
Tak lama selepas makan malam, Bu Ina pamit untuk kembali ke kamar karena ingin beristirahat. Rama dan Tiara pun khawatir dengan sikap Bu Ina yang tidak biasanya beristirahat lebih awal. Bu Ina terus meyakinkan kedua anaknya bahwa ia baik-baik saja. Hanya kelelahan karena memang beberapa hari sering beraktivitas di luar rumah. Tiara duduk sejajar dengan kaki Bu Ina dan mulai memijit kaki mertuanya dengan lembut.
"Mama, mananya yang sakit?" tanya Tiara khawatir.
"Mama nggak apa, Sayang. Kalian ini berlebihan sekali. Mama hanya kelelahan mungkin," jawab Bu Ina tersenyum setulus mungkin.
"Makanya, Mama nggak usah banyak aktivitas di luar. Banyak istirahat aja," tegas Rama mulai posesif.
"Duh Pangeran Mama mulai posesif ya," goda Bu Ina sambil tersenyum namun dibalas ketegangan di wajah Rama dan Tiara.
"Kalau memang urusan Mama bisa diwakilkan, Tiara insyaallah bisa menggantikan misal memang penting banget. Tiara bisa izin magang dulu," tawar Tiara sopan.
"Nggak, Sayang. Fokuslah pada kuliahmu, magangmu. Biar cepat lulus dengan nilai terbaik. Suatu kebanggaan bisa melihat anak perempuan Mama wisuda. Mama akan lebih menjaga kesehatan dan mengurangi aktivitas keluar," sahut Bu Ina.
"Insyaallah, Ma. Mama bantu doain ya semoga dilancarkan semua prosesnya," sahut Tiara sembari mengusap kaki ibu mertuanya.
"Tentu, Sayang. Udah sana istirahat aja kalian. Mama baik-baik saja kok. Nggak usah khawatir berlebihan," bujuk Bu Ina meyakinkan.
"Beneran, Ma?" tanya Rama memastikan.
Bu Ina pun tersenyum setulus mungkin sembari menunjukkan wajah ceria tanpa dibuat-buat. Tak punya pilihan lain, Rama dan Tiara pun akhirnya undur diri dari kamar sang ibu walaupun benak mereka tentu masih belum sepenuhnya tenang.
...****************...
"Abang nggak curiga Mama kenapa-napa?" tanya Tiara setelah menutup pintu kamar.
"Iya udah. Kita doakan aja Mama nggak kenapa-napa. Kalau Mama udah bilang begitu, berarti dia lagi butuh waktu sendiri. Mungkin, Mama lagi kangen sama Papa. Biasanya Mama begitu kalau kangen sama Papa," jawab Rama sembari duduk di sofa.
"Ooo..." ucap Tiara membulatkan mulut, "Abang, aku sudah tahu yang menghamili mantanmu," cetus Tiara sambil melompat ke sofa tepat di hadapan suaminya dan sontak membuat Rama mendelik tajam kepadanya.
"Sebut saja Selvi atau wanita itu. Jangan memancing emosi," tegas Rama pura-pura galak.
"Aih apa pun itu. Ternyata yang menghamili adalah Pak Hadi, Papanya Pak Juna," cerita Tiara.
"Pak Hadi? Papanya Arjuna?" tanya Rama dengan wajah datar namun matanya melukiskan penasaran luar biasa, "nama lengkapnya siapa?"
"Masa Papa teman sendiri nggak tahu namanya. Sahabat macam apa Abang nih," sahut Tiara di luar topik.
"Iya, kan kita kenal hanya di kampus. Masa aku harus screening dia. Tanya nama orang tuanya, kerja di mana. Aku kan bukan petugas sensus," jawab Rama sengak membuat Tiara memanyunkan bibir.
"Ya udah lah, nggak jadi. Abang nggak antusias. Percuma. Dah males," sungut Tiara sambil berdiri dan hendak beranjak dari sofa.
Saat Tiara hendak melangkahkan kaki menjauh dari Rama, dengan gerakan cepat, Rama pun menarik tangan Tiara hingga Tiara terduduk di pangkuannya. Sebelum Tiara memberontak lebih, Rama terlebih dahulu melingkarkan tangan di pinggang Tiara dan menguncinnya dengan dekapan lembut.
"Siapa pun yang menghamili Selvi tentu aku takkan peduli. Bagiku, kamu di sini saja sudah cukup, Sayang," bisik Rama sambil mengecup pipi Tiara setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Dasar mulut buaya. Mulut Om-Om licin," umpat Tiara pura-pura tak terima walaupun hatinya berbunga-bunga, "Yang menghamili namanya Pak Hadi Tjokro Kusumo, CEO PT Mekar Bogarasa."
"Oh. Pemilik Hadi Agency itu papanya Arjuna. Iya. Iya," sahut Rama dengan wajah datar sembari mangut-mangut tanpa dosa.
"Pemilik Hadi Agency? Kok nggak kaget, Bang?" tanya Tiara malah penasaran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rama.
"Lha, emang aku harus bagaimana? Iya baguslah kalau udah ketemu orangnya, seenggak dia udah nggak berisik lagi gangguin kita," jawab Rama dengan entengnya.
"Selvi dihamili orang tua, kamu nggak tercengang gitu? Apa Abang merahasiakan sesuatu dari Tiara?" desak Tiara membulatkan mata dan menatap Rama keheranan.
"Apalah kamu ini. Suuzan terus. Bukan merahasiakan, tetapi emang belum ada momen pas untuk menceritakan dan sebenarnya nggak penting juga kamu tahu," balas Rama malas membahas tentang Selvi.
"Apakah Pak Hadi adalah selingkuhan Selvi saat masih pacaran dengan Abang?" tanya Tiara memastikan.
"Iya," jawab Rama ketus.
"Bahkan, selera Selvi nggak Om-Om, tapi Bapak-Bapak. Mantap juga ya. The real sugar daddy namanya. Kok bisa kamu diselingkuhin sama aki-aki kayak gitu?" tutur Tiara menggeleng tak percaya.
"Dulu waktu ketahuan, dia bilangnya buat mendongkrak popularitasnya sebagai model jadi perlu mendekati bosnya. Ia juga menjadi anak kesayangan bosnya. Ternyata bukan anak kesayangan, melainkan wanita kesayangan," balas Rama lembut tanpa penyesalan.
"Emang begitu dunia di permodelan ya, Bang? Ngeri amat," sahut Tiara masih terperangah.
"Nggak semua kayak gitu cuma ya ada yang perlu mendekati orang dalam. Banyak yang emang bertalenta di bidang itu, cuma ya ada juga yang perlu melakukan hal curang untuk mendapat popularitas tinggi," cerita Rama dengan serius dan disimak sang istri dengan raut lebih serius.
"Terus, bagaimana ya kelanjutan hubungan mereka?" tanya Tiara dengan wajah polos menggemaskan.
"Iya udah. Ngapain ikut pusing mikirin. Biar jadi urusan mereka lah," jawab Rama jutek.
__ADS_1
"Oh iya. Soal foto Abang yang dikirim ke aku, foto aku yang dikirim ke Abang, huru-hara itu emang rencana mereka. Tapi, untuk masalah di hotel itu pure rencana Selvi sendiri karena sudah putus asa saat mengetahui kehamilannya. Abang nggak kaget juga?" tanya Tiara.
"Sedikit. Tapi, ya mengetahui sepak terjang bos Hadi Agency, sepertinya hal semacam itu sangat mudah baginya. Apalagi dibayar dengan tubuh molek wanita kesayangannya," jawab Rama dengan senyum sinis.
"Iya iya. Tubuhnya molek, bohai, seksi, nggak kayak tubuhku yang mirip triplek," sungut Tiara sambil menyidekapkan tangan di dada dan memanyunkan bibirnya.
"Buat apa tubuh molek, tapi haram dicolek. Mending yang kayak triplek nggak apa yang penting halal dijamah. Aku tahu loh kamu udah salat tadi," sahut Rama sembari mencolek dagu Tiara dan menatapnya dengan nakal.
Tiara pun langsung menyorot Rama dengan tatapan tajam penuh waspada.
"Udah nggak usah urusin lagi urusan mereka. Lebih baik, kita rampungkan urusan kita yang belum kelar dari hampir setahun lalu," goda Rama sambil berbisik di telinga Tiara, kemudian beralih mengecup kecil pipi Tiara dengan gemas.
"Abang mesum! Abang... " teriak Tiara.
Dengan cepat, Rama menyumpal mulut Tiara dengan bibirnya agar menghentikan umpatan andalannya. Tiara pun memberontak namun Rama memegangi kepala Tiara sampai Tiara tak bisa meloloskan diri sekali pun ia pukuli dada bidang suaminya berkali-kali. Setelah dirasa Tiara tenang, Rama pun melepaskan bibir Tiara dan Tiara melengos kesal dengan wajah bersemu merah.
"Kamu jangan ngomong macam-macam nanti kedengeran orang," bisik Rama.
"Siapa pula yang dengar? Katanya, kamar Abang dikasih peredam suara," bantah Tiara ngeyel.
"Iya barangkali ada yang lagi di depan pintu dan mendengarkan dari sela-selanya," sahut Rama meyakinkan.
Sejurus itu, ketukan pintu pun mengagetkan Tiara hingga terlonjak dari pangkuan Rama.
"Abang? Masa ada ketukan pintu beneran," cetus Tiara dengan wajah panik.
"Buka aja," jawab Rama dengan santai merebahkan kedua tangannya ke sandaran sofa.
"Aih, Abang. Kenapa nggak kaget juga sih," ucap Tiara sambil berjalan agak malas ke arah pintu.
"Makanya, jadi orang jangan gampang panik," balas Rama sambil terkekeh.
"Ih. Abang nggak seru!" hardik Tiara sambil mencibir.
Cekleeekkk...!
Pintu terbuka dan Tiara tercengang sampai napasnya tertahan sejenak.
"Astaga. Hari ini ulang tahunku. Aku sampai lupa," cetus Tiara yang masih tertegun tak percaya.
Orang-orang di sama sambil terdiam mendengar celetukan Tiara yang di luar dugaan. Bahkan, mereka sampai terheran-heran ada manusia muda yang lupa hari ulang tahunnya. Setelah keterkejutannya mereda, Tiara pun ikut terdiam.
Tanpa terasa, air mata meleleh di pipi Tiara saking terharunya. Bahkan, Tiara sampai lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-21 karena terlalu sibuk dengan urusan kerja sampai rumah tangganya yang sempat carut-marut. Yang lebih mengejutkannya lagi, di hadapannya sudah berdiri orang-orang yang sangat dirindukannya. Bu Lia membawa kue ditemani Bu Ina, di sampingnya berdiri Pak Adi dan Pak Tirta. Kemudian, di belakang mereka ada Riza dan Aksa yang sudah memakai topi kerucut khas ulang tahun anak kecil.
"Tiup lilinnya, Sayang," ucap lembut Bu Lia yang sudah tak dapat membendung air mata.
Setelah membatinkan doa-doanya, Tiara pun meniup lilin dengan berderai-derai air mata. Tanpa berpikir panjang, Bu Ina langsung mengambil kue dari tangan Bu Lia. Benar saja, setelah itu, Bu Lia langsung memeluk erat putri kecilnya yang selamanya takkan dewasa di matanya. Pelukan Bu Lia tentu seakan memberikan energi baru yang semakin menguatkan Tiara.
"Maaf. Tiara belum bisa pulang ya, Nda," tangis Tiara di pelukan sabg ibunda.
"Tidak apa, Sayang. Bunda tahu kamu sibuk. Malah bagus kalau kamu fokus kuliah jadi nanti cepat lulus juga. Buat Bunda, yang penting Tiara bahagia. Kalau Bunda udah kangen banget, ya udah Bunda tinggal datang ke sini aja kan mudah aksesnya," sahut Bu Lia sambil menghidu dan mengusap rambut halus putrinya.
"Nggak kangen sama Kakek nih?" goda Pak Tirta dengan senyum sumringah.
Walaupun sudah berjalan menggunakan tongkat dan tubuhnya semakin kurus namun wajah Pak Tirta terlihat masih bugar dan penuh semangat. Tiara pun melepas pelukannya dan langsung menghambur ke sang kakek yang tenaganya tak sekuat dulu sehingga Tiara sangat hati-hati memeluknya. Tiara pun menangis lebih keras melihat keadaan kakeknya yang semakin merenta. Tentu, pelukan sang kakek begitu memberinya keteduhan seperti kembali ke masa kecilnya.
"Kenapa menangis histeris seperti ini, Ra?" tanya Pak Tirta tersenyum.
"Kakek jangan cepat tua. Kakek harus datang waktu Tiara wisuda. Kakek harus momong dulu cicit kakek nanti," jawab Tiara tersedu-sedu.
"Aduh. Manjanya cucu bungsuku ini. Kakek udah kamu kasih cucu menantu yang tampan rupawan aja udah bersyukur, Ra," goda Pak Tirta semakin membuat Tiara gemas.
Tiara pun menghentikan tangisnya sejenak dan mencubit dada kakeknya sambil melepas pelukan. Setelah itu, ia beralih kepada Pak Adi yang diam namun sudah menunggunya penuh harap. Tiara memeluk Pak Adi dengan diam namun air matanya semakin deras menetes. Pak Adi pun hanya mengusap rambut Tiara perlahan dan membiarkan air mata putrinya menemu tempat pulang.
"Tiara sudah semakin dewasa. Sudah tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Apa pun langkah yang kamu ambil, semua akan ada resikonya namun jika kamu sungguh-sungguh menjalani tentu akan membuahkan hasil yang sepadan juga. Kalau dunia terlalu keras kepadamu, Ayah akan selalu menanti kepulanganmu walau hanya untuk mengadu. Tapi, Ayah yakin jika Rama akan menjagamu dan takkan membiarkan kamu pulang dengan memikul luka sendirian," petuah Pak Adi yang begitu manis dengan suara bergetar menahan tangis.
Rama yang sudah berdiri di belakang Tiara pun menerima tatapan Pak Adi yang sarat makna dengan tenang. Rama mengangguk tanda mengiyakan atau lebih tepatnya akan mengupayakan semaksimal mungkin dalam penjagaannya terhadap Tiara.
"Ayah..." isak Tiara semakin dalam di dada Pak Adi.
Setelah melepas kerinduan di depan pintu kamar, akhirnya mereka pun berpindah ke ruang keluarga untuk memotong kue dan bercanda tawa di sana. Tiara pun mulai memotong kue dan potongan pertama diberikannya kepada Rama.
Rama sedikit terkejut dan malu menerimanya.
__ADS_1
"Kalau aku kasih ke orang lain dulu, pasti aku kena omel Ayah, Bunda, dan Kakek," bisik Tiara sambil menyerahkan potongan pertama ulang tahunnya.
"Apa pun itu. Thanks and love you," balas Rama dengan berbisik sambil mengusap ubun-ubun Tiara.
"Selamat ulang tahun, Istriku," ucap Rama sok manis membuat Tiara serasa ingin muntah mendengarnya.
"Terima kasih, Suamiku," sahut Tiara tak kalah menjengkelkan.
Namun, tingkah Rama dan Tiara malah mencuatkan gelak tawa di ruangan itu. Rama yang awalnya terlihat diam misterius, tiba-tiba berubah menjadi absurd seperti tertular sifat Tiara. Candaan hangat pun menghiasi perbincangan mereka yang tanpa sekat sama sekali. Bahkan, Bi Siti, Pak Rahmat, dan supir yang membawa keluarga Tiara pun turut dalam kebersamaan itu.
...****************...
Setelah malam semakin larut, semua kembali ke kamar masing-masing. Bu Ina memang sudah menyiapkan kamar untuk keluarga Tiara karena rencana itu sudah dirancang dari seminggu lalu.
Saat sudah di kamar, Rama menyerahkan sebuah kotak kado berwarna cream dengan hiasan pita berwarna mocca yang terlihat sangat simpel namun elegan. Tiara pun menerimanya dengan sangat antusias dan mata berbinar-binar membuat Rama bahagia melihatnya.
"Ini apa, Bang?" tanya Tiara penasaran.
"Iya buka aja sendiri. Kalau aku jawab, nggak surprise dong," jawab Rama sambil duduk di tepi ranjang.
"Boleh aku buka di sini?" tanya Tiara girang.
"Yakin mau buka di sini? Nggak malu?" jawab Rama dengan lirikan genit.
"Emang apa isinya? Awas aja kalau isinya macam-macam. Aku buka aja di sini lah. Kalau Abang kasih kado aneh, biar langsung kutimpuk di wajah Abang," sahut Tiara mulai awas.
"Iya udah buka aja," jawab Rama sambil tersenyum-senyum geli.
Tiara sampai memilih duduk di lantai untuk membuka kado dari suaminya. Hatinya tentu berdebar membayangkan apa yang diberikan suaminya kepadanya. Tentu, ini kado pertama selepas pernikahan mereka yang penuh huru-hara di dalam sampai luar kepala.
Saat Tiara buka kotak kado, ada serpihan-serpihan kertas dengan kotak navy di atasnya. Dengan tangan bergetar, Tiara pun membuka kotak itu dan terlihatlah sebuah kalung dengan bandul satu tetesan air yang diberi satu butir mutiara di tengahnya.
"Satu butir mutiara untuk nama Mutiara. Satu tetesan air untuk Salsabila yang artinya mata air dari surga," cetus Rama membuat Tiara langsung menitikkan air mata.
"Makasih, Abang," ucap Tiara menunduk karena tak kuasa menatap mata suaminya yang benar-benar romantis kali ini.
Tiara mengusap-usap kalung itu dengan penuh keharuan dan kebahagiaan. Tak menyangka, Rama yang cuek dan arrogant itu akan begitu manis padanya.
"Sini aku pakaikan," ucap Rama ikut duduk berjongkok dan mengambil kalung dari tangan Tiara.
Rama memakaikan kalung itu dengan tatapan lekat pada wajah ayu istrinya yang semakin memesona di matanya.
"Ya. Sempurna. Sangat cocok untukmu. Tapi, kadonya belum selesai. Masih ada lagi," ucap Rama sembari mengusap air mata Tiara.
Tiara yang awalnya menangis pun langsung kicep dan bingung keheranan. Rasa harunya hilang seketika karena ucapan Rama yang semacam itu tentu mengandung suatu ancaman baginya.
"Mana?" tanya Tiara mulai kesal.
"Cari aja," jawab Rama kembali duduk di kasur namun kali ini sedikit lebih menjauh dari Tiara.
Tiara pun mengorek-orek potongan kertas sebagai hiasan di sana dan ia menemukan sebuah paperbag kecil berwarna merah hati di sana.
"Ini, Bang?" tanya Tiara sambil menenteng paperbag itu dan menunjukkan kepada Rama.
Rama mengangguk menahan tawa.
Tiara pun mengambil kain yang terlipat rapi di paperbag itu. Setelah dibuka ikatan di kain itu, sebuah baju haram berwarna hitam terpampang nyata. Walaupun luarannya berlengan panjang terbuat dari satin halus namun inner-nya transparan dan sangat menggoda iman.
"Abang, baju macam apa ini?" teriak Tiara malu sendiri melihat baju itu.
"Itu baju untuk menambah pahalamu. Coba pakailah! Kalau kekecilan atau kebesaran bisa ditukar kok, masih garansi," gelak Rama melihat ekspresi bingung Tiara.
"Ogah. Dasar omes!" tukas Tiara sambil berdiri dengan kepala berapi-api.
Tanpa berpamitan, Tiara pun berjalan ke ruang ganti seperti biasa untuk berganti piyama.
Lima belas menit Rama menunggu Tiara. Rama merasa tak enak hati sendiri karena takut Tiara tersinggung dengan hadiahnya sehingga ia tak kunjung kembali. Pikirannya melayang ke mana-mana, bahkan ia semakin penasaran takut Tiara pingsan karena kelelahan. Tanpa meminta persetujuan, Rama pun turun dari dipan dan berjalan mendekati ruang ganti untuk memastikan keadaan Tiara.
Sesampainya di sana, Rama pun terpegun sampai melotot terkejut.
"Raa...!" pekik Rama panik.
...****************...
__ADS_1