Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Gara-Gara Tamu


__ADS_3

Setelah selesai ritual mengisi perut, Rama dan Tiara melanjutkan perjalanan ke kebun stroberi. Di perjalanan, Tiara mendadak merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia merasa perutnya sedikit melilit dan berbunyi seperti hendak BAB.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Rama cemas langsung menepikan mobilnya.


"Perutku tiba-tiba sakit," jawab Tiara menahan sakit.


"Kita cari klinik dulu ya?" tawar Rama takut.


"Nggak usah, Abang. Malas minum obat. Paling aku kekenyangan aja. Hehe," tolak Tiara meringis.


"Makanya, kalau makan itu secukupnya aja. Mending dikit-dikit, tapi sering. Kecil-kecil tapi perutnya macam karung aja, apa pun masuk," caci Rama pura-pura kesal.


"Aih. Abang bagaimana ini. Orang lagi sakit malah dimarahin," sahut Tiara menabok lengan Rama.


"Iya kamu loh. Haru lebih dijaga makannya. Makan sambal aja kayak orang kesetanan. Besok-besok nggak boleh sembarangan lagi lah makanmu ya. Oke? Nurut sama suami!" titah Rama tegas.


"Abaang, jangan gitu lah," rengek Tiara minta keringanan.


"Bodo amat!" sahut Rama singkat.


"Jahat. Nanti aku aduin ke Mama kalau Abang nggak bolehin aku makan. Biar nanti Abang dimarahin Mama. Nanti aku bilang ke Bunda juga biar aku dijemput ke Surabaya," ancam Tiara bersungut-sungut.


"Siapa juga yang nggak bolehin makan? Kan aku cuma melarang jangan makan sembarangan dan jangan banyak makan pedas aja!" protes Rama tidak terima.


"Nggak enak kalau makan nggak pedas, Abang," rungut Tiara semakin membantah.


"Udah sakit perut aja nggak ada kapoknya. Heran," sahut Rama.


"Biarin toh kalau sakit juga aku yang merasakan, kamu kan nggak ikut sakit juga," elak Tiara.


"Dasar anak bandel! Terserah lah. Yang penting aku udah mengingatkan," pungkas Rama kesal karena Tiara terus melawan.


Rama pun menenangkan pikirannya sejenak agar bisa lebih konsentrasi dalam mengendarai mobilnya. Setelah merasa sudah membaik, ia kembali menjalankan mobilnya menuju kebun stroberi yang akan mereka tuju. Sepanjang perjalanan, ia dan Tiara saling mendiamkan.


Sesekali, Tiara meringis saat perutnya nyeri lagi namun kembali tenang saat nyerinya hilang. Rama terlihat tidak memedulikan dan hanya fokus ke jalan, meskipun sebenarnya ia memerhatikan dalam diam.


Sesampainya di kebun stoberi, Rama pun ragu untuk turun mengingat keadaan Tiara yang sepertinya tidak memungkinkan. Akan tetapi, ia akhirnya menyerah dengan keraguannya setelah melihat Tiara yang sumringah saat melihat hamparan kebun stroberi. Mereka turun dari mobil dan segera membeli tiket untuk masuk. Rama membayar tiket dengan harga sepuluh kali lipat agar Tiara bisa bebas mengambil dan memakan langsung stroberi di sana.


Setelah urusan administrasi selesai, Tiara mengambil keranjang dan gunting yang disediakan petugas, sedangkan Rama hanya mengekor tanpa membawa apa-apa. Rama sangat rileks dimanjakan oleh suasana di sana namun lebih takjub melihat tingkah istrinya yang begitu energik.

__ADS_1


"Abang, tadi kata petugasnya apa? Boleh dimakan langsung atau dikumpulkan nanti ditimbang baru boleh dimakan?" tanya Tiara lupa kalau sedang bersengketa dengan suaminya.


"Boleh makan sepuasnya dan boleh bawa pulang juga. Udah beres semua," jawab Rama.


"Aih. Abang pasti nyogok ya? Abang tuh jangan terlalu menghambur-hamburkan uang. Mending banyak ditabung buat masa depan," saran Tiara.


"Semua udah diperhitungkan. Buat tabungan udah ada, buat bisnis dan urusan lain udah, buat sendiri udah. Ya udah. Nggak ada kata menghambur-hamburkan selagi itu buat nyenengin istri. Toh selagi punya ya pasti aku kasih nafkah semaksimal mungkin," sahut Rama serius.


Wajah Tiara mendadak bersemu merah mendengar pernyataan Rama. Ia pun salah tingkah.


"Udah ayo. Jadi petik nggak?" ajak Rama.


Tiara hanya menjawab dengan anggukan. Kemudian, ia berjalan mencari buah yang sudah ranum. Saking banyaknya buah di sana yang merah menggoda, ia sampai bingung harus memetik yang mana. Ia pun memetik dengan sangat antusias.


"Abang mau?" tanya Tiara sambil menempelkan stroberi di bibir Rama.


Rama terkejut karena ia sedang sibuk bermain ponsel dan Tiara tiba-tiba menodongnya dengan stroberi. Mau tak mau, ia pun membuka mulut untuk menerima suapan Tiara. Setelah mengunyah, Rama pun menyipitkan mata sambil bergidik menahan asam.


"Kok kecut banget?" tanya Rama sangsi.


Tiara cengar-cengir sambil menunjukkan stroberi sisa gigitan Rama yang masih berwarna putih dengan sedikit kemerahan.


"Abisnya Abang bukannya bantuin petik atau temani aku ngobrol malah asyik sendiri dengan hp," maki Tiara lirih.


"Iya aku ada urusan kerja dikit jadi berkoordinasi dengan Bayu," jawab Rama.


"Oh gitu. Ya udah kelarin aja dulu. Abang kalau mau sambil duduk-duduk juga nggak apa-apa. Aku nggak akan hilang kok kalaupun jalan sendirian," tutur Tiara sambil mengunyah stroberi.


"Enggak. Aku ikutin kamu aja. Kamu bahaya kalau dibiarkan sendiri. Takutnya makan sembarangan lagi, makan daun-daunnya juga mungkin," sahut Rama terkekeh.


Tiara mencebikkan bibir.


"Abang kira aku kambing," decak kesal Tiara.


"Lah emang apa kalau bukan kambing?" goda Rama.


"Abaaaang!" seru Tiara sambil menodongkan gunting ke muka Rama.


"Hei, bocah. Udah lanjutin aja panennya. Nggak usah aneh-aneh," ucap Rama memeringatkan.

__ADS_1


Tiara pun menurut dan kembali memetik stroberi. Rama pun melanjutkan urusannya sambil berjalan mengekor Tiara.


Setelah hampir penuh satu keranjang, Tiara pun beristirahat sejenak sambil berjongkok dan makan hasil petikannya. Tak lupa ia menawari Rama dan menerimanya dengan senang hati.


"Abang, udah cukup kali ya. Udah jam tiga nih. Kita langsung pulang ke hotel aja ya. Udah pegal-pegal semua badanku," kata Tiara sambil berdiri memegangi pinggangnya.


Rama pun mengangguk. Saat Tiara mulai berjalan di depannya, Rama melihat ada noda merah kecokelatan di celana Tiara. Ia sempat berpikir jika mungkin Tiara menduduki stroberi yang busuk atau mungkin noda tanah..


"Ra, tunggu. Di celanamu ada noda merah. Kamu habis duduk di mana?" tanya Rama.


"Di mana, Bang?" tanya Tiara khawatir sambil mencari noda yang dimaksud Rama.


"Di belakang," jawab Rama masih memerhatikan noda itu karena takut Tiara terluka.


Tiara pun terperanjat sambil membulatkan bibirnya. Ia langsung memeriksa noda yang dimaksud Rama. Benar saja, periodenya telah tiba.


"Abang, tamu bulanan kayaknya," ucap Tiara panik.


"Heh, yang bener?" tanya Rama ikut cemas.


"Iya, Abang. Beneran. Ayo cepet balik," ajak Tiara terburu-buru.


Rama pun melepaskan kemejanya untuk membalut pinggang Tiara. Ia tak mau Tiara malu karena noda bulanannya dilihat orang. Tiara pun tak sempat berterima kasih atau terharu karena sudah terlalu panik. Tiara pun berjalan dengan langkah agak cepat diikuti oleh Rama yang sedikit kecewa.


Sesampainya di mobil, Tiara sedikit bernapas lega. Namun, ia jengkel memikirkan jika ternyata tadi ada yang sudah melihat noda bulanannya selain Rama. Ia merasa sangat malu.


"Abang, kenapa tidak bilang dari awal!" decak kesal Tiara.


"Iya aku baru lihat kok," sahut Rama membela diri.


"Makanya, jangan sibuk terus sama hp. Bagaimana kalau ternyata udah ada orang liat nodanya. Kan aku malu," caci Tiara kepada Rama.


"Loh, kok jadi aku yang salah. Kalau aku lihat dari awal tentu sudah kuberitahu juga," protes Rama.


"Aih. Abang emang nggak perhatian sama aku," tukas Tiara.


"Lho," ucap Rama melongo.


Ia pun memilih berhenti membela diri karena percuma melawan wanita yang sedang mendapat tamu bulanannya. Ia bahkan lebih bahaya dari buaya maupun singa jika sedang murka. Ia pun menjalankan mobilnya sambil mencari minimarket untuk membelikan pembalut untuk Tiara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2