
"Bagaimana hasilnya? Jangan bilang, kamu..." bentak Rama mendelik garang.
"Begini, Bang..." sela Bayu gamang.
Sejurus kemudian, sebuah e-mail dari maskapai penerbangan masuk tepat saat hidupnya sudah di ambang kehancuran. Akhirnya, Bayu bisa tersenyum kembali ketika dirinya terselamatkan. Ia pun langsung membayar tiket itu dan mendoakan dalam hati agar maskapai yang menolongnya diberi kelancaran dalam setiap urusan.
"Dapat, Bang. Tapi first class udah habis, jadi dapat yang business class. Ini pun karena ada yang cancel. Oke, Bang?" terang Bayu sangat bersemangat.
"Oke. Jam berapa?" tanya Rama menaikkan satu alisnya.
"Pukul sebelas, Bang," jawab Bayu sambil melihat tiket di layar komputernya.
"Satu jam lagi ya. Ayo kita berangkat. Tolong handle semuanya, termasuk revisi berkas dari divisi keuangan," perintah Rama dibalas dengan hormat dan anggukan dari Bayu yang sedikit lega meskipun pekerjaan berat masih menunggunya.
...****************...
Bib bib bib!
Sebuah klakson mobil berhasil mencuri perhatian Tiara yang sedang duduk di beranda bersama Pak Tirta. Taksi itu hanya berhenti di depan gerbang tetangga kediaman mereka. Pak Singgih yang sedang membersihkan rumput di halaman pun turut mengalihkan pandang ke mobil merah yang berhenti, hanya menduga-duga itu mobil pribadi atau taksi online. Saat pintu mobil itu terbuka, turunlah lelaki yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya namun dipakai dengan sembarang. Ia pun menoleh kanan dan kiri untuk menyeberangi jalan yang tidak terlalu ramai.
(Sumber: Pinterest)
"Bang Rama," sebut Tiara berdiri tidak percaya dan menganga sampai hampir menetes liurnya.
Tentu panggilan itu tak terdengar oleh si empunya nama karena jarak mereka masih terlalu jauh untuk Rama bisa menerima suara yang hanya seperti bisikan saja. Rama tersenyum tulus kepada Tiara dan Pak Tirta yang masih tertegun atas kedatangannya yang sangat tiba-tiba.
Dengan cekatan, Pak Singgih membuka gerbang dan menyambut Rama dengan sangat sopan. Rama pun tersenyum tulus menerima sambutan Pak Singgih yang sungguh tidak dibuat-buat atau untuk cari muka saja.
"Cucuku," panggil Pak Tirta sambil berdiri dan merentangkan tangan menyambut kedatangan Rama.
Rama pun berhambur memeluk Pak Tirta setulus mungkin, kemudian bersalaman dengan penuh hormat dan kesantunan. Ia pun duduk di samping Pak Tirta yang menepuk punggungnya dengan pelan menyiratkan kebanggaan. Sedangkan Tiara masih mematung setengah tak percaya karena baru sekitar tiga jam yang lalu Rama memberitahukan kesibukannya, tiba-tiba sudah sampai di depan mata.
"Akhirnya, kamu pulang juga," tutur Pak Tirta penuh kasih sayang sembari mengusap punggung Rama.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin tak pulang, Kek. Cucu kakek merajuk minta dijenguk," seloroh Rama membuat Pak Tirta menggeleng-gelengkan kepala.
Menyadari ia dilibatkan dalam pembicaraan, Tiara pun tersadar dan langsung mendelik kesal kepada Rama yang berbicara asal. Rama pun membalasnya dengan senyuman kemenangan.
"Apaan. Siapa yang minta dijenguk. Jangan kepedean ya, Bang," balah Tiara tak terima.
"Udah, Ra. Sana masuk. Minta Bi Darsi buatkan minum untuk suamimu," perintah Pak Tirta.
Tiara pun tak bisa mengelak dan membela diri lagi. Ia mengangguk dan segera berdiri.
"Eh kamu saja yang buatkan, tapi takarannya tanyakan ke Bi Darsi. Jangan asal atau kamu akan meracuni suamimu," ralat Pak Tirta.
"Gulanya setengah sendok teh ya," sindir Rama seraya tersenyum penuh arti berusaha mengingatkan Tiara tentang tragedi secangkir kopi yang pernah menggemparkan bumi.
Tiara pun menyeringai, kemudian memonyong-monyongkan bibir tanpa suara untuk menirukan sindiran Rama. Kemudian, ia masuk dan melaksanakan perintah kakeknya. Setelah Tiara hilang dari pandangan, Pak Tirta menatap Rama sarat makna.
"Kamu persis sekali dengan Nak Arif. Di luar terlihat dingin dan cuek, tetapi aslinya perhatian. Nampak sekali Tiara sangat nyaman di dekatmu walaupun sikap yang ditunjukkan bertolak belakang. Akhirnya, saya bisa tenang melepaskan Tiara di Jakarta," cetus Pak Tirta membuka percakapan.
"Rama tidak sebaik itu, Kek. Sering kok Rama galak kepada Tiara dan tegas karena kadang sangat susah dibilangin, tapi kadang juga mudah mengerti dan bisa bersikap dewasa," sahut Rama.
"Iya memang Tiara kadang harus digalakin karena suka membangkang. Semoga kamu bisa lebih sabar menghadapinya," harap Pak Tirta kepada Rama.
"Ya udah karena Tiara di sini. Kakek pamit dulu ke dalam untuk beristirahat ya," pamit Pak Tirta.
"Baik, Kek," sahut Rama dan Tiara kompak.
"Perlu saya bantu, Kek?" tawar Rama.
"Tidak usah. Duduklah saja. Istirahat. Kakek bisa sendiri," sanggah Pak Tirta halus.
Setelah Pak Tirta masuk, Rama pun duduk merapat ke samping Tiara yang masih betah dengan kebisuannya. Rama merasa suasana hatinya lebih baik setelah melihat wajah imut istrinya walaupun disambut dengan kecut dan mengajak gelut. Pria itu mencolek dagu Tiara dengan gemas membuat Tiara melirik sengit.
"Kenapa Abang kemari? Katanya sibuk," tanya Tiara sudah gatal mulutnya untuk diam.
"Kamu kangen. Jadi, aku kemari," jawab Rama menatap manja istrinya.
__ADS_1
"Ge-er banget sih. Siapa juga yang kangen? Kamu mungkin yang kangen," sangkal Tiara mencoba mengingkari diri sendiri.
"Iya udah. Kalau emang aku yang kangen, kamu mau apa?" goda Rama membuat skakmat Tiara sampai bingung harus menjawab bagaimana.
"Iya... Ng...gak apa-apa," sahut Tiara terbata-bata tak bisa menahan rasa gugupnya.
"Tuh kan, berarti memang kangen," ucap Rama menyimpulkan.
"Nggak!" sanggaj Tiara mentah.
"Itu malu-malu nggak berani lihat aku, kan?" usik Rama semakin menggoda Tiara.
Tiara pun jengah namun terus berusaha membantah. Mendengar ucapan Rama, Tiara pun tertantang untuk meliriknya dengan malas dan pura-pura tidak minat.
(Sumber: Pinterest)
"Abang yang kangen aku ya?" tanya Tiara mencoba mencairkan kekakuan dalam dirinya.
"Iya," jawab Rama singkat dan tegas.
Tiara mendadak bungkam tak habis pikir dengan suaminya yang tak lagi mencari alasan. Kejujuran Rama membuat hatinya meleleh sempurna. Ia tak bisa lagi membantah ataupun menyangkal. Tiara pun menunduk menyembunyikan malu di sikap diamnya.
"Abang kenapa harus sejujur itu?" protes Tiara tak berani menunjukkan wajah merahnya.
"Nggak ada gunanya berbohong. Aku mungkin bisa membohongimu namun tidak bisa dengan perasaanku. Untuk apa ditutup-tutupi, toh kita suami istri. Bukankah kamu mau kejujuran? Kenapa malah jadi menyangsikan?" sahut Rama tak berjeda seperti gerbong kereta.
"Aih. Abang pandai sekali bicara," ujar Tiara kehabisan kata-kata.
"Kalau aku cuma diam, bagaimana bisa membuatmu jatuh cinta?" bisik Rama di telinga Tiara.
"Om-om ini memang sangat berbahaya. Lebih baik aku siapkan baju ganti dan air mandi untuknya saja daripada aku akan habis dimakan oleh keganasannya," ucap Tiara pura-pura mendrama.
Ia pun berlari tanpa pamit kepada suami. Tentunya, itu satu-satunya cara untuk menjaga debar di dadanya agar tak sampai tertangkap oleh kuping sang penyebab. Sedangkan sang pelaku yang membuat Tiara malu-malu pun hanya tersenyum gemas sambil menikmati kopi buatan istrinya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Kangen aja masih malu-malu keong eh meong. Gumam Rama membatin saja.
...****************...