
"Kalau kita turuti kemauan dia, bukannya sadar malah semakin melunjak dan nggak akan belajar dari kesalahan. Sudah seperti ini saja dia tidak jera, bagaimana kalau kita menuruti semua keinginannya? Saya tegaskan terakhir kali, selamanya istri saya hanya Tiara," tegas Rama serius.
"Maaf, Bu, Pak. Saya juga tidak setuju jika suami saya menikahi putri Anda. Saya tidak mau berbagi suami. Bahkan, membayangkannya saja sudah tak kuasa. Memang, Bu Rita sanggup jika keadaan semacam ini menimpa rumah tangga Bu Rita dan Pak Bima? Apakah Bu Rita akan serela itu Pak Bima menikah lagi? Tentu, Bu Rita paham betul bagaimana rasanya sebagai sesama wanita. Yang harus kita lakukan sekarang tentu membujuknya, bukan menuruti semua kemauannya," sahut Tiara lembut namun dengan penuh keyakinan.
Bu Rita pun menunduk dan membenarkan apa yang dikatakan Tiara. Tentu, ia takkan rela jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Pak Bima pun terdiam. Mereka pun menurut ketika Rama dan Tiara membujuk mereka untuk berdiri kembali.
Mendengar penolakan Rama, Selvi pun nanar dan memikirkan cara untuk memojokkan Rama agar mau menikahinya. Sejujurnya, ia pun gemetaran melihat ke bawah. Jatuh dari gedung sepuluh lantai tentu cukup meremukkan tulang-tulangnya dan membuat merinding membayangkannya.
"Kalau begitu, memang kematianku yang kalian inginkan, kan?" ancam Selvi sambil mengambil cutter yang ternyata sudah ia siapkan di saku celana.
"Stop, Selvi. Bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah," bujuk Bu Rita lembut sambil perlahan mendekati anaknya dengan mata yang sudah bengkak karena tangisnya yang berlarut-larut tak kunjung surut.
"Aku nggak mau hidup begini, Ma. Aku hanya ingin menikah dengan Rama," tangis Selvi tiba-tiba pecah.
"Rama sudah beristri. Kalau kamu nggak mau mengaku siapa lelaki yang menghamilimu nggak apa, Mama dan Papa akan bantu urus semuanya. Kita hadapi bersama, Sayang. Pulang yuk!" bujuk lembut Bu Rita terus mendekati dengan berjalan pelan diikuti dua orang petugas damkar yang sudah berjaga-jaga.
"Lebih baik mati, Ma. Aku nggak menginginkan anak ini. Masa depanku hancur karena dia. Semuanya berantakan karena dia. Aku nggak mau hidup lagi. Aku harus mati," seru Selvi frustrasi dan benar-benar nekad membiarkan tubuhnya limbung ke belakang.
Orang di rooftop dan di halaman depan kantor pun menjerit serempak, termasuk Tiara yang langsung membenamkan wajahnya ke dada Rama karena tak ingin melihat pemandangan mengerikan di depannya. Bu Rita pun histeris dan berlari hendak menolong Selvi namun kedua petugas damkar yang berjaga langsung menarik tubuhnya ke belakang.
Brruuuugggg!!!
"Selvi!" jerit Bu Rita dan Pak Bima serempak.
Tepat sedetik saat kaki Selvi masih menapak di pagar pembatas, petugas damkar langsung menyemprotkan meriam air dengan kecepatan tinggi hingga tubuh Selvi sedikit terpental ke depan dan ditangkap oleh kedua petugas damkar yang sudah siap dengan posisinya. Mereka dapat mengetahui bahwa sebenarnya Selvi takut sehingga ia memunggungi ketinggian agar menetralkan ketakutannya. Posisi itu tentu sangat menguntungkan bagi petugas damkar yang sedang mengevakusi karena mereka leluasa bergerak dari bawah tanpa diketahui oleh Selvi.
Selvi pun basah kuyup dan masih sedikit shock walaupun ia tak benar-benar terjatuh ke tanah. Ada sedikit kelegaan saat menyadari bahwa ia tak jadi mati terjatuh dari ketinggian. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana menahan sakit saat mendarat di halaman kantor. Namun, ada kepedihan, kekecewaan, dan rasa malu yang begitu mendalam sehingga ia hanya bisa menangis tanpa suara dan air mata.
Setelah petugas damkar menurunkan Selvi dari gendongannya, mereka pun membimbing Selvi mendekati orang tuanya yang masih sangat terpukul dengan keadaan sebelumnya. Mereka pun dapat bernapas kembali setelah menyaksikan anaknya kembali, meskipun kesedihannya semakin menjadi-jadi. Bu Rita langsung meraih Selvi dan memeluknya erat-erat.
"Kamu nggak sendiri, Sayang. Ada Mama, ada Papa. Jangan seperti ini lagi ya. Kami menginginkan cucu darimu. Ayo kita pergi jauh agar kamu bisa hidup lebih tenang!" ajak Bu Rita sangat takut kehilangan putri semata wayangnya.
"Mama, aku ingin menikah dengan Rama," rintih Selvi.
"Nggak bisa, Selvi. Stop menginginkan apa yang nggak bisa kamu dapatkan. Kamu bisa melanjutkan hidup dengan lelaki lain. Kamu bisa memulai hidup baru," sahut Pak Bima berusaha menekan suara tingginya.
Mendengar percakapan Selvi dan orang tuanya, Tiara pun langsung menjauhi dada Rama dan memandang Selvi dengan heran. Ternyata, tak jadi bunuh diri. Ia turut lega melihatnya namun agak jengkel mendengar pernyataannya.
"Nggak jadi?" bisik Tiara kepada Rama.
"Kan, udah kubilang. Dia itu cuma drama," sahut Rama lirih.
"Aiisshh, jantungku serasa udah mau copot," balas Tiara mengusap dadanya.
"Sini aku usapin dadanya biar cepet reda deg-degannya," bisik Rama di telinga Tiara.
"Eh, sembarangan nih orang tua!" sahut Tiara mendelik sengit kepada Rama.
__ADS_1
"Dikit," rayu Rama dengan tatapan manja.
"Nggak! Ogah!" jawab Tiara menatap tajam suaminya.
Setelah Selvi tenang, akhirnya Bu Rita dan Pak Bima pun membawanya pulang. Suasana kantor mulai lengang karena satu per satu karyawan sudah kembali ke rumah. Mereka yang berada di rooftop tentu sudah paham betul faktanya, sedangkan mereka yang ada di halaman kantor hanya bisa menerka-nerka situasinya. Keluarnya Selvi dengan orang tuanya ke halaman pun memudahkan rasa penasaran mereka. Kedua orang tua Selvi tentu meluruskan huru-hara yang telah dibuat putrinya sehingga orang-orang di halaman kantor bisa bernapas lega sudah mengetahui kebenarannya.
...****************...
Selepas status pernikahannya diketahui oleh Arjuna, Tiara merasa Arjuna menjadi lebih cuek dan galak seperti saat pertama bertemu. Arjuna bahkan selalu buang muka dan menghindari percakapan dengan Tiara. Hal ini tentu membuat Tiara merasa tidak nyaman karena bagaimanapun Arjuna adalah atasannya dan penanggung jawab tugasnya di kantor.
Di ruang kerja Arjuna, Tiara menunggu berkas laporan yang sedang diperiksa Arjuna. Ia hanya diam dan memainkan jarinya karena merasa suasana lebih canggung dari biasanya. Arjuna hanya membuka-buka lembar demi lembar dan menyelia dengan saksama sembari sesekali memangut-mangutkan kepala.
Sebelum Arjuna selesai memeriksa berkas yang diberikan Tiara, sebuah ketukan pintu yang terdengar tergesa-gesa memecah keheningan di antara mereka. Tiara sedikit bisa menghela napas dengan lega, sedangkan Arjuna merasa penasaran dan bertanya-tanya. Tak lama setelah Arjuna menyilakan, pintu pun terbuka dan resepsionis wanita pun melongokkan kepala dengan wajah sedikit panik.
"Masuk, Tika. Ada apa?" tanya Arjuna sembari meletakkan berkas Tiara di meja.
"Mohon maaf, Pak Arjuna. Saya menganggu waktu Anda. Begini, Pak. Di lobi ada tamu untuk Bapak," jawab Tika menundukkan kepala penuh hormat.
"Kenapa kamu ke sini? Kan bisa telepon saya seperti biasa," tanya Arjuna lebih heran.
"Darurat, Pak. Aduh bagaimana menceritakannya," ucap Tika sangat gugup dan kebingungan.
"Memangnya ada apa? Siapa tamunya? Saya merasa tidak ada janji dengan siapa pun," gertak Arjuna mendadak galak karena resepsionisnya bertele-tele.
"Pak Bima dan Bu Rita, Pak," tegas Tika.
Tiara mengerutkan kening mendengar nama itu karena memang sangat familier baginya. Namun, ia berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu karena nama-nama di dunia memang banyak yang sama.
"Mereka bilang mau bertemu Pak Arjuna. Maaf, Pak. Lebih baik Pak Arjuna segera menemui mereka karena memang agak darurat. Pak Bima terlihat sangat kesal dan berkata yang itu..." Tika memotong ucapannya karena takut Arjuna akan tersinggung olehnya.
"Itu apa? Nggak usah berbelit-belit. Saya tidak suka hal yang tidak jelas semacam ini," sentak Arjuna sembari berdiri dan menggebrak meja.
"Tapi, di sini ada orang lain. Apakah tidak apa-apa kalau ada yang mendengar selain Bapak?" tanya Tika melirik Tiara.
"Katakan saja. Cepat!" tukas Arjuna menggebu-gebu.
"Pak Bima bilang kalau Pak Arjuna telah menghamili anaknya dan harus bertanggung jawab. Kalau tidak segera menemui mereka, Bapak akan diseret atau dilaporkan ke kantor polisi," jawab Tika sembari menutup mata.
Tiara tiba-tiba menahan napas mendengar pernyataan Tika. Tiara semakin tercengang karena permasalahan semakin mengarah kepada Selvi. Tiara tak beranu berucap apa pun meskipun di kepalanya penuh dengan pertanyaan yang terus menekan untuk diutarakan.
"What the fu©k! Lelucon macam apa ini? Mereka itu siapa? Kalian percaya?" teriak Arjuna garang membuat Rani dan Tiara menciut nyalinya.
Tiara dan Rani hanya bisa diam tanpa berani menyanggah atau mengiyakan. Terlebih, Arjuna yang terlihat sangat murka membuat mereka tak berani berkutik sekalipun mereka pun antara percaya dan tidak karena memang Arjuna terlalu misterius untuk dipahami.
"Secantik apa anaknya sampai menuduh saya menidurinya. Bangs@t! Semua harus dibereskan. Siapa anak mereka?" tanya Arjuna sembari membanting gelas yang masih penuh dengan air minumnya sampai pecahannya terserah di lantai ruang kerja.
"Katanya, Melvi atau Selvi kalau tidak salah," jawab Tika gugup.
__ADS_1
"Selvi?" spontan Tiara menyahut walaupun sebenarnya tidak bermaksud ikut campur namun ia terlalu terkejut hingga satu kata lolos dari bibirnya.
"Selvi?" tanya Arjuna mendelik sinis, kemudian menatap Tiara seraya berkata, "kamu kenal?"
"Maaf, Pak. Mungkin, kebetulan saja namanya sama dengan orang yang saya kenal," jawab Tiara meralat sebelum Arjuna bertanya lebih jauh.
"Wanita ******! Bisa-bisanya meminta pertanggungjawabanku. Cari mati!" hardik Arjuna penuh amarah.
Apakah dia benar yang menghamili Selvi? Kenapa harus Pak Bima dan Bu Rita juga orang tuanya. Atau ini Selvi yang berbeda? (Tiara hanya bisa bertanya di batin saja).
"Jangan percaya ucapan mereka, Selvi itu orang gila. Bikin repot saja," decak kesal Arjuna sambil mendengus, kemudian meninggalkan ruangan begitu saja tanpa sepatah kata.
Tiara dan Tika pun sama-sama terdiam saling bertatapan. Kemudian, mereka pun berjalan bersama sambil Tika menceritakan kronologi kedatangan Pak Bima dan Bu Rita yang membuat Tiara yakin bahwa mereka adalah orang yang dikenalnya. Untuk memastikan, Tiara pun mengikuti Tika ke lobi.
Sampai di sana, ternyata sudah ada kegaduhan. Pak Bima sedang memaki-maki Arjuna yang berdiri dengan angkuhnya. Security pun hanya diam karena Arjuna memberi instruksi untuk membiarkan. Mereka jadi bahan tontonan karyawan yang sedang berlalu lalang di lobi serta ruangan di sekitarnya.
"Lelaki jahanam! Saya ke sini dengan baik-baik meminta pertanggungjawabanmu, tetapi apa balasanmu? Begitu angkuh dalam menyikapi kami. Apakah perlu semua karyawan tahu bahwa anak dari CEO Mekar Bogarasa telah menghamili anak kami? Lelaki pecundang, pengecut, tak bertanggung jawab!" hardik Pak Bima sambil menunjuk-nunjuk wajah Arjuna penuh amarah.
"Apa yang harus saya pertanggungjawabkan? Putri Anda hamil juga bukan karena saya. Meniduri putri Anda saja, saya tidak minat, Pak. Maaf," sahut Arjuna dengan santai dan tersenyum sinis.
"Lancang sekali mulutmu. Kamu bicara seolah-olah anak saya begitu murahan," tukas Pak Bima menyorot tajam.
"Bukankah itu Anda yang menyimpulkan sendiri?" sahut Arjuna begitu menantang.
"Memang, anak tak tahu sopan santun kamu, ya! Semua orang harus tahu bagaimana kelakuan bejat atasannya," ancam Pak Bima berapi-api.
"Silakan katakan apa pun yang Anda ingin. Ucapan Anda yang tak berdasar itu bukankah sama saja mempermalukan putri Anda secara tidak langsung. Kalian yang membongkar aibnya. Kalau memang saya melakukan, tentu saya bertanggung jawab. Kalau Anda membuat gaduh begini, lebih baik pergi dari kantor saya sebelum saya suruh security menyeret kalian keluar," ancam Arjuna yang semakin kesal menghadapi orang tua bebal itu.]-
"Lelaki bajingan! Pengecut!" bentak Pak Bima melotot tajam ke mata Arjuna.
"Bukan saya pelakunya. Anak kalian itu membual. Sebelum saya hilang kesabaran, silakan undur diri dari sini. Saya masih berusaha menekan amarah karena saya menghormati Anda sebagai orang yang lebih tua dari saya," usir Arjuna dengan halus.
"Nggak usah berlagak sopan di depan semua orang. Pengecut ya pengecut saja," sindir Pak Bima, kemudian ia berjalan mendekati Arjuna, "Baiklah kalau tidak mau bertanggung jawab. Saya pastikan hidupmu nggak akan bahagia telah menghancurkan masa depan anak kami."
"Sudah saya katakan, bukan saya pelakunya," bantah Arjuna mulai tak bisa menahan amarah.
"Kalau bukan kamu, lalu siapa? Jelas-jelas, anak kami mengaku bahwa kamu yang telah menghamilinya," debat Pak Bima sembari mengepalkan tangannya, "iya saya paham. Kalau maling ngaku, tentu penjara akan penuh, ya. Baiklah, saya juga tidak butuh pertanggungjawaban dari lelaki brengsek sepertimu."
"Kalaupun saya mau menghamili wanita, tentu saya akan memilih wanita yang berkelas dan tentu anak kalian takkan masuk dalam kriterianya. Kesuciannya saja tidak dijaga, apakah pengakuannya layak dipercaya begitu saja?" sahut Arjuna menyorot tajam dan berusaha tetap sabar menghadapi orang tua Selvi.
"Dasar munafik! Cuuuuh," ucap Pak Bima sambil meludah kesal.
Bu Rita sedari tadi hana diam dan masih sangat shock dengan kejadian yang menimpa putri kesayangannya. Setelah menyaksikan Pak Bima semakin murka, ia pun berdiri dan mengusap lengan suaminya agar tidak hilang kendali seperti biasa.
"Saya tidak akan mempertanggungjawabkan apa yang tidak saya lalukan. Terserah kalian akan percaya atau tidak kepada saya. Silakan ancam saya sesuka hati. Silakan hancurkan reputasi saya. Silakan katakan kepada semua orang bahwa saya yang menghamili anak Anda. Namun, kalian hanya bisa mengubah penilaian orang-orang terhadap saya bukan mengubah kenyataan yang ada. Saya harap, kalian tak menyesal di kemudian hari. Suatu saat, kenyataan yang sesungguhnya juga tentu akan terkuak," tegas Arjuna masih berusaha tenang walaupun ingin sekali rasanya menonjok lelaki tua itu.
"Saya yang akan bertanggung jawab!" ucap seorang lelaki yang baru saja turun keluar dari pintu lift lobi.
__ADS_1
Semua mata langsung tertuju padanya dan semua terperangah sampai lobi mendadak diselimuti hening yang riuh akan tanya di masing-masing kepala. Orang tua Selvi sampai tertegun dan tak menyangka dengan ucapan serta orang yang mengucapkannya. Hanya Arjuna yang terlihat tenang dalam kemurkaannya dan tak merasa terkejut dengan ucapan itu sekali pun tak menoleh ke pemilik suara.
...****************...