
"Sorry. Kupikir Tiara sendirian karena pintu nggak dikunci juga," ucap Riza sangat canggung.
Riza bahkan salah tingkah sendiri memegangi gagang pintu dan ingin menutupnya lagi namun dibatalkan karena semua sudah telanjur terjadi juga.
Tiara hanya menunduk menahan malu luar biasa. Tak menyangka adegan seintim itu akan ketahuan oleh kakaknya. Rasanya ia ingin menangis dan kabur sejauh mungkin saat itu juga.
"Nggak apa-apa, Za. Maaf kalau..." sahut Rama berusaha bersikap normal seperti tidak terjadi apa-apa.
"Nggak. Nggak apa-apa kok. Salahku juga nggak ketuk pintu dulu karena aku nggak tau kedatanganmu," sela Riza gugup.
"Nggak apa-apa," timpal Rama jadi ikut bingung sendiri.
"Oh iya. Bunda titip pesan agar kalian turun untuk makan malam. Semua udah siap," ucap Riza hampir melupakan pesan yang sebenarnya menjadi tujuan utama datang ke sana.
"Oh iya. Terima kasih, Za," sahut Rama.
"Emm... Ya udah. Aku ke kamar dulu buat makan ya... Eh ganti baju maksudnya," pamit Riza masih sangat kikuk dan terngiang-ngiang adegan dewasa yang dilihatnya.
Bukan apa-apa, meskipun dia sudah pernah melakukannya namun jika memergoki adiknya sendiri tentu rasanya beda. Antara malu dan ingin tidak terima namun Rama adalah suami Tiara jadi sah-sah saja melakukannya. Dengan adegan tersebut, ia jadi menyadari jika Tiara dan Rama memang saling mencintai. Tak mungkin juga adiknya bisa melakukan itu jika tak mencintai suaminya.
Cukup lama Riza terdiam di depan pintu sehingga Tiara dan Rama pun masih mematung di dalam kamar belum berani keluar untuk pergi ke ruang makan. Mereka berdua hanya bingung saling bertatapan sebentar, kemudian sama-sama mengarahkan pandang ke Riza yang masih sibuk dengan pikirannya.
"Za, ada yang mau disampaikan lagi?" tanya Rama memecah lamunan Riza.
"Eh. Nggak. Nggak. Ya udah aku duluan," ucap Riza sambil berjalan ke arah berkebalikan dengan arah ke kamarnya.
"Ehh ke sana," tambah Riza berbalik arah saat menyadari kesalahannya di langkah kedua.
Rama dan Tiara hanya memandang Riza heran. Tak sempat mereka tertawa walaupun ekspresi Riza sangat lucu saat salah tingkah semacam itu. Mereka masih tidak enak hati dengan Riza.
"Duuh. Abang sih. Ngapain mau aneh-aneh, tapi nggak kunci pintu. Mau ditaruh mana mukaku!" tuduh Tiara resah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Oh berarti besok-besok boleh dong aneh-aneh, tapi kunci pintu ya?" sahut Rama semangat.
"Duuh salah ngomong. Lupa kalau Om-Om ini ganjen akut," timpal Tiara menepuk jidat, kemudian kembali berkata, "Di saat seperti ini masih sempat mikir mesum. Heran!"
"Iya aku harus bagaimana? Nangis bombay? Kabur ke bulan? Enggak mungkin, kan? Ya udah. Santai aja. Toh masmu udah dewasa dan dia pasti memaklumi karena kita suami istri," tampik Rama santai berbanding terbalik dengan Tiara yang sampai gemetaran sekujur badan.
"Aih. Ngomong sama Abang percuma. Nggak ada solusi. Yang ada bikin makin emosi. Dah ah. Abang nggak ngerti," seru Tiara sambil berjalan ala-ala cewek ngambek gitu yang kakinya agak dibanting-banting, entah apa istilah yang tepat untuk menyebutnya.
"Eh. Emang mau solusi apa untuk masalah seperti ini hei? Duh bocah," sahut Rama berusaha mengejar istrinya yang kembali merajuk.
"Udah diem. Abang berisik," jawab Tiara mempercepat langkahnya.
__ADS_1
...****************...
Suasana makan pun berlangsung dengan tenang sekaligus tegang, tentunya ketegangan itu hanya dirasakan oleh Rama, Tiara, dan Riza yang belum berani bercakap satu sama lain. Mereka berusaha sibuk dengan makanan dan pikiran masing-masing. Bahkan, menghindari kontak mata satu sama lain untuk mengantisipasi salah tingkah kedua kali. Selera makan mereka pun mendadak hilang seolah makanan di depan mereka terasa hambar saking mencekamnya suasana yang sedang dilewati.
"Riza, Tiara, kalian kenapa? Biasanya kalian cerewet sekali?" tanya Bu Lia yang menyadari kecanggungan di antara mereka.
"Nggak apa-apa, Bun. Lagi capek aja tadi banyak kerjaan," jawab Riza jujur, meskipun sebenarnya bukan itu yang membuatnya diam karena tentu tidak lucu jika menceritakan apa yang tadi dilihatnya.
"Nggak, Ma. Tiara hanya memikirkan ingin pulang ke Jakarta lagi," sahut Tiara yang mengejutkan semua orang di meja makan hingga semua mata tertuju padanya, termasuk Riza yang sedari tadi menundukkan kepala.
Bahkan Tiara sendiri pun kaget kalimat itu bisa terlontar dari mulutnya tanpa direncana. Sesungguhnya, bukan itu yang ingin dikatakan namun keluar dengan lancarnya seolah memang sudah dipikirkannya matang-matang. Gadis itu merutuki bibirnya yang sembarangan, tetapi meralatnya juga tentu lebih memalukan.
Rama sampai terbatuk-batuk mendengar penyataan Tiara yang sama sekali tidak mereka bicarakan sebelumnya. Kedatangannya ke Surabaya tentu hanya berniat mengunjungi istrinya bukan untuk menjemputnya pulang bersama
Berbeda dengan respon Pak Adi, Pak Tirta, dan Bu Lia, mereka bertiga malah tersenyum sambil menggelengkan kepala. Mereka punya persepsi yang berbeda dengan sikap dan ucapan Tiara. Walaupun mereka tentu masih rindu kebersamaannya dengan Tiara namun mereka paham jika Tiara sudah punya rumah tangga sendiri. Mereka malah bahagia mengetahui Tiara tak bisa berjauhan dengan Rama karena berarti Rama sangat menjaga dan memberi rasa nyaman kepada Tiara. Sedikit sedih namun mereka mulai membiasakan diri agar tak khawatir karena Tiara memang kadang tidak tentu, kapan pun dia ingin tentu langsung pulang tanpa pikir panjang.
"Oh jadi Rama ke sini untuk menjemputmu? Tadi katanya menjenguk saja karena ada yang merajuk," tanya Pak Tirta senyum-senyum.
"Hehe," jawab Tiara cengengesan karena masih tak habis pikir dengan mulutnya yang bisa hilang kendali.
"Iya tadi niat Rama memang hanya menjenguk, tapi ternyata Tiara minta ikut pulang, Kek," tambah Rama tak kalah bahagia.
Tiara pun menginjak kaki Rama yang duduk di sampingnya hingga sang korban mendesis hampir terlonjak. Tiara mendelik sekilas penuh kekesalan karena Rama membuatnya semakin terpojok hingga seolah-olah dirinya tak ingin berpisah dengan Rama. Rama hanya membalasnya dengan senyum jahil penuh makna.
"Iya, Nak. Pulanglah. Mau di Jakarta atau di Surabaya, semua rumahmu. Kamu bisa pulang ke mana saja dan kapan saja. Yang penting di mana pun itu, kamu harus menjaga kesehatan dan menjaga diri. Doa kami selalu menyertaimu," imbuh Bu Lia sangat tegar.
"Ehh... Iya, Bun, Yah. Kalian juga jaga kesehatan ya. Nanti juga Tiara pulang lagi kok," ucap Tiara sambil meremas sendok garpunya karena geregetan dengan diri sendiri.
"Iya, Cah Ayu. Mau pulang kapan? Besok?" tanya Bu Lia gemas.
"Em... Terserah Abang aja," jawab Tiara kikuk sendiri.
"Besok sepertinya, Bun. Rama lagi banyak kerjaan soalnya dan beberapa nggak bisa dilimpahkan ke asisten. Insyaallah nanti Rama antar Tiara lagi kalau dia pengen pulang," sambung Rama penuh kemenangan.
Tiara mendelik semakin sinis mendengar Rama yang tak meminta pendapatnya terlebih dahulu. Duh salah langkah dia namun semua sudah telanjur. Setidaknya jika memang besok dia kembali ke Jakarta, ia tak harus berperang dengan pikirannya saat berhadapan dengan Riza.
Sedangkan Riza menatap Tiara penuh kesangsian. Ia menyadari ucapan dan sikap yang ditunjukkan Tiara seperti tidak sinkron. Lelaki 25 tahun itu pun jadi merasa bersalah kalau-kalau Tiara meminta pulang ikut Rama karena saking tak enak hati kepadanya.
"Ra, kenapa pulang secepat ini? Bukankah liburanmu masih dua minggu lagi?" tanya Riza mulai angkat bicara.
"Tiara ada urusan sama teman-teman dan memang pengambilan SKS dijadwalkan lebih awal jadi Tiara harus ke kampus," jawab Tiara jujur, meskipun sebenarnya bisa dititipkan ke teman-temannya namun ia sudah kepalang basah.
"Oh iya," sahut Riza agak lega karena melihat kejujuran di ucapan maupun tatapan Tiara namun ia tetap saja merasa ada yang mengganjal.
__ADS_1
Setelah makan malam usai, Rama pamit kembali ke kamar lebih awal karena mendapat telepon dari Bayu yang membahas tentang pekerjaan. Satu per satu anggota keluarga pun undur diri untuk mengistirahatkan badan. Hanya tersisa Tiara dan Riza di meja makan. Mereka terlihat ingin saling bercakap namun masih kagok hingga sulit berucap.
"Ra, Mas mau tanya," ucap Riza merasa harus mengklarifikasi perasaannya agar lebih tenang melepas Tiara.
"Kamu mau pulang bukan karena tadi, kan?" tanya Riza membahas tentang adegan dewasa yang tak sengaja terlihat olehnya.
"Bukan, Mas. Memang Tiara ada urusan. Maaf ya, Mas," jawab Tiara menunduk.
"Untuk apa minta maaf? Wajar kok kan kalian udah suami istri juga. Lain kali, lebih hati-hati lagi. Untung aku yang lihat. Kalau yang lain, apa nggak repot," kata Riza.
"Iya, Mas," sahut Tiara masih belum berani menunjukkan wajahnya.
"Iya di mana pun kamu, lebih hati-hati aja dalam hal apa pun. Biar nggak terlalu menyesal di kemudian hari. Udah nggak usah sungkan sama Mas. Masmu ini udah lebih berpengalaman dari kamu. Tenang aja," bujuk Riza menenangkan adiknya.
"Iya, Mas," sambung Tiara.
"Apa kamu benar-benar mencintai Rama?" tanya Riza serius.
Tiara diam menimbang-nimbang. Ia belum bisa mendefinisikan perasaannya kepada Rama. Namun, menjawabnya terlalu jujur kepada Riza juga malah akan menambah beban di pikiran kakaknya.
"Iya. Tiara cinta Abang," jawab Tiara setengah hati namun hatinya tak menampik sama sekali.
"Lihat Mas dan katakan sekali lagi," suruh Riza lebih tegas.
Tiara mengangkat wajah dan perlahan menatap Riza penuh kecanggungan. Berbeda dengan Riza, ia menatap Tiara dengan sungguh-sungguh dan sangat dalam.
"Tiara cinta Bang Rama, Mas," ulang Tiara dengan mata penuh harap Riza takkan menangkap keraguannya.
Tatapan Riza berubah menjadi sendu dan penuh kasih kepada Tiara. Banyak yang dirasakannya namun tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa berusaha mempercayai apa yang dikatakan adiknya untuk sedikit menenangkan gejolak dalam dada.
"Iya semua ada prosesnya. Nikmati saja. Menikah itu komitmen seumur hidup. Jangan dijadikan beban karena hampir semua manusia akan melewatinya juga. Kalau memang tak sanggup, nggak ada salahnya menyerah. Kalau memang cinta, pertahankan sebisanya. Walaupun Mas belum berumah tangga namun Mas tau cobaan dalam rumah tangga itu pasti ada dan tidak hanya satu dua. Tapi, dari setiap kesulitan, kalian akan menjadi lebih kuat dan ikatan kalian jadi lebih erat. Mas pasti sangat bahagia kalau adik Mas ini bahagia. Jadi kalau memang berat dan nggak bisa bercerita dengan Rama atau Ayah Bunda, pundak Mas masih boleh buat berbagi beban untukmu, Ra. Jangan disimpan sendiri kalau ada apa-apa. Mas nggak mau adik Mas ini kenapa-napa," ungkap Riza sembari memberi wejangan untuk adik satu-satunya.
"Mas," ucap Tiara sedih sekaligus terharu mendengar perkataan Riza yang sangat menyentuh hatinya.
Riza berdiri tanpa ekspresi namun ia begitu ingin memeluk adiknya. Tanpa disuruh, Tiara segera berlari dan memeluk Riza penuh rasa yang bermacam-macam. Riza tak membalas pelukan Tiara namun tatapan dan sikap diamnya sangat menunjukkan kasih sayang luar biasa.
"Mas Riza nggak boleh berubah ke Tiara ya," pinta Tiara dengan wajah sendunya.
"Iya. Jangan sedih lagi," jawab Riza tak tahu apa yang dirasakan karena ada lega dan sesak yang hadir bersamaan.
(Sumber: Pinterest)
__ADS_1
...****************...