
"Abang, hati-hati. Salam buat Mama ya. Jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai," rengek Tiara yang mendadak risau melepas kepergian Rama walaupun hanya sementara.
Tiga hari ternyata berjalan lebih cepat dari biasanya, Rama pun harus pulang ke Jakarta untuk melanjutkan pekerjaannya. Tentu ia harus berbesar hati berpisah sementara dengan istri kecilnya karena ingin memberinya ruang untuk tetap dekat dengan keluarga. Ia tak ingin pernikahan seolah memberi jarak antara mereka.
"Nggak mau antar sampai dalam?" tanya Rama sambil mengusap rambut Tiara.
Tiara menggeleng-gelengkan kepala tanpa suara. Ada tangis yang sedang ditahan walaupun ia tak tahu pasti apa yang sebenarnya ingin ditangisinya. Seakan ada yang keganjilan yang enggan dituntaskan walaupun ia sudah mencari berbagai cara untuk menggenapkannya.
"Sini," suruh Rama sambil melambaikan tangan.
Melihat Tiara hanya diam di tempat, ia pun berinisiatif untuk mendekati Tiara. Tanpa meminta persetujuan, ia memeluk Tiara penuh kerinduan. Ya memang itu yang dirasakannya. Mungkin sedikit berlebihan namun itulah yang dirasakan, selancang itu kerinduan datang sebelum perpisahan mereka belum benar-benar tiba.
"Jangan badung lagi. Kalau kamu nakal, aku yang akan dianggap gagal. Bilang kalau rindu biar aku sempatkan waktu untuk mengunjungimu. Bilang juga kalau mau pulang, nanti kujemput kapan pun kamu menginginkan," ucap Rama sembari mengusap punggung Tiara.
"Abang, nggak bisa tinggal sehari lagi? Kan Abang itu boss jadi bisa kapan saja ambil cuti," tanya Tiara yang menyembunyikan wajah di dada bidang Rama.
"Nggak bisa, Ra. Kamu kan tahu sendiri, besok ada agenda penandatanganan MOU bersama Hans. Besok-besok aku pulang lagi ya," jawab Rama tetap tenang.
Tiara menengadahkan kepala bersitatap dengan Rama yang juga sama risaunya.
"Berarti besok bertemu Mak Lampir itu dong? Nanti pasti dia merasa menang kamu datang sendirian. Dia bisa bebas menggodamu dan mencari perhatianmu," sungut Tiara sambil mencebikkan bibir.
"Iya bagaimana lagi. Dia kan sekretaris Hans. Sudahlah. Abang sudah milik Tiara seorang. Biarkan dia menggoda atau semacamnya, yang penting kan aku nggak menanggapi," bujuk Rama menenangkan istrinya yang sudah berani terang-terangan menunjukkan cemburu namun masih enggan mengaku.
"Tapi, aku nggak suka," sangkal Tiara.
"Tapi, kan aku nggak bisa mengaturnya harus bicara apa," timpal Rama.
"Aih Abang mah ngeselin. Ya udah sana berangkat!" tegas Tiara sambil melepas pelukan Rama dan melipat kedua tangan di dada.
Rama memegang kedua bahu Tiara dan mencondongkan badan untuk menyejajari tinggi Tiara.
"Udah nggak usah cemburu. Aku ini cuma milikmu. Kamu hati-hati pulangnya. Aku masuk ya, Sayang," ucap Rama seperti sedang bicara dengan anak kecil.
"Aku nggak cemburu. Aku takut aja Abang tiba-tiba khilaf dan balikan dengannya. Lalu, nasibku bagaimana? Masa jadi janda di usia muda?" sahut Tiara kesal sendiri.
Rama mengurungkan niatnya masuk ke lobi bandara. Lelaki itu pun menepuk jidat istrinya begitu gemas lantaran istrinya masih belum mau mengakui perasaannya padahal sudah begitu kentara.
"Mulutmu itu minta dibungkam atau bagaimana? Heran. Kalau ngomong kadang nggak ada rem dan sembarangan," timpal Rama tidak kesal sama sekali.
__ADS_1
"Iya kan zaman sekarang marak perceraian karena cinta lama belum kelar, Bang. Siapa yang nggak takut. Apalagi kita menikah karena perjodohan jadi banyak peluang terjadi kesenjangan perasaan," tepis Tiara dramatis.
Rama dilanda kegundahan sehingga menghela napas panjang dan menyeka wajah berusaha menghilangkan resah. Rama sampai kehabisan cara untuk menenangkan istrinya yang terlalu drama dan usaha terakhir yang bisa dilakukan hanya memeluknya.
"Udah. Kamu nggak usah terlalu mencemaskan karena aku nggak seburuk yang ada di pikiranmu. Sudah ya. Aku berangkat. Sebentar lagi harus udah check in. Kamu tenang saja. Aku nggak akan macam-macam di sana. Paling satu macam aja," ungkap Rama terkikik gemas.
"Abang!" seru Tiara melepaskan diri dari dekapan Rama dan menginjak kaki suaminya tanpa perasaan.
Rama pun mendesis kesakitan walaupun kakinya terbalut sepatu namun tenaga yang dikerahkan kaki Tiara di luar batas toleransi kesakitannya.
"Aw," pekik Rama mengangkat salah satu kakinya yang diinjak Tiara.
"Ini baru permulaan, Abang. Sana pulang. Dasar orang dewasa menyebalkan," serapah Tiara pura-pura marah.
Oh Tuhan, salah aku apa? Dia yang memulai perkara, dia yang marah, dia yanh drama, dia yang menginjak. Kenapa aku yang jadi menyebalkan? Ronta batin Rama berusaha menekan sabar lebih dalam.
"Bye, Sayang," pungkas Rama menghindari amukan Tiara yang lebih ganas.
Sebelum pergi, Rama pun mencium kening dan ubun-ubun Tiara penuh kehangatan. Kemarahan Tiara pun reda seketika berganti senyum yang melebar mengantar kepulangan Rama.
...****************...
Di rumah, Rama juga lebih banyak diam membuat Bu Ina bingung bagaimana harus menyikapinya. Bahkan, Bu Ina sampai cemas kalau-kalau Rama sedang ada masalah di kantornya. Padahal, masalahnya cuma di hati karena sang pujaan tak kunjung kembali.
Namun, di sisi lain, Bu Ina begitu takjub mendapati putranya beberapa kali memakai sarung dan menenteng sajadah untuk pergi ke masjid. Semenjak kepulangannya dari Surabaya, Bu Ina melihat Rama mulai berubah walaupun beberapa hal masih sulit dilogikakan. Sikap Rama yang sering uring-uringan membuat Bu Ina khawatir ada masalah besar di kantor sehingga ibadah menjadi satu-satunya jalan untuk menumpahkan segala kesah.
Beberapa kali Bu Ina membuka percakapan namun Rama hanya menjawab secukupnya. Bu Ina tetap tidak memaksakan walaupun jawaban Rama sungguh tidak meredakan kecemasan. Wanita tua itu sudah mencoba beberapa kali menghubungi Bayu untuk memastikan. Bayu pun mengabarkan kantor baik-baik saja namun ia juga mengatakan Rama menjadi lebih emosional terhadap hal sepele dan mudah marah. Bu Ina bertambah bingung dengan pernyataan Bayu itu. Padahal, Ia sudah sedikit lega melihat perubahan anaknya yang lebih hangat dan stabil selepas menikah dengan Tiara.
Akhirnya, menelepon Tiara menjadi jalan satu-satunya yang bisa diusahakannya saat ini.
"Assalamualaikum, Mama," salam Tiara nan jauh di sana.
"Waalaikumsalam, Putri Mama," jawab Bu Ina sembari tersenyum melihat wajah menantunya setelah setengah bulan lamanya.
"Mama, apa kabar?" tanya Tiara bersemangat.
"Baik. Sehat ini. Bagaimana kabarmu dan keluarga di sana? Sehat semua, kan?" jawab Bu Ina ramah.
"Alhamdulillah baik juga, Ma," sahut Tiara.
__ADS_1
"Syukurlah. Sayang, ada yang ingin Mama tanyakan tentang Rama. Boleh?" tanya Bu Ina mendadak serius.
"Abang kenapa, Ma?" tanya Tiara penasaran.
"Kamu sering komunikasi dengan Rama tidak?" kata Bu Ina mulai interogasi.
"Setiap hari kami chattingan, kadang video call juga ini," jawab Tiara jujur.
"Dia ada cerita masalah besar atau apa gitu?" tanya Bu Ina mulai bingung sendiri bagaimana menceritakannya.
"Nggak ada, Ma. Paling cerita kalo lagi ada beberapa proyek, tapi bisa dijalankan dengan baik. Nggak ada Abang cerita masalah yang pelik," jawab Tiara seraya mencoba mengingat-ingat pembicaraannya dengan Rama memang tidak ada yang aneh.
"Begini, Ra. Suamimu mendadak aneh. Di satu sisi, tentu Mama bahagia melihat Rama mulai memerhatikan ibadahnya. Di sisi lain, Mama bingung Rama mendadak jadi pendiam, suka uring-uringan, mudah marah, dan emosional. Mama takut dia sedang ada masalah besar, tapi enggan diceritakan," jelas Bu Ina sarat akan kecemasan.
Tiara menautkan alis keheranan. Pasalnya, selama ini juga Rama tidak pernah bercerita macam-macam kepadanya. Hanya bertanya kabar pada umumnya, kemudian menceritakan kesehariannya. Bahkan, lelaki itu selalu terlihat baik-baik saja saat berkomunikasi dengannya.
"Ya udah, Ma. Nanti biar Tiara tanyakan ke Abang ya. Mama nggak usah terlalu khawatir," ucap Tiara berusaha menenangkan mertuanya walaupun pikirannya sama gelisahnya.
"Terima kasih ya, Ra. Ya udah, sana kamu lanjutin aktivitas di sana. Salam ya buat kakek dan orang tuamu juga. Waassalamualaikum," sahut Bu Ina.
"Waalaikumsalam. Sehat-sehat di sana ya, Ma," pungkas Tiara.
Tak lama setelah Bu Ina melakukan panggilan video dengannya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering mendapati Bayu yang sedang meneleponnya. Ia menduga jika ini ada hubungannya dengan Rama. Ia pun langsung menjawab panggilan itu dengan antusias.
"Hallo, Mbak Tiara. Darurat!" seru Bayu penuh kecemasan.
Tiara pun gelisah takut ada hal buruk terjadi pada Rama. Ia pun duduk untuk mendengarkan dengan seksama penjelasan asistem Rama yang sedang dilanda kepanikan.
"Ada apa, Om?" tanya Tiara ikut khawatir.
"Bang Rama, Mbak. Suamimu, Mbak. Aduuh tolong. Astaga. Ya ampun, bagaimana menjelaskannya. Nggak usah panik, Mbak. Tenang," jawab Bayu sangat terburu-buru malah membuat Tiara semakin risau.
"Ada apa dengan Bang Rama? Yang panik kan Om kenapa aku yang disuruh tenang?" sahut Tiara tak habis pikir dengan kelakuan asisten suaminya yang seperti sedang menguji kesabarannya.
"Oh iya, Mbak. Lupa. Aduh kenapa jadi nggak nyambung sama topik utama," sahut Bayu cengengesan.
"Om, ada apa? Jangan bikin orang penasaran woiii," desak Tiara mulai kesal serasa ingin menimpuk muka Bayu dengan sendalnya agar segera tersadar dengan kelakuannya.
"Iya, Mbak. Bang Rama dalam bahaya!" cetus Bayu membuat Tiara sempurna membulatkan mata.
__ADS_1
...****************...