiran mengawang. Kesadarannya masih penuh namun nalarnya masih belum kembali utuh. Masih ada keganjilan yang belum bisa digenapinya. Tentu rasa malu yang paling bertahta saat itu namun banyak rasa yang tak bisa dijelaskannya dengan kata-kata.


Setelah Bayu dan Kenzie pamit dari ruangan, Tiara pun mendekati Rama. Tiara terlihat ragu namun ia merasa harus memastikan dan harus menceritakan kepada Kenzie yang sangat kentara tak baik-baik saja.


"Abang," panggil Tiara menepuk lirih pundak suaminya.


"Apa, Sayang? Mau jelasin ke Kenzie?" sahut Rama dapat membaca gelagat Tiara.


"Iya. Boleh?" tanya Tiara penuh harap.

__ADS_1


"Kenapa merasa harus menjelaskan kepadanya? Karena dia cinta pertamamu?" tanya balik Rama menatap Tiara dalam-dalam dan meninggalkan tumpukan berkas di depannya sejenak.


Tiara pun mendelik tak percaya. Sungguh tak menyangka, Rama seolah-olah dapat membaca pikirannya. Tiara tak bisa berbohong lagi karena Rama benar-benar menyuarakan kata hatinya yang memang sulit untuk dikatakan saat itu.


"Iya aku merasa harus menjelaskan saja. Soal perasaan, memang dia cinta pertamaku. Tapi, cinta terakhir Tiara ada di Abang," jawab Tiara tulus namun tersipu malu.


Mata Rama tiba-tiba berbinar dan memutar kursinya menghadap Tiara. Digenggamnya kedua tangan istrinya yang dingin karena menahan gejolak perasaannya. Sejurus itu, Rama menarik tangan Tiara hingga Tiara terduduk di pangkuannya.


"Bisa diulangi? Tadi samar-samar suaranya," bisik Rama di telinga Tiara membuat Tiara merem melek merinding disko oleh hembusan napas suaminya.


"Aih, Abang. Kupingku gatal karena kumismu," sahut Tiara berusaha menutupi rona kemerahannya.


"Mengalihkan pembicaraan. Tiara cinta Abang?" telisik Rama pura-pura serius menatap istri yang malah sengaja merapatkan lengan ke dada bidangnya.


"Apalah Abang bilang. Dah ah. Boleh ya aku jelasin ke Kenzie dulu," pinta Tiara bergelayut manja di dadanya.


"Duh susah nolak kalau begini. Tapi, aku punya syarat. Bilang dulu kamu cinta aku," sahut Rama tersenyum gemas.


"Syarat macam apa itu ha?" dengus Tiara melipat tangan di dada pura-pura merajuk.


"Tinggal bilang aja apa susahnya sih," sahut Rama dengan tangan kiri merangkul Tiara dan tangan kanan menandatangani berkas di meja.


"Abang nggak percaya aku?" tanya Tiara malah berbalik menyangsikan sikap Rama.


"Percaya lah," jawab Rama tegas.


"Iya udah kalau percaya berarti diizinkan ya," ucap Tiara menyimpulkan sendiri dan lekas berdiri, lalu beranjak sebelum dibuat mati kutu suaminya.


"Dadaaaah, Abang. Tunggu aku ya. Nanti aku kembali lagi kok," kata Tiara sembari kiss bye disusul dengan finger heart sebelum berlari keluar dari ruangan Rama



(Sumber: Pinterest)


Rama pun terlampau gemas melihat tingkah istrinya. Kalau saja tidak di kantor dan tidak sedang banyak pekerjaan menunggunya, tentu Tiara sudah dibawa pulang untuk digemasi sesukanya. Rama masih menahan diri karena memang banyak amanah yang sedang dititipkan kepadanya dan harus segera diselesaikan tepat waktu. Ia pun menjadi lebih bersemangat untuk menyelesaikan semua karena kehadiran Tiara ditambah dengan ungkapan cinta darinya walaupun tak mau juga terang-terangan mengakui. Setidaknya, mengetahui perasaan Tiara saja sudah cukup melegakan baginya.


"Awas saja kau, Bocah. Habislah kau nanti!" gumam Rama pada diri sendiri.



(Sumber: Pinterest)


...****************...

__ADS_1


__ADS_2