
"Hei, bocah. Otakmu itu ada masalah apa? Mesum terus nyambungnya," celetuk Rama sambil menepuk jidat istrinya yang sangat menggemaskan.
"Iya, Abang. Nunjuk-nunjuk ke situ," protes Tiara tak terima.
"Iya maksudku hati. Aku butuh hatimu saja. Duuh menghancurkan keromantisan aja," gerutu Rama.
"Iya Abang aneh-aneh. Tinggal bilang hati tanpa menunjuk juga kan bisa," sangkal Tiara.
"Iya deh. Tapi, kalau diizinkan ya sebenarnya mau juga dada yang sungguhan sih, Ra," seloroh Rama sontak membuat Tiara mendelik sinis.
"Eh, Abang. Tiara mau tanya," cetus Tiara sambil menatap suaminya serius.
Rama hanya menjawab dengan mengangkat satu alisnya dan mengerutkan dahi sebagai tanda mengiyakan.
"Kata Mama, Abang kadang melupakan ulang tahun Abang. Emang benar? Masa ulang tahun sampai lupa sih?" tanya gadis itu penasaran.
Rama pun berdiri dan duduk merapat di samping Tiara. Raut wajahnya tiba-tiba berubah jadi murung. Tiara sedikit menyesal telah menanyakannya namun ia tak tahu harus bagaimana karena meralatnya pun tak mungkin bisa.
"Kalau memang terlalu menyakitkan, nggak usah dijawab. Maafkan pertanyaan Tiara ya, Bang," sesal Tiara menunduk hampir menangis.
Bukannya menjawab, Rama malah berdiri sambil meraih rokok dan korek di atas nakas namun mendadak berubah pikiran hingga meletakkan di tempat semula. Tatapannya sendu melukiskan kesedihan yang mendalam.
Melihat air mata menggantung di pelupuk mata Rama, Tiara pun beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju Rama dan langsung menghambur ke pelukan lelakinya yang sedang menahan sesuatu. Bahkan, Rama tak membalas pelukannya karena kedua tangan terkulai lemah seakan kehabisan tenaga.
"Abang," panggil Tiara yang sudah lebih dulu menangis di dada bidang Rama.
"Dulu, aku melamar Nafisa tepat di hari ulang tahunku yang ke-23 dengan harapan besar bahwa Nafisa akan menjadi hadiah di ulang tahunku saat itu. Namun, kamu tahu sendiri, kan? Aku ditolak mentah-mentah oleh orang tuanya. Semenjak saat itu, aku semakin terjerumus ke dunia kelamku. Dugem, minuman, tapi tak sampai narkoba apalagi jajan wanita walaupun aku play boy juga. Satu tahun lebih kulalui dengan sangat terpuruk karena penolakan Nafisa. Sampai akhirnya, aku bertemu Selvi dan dia membuatku ingin belajar mencintai wanita lagi serta berusaha melupakan bayang-bayang Nafisa. Saat aku mulai bisa menerima Selvi masuk di kehidupanku, tepat di hari ulang tahunku yang ke-25 Papa pergi selamanya. Lalu, di hari ulang tahunku yang ke-27, Selvi bercumbu dengan pria lain di depan mataku. Semenjak saat itu aku semakin mengutuk ulang tahunku karena selalu membawa kesialan dalam hidup bahkan merampas semua mimpiku sampai tandas tak berbekas. Aku tak tahu apakah aku memang pembawa sial atau bagaimana namun kenapa semua hal yang sangat menyakitkan terjadi di ulang tahunku," cerita Rama dengan dua bulir air mata mengalir di pipinya tanpa disengaja.
"Semenjak penolakan Nafisa, aku selalu mangkir dari pesta ulang tahun yang disiapkan keluargaku. Terlebih setelah Papa pergi, ulang tahunku juga dijadikan semacam perayaan kebahagiaan semu dan ajang membohongi diri sendiri karena senyum kami hanya menutupi kehilangan di hati kami. Toh setelah acara usai, semua kembali pada pikiran masing-masing dan kesedihan akan terasa lebih dalam saat sudah sendirian," lanjut Rama dengan suara bergetar.
Batin Tiara sangat teriris mendengarkan kisah hidup Rama yang dramatis. Bahkan, ia tak sempat cemburu saat Rama membahas perasaannya kepada sang mantan karena terlalu fokus pada cerita sedih Rama yang mampu membawanya pada kesedihan yang teramat dalam. Terlebih lagi, ini adalah kali pertama Tiara mendapati sisi rapuh Rama yang jauh berkebalikan dengan sikap dingin, bar-bar, dan sombongnya selama mereka bersama.
"Abang," isak tangis Tiara semakin menjadi-jadi hingga membasahi dada Rama.
"Aku harap, kamu jangan pergi juga di hari ulang tahunku. Saat ini, kamulah harapan terbesarku. Kamu yang membuatku lebih yakin menjalani hari lagi. Kamu yang membuatku lebih yakin untuk membuka hati. Jangan pernah tinggalkan walaupun aku sering menyebalkan," pinta Rama sambil mengusap kepala Tiara.
"He eh," sahut Tiara mangut-mangut.
Rama melepas pelukan Tiara untuk menatap mata istrinya yang sudah memerah dan sembab. Ia tersenyum tulus dan mengusap air mata di pipi Tiara dengan lembut. Rama dapat merasakan ketulusan hati Tiara sehingga merasa lebih lega setelah bercerita kepadanya.
__ADS_1
"Abang, mau minta kado apa dari Tiara?" tanya Tiara tiba-tiba menghentikan tangisnya dan menyeka sisa air matanya.
"Masih sama seperti tadi. Abang minta kamu dan hatimu," jawab Rama gemas melihat perubahan istrinya.
"Aiih bukan itu, Abang," sanggah Tiara kesal.
"Masakin apa pun yang kamu bisa," sahut Rama membuat mata Tiara membola.
"Hehe. Masak ya? Selain itu, barang atau apa gitu yang mudah, Bang?" nego Tiara sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aku cuma pengen dimasakin kamu kok. Apa pun sebisamu deh. Udah dijawab malah bantah," tampik Rama masih bertahan dengan kemauannya.
"Aku cuma bisa bikin mie instan sama bikin telur orak-arik, Abang. Mau itu?" tanya Tiara menahan malu.
"Boleh. Yang penting masakanmu," jawab Rama santai namun membuat Tiara berdebar-debar.
"Tapi, nunggu semua udah tidur ya, Bang. Malu aku," rayu Tiara manja.
"Iya iya," sahut Rama sulit menyanggah jika Tiara sudah memasang sikap manjanya.
"Kalau nggak enak bagaimana?" tanya Tiara ragu-ragu.
"Iya kali aja airnya kebanyakan atau mienya kelembekan kan bisa, Bang," sahut Tiara cemas duluan.
"Udah. Yang penting masak aja. Katanya mau ngasih kado. Aku kan minta kadonya dimasakin. Atau kamu ingin belajar masak suatu saat?" ujar Rama menenangkan istrinya.
"Mau sih, Bang. Tapi, aku nggak tahu bumbu-bumbu," jawab Tiara cemberut.
"Iya makanya belajar biar tahu. Aku sih nggak mengharuskan kamu bisa masak. Cuma kalau kamu ingin belajar, nanti biar aku urus kursusnya," tutur Rama.
"Kapan-kapan deh, Bang. Kayaknya aku akhir semester depan banyak tugas dan ada magang mahasiswa," sahut Tiara menimbang-nimbang.
"Magang? Mau magang di mana? Di kantorku aja bagaimana, Ra?" tawar Rama sangat antusias.
"NGGAK, BANG!" tolak Tiara tanpa ba-bi-bu.
"Pakai ngegas lagi. Kenapa?" tanya Rama sambil merangkul bahu Tiara berusaha merayunya.
"Hei, Abang. Ini kenapa pakai rangkul-rangkul segala. Mau membujuk? I'm sorry to say yaa. Kalau magang di kantor Abang tentu kurang tantangan dan nepotisme namanya. Nanti bukannya kerja malah yang ada digodain melulu sama bosnya. Nggak pokoknya! Aku pengen ngerasain yang bener-bener latihan kerja gitu, Bang!" papar Tiara tak mau diganggu gugat.
__ADS_1
"Iya Abang profesional kok. Nanti, di kantor tetap jadi bosmu dan di rumah jadi suami. Bagaimana?" bujuk Rama penuh harapan.
"Sekali nggak tetap nggak. Mau Abang rayu dengan berbagai barang, makanan, atau apa pun tentu takkan mengubah keputusanku. NGGAK, ABANG! NGGAK! NGGAK! NGGAK!" sahut Tiara penuh penekanan di bagian penolakannya.
Gemas melihat Tiara yang sangat cerewet dan keras kepala, Rama pun langsung meraup bibir Tiara agar berhenti bicara. Tiara pun tak sempat menghindar dari serangan mendadak itu karena tak terlihat gelagat sebelumnya juga. Tiara berusaha memberontak namun Rama begitu kuat memegang tengkuknya dan *****@* bibirnya habis-habisan sampai napasnya terengah-engah sulit mendapat udara.
"Abang, stop!" seru Tiara samar-samar memberontak dan berusaha menjauhkan badannya dari Rama.
Nahas, Rama malah makin kuat mengunci tengkuknya dengan tangan kiri dan pinggangnya dengan tangan kanan. Gadis itu pun hanya menggeliat mencoba mencari celah dengan tenaga yang tersisa.
Rama tak mengindahkan seruan dan pemberontakan yang Tiara lakukan. Alih-alih peduli, Rama malah lebih memperdalam permainannya. Kini, ia mulai berani mengobok-obok mulut Tiara dengan ular kobra di mulutnya hingga membuat Tiara semakin sulit bicara dan akhirnya tubuh Tiara lebih melemas menerima permainannya. Badan gadis itu sudah terlalu lelah untuk melawan karena tenaganya tidak sebanding dengan Rama.
Tanpa sadar, Rama terlalu dalam terbawa suasana hingga tangannya refleks meremas sekali gundukan jelly-jelly yang sedari tadi Tiara lindungi. Belum sempat mengulangi, Tiara sudah menjerit dan menggigit bibir bawah Rama sampai Rama terpaksa melepaskannya.
"Abang makin ngelunjak ya!" maki Tiara sambil satu tangan menyilang di dada dan satu lainnya menunjuk-nunjuk ke wajah Rama penuh amarah.
"Memang, kenapa? Bukankah aku ini suamimu!" seru Rama turut emosi karena memang hasratnya sudah meninggi namun sangat kecewa tak bisa menuntaskannya bersama sang istri.
"Tapi, Abang udah janji nggak akan macam-macam dengan Tiara, kan? Abang mau nunggu sampai Tiara siap. Abang udah pikun?" sentak Tiara begitu murka.
"Pikun? Hei, tak bisakan menjaga ucapanmu kepada suami?" tanya Rama mendekati Tiara.
Tiara pun beringsut mundur seraya berkata, "Lalu, bagaimana jika ternyata sang suami tidak bisa menjaga janjinya juga?" tampik Tiara sangat garang dan menantang.
Tangan kanan Rama tergerak untuk memegang rahang bawah Tiara dan mendongakkan kepalanya penuh keangkuhan. Rama menatap Tiara dengan berang. Rama pun tersadar jika responnya berlebihan saat mendengar isakan lirih istrinya yang terdengar begitu mengiris. kewarasannya. Meskipun, Tiara juga sebenarnya tidak sepantasnya bersikap semacam itu namun emosinya reda seketika.
"Oke. Aku minta maaf. Lain kali, aku akan lebih hati-hati dan menahan diri," sesal Rama mengalah dan guratan di wajahnya tampak mengendur perlahan.
Rama melembutkan usapan tangannya ke pipi Tiara yang telah basah. Kemudian, jemarinya juga mengusap sisa saliva di bibir Tiara yang agak bengkak dan memerah karena ulahnya. Bibir yang suka membuatnya lepas kendali.
"Mandilah! Biar aku setelahmu. Aku mau merokok dulu," suruh Rama sambil meraih rokok dan korek di atas nakas.
Tanpa menyahut, Tiara pun menuruti perintah Rama. Entah apa yang ada di pikirannya hingga sampai kehabisan kata. Yang jelas, ia sedikit kecewa walaupun sebenarnya menyesal juga. Rama memang suaminya yang bahkan haknya untuk mendapat lebih dari itu namun ketidaksiapannya yang tanpa alasan membuatnya kadang menunjukkan reaksi berlebihan terhadap sikap Rama yang lebih intim dan menyentuhnya lebih dalam.
Maafkan Tiara, Bang. Tiara benar-benar belum siap dengan semua konsekuensinya. Sesal Tiara dalam hati.
Rama pun merorok di balkon untuk meredakan hasrat jiwa dan emosinya yang sedang tidak stabil. Bahkan, seperti hampir gila karena harus menyudahi permainan yang sudah membawanya tinggi melayang. Ia mengumpat pada diri sendiri karena tak tahu harus bagaimana lagi.
Rama, sabar. Lebih lembut kepadanya atau kamu akan kehilangan kesempatan mendapatkan hatinya. Batin Rama menenangkan diri sendiri.
__ADS_1
...****************...