Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Tidak Semudah Itu


__ADS_3

Rama dan Tiara mendadak gagu sulit bersuara membuat Bu Ina gemas teramat sangat.


"Mama kok udah sehat? Udah bisa jalan sendiri?" tanya Rama mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya emang kamu maunya Mama sakit terus apa? Iya kan Tiara udah pulang. Kalian udah akur. Mama jadi tenang," jawab Bu Ina berusaha kuat walaupun wajahnya masih terlihat pucat dan semakin tirus.


Tiara pun mendekat dan menuntun Bu Ina karena tidak tega melihat Bu Ina yang masih terseok-seok langkahnya seraya berkata, "Mama harusnya istirahat aja. Kalau butuh apa-apa, bilang ke Tiara aja. Kalau Mama banyak istirahat kan cepat pulih tenaganya."


"Nggak, Sayang. Mama ini bosan kalau di kamar terus. Mending duduk di tepi kolam. Liat pemandangan hijau dan mendapat angin segar. Apalagi kamu udah pulang, Mama jadi merasa lebih kuat," sahut Bu Ina mengusap tangan Tiara yang menuntunnya.


"Tadinya Mama nunggu kamu, tapi ternyata kamu harus mengurus bayi besarmu dulu ya," sindir Bu Ina melirik Rama gemas.


Rama pun salah tingkah melihat lirikan Bu Ina yang sangat meledeknya. Rama melihat jam yang melingkar di tangannya dan waktu rapat tinggal lima menit lagi.


"Ma, Ra, berangkat dulu ya. Ternyata udah telat," pamit Rama terburu-buru.


Rama menyalami Bu Ina dan mencium kedua pipi mamanya. Kemudian, beralih ke Tiara yang mencium tangannya dan ia balas dengan satu kecupan di dahi.


"Assalamualaikum," salam Rama sambil berlari menuruni anak tangga.


Tiara pun membantu Bu Ina melangkah perlahan-lahan. Tiara merasa langkah Bu Ina terasa begitu berat seperti tak punya daya. Tiara menjadi cemas terlebih melihat Bu Ina yang semakin memucat.


"Mama, balik kamar aja ya? Kita istirahat," bujuk Tiara tak tega.


"Enggak, Sayang. Mama mau duduk di tepi kolam. Di sana, kita juga bisa rebahan sambil bercerita dan memandangi dunia luar. Itu jauh lebih menenangkan untuk Mama daripada harus berdiam diri di kamar," timpal Bu Ina penuh kelembutan.


"Iya udah. Mama hati-hati. Pokoknya kalau Mama mau turun, jangan jalan sendiri. Misal Tiara dan Abang nggak di rumah, Mama telepon Bi Siti ya," pinta Tiara yang sangat mencemaskan keadaan Bu Ina.


"Mama bisa sendiri sebenarnya," bantah halus Bu Ina.

__ADS_1


"Enggak. Pokoknya nggak boleh sendiri. Mama suka khawatir dengan Tiara. Begitu pun Tiara, Ma. Tiara juga cemas kalau Mama masih lemas begini," desak Tiara tetap sopan.


"Iya. Iya, Anak Mama. Terima kasih ya udah perhatian banget sama Mama. Mama bahagia banget kamu mau pulang lagi. Iya emang begitu Rama, kalau sudah cemburu kadang suka hilang kendali. Semoga kamu sabar menghadapi dia ya," harap Bu Ina


"Insyaallah, Ma. Ya setelah kemarin berpisah sementara, Tiara merasa Abang udah lebih baik dan lebih bisa mengontrol emosinya. Iya aku tentu merasa bersalah karena meninggalkan kalian begitu saja namun rasanya memang ingin menyendiri karena terbayang-bayang tuduhan Abang yang tak berdasar. Tiara juga bersyukur ternyata Mama nggak marah sama Tiara karena udah pergi tanpa berpamitan," sesal Tiara namun hatinya sudah terasa lega.


"Mana mungkin Mama bisa marah denganmu. Mama menyadari betul bahwa Rama yang salah. Kalau pembicaraannya soal orang yang sangat dicintainya, memang dia menjadi terlampau sensitif. Kalau sudah cemburu ya begitu, agak buta-buta gitu. Sebagai sesama wanita, Mama tentu sedikit memahami bagaimana perasaanmu. Apalagi tuduhan Rama sudah sangat keterlaluan, pantas saja sakit hatimu pasti juga tak main-main. Makanya, Mama sempat takut kalau kamu nggak bisa memaafkan ucapan lancang Rama itu. Ternyata, kamu sangat berbesar hati untuk kembali ke rumah ini. Mama lebih bersyukur, Sayang," sahut Bu Ina tersenyum hangat mencairkan suasana.


"Iya bagaimanapun, Tiara juga posisinya salah juga karena nggak mengabari Abang lebih awal sampai Abang tahu dari orang lain," timpal Tiara lebih tenang.


"Sekarang, kalian sudah tahu lebih tentang karakter masing-masing. Jadi, Mama harap kalian bisa saling menjaga. Selvi itu anaknya cukup nekat. Saat kamu pergi, dia beberapa kali datang ke sini untuk mengambil hati Mama dengan dalih ingin menemani Mama atau urusan pekerjaan yang butuh tanda tangan Rama. Padahal, Rama menghabiskan banyak waktu di kantor. Lembur hampir setiap hari tanpa hasil yang pasti. Semangatnya lenyap seketika. Kamu lihat sendiri, kan? Sekarang, dia semakin kurus dan kurang terurus," cerita Bu Ina berwajah sendu.


Tiara membantu Bu Ina duduk di kursi tepi kolam sembari membayangkan keadaan Rama yang sama sekali tak diperhatikannya karena sikap genit Rama menyita kewaspadaannya.


"Mama tenang aja. Setelah ini, Tiara yang akan urus Abang," sahut Tiara tak tahu lagi harus berkata apa.


"Terima kasih, Sayang. Mama jadi lebih tenang sekarang," ucap Bu Ina sembari menengadah dan memandang langit yang cerah namun sedikit berawan mendung.


"Baiklah. Kalaupun Mama menolak juga pasti kamu akan memaksa," balas Bu Ina tersenyum lemah.


"Emang, Ma," senyum Tiara sembari beranjak masuk rumah untuk mengambil makanan.


...****************...


"Datang sendiri, Ram," sambut Hans mengulurkan tangan.


"Iya. Lagi banyak urusan jadi Susan dan Bayu kuperintahkan stay di kantor untuk mengurusinya," sahut Rama sembari menerima jabat tangan Hans.


"Semua sudah siap, Pak. Sudah bisa dimulai," cetus Hendra yang sedari tadi sibuk mengurus laptop dan proyektor untuk presentasi.

__ADS_1


"Bisa dimulai, Ram?" tawar Bayu saat Rama sudah menempati kursinya.


"Oke," sahut Rama antusias.


Hendra mengotak-atik laptop dan menunjukkan slide presentasi yang berisi foto-foto pembangunan perumahan. Hans sudah siap berdiri sambil memegang remote laser pointer.


"Langsung saja ya, Ram. Untuk lokasi pertama, pembangunan unit sudah mencapai lima puluh persen. Untuk infrastruktur hanya sebagian kecil untuk memudahkan mobilitas kendaraan proyek. Sekitar tiga puluh rumah sudah siap huni, sisanya masih dalam proses pembangunan, dan ada juga yang belum sold namun untuk pondasi sudah siap," terang Hans serius.


Rama hanya mengangguk-angguk mendengarkan pemaparan Hans penuh antusias. Rama bergantian melihat Hans dan memerhatikan slide power point yang terpampang juga. Rama menyimak dengan seksama membuat Hans lebih semangat dalam menjelaskan progress proyek mereka.


Tiga jam lamanya mereka berdiskusi mengenai progress dan rencana ke depan untuk proyek perumahan itu. Setelah Rama melaksanakan salat Asar, ia pun kembali ke ruangan dan melanjutkan perbincangan santai berjam-jam sambil menikmati jamuan yang dipesankan olen Selvi.


Saat hari mulai petang, Rama mulai merasa telinganya tiba-tiba berdenging dan pusing. Pandangan Rama pun mulai samar-samar. Wajah Rama mendadak memerah membuat Hans dan Hendra tercengang.


"Hei, kenapa, Ram?" tanya Hans cemas.


"Nggak tahu ini. Tiba-tiba aku pusing. Mungkin vertigoku kambuh," jawab Rama sambil menyandarkan kepalanya ke meja.


"Hei, Ram. Aku antar pulang ya," tawar Hans tak mau terjadi hal buruk kepada mitra kerjanya.


Sebelum menjawab, Rama merasakan sekujur badannya menegang dan hasrat seksualnya menjadi meninggi. Semakin ia merasakan dorongan untuk memuaskan diri, kepala Rama semakin pusing hingga akhirnya Rama pun tak sadarkan diri di ruangan itu.


Hans dan Hendra pun langsung melonjak dari kursi untuk melihat keadaan Rama.


"Sepertinya kita harus mengantarnya. Atau hubungi Pak Bayu saja, Pak?" tanya Hendra panik.


"Nggak usah, Hans. Biar aku yang mengantarnya," sambar Selvi penuh semangat.


"Apa kata istrinya kalau kamu mengantarnya? Hei, pikir dulu baru bertindak.

__ADS_1


"Iya tinggal bilang aja ke istrinya, pasti memahami kok," desak Selvi sumringah.


...****************...


__ADS_2