
Hari berlalu dengan cepatnya, ujian semester Tiara pun usai. Ia dan ketiga sahabatnya merayakan dengan nongkrong di cafe favorit mereka. Mereka pun bersenda gurau dengan lega setelah melewat dua minggu penuh tugas dan ujian kehidupan, eh semesteran. Ada saja topik perbincangan yang menarik hingga mereka tidak merasa bosan duduk di sana berlama-lama.
Saat sedang asyik membicarakan dosen-dosen killer di semester itu, tiba-tiba dua orang lelaki mendekati mereka dan menyapa dengan ramahnya. Mereka adalah Kenzie dan Haris, kakak tingkat setahun di atas Tiara.
"Boleh gabung?" tanya Kenzie dengan tatapan tulusnya.
"Boleh, Kak Ken," jawab Wanda meleleh dibuatnya.
Tiga sahabat Tiara pun terkesima dengan penampilan sang presiden BEM di kampus yang selalu berwibawa dan karismatik itu. Di kampus, Kenzie memang sangat populer karena ketampanannya yang di atas rata-rata ditambah dengan jabatannya sebagai presiden BEM yang membuat namanya kian bersinar. Tiara dan tiga sahabatnya menganggapnya sangat mirip aktor di drama China bernama Lin Yi.
Visual Kenzie (Sumber: Pinterest)
Meja itu memang kapasitas untuk enam orang karena kursinya di tata empat saling berhadapan dan masing-masing satu di kanan dan kiri. Kenzie duduk di kursi sebelah kanan dekat Wanda dan Tiara, sedangkan Haris duduk di sebelah kiri dekat Nia dan Febi.
"Weekend jadi penuh mejanya. Maaf ya jadi mengganggu kalian karena cuma kalian yang kita kenal," ucap Kenzie sangat sopan.
"Nggak apa-apa, Kak. Santai aja," sahut Wanda berusaha menutupi kegugupannya.
"Malah seneng. Jadi makin rame. Asal jangan ngobrolin politik dan berbagai kebijakan di negeri ini karena kami anak kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Jadi mana tau soal begituan," seloroh Febi membuat gelak orang di meja itu hingga suasana pun menjadi cair.
"Nggak lah. Kalau setiap hari bahas yang serius terus ya meledaklah otakku ini. Aku serius kalau di organisasi, di luar ya hanya manusia biasa," tutur Kenzie sambil tersenyum.
"Udah lama kalian di sini?" tanya Haris mengalihkan pandangan Tiara dan sahabatnya.
"Udah dari jam tigaan, Kak Haris," jawab Nia sambil tersenyum.
"Abis ini mau langsung pulang?" tanya Kenzie penasaran.
"Nggak tau ini. Mungkin iya karena belum ada agenda apa pun," jawab Wanda.
"Nonton aja yuk. Ada film horor baru, reviewnya si lumayan seru katanya," ajak Kenzie penuh semangat.
__ADS_1
"Boleh, Kak. Duh emang udah lama nggak nonton nih," sambut Febi, Wanda, dan Nia yang berapi-api.
Hanya Tiara yang diam sambil menatap layar ponselnya. Sepertinya ada hal penting yang membuat dia sangat fokus dan tidak menghiraukan obrolan di sekitar.
"Mutiara, are you ok?" tanya Kenzie menatap Tiara penuh ketulusan.
Tiara pun terperanjat saat Kenzie memanggil namanya. Ia pun celingukan melihat orang di sekitarnya secara bergantian. Wajahnya sangat polos seperti orang hilang ingatan sejenak.
"Oke kok. Hehe maaf lagi ada kepentingan jadi agak pecah fokusnya ya. Aku mah oke-oke aja kalau mau nonton," jawab Tiara agak gelagapan.
Kenzie tersenyum tipis mendengar jawaban Tiara namun tidak disadari oleh sahabat Tiara dan Haris.
Setelah Tiara dan kawan-kawan menghabiskan minuman dan camilanya, mereka pun berangkat ke bioskop dengan kendaraan masing-masing. Tiara berboncengan dengan Wanda, Nia berboncengan dengan Febi, sedangkan Kenzie mengendarai mobilnya bersama Haris. Sesampainya di TKP, Tiara pun berjalan berpegangan Wanda karena memang kakinya masih terasa agak sakit.
"Kakimu kenapa, Mutia?" tanya Kenzie khawatir.
"Nggak apa, Kak. Beberapa hari lalu ada kecelakaan kecil ini. Hampir dibegal aja," jawab Tiara santai.
Pletaakkk
Kenzie menyentil dahi Tiara dengan lirih namun cukup membuat Tiara mengedipkan mata. Tiara pun mengusap dahinya yang disentil sambil mencibir.
"Kok aku disentil. Salahku di mana coba," celetuk Tiara bingung.
"Kamu bilang hampir dibegal dengan santainya. Hei bocah!" ucap Kenzie sangat gemas.
"Udah santai aja, Kak Ken. Toh sekarang aku masih hidup kan. Ayo katanya ngajak nonton, ngapain bahas kaki juga. Nanti keburu habis tiketnya," sahut Tiara mencoba mengurai ketegangan di muka Kenzie.
Kenzie pun menuruti. Ia dan Haris pun mengantre tiket, sedangkan Tiara dan sahabatnya menunggu sambil membeli popcorn. Setelah mendapat lima tiket dengan tempat duduk berderetan, mereka pun langsung masuk ke ruang pertunjukkan. Paling ujung Haris, kemudian disusul Nia, Febi, Wanda, Tiara, dan Kenzie. Para wanita tidak mau duduk di pinggir karena mereka akan menonton film horor jadi Haris dan Kenzie terpaksa harus berjauhan.
Sepanjang pemutaran film, Tiara dan tiga sahabatnya berteriak jika ada jump scare, sesekali mereka menangkupkan tangah ke wajah saat suasana mencekam. Hal itu membuat Haris dan Kenzie tersenyum lucu karena para wanita bisa setakut itu. Kenzie pun berkali-kali menjadi korban pencubitan dengan tersangka Tiara dan berkali-kali juga minta maaf meski akhirnya diulangi dan maaf lagi seterusnya.
Selesai menonton, Tiara dan tiga sahabatnya merutuki pembuat film yang bisa membuat suasanan semencekam itu. Film itu berhasil membuat mereka benar-benar ketakutan dan berteriak hingga suara sesak. Kenzie dan Haris pun menertawakan mereka yang sangat heboh.
__ADS_1
"Terima kasih traktiran nontonnya ya, Kak Ken," ucap Nia.
"Santai. Kapan-kapan nonton lagi juga ayo," sahut Kenzie.
"Ya udah kita pulang dulu ya, Kak. Udah malam nih," pamit Wanda mewakili teman-temannya juga.
"Tiara lagi sakit begitu kakinya kalau kena angin malam kayaknya agak ngilu. Mau kuanter?" tanya Kenzie cemas.
Sebelum Tiara menjawab, Tiara dikejutkan oleh Rama yang tiba-tiba sudah duduk di depan gedung tempat mereka nonton. Di ruangan terbuka itu, Rama duduk seorang diri berteman segelas kopi dan sebatang rokok yang tinggal separuh.
(Sumber: Pinterest)
"Abang," panggil Tiara terperangah.
Mendengar suara Tiara, Rama pun mematikan rokoknya dan sisa putungnya dimasukkan ke gelas kopi yang tinggal sedikit. Ia pun berdiri memutar badan ke arah Tiara yang masih menganga. Ia perhatikan orang-orang di sekitar Tiara tanpa kata. Satu orang yang sempat menarik perhatiannya adalah Kenzie. Rama merasa tatapan tajam Kenzie kepadanya penuh makna dan meminta penjelasan.
"Pulang!" ajak Rama.
Tiara pun mengangguk dan berpamitan dengan teman-temannya yang sempat tercengang saat berhadapan langsung dengan abang Tiara. Mereka seolah sedang berhadapan dengan dua malaikat yang sangat sempurna dan ketampanan yang setara. Abang Tiara yang maskulin, dewasa, pelindung, dan tegas disanding dengan Kenzie dewa yang menggemaskan, bijaksana, dan cerdas.
Setelah Tiara berlalu, mimik wajak Kenzie berubah penuh kekecewaan. Gurat semangat yang sedari tadi menghiasinya mendadak sirna seketika, tetapi ia tetap bersikap senormal mungkin untuk meredam gejolak perasaannya.
"Pacar Tiara?" tanya Kenzie mengagetkan sahabat Tiara yang sedang tercengang.
"Bukan, Kak. Dia Abang Tiara, masih keluarga katanya," jawab Wanda.
"Ohh," sahut Kenzie membulatkan bibirnya.
Seketika, raut tegang Kenzie pun menjadi mengendur setelah mendengar bahwa lelaki itu hanya keluarga Tiara. Masih ada harapan baginya mendekati Tiara kalau begitu. Ia pun tersenyum tipis kepada diri sendiri. Ia tetap ada cemburu saat Tiara berjalan memegang tangan lelaki itu, meski ia tahu kaki Tiara sakit dan mereka adalah keluarga.
...****************...
__ADS_1