Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Om Bayu


__ADS_3

Semenjak pertemuan dengan Riza dan Aksa tempo hari, batin Rama agak terguncang merasa sangat diremehkan. Ia menyadari kelalaiannya dan sudah menyesali saat itu juga. Bahkan, tanpa mereka ingatkan juga rasa bersalah masih bersemayam sampai sekarang tentang insiden yang menimpa Tiara beberapa minggu lalu. Bayang-bayang tentang Tiara yang berwajah pucat dan berdarah-darah masih sangat basah diingatannya namun apalah daya semua sudah terjadi dan tidak bisa dicegah lagi.


"Pak Rama," panggil seseorang menarik Rama dari lamunan.


Rama pun tersadar dan sudah ada sekretaris Rama sedang berdiri di seberang meja. Namanya Susan, ia adalah sekretaris teladan sekaligus orang kepercayaan Rama setelah Bayu. Saat ini, ia sedang memandangi bosnya keheranan. Jarang-jarang, ia melamun sampai tidak merespon panggilan yang diucapkan beberapa kali, bahkan mungkin tak menyadari kedatangannya ke ruangan.


"Eh. Iya, San. Ada apa?" tanya Rama berusaha kembali tenang.


"Ini, Pak. Bangun Jaya Group mengirim surat undangan kerja sama dengan perusahaan kita. Tadi saya ingin membicarakan terlebih dahulu dengan Pak Bayu namun beliau sedang tidak di ruangannya. Jadi, saya langsung saja ke ruangan Bapak," jawab Susan sangat hati-hati.


"Oke. Tidak apa. Bayu sedang menjemput istri saya. Mana suratnya? Biar saya pelajari dulu," pinta Rama membuat Susan hampir tersedak.


Bagaimana tidak terkejut, tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada kabar pernikahan atau kecelakaan, tuan panutan dan idolanya telah menyandang gelar sebagai suami. Apakah masih pantas dia mengidolakan? Kalau sekadar mengagumi sepertinya tidak apa. Ia mencoba menghibur diri karena batinnya meronta-ronta patah hati dan sangat iri namun ia sangat sadar diri.


Istri? Selvi si model cantik itu? Kenapa mendadak seperti ini? Mereka memang sangat serasi. Cantik dan tampan. Susan hanya berani bergumam dalam hati.


"Kenapa diam? Mana suratnya?" desak Rama.


"Eh iya, Pak. Ini," sahut Susan gugup sambil menyerahkan berkas di tangannya.


"Baik. Nanti saya kabari lagi," ucap Rama sambil menerima berkasnya.


Susan pun pamit undur diri dan pergi. Rama mulai membuka berkas satu per satu di tangannya namun pikirannya tidak ada di sana. Ia mengeluh dalam hati karena Bayu tak jua kembali. Bagaimana mungkin ia begitu gelisah meninggalkan Tiara di rumah sendirian. Bahkan, ia pun heran dengan diri sendiri bisa sebegitunya peduli.


Berkali-kali, Rama menelepon Tiara namun tak ada jawaban. Ia mencak-mencak karena panggilannya diabaikan oleh Tiara. Akhirnya, jalan terakhir ia harus menelepon Bayu.


...****************...


Yang ditunggu Rama, ternyata di rumah sedang ribut mencari pakaian yang pas untuk dikenakan ke kantor Rama. Tiara pun mengacak-acak isi lemari sampai isinya berserakan karena takut mempermalukan Rama jika pakaian yang dikenakannya terlalu biasa atau terlalu mencolok. Ia mendengus kesal karena Rama tidak memberitahukan sebelumnya jika ia akan diajak ke kantor jadi tidak ada persiapan sama sekali. Tiba-tiba saja Bayu datang dan mengatakan diutus untuk menjemputnya.


Di luar pintu kamar, dua orang sedang menunggu Tiara berdandan. Mereka hanya saling melempar tanya di dalam tatap tanpa ada kata yang terucap. Mimik wajah mereka sama gelisahnya, meskipun penyebabnya berbeda. Bi Siti tentu takut majikannya kenapa-napa, sedangkan Bayu berkali-kali melirik jam yang melingkar di tangannya dengan resah dan takut disemprot bosnya.


"Non. Non Tiara baik-baik saja?" tanya Bi Sini cemas di balik pintu


"Aku baik-baik aja, Bi," teriak Tiara.


"Masih lama nggak, Mbak? Ini bos udah neror saya," sahut Bayu.


"Iya, Om. Sebentar. Agak diare aku ini. Sabar ya," jawab Tiara berbohong.


Om? Setua itukah aku? Untung yang bilang istri si bos. Bayu membatin keheranan.



Visual Bayu (Sumber: Pinterest)


Keduanya sama-sama menghela napas dan menahannya sebentar, lalu membuangnya dengan kasar. Bi Siti sebenarnya ingin segera kembali ke belakang untuk menyelesaikan pekerjaan namun tak mungkin ia membiarkan Bayu sendirian.


Setelah beberapa saat, Tiara akhirnya keluar dari kamar. Dengan raut tak berdosa, ia melebarkan senyum kepada dua orang yang menunggunya sampai persendian mereka kaku karena lelah berdiri lebih dari setengah jam. Entah mengapa dua orang itu tidak duduk saja saat menunggunya. Mungkin, keduanya terlalu takut karena mereka membawa titah dari Rama.


"Ayo, Om. Kita berangkat!" ajak Tiara sambil melenggang melewati Bayu dan Bi Siti yang masih terdiam melihat penampilannya.


"Oh iya, Bi. Tolong rapikan pakaian di kamar ya," pinta Tiara sambil berbalik badan.


"Baik, Non," sahut Bi Siti gagap.

__ADS_1


Bayu dan Bi Siti pun tersadar dari lamunannya. Mereka segela melaksanakan apa yang menjadi tugasnya. Bayu mengikuti langkah Tiara dengan kepala menunduk untuk menjaga pandangannya dari istri sang CEO, sedangkan Bi Siti mengerjakan apa yang diperintahkan majikan.


Selama perjalanan, Tiara berkali-kali membenahi posisi duduknya dengan gelisah. Bayu hanya mendengar kusak-kusuk suara Tiara yang bergeser kian kemari seperti sedang tidak nyaman. Ia tak berani menatap Tiara karena takut terpukau sekaligus takut ketahuan Rama.


"Mbak Tiara..." ucapan Bayu disela oleh Tiara sebelum ia merampungkannya.


"Tiara. Jangan Mbak. Aku ini masih muda," sela Tiara tidak terima.


"Jangan. Nanti saya kena marah Bang Rama," jawab Bayu jujur.


"Ya udah. Dek Tiara aja ya. Oke?" tawar Tiara.


Sejenak, Bayu menimbang-nimbang. Sebenarnya, agak bahaya juga panggilan itu karena bisa memunculkan salah paham di antara mereka.


"Tapi, Mbak," protes Bayu hati-hati.


"Hey, Bosmu siapa?" tanya Tiara.


"Bang Rama," jawab Bayu polos.


"Aku ini siapa?" tanya Tiara lagi.


"Istri Bang Rama," jawab Bayu belum menyadari permainan Tiara.


"Berarti?" tanya Tiara menjebak.


"Mbak Tiara bosku juga," jawab Bayu terkecoh.


"Cerdas! Makanya nurut," sahut Tiara merasa menang.


"Iya ya," timpal Bayu cengoh.


"Tidak, Mbak. Saya tidak berani ambil resiko. Panggilan seperti itu rawan membuat salah paham. Masa saya dipecat karena hanya panggilan kepada istrinya. Mau ditaruh mana muka saya," ucap Bayu cerewet.


"Iya juga ya, Om. Emang sih beberapa orang menjadikan sebutan Dek untuk panggilan kesayangan. Ya udah deh. Terserah Om aja," sahut Tiara mangut-mangut.


Iya jangan panggil Om juga dong! Tapi, lucu juga sih. Bantah Bayu dalam hati.


Sesampainya di kantor, Bayu memberi aba-aba kepadan security untuk membukakan pintu belakang mobilnya. Security itu pun menuruti dan keluarlah Tiara dengan sedikit gugup karena ini kali pertamanya datang ke kantor Rama. Security itu sempat terpukau melihat Tiara namun langsung tersadar dan mengambil alih mobil Bayu untuk dibawa ke tempat parkir.


Tiara mengatur napas untuk menenangkan kegugupannya. Kemudian, ia rapikan penampilannya karena takut ada yang aneh.



(Sumber: Pinterest)


"Om, aku udah cantik belum? Aku terlalu menor nggak?" bisik Tiara namun dapat terdengar jelas oleh Bayu.


"Saya tidak berani menjawab, Mbak. Tapi, tidak ada yang aneh dengan tampilan Mbak Tiara. Mari ikut saya ke ruangan Bos," jawab Bayu sopan.


Sebahaya apa sih Bang Rama. Dia sebegitu takutnya hanya menjawab aku cantik atau tidak. Gerutu Tiara dalam hati.


Tiara mengekor Bayu yang tetap berjalan dengan ketukan teratur, meskipun disapa karyawan lain dengan penuh hormat. Tentu, ia sangat disegani di kantor itu karena ia asisten Rama. Karyawan tidak berani menanyakan kepada Bayu tentang siapa wanita imut di belakangnya. Beberapa dari mereka ada yang mulai bergosip tentang Bayu dan Tiara dan beberapa ada yang penasaran namun memilih diam.


Saat tiba di ruangan, Rama sedang sibuk dengan ponsel dan berkas yang diberikan Susan sambil mendengarkan penjelasan sekretarisnya itu. Ia mendengarkan dengan seksama pemaparan sekretarisnya, meskipun ia sibuk dengan hal lain juga.

__ADS_1



(Sumber: Pinterest)


"Permisi, Bos," salam Bayu sambil melongokkan kepala di pintu.


Salam Bayu membuat Rama menyadari kedatangan Bayu bersama Tiara. Rama memberi isyarat kepada Susan untuk berhenti sebentar dan menoleh untuk memastikan orang sudah dinantinya sudah datang. Bayu berjalan ke arahnya diikuti Tiara yang menunduk malu.


Rama menelan ludah getir saat melihat tampilan istrinya yang sangat memukau dan imut dengan baju lucu serta riasan naturalnya. Namun, kekagumannya langsung berganti kesal karena penampilan istrinya tentu mengundang gairah pria normal. Diam-diam, ia tidak terima kecantikan istrinya dinikmati pria lain, termasuk Bayu.


"Sini," panggil Rama sambil melambaikan tangan kepada Tiara dan tak lagi memedulikan Susan di depannya.


Tiara pun mendekat dengan patuh.


Susan terperangah saat melihat wanita yang datang bersama Bayu bukanlah Selvi, melainkan gadis yang sepertinya jauh lebih muda dari Rama. Bahkan, jika Rama bilang dia adalah keponakan atau adiknya saja tentu Susan langsung percaya. Ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya namun tidak berani bertanya. Namun, ia mengakui jika wanita itu lebih cantik dam imut dari Selvi namun pembawaannya tentu lebih dewasa Selvi.


"Sebentar ya, San," ucap Rama sambil berdiri dan melepas jasnya.


Saat Tiara sudah berdiri di depannya, Rama memakaikan jasnya kepada Tiara. Tak peduli jas tersebut kebesaran di Tiara, yang penting tak ada lagi yang bisa menikmati keindahan lekuk tubuh Tiara yang belum bisa ia cicipi juga. Tiara menautkan alis.


"Kenapa lama sekali? Sejauh apa sih dari rumah ke sini?" tanya Rama selidik.


"Iya abisnya Abang nggak bilang dari awal. Kan aku kaget. Lagi santai tiba-tiba Om Bayu datang," omel Tiara manja.


"Siapa yang datang?" tanya Rama memperjelas.


"Om Bayu," jawab Tiara polos.


Rama dan Susan hampir tersedak menahan tawa, sedangkan Bayu hanya meringis di belakang Tiara sambil menggaruk-garuk kepala.


"Om?" tanya Rama terkekeh.


Susan pun tak dapat menahan tawanya, meski hanya lirih dan masih sedikit ditahan agak tidak tergelak. Namun, di satu sisi, Susan dan Bayu juga terheran-heran menyaksikan Rama bisa tertawa lepas. Pasalnya, sejak bekerja di perusahaan itu, mereka tidak pernah sekali pun melihat sang CEO tertawa karena sikapnya sangat dingin dan galak. Bahkan, tersenyum saja seperlunya dan lebih banyak diam dengan ekspresi mengintimidasi.


Tiara dengan polosnya hanya celingukan mencari hal lucu yang ditertawakan Rama.


"Om? Sejak kapan Bayu menikah dengan tantemu?" tanya Rama saat tawanya mulai mereda.


'Iya terus aku harus panggil apa? Masa Mas Bayu? Kak Bayu? Atau Pak Bayu?" jawab Tiara.


Rama, Bayu, dan Susan pun tersenyum mendengar celoteh Tiara yang begitu polos dan natural. Mereka seperti sedang melihat mainan baru yang menggemaskan.


"Ya udah. Terserah kamu aja. Setuju ya, Om Bayu?" sahut Rama dengan penekanan sambil meledek Bayu.


"Iya. Terserah Mbak Tiara saja," timpal Bayu pasrah.


Rama pun teringat belum mengenalkan istrinya kepada Susan. Ia menghadap Susan dan menarik Tiara lebih dekat dengan tubuhnya.


"San, kenalkan. Ini Tiara, istriku," ucap Rama kepada Susan.


Susan segera berdiri sedikit membungkuk dan mengulurkan tangan kepada Tiara.


"Mbak Tiara, perkenalkan saya Susan. Sekretaris Pak Rama," sapa Susan tulus.


"Oke, Mbak Susan," sahut Tiara menyalami Susan dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Susan, mungkin cukup penjelasannya. Nanti acc saja ajakan meeting mereka untuk pembahasan lebih lanjut. Sekarang, kamu boleh kembali ke ruangan," titah Rama segera dipatuhi oleh sekretarisnya.


...****************...


__ADS_2