Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Manis Gula-Gula


__ADS_3

"Jangan mimpi, Om Bim. Saya hanya punya satu istri, yakni Tiara. Mau hancur atau hilang sekali pun masa depan Selvi, itu urusannya dan tak ada kaitannya dengan saya," tegas Rama jengkel.


"Lancang sekali mulutmu!" sentak Bu Rita.


"Daripada begini. Biar bukti yang berbicara. Mungkin bisa sedikit membuka mata hati kita semua. Sudah saya duga alur selanjutnya akan begini, jadi saya juga sudah memiliki cara untuk mengantisipasi. Permainan Mbak Selvi kurang cantik. Dari bukti fisik saja sebenarnya sudah terlihat, Mbak Selvi tidak apa dan Pak Rama terluka pergelangan tangan serta kakinya karena diborgol anak tercinta Anda," ucap Bayu menengahi sambil mengambil laptop di tas Rama dan mengeluarkan flashdisk di saku celananya.


"Kamu ini siapa? Ikut campur urusan kamu saja," sahut Pak Bima menyorot tajam Bayu namun Bayu menanggapinya dengan santai dan tersenyum mengejek.


"Saya di sini asisten Pak Rama. Saya yang ada di tempat kejadian jadi saya juga paham bagaimana situasinya. Di sini, saya tidak akan banyak bicara. Cukup kalian lihat saja bagaimana bukti berbicara lebih detail," ucap Bayu yakin dan membuka bukti cctv di laptop.


Tiara pun menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan bukti rekaman suara pengakuan petugas hotel dan video rekaman perilaku Selvi juga. Rama sampai terpukau melihat kerja sama Bayu dan Tiara yang benar-benar membantunya di saat genting seperti ini. Ia semakin bangga dengan keduanya.


Berbeda dengan respon orang tua Selvi, mereka hanya terdiam, bahkan terlihat begitu jengah melihat satu per satu video sambil mendengarkam pengakuan petugas hotel. Mereka pun menahan malu luar biasa. Hans pun menggeleng-geleng melihat bukti yang berkebalikan dengan yang diceritakan Selvi. Sebenarnya, Tiara dan Bayu malas menunjukkan rekaman itu namun orang tua Selvi masih berusaha menyangkal untuk menutupi rasa malu dan harkat martabat keluarga mereka. Akhirnya, rekaman itupun diputar. Diawali Selvi yang mengatakan tentang obat perangsang dengan gambar masih diam di lorong kamar. Kemudian, terlihatlah Selvi yang melakukan pelecehan terhadap Rama yang diborgol.


Bu Ina sangat murka mengetahui itu. Ia tentu sangat tak terima karena orang tua Selvi sudah menuduh dan memukul anak-anaknya, padahal semua hanya karangan Selvi. Hans langsung menunduk dan malu sendiri melihatnya, ia bersyukur tak memberikan pengakuan lebih dan ikut campur karena ternyata fakta berbicara lain.


"Astaghfirullah. Wanita macam apa seperti itu perilakunya," serapah Bu Ina menggeleng-geleng tak menyangka sampai kehabisan kata-kata.


Orang tua Selvi pun senyap seribu bahasa. Mereka tak berani lagi berdalih memuja dan memuji putri kesayangan mereka. Tiba-tiba, Selvi membuka mata karena merasa isi perutnya hendak keluar. Ia pun mual-mual namun tak sampai muntah membuat orang di ruangan itu semakin tercengang.


Saat Selvi duduk kembali, jatuhlah sebuah testpack dari saku bajunya. Testpack itu jatuh terlempar tepat di depan Tiara dan Tiara segera memungutnya. Bu Ina pun ikut melongok testpack yang ternyata menunjukkan garis dua.


"Ini jatuh dari bajumu," ucap Tiara menyerahkan testpack itu lagi kepada Selvi.


Selvi hendak mengelak namun semua orang di ruangan itu paham jika benda itu jatuh dari saku baju Selvi. Bu Rita pun sampai berkaca-kaca dan menerima testpack itu dengan tangan bergetar. Pak Bima pun menyorot tajam kepada Selvi yang sudah benar-benar mempermalukannya di rumah Rama.


"Jadi, ini alasannya. Pantas, ngebet. Harusnya mintalah pertanggungjawaban kepada yang menanam benih dong," sindir Bu Ina membuat wajah Selvi memerah.


"Anak siapa, Selvi?!" teriak Pak Bima menggema di ruang tamu dan berkacak pinggang di depan anaknya.


Selvi menunduk dan terisak sejadi-jadinya. Nampak jelas ketakutan di wajah Selvi sampai tak dapat berucap sekecap pun. Tangannya gemetar mendengar bentakan Pak Bima yang menggelegar hingga memukul mundur semua keberaniannya.


Plaaakkkkk


Pak Bima menampar Selvi hingga jatuh tersungkur ke lantai. Bu Rita pun menangis kecewa namun segera bersimpuh memeluk putrinya karena Pak Bima sudah mengangkat kakinya dan hampir menendang Selvi.


"Cukup, Pa. Ayo kita pulang. Kita selesaikan di rumah," bujuk Bu Rita membuat Pak Bima mengurungkan tendangan mautnya.


"Memalukan! Anak setan!" hardik Pak Bima penuh amarah.


"Cukup, Pa," bentak Bu Rita mendelik tajam.


"Cukup membela anak tak tahu diuntung ini. Sudah mencoreng nama baik keluarga," sahut Pak Bima.


"Jika memang mau membuat kegaduhan dan bertengkar, saya mohon angkat kaki kalian dari sini! Selesaikan masalah kalian di rumah karena urusan kita sudah selesai," usir Bu Ina tegas dengan mengacungkan jari ke pintu keluar.


"Bu Ina, Rama, saya minta maaf atas nama keluarga. Maaf sudah membuat kegaduhan di rumah kalian," ucap Pak Bima merendah dan menunduk sangat merasa bersalah.


"Minta maaf itu kepada Rama dan Tiara yang sudah Bapak pukul sesuka hati. Ibu mana yang terima anaknya dipukul orang lain. Saya saja yang Ibunya, tak pernah sedikit pun itu mencubit mereka walaupun hanya bercanda. Tolong jangan ulangi lagi! Saya tak segan-segan memproses ke jalur hukum jika Bapak berani mengusik keluarga saya lagi," tegas Bu Ina teramat kecewa.


"Iya, Bu. Rama, maafkan Om. Tiara, maafkan saya juga ya," ucap Pak Bima tulus dan menunduk begitu malu sampai tak berani menatap mata mereka.


"Iya, Om. Nggak apa. Om udah dua kali loh memukul Abang Rama. Saya harap ini terakhir kali," sahut Tiara sambil meremas tisu yang berdarah-darah.


"Iya. Saya dan keluarga pamit," jawab Pak Bima merendah.


Dengan kasar, Pak Bima menuntun Selvi berdiri dan menyeretnya dengan langkah cepat hingga Selvi sulit mengimbangi dan berkali-kali hampir tersandung kaki sendiri. Bu Rita menyusul dan memohon sambil menangi iba terhadap nasib anaknya. Sedangkan Hans masih duduk di ruangan itu dengan wajah malu karena bagaimanapun Selvi adalah salah satu anggota keluarganya.


"Rama, kuharap kamu nggak memutuskan kerja sama kita karena hal ini. Sungguh, aku tak tahu menahu tentang rencana busuk Selvi. Aku nggak tahu kalau ternyata makananmu dicampur dengan obat perangsang. Sungguh memalukan," ucap Hans merasa bersalah dan cemas.


"Nggak, Hans. Aku tahu. Tapi, kalau boleh aku minta. Pecat Selvi dari perusahaanmu. Aku tak mau lagi bertemu dengannya. Kalau kamu butuh sekretaris baru yang kompeten, aku akan bantu mencarikan yang kompeten," sahut Rama memohon.


"Tanpa kamu minta, aku juga udah memikirkan itu. Aku pun nggak nyaman karena Selvi mengusikmu sampai sejauh ini. Kerjanya juga nggak bener. Kemarin, aku pertahankan juga karena tidak enak dengan Om dan Tante. Setelah kasus ini, aku semakin yakin untuk merumahkannya demi kemaslahatan bersama. Reputasi perusahaanku aman dan keluargamu juga kembali tenang," papar Hans sangat tulus.

__ADS_1


"Terima kasih, Hans," balas Rama.


"Aku ke sini juga sebenarnya bukan untuk menemani Selvi, tetapi memastikan keadaanmu setelah mengetahui kabar dari Bayu. Ya udah, Tante, Rama, Dik Tiara, Bayu, saya pamit pulang dulu. Maaf telah mengganggu waktu istirahat kalian," pamit Hans amat sopan membuat emosi orang-orang di ruangan itu mereda seketika.


"Iya, Nak Hans. Hati-hati di jalan ya," sahut Bu Ina lemah lembut membuat tenang yang mendengarnya.


"Baik, Tante," jawab Hans tersenyum.


"Hati-hati, Hans," ucap Rama.


"Oke," timpal Hans.


Bayu dan Tiara hanya membungkuk sebentar serta menyunggingkan senyum menanggapi ucapan pamit Hans.


"Bu, Bayu juga pulang dulu ya," pamit Bayu bersalaman dengan Bu Ina.


"Makan malam dulu di sini," bujuk Bu Ina.


"Terima kasih, Bu. Saya masih ada urusan di luar," sahut Bayu sungkan namun berusaha tetap sopan.


"Thanks, Bay. Gila sih kamu sedetail ini. Aku kagum dengan ketelitian dan kehati-hatianmu," puji Rama jujur sekali.


"Ini juga berkat Mbak Tiara. Tanpa Mbak Tiara, aku akan sulit mengurus semua di sana," sahut Bayu tersenyum.


"Iya. Aku dijadikan umpan buat pancingan. Dijadikan tamengnya. Sungguh tega Om Bayu ini," ceteluk Tiara membuat ketiga orang di sana terkekeh.


"Hehe. Yang penting semua beres kan, Nona. Ya udah saya pamit dulu ya, Tante. Assalamualaikum," pamit Bayu.


"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh," jawab ketiga orang serempak.


...****************...


"Abang, apa sih yang kamu lakukan? Malam-malam kok olahraga. Tidur woi. Tidur. Mengganggu pemandangan tahu," tanya Tiara keheranan melihat Rama



(Sumber: Pinterest)


"Gara-gara kamu dapet segala. Aku jadi harus minum air kelapa muda, banyak minum air putih, dan berolahraga ringan untuk meredakan efek obatnya," rutuk Rama kesal.


"Kapok. Dadah Abang. Semangat olahraganya biar sehat. Aku tidur duluan ya" sahut Tiara sambil beranjak dari sofa sambil tersenyum mengejek dan berlari melompat ke kasur.



(Sumber: Pinterest)


"Berani ya sekarang," ucap Rama melirik genit dan siap menerkam istrinya.


"Sini aku manjain biar efek obatnya semakin berkurang, Bang," tantang Tiara sambil tertidur miring dengan pose menggoda dan menyingkap home dress-nya sampai setengah paha.


Tanpa menjawab, Rama pun melesat ke kasur dan menindih badan Tiara dengan gerakan cepat hingga Tiara tak sempat memberontak. Rama langsung menyambar bibir Tiara tanpa ampun tak peduli keringatnya membasahi Tiara juga. Tiara pun berusaha mengelak namun tenaganya kalah kuat oleh cekalan Rama yang sudah pulih tak selemas tadi.


"Kali ini bukan efek obat. Melihat kamu aja udah lebih gila efeknya daripada perangsang, Sayang," tutur Rama menjeda sejenak permainannya agar Tiara bisa meraup udara.


"Aih gombal. Padahal jelas-jelas tubuh Selvi lebih bohay daripada aku. Masa nggak terangsang olehnya. Bukankah tubuh seperti itu yang digilai para laki-laki?" sangkal Tiara kesal sendiri.


"Tapi, bukan aku. Nggak mungkin lah aku bisa tergoda wanita yang jelas-jelas tak bisa menjaga kehormatannya. Lagian, aku udah punya kamu. Ngapain melirik yang lain juga. Sexy, montok, bodi kayak gitar spanyol pun tak peduli. Karena bagiku, yang penting halalnya," jawab Rama membuat Tiara tersipu malu.


"Abang, keringat Abang loh bercucuran. Bau. Jangan dekati aku dulu sebelum mandi," usir Tiara mencoba menyembunyikan kegugupannya.


"Keringat suami bikin berkah loh, Ra," bela Rama sambil melepas satu per satu kancing home dress Tiara bagian dada dengan lembut hingga pergerakan tangannya tak disadari Tiara.


"Bukan bikin berkah, tapi bikin basah," bantah Tiara tak sudi kalah.

__ADS_1


Rama pun membuka pakaian Tiara bagian dada hingga membuat Tiara menjerit mengetahuinya. Tanpa meminta persetujuan, Rama langsung merem@s kedua bukit kenyal nan mungil Tiara yang sekarang menjadi bagian favoritnya.


"Apa yang Abang lakukan?" tanya Tiara berusaha menutup lagi bagian dadanya karena malu namun Rama tak membiarkan Tiara melancarkan aksinya.


"Aku haus," jawab Rama nakal.


"Iya udah. Minum," sahut Tiara galak.


"Maunya minum ini," jawab Rama membenamkan wajahnya di antara dua buah dada Tiara yang masih tertutup bra.


"Abang, geli," berontak Tiara menggelinjang.


"Hukuman buat kamu yang udah kapok-kapokin suami," cetus Rama sambil terus men©iumi dada Tiara.


Rama pun melancarkan aksinya. Tak ada sesenti pun bagian tubuhnya yang absen dari permainan bibir Rama. Hanya disisakan bagian paling vital yang sedang tidak bisa diganggu gugat. Walaupun sekadar bergerilya manja namun Rama begitu menikmatinya. Bagaimana tidak menikmati, Tiara saja hanya melakukan perlawanan kecil dengan menggeliat kegelian namun tetap saja des@h lirihnya mampu didengar Rama dan menyunggah semangat Rama untuk lebih liar menyusur setiap lekuk tubuh istrinya.


Saat gairah Rama benar-benar meninggi, Rama pun menuntun Tiara ke kamar mandi karena mereka sudah basah oleh keringat. Tiara pun hanya bisa menurut karena ia merasa suaminya memang membutuhkan kehadirannya untuk mengurangi efek obat perangsang itu. Sesampainya di kamar mandi, Rama menanggalkan seluruh pakaiannya dan langsung memeluk Tiara agar tak berlari melihat keadaannya sepolos ini.


"Aku butuh kamu untuk menuntaskan semuanya," bisik Rama di telinga Tiara dan seperti biasa sambil menggigit cuping Tiara lembut.


"Tapi, aku kan lagi ada tamu bulanan," jawab Tiara sambil merem melek.


"Ada cara lain," sahut Rama tersenyum menang.


Tiiiiiiiiiit... (Eits, bagian ini author sensor ya. Takut terjadi hal yang iya-iya hehe)


Terangnya, malam itu pun mereka lewati dengan manis dan legit. Walaupun sedikit kelelahan namun terbayar dengan cinta mereka yang semakin tak tergoyahkan. Selepas permainan baru mereka selesai, keduanya mandi bersama dan merebah di ranjang sambil bercengkerama manja. Tiara bahkan tak sungkan lagi untuk bergelayut di dada Rama.


"Aku jadi kasihan sama Mak Lampir. Melihat papanya sekeras itu. Semoga dia nggak digantung hidup-hidup deh," cetus Tiara tiba-tiba terbesit perihal Selvi.


"Biarkan. Itu udah konsekuensi dia. Jangan memikirkan yang nggak seharusnya kamu pikirkan. Dia nggak penting," sahut Rama kesal.


"Iya, Bang. Eh, Bang kayaknya Om Bayu suka sama Wanda deh. Wanda kemarin cerita kalau Om Bayu sering sekali menghubunginya namun dia cuekin," terang Tiara.


"Bayu anak baik. Katakan padanya," suruh Rama.


"Nggak semudah itu, Abang. Kebaikan itulah yang bikin Wanda takut. Terlalu baik malah membuat Wanda teringat traumanya," bantah Tiara bingung bagaimana menceritakan.


"Kok seperti itu? Kenapa? Wanda single, kan?" sangsi Rama penasaran.


"Bukan kuasaku untuk menceritakan semua, biar Wanda sendiri yang berhak menceritakan perihal privasinya. Pokoknya, Abang bilangin Om Bayu jangan terlalu agresif karena alih-alih membuat Wanda respek, malah akhirnya Wanda semakin ketakutan dengan Om Bayu. Wanda punya luka batin luar biasa tentang pria, jadi untuk mengambil hatinya tentu butuh kesabaran. Aku mengatakan ini karena ingin support Om Bayu kalau memang serius dengan Wanda," jawab Tiara.


"Oh. Iya. Kamu bisa membantunya mendekati Wanda?" tanya Rama.


"Iya aku bantu, tapi nggak bisa berbuat banyak. Om Bayu yang harus banyak aksi namum harus hati-hati sekali karena Wanda sangat sensitif terhadap lelaki. Jangan menunjukkan obsesi atau terlalu baik, biar Wanda nyaman sebagai teman terlebih dahulu," pesan Tiara.


"Sesulit itukah Wanda?" tanya Rama mengerutkan kening.


"Iya, Bang. Dia telah melalui hidup yang tak mudah jadi sangat waspada dalam melangkah, apalagi kalau sampai berurusan dengan hati. Tentu dia lebih menghindari," jawab Tiara.


"Kalau seperti itu, kenapa kamu malau mendukung Bayu? Bukankah itu jalan yang sulit?" ucap Rama penasaran.


"Iya kalau Om Bayu benar-benar serius, tentu aku mendukung. Barangkali dengan kehadiran Om Bayu, Wanda bisa lepas dari traumanya perlahan-lahan. Makanya, Abang tanyakan keseriusan Om Bayu agar tak mengecewakan di tengah jalan," sahut Tiara.


"Coba besok-besok aku tanyakan lagi deh. Tapi, Wanda anak yang baik, kan?" ucap Rama memastikan.


"Baik kok, Bang. Dia bahkan sangat bijak dan dewasa. Cuma kekurangannya ya takut sama lelaki yang mencoba mendekati dan memberikan perhatian lebih kepadanya," sahut Tiara.


"Ya sudah. Lebih baik, kita tidur. Mataku sudah sangat berat untuk membuka," ajak Rama sambil mendekap Tiara dan mengecup kening, pipi, dan bibir istrinya dengan lembut.


"Iya, Abang," sahut Tiara membalas pelukan Rama dengan lembut.


Segala puji bagimu yang sudah memulangkan kembali istriku, Ya Rabb. Bantulah aku untuk bisa menjaganya dan berkahi rumah tangga kami dengan cinta kasih-Mu. Doa Rama dalam hati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2