
Saat Rama dan Tiara sampai di hotel, Rama masih diam seribu bahasa dan membuat Tiara bertanya-tanya. Namun, bukan Tiara kalau tidak menjaga gengsinya untuk memulai percakapan yang memembeku itu. Saat Tiara mengambil bathrobe di lemari hotel, Rama pun mencekal tangannya dengan kasar. Tiara berusaha memberontak karena lengannya cukup sakit namun tenaganya tak dapat menandingi Rama.
Rama pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang belum lama dikirimkan Selvi kepadanya. Tiara pun menelan ludah gugup melihat foto itu sampai tak bisa berkata-apa.
"Abang, bisa aku jelaskan," bujuk Tiara sambil berusaha melepaskan cekalan Rama yang mulai terasa panas di kulitnya.
"Katamu kalian tak akrab. Kamu sebal karena Arjuna galak. Apa foto ini tak cukup menjelaskan bahwa semua ucapanmu hanya bualan? Masih mau mengelak?" tantang Rama sembari menguatkan cekalannya dan mendelik tajam pada Tiara.
"Abang, lepas! Sakit!" ronta Tiara memberontak.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan! Sudah cukup permainan kanak-kanakmu. Sekarang, kamu udah jadi istri dan seharusnya udah bisa menjaga diri. Coba saja kalau orang tua kita atau keluarga kita melihat, apa kata mereka tentangmu? Aku juga sebagai suami tak lagi punya harga diri karena dianggap tak becus membimbing istri. Berduaan dengan pria lain, tertawa lepas dan tenang seperti masih lajang. SADAR DIRI WOI! SADAR DIRI!" sentak Rama membuat air mata Tiara menjatuh tanpa sengaja menahan sakit hati dan sakit di tangannya.
"Kamu bilang berangkat bersama timmu yang empat orang. Ada cewek juga. Tapi apa? Kamu berduaan dengan Arjuna dengan santainya. Untung aja Selvi melihat kalian jadi aku bisa mengerti lebih awal," lanjut Rama penuh amarah.
"Apa? Selvi?" sela Tiara terkejut dan dadanya pun bergemuruh mengetahui Rama menyebut nama itu di tengah pertengkaran mereka.
"Iya? Kenapa? Kamu marah? Kamu cemburu?" tanya Rama meninggikan intonasi.
"Kamu percaya dengannya?" tanya Tiara lirih dengan air mata yang terus meluruh jatuh.
"Percaya atau tidak, pada akhirnya kan fakta yang bicara. Mau mengelak bagaimana lagi? Apa aja yang udah kamu lakuin dengan Arjuna? Kenapa kamu muntah-muntah?" cecar Rama semakin terbawa emosinya.
Plaaakkkkkk!
Satu tamparan Tiara mendarat mulus di pipi dan bibir Rama. Tiara benar-benar murka tak dapat lagi menahan amarah karena ucapan Rama tentu sangat melukai harga dirinya. Awalnya, ia memang menyesal tak memberi kabar tentang keadaan yang sesungguhnya namun ia tak menyangka tuduhan keji itu keluar dari mulut suaminya membuat malas untuk menjelaskan semuanya.
"Maaf, Tuan Rama yang Terhormat. Senakal-nakalnya saya, tentu saya tahu etika. Saya tahu unggah-ungguh. Camkan! Perilaku saya takkan sekotor mulut Anda!" sarkas Tiara lembut namun teramat menusuk.
Sontak saja, Rama tersadar akan kesalahannya. Ucapan itu keluar begitu saja karena ia masih mengingat-ingat pembicaraannya dengan Selvi. Meskipun Rama juga percaya Tiara takkan berani melakukannya namun semua sudah telanjur terucap. Perasaan bersalah pun semakin menguasai Rama kala Tiara menyeka air mata dengan kecewa dan luka yang mendalam.
Rama mengendurkan cekalan tangannya dan tak menyangka akan meninggalkan bekas merah membentuk jemarinya di sana. Rama semakin tak karuan dan berusaha menggenggam tangan Tiara namun Tiara terlebih dahulu menepisnya. Tiara sampai tak tahu harus berbuat apa karena kepercayaan dan perasaannya remuk tak berbentuk lagi. Bahkan, menangis pun sudah tak bisa karena terlalu dalam kesedihan dan kekecewaan yang dirasa.
__ADS_1
"Maaf, Ra. Aku nggak bermaksud mengatakan itu," sesal Rama memohon namun Tiara tak mengacuhkannya.
"Sayang, maafin aku. Aku khilaf tadi. Aku terlalu terbawa emosi" tambah Rama semakin benci pada dirinya yang hilang kendali.
"Udah? Cuma mau ngomong itu aja?" sarkas Tiara beringas.
"Ra, jangan seperti ini," bujuk Rama dengan mata sendu.
Saat Rama hendak memegang kedua bahu Tiara, Tiara pun menghindar dan memberi isyarat agar Rama menjaga jarak dengannya. Rama pun hanya bisa menurut karena Tiara pasti sangat kecewa padanya.
"Nggak usah dekat-dekat dengan istri yang nggak bisa menjaga kesucian dan kehormatannya ini," sindir Tiara datar tak bisa lagi berekspresi.
"Ra, maafin aku. Aku nggak sengaja. Aku nggak bermaksud," rengek Rama memohon.
"Udah aku maafkan. Puas? Ya udah. Jangan mengusikku. Aku mau mandi. Aku lelah dan ingin istirahat dengan tenang," ucap Tiara sambil masuk ke kamar mandi dengan tangan mengepal ingin meninju wajah Rama sekuat tenaga.
Rama hanya diam menyadari kesalahannya dan memberi waktu Tiara untuk menenangkan diri. Ia pun duduk di sofa dan menyeka wajahnya dengan gelisah. Sungguh, tak menyangka mulutnya bisa hilang kendali hingga membuat Tiara begitu sakit hati.
...****************...
Rama tak bisa tidur nyenyak karena gelisah sepanjang malam. Ia berusaha mengajak Tiara bercakap namun istrinya memunggungi dan memejamkan mata enggan bicara. Rama tak bisa tenang dan mengutuk dirinya sendiri yang pantas dihukum oleh Tiara. Bahkan, Rama berharap dicaci maki Tiara dan siap menjadi pelampiasan kemarahan Tiara. Akan tetapi, Tiara memilih bungkam membuat Rama semakin resah dan terancam.
Tiara pun sama, tak bisa nyenyak menjemput mimpinya. Pertanyaan kurang ajar Rama begitu terngiang-ngiang di kepala membuat Tiara harus menangis tanpa suara. Perih sekali hatinya menerima kenyataan pahit bertubi-tubi dari Rama. Mendengar Rama lebih percaya Selvi saja sudah membuatnya terluka, apalagi ucapan Rama yang tak hanya menuduh selingkuh namun juga menyangsikan kesuciannya. Tentu luka yang dirasa sudah jauh melampaui kuasa kata dan tak dapat dijelaskan bagaimana sakitnya.
Pagi hari, Tiara dan Rama terjaga dari rebahannya karena keduanya tak bisa tidur dan sibuk dengan sakit hati masing-masing. Di satu sisi, Rama memang belum bisa menenangkan diri atas kejadian Tiara berduaan dengan Arjuna. Terlebih, Tiara belum berbicara apa-apa soal itu. Di sisi lain, ia pun sadar penuh bahwa diam Tiara akibat mulut lancangnya lebih dulu membuat terluka.
Setelah berkemas, mereka pun berjalan turun ke lobi untuk sarapan, lalu check out. Tiara hanya mengambil semangkuk sereal dan segelas susu, sedangkan Rama mengambil secangkir kopi dan roti untuk mengganjal perutnya.
"Ra, masih marah?" tanya Rama sambil meletakkan kepala di meja karena tak tahu harus bagaimana lagi membujuk istrinya.
__ADS_1
(Sumber: Pinterest)
"Nggak!" jawab Tiara singkat sambil terus menikmati semangkuk serealnya yang terasa hambar lantaran suasana hati yang sedang cabar.
"Kalau nggak, kenapa mendiamkan aku seperti ini, Ra?" protes Rama lirih.
"Biasa aja," sahut Tiara ketus.
"Mana ada biasa saja seperti ini. Ayolah, Ra. Kita berdamai. Aku janji takkan mengulanginya lagi," bujuk Rama hampir menyerah
Rama mengulurkan tangan hendak menggenggam tangan Tiara namun sebelum tersentuh sudah menghindar lebih dulu sehingga Rama hanya dapat menggenggam kehampaan dan ketakberdayaannya. Tiara pun meletakkan sendok dan menyudahi makan serealnya. Kemudian, ia melempar pandang keluar jendela berharap dapat menguatkan jiwa rapuhnya.
"Maaf. Untuk hal itu, mungkin aku perlu waktu. Sakit hati itu seperti ada yang menancapkan paku di kayu. Mungkin, paku itu bisa mudah dicabut namun bekasnya aka tertinggal dan takkan hilang selamanya. Aku bisa mudah maafin ucapanmu, tapi aku nggak akan bisa melupakan lukanya, Bang. Kamu nggak usah membujuk dengan cara apa pun, aku udah maafin kamu. Tapi, tolong jangan ganggu aku dulu. Tenang saja. Aku sudah pandai mengobati lukaku sendiri," sahut Tiara tanpa menatap Rama.
"Ra, jangan begitu. Sungguh, aku menyesali perkataan dan perbuatanku. Jangan hukum aku dengan cara diam seperti ini," mohon Rama berkaca-kaca.
"Bang, sungguh aku perlu waktu. Nanti, izinkan aku keluar rumah sementara waktu. Setelah aku tenang, aku akan kembali pulang," pinta Tiara membuat hati Rama ketar-ketir.
(Sumber: Pinterest)
"Kamu jangan bercanda, Ra. Mana ada suami istri tinggal terpisah," bantah Rama.
"Aku butuh waktu sendiri," ucap Tiara datar.
"Tapi, aku butuh kamu," sahut Rama.
"Lebih baik. Segera check out biar kita bisa cepat pulang," usul Tiara belum mau menatap Rama.
...****************...
__ADS_1