Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Tiara Terluka


__ADS_3

Dua bulan kemudian, Tiara disibukkan dengan ujian akhir semester. Ada ujian tertulis biasa dan ada juga yang dalam bentuk makalah atau penugasan. Jika musim ujian begini, Tiara dan ketiga sahabatnya memang lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar maupun mengerjakan tugas bersama.


Hingga suatu hari, Tiara mengerjakan tugas di kos Wanda yang letaknya paling dekat dengan kampus. Deadline tugas untuk esok hari memang banyak sehingga lupa waktu dan tiba-tiba sudah pukul 20.30. Untung saja, Tiara sudah memberi tahu Bu Ina jika ia pulang agak larut karena mengerjakan tugas sehingga Bu Ina tidak khawatir menunggunya.


Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di ponsel Tiara. Melihat nama kontak Abang 🐶, Tiara bergegas membuka pesannya sebelum sang pemilik kontak mengamuk.


Abang🐶


Di mana? Pulang!


Tiara


Di kos Wanda. Baru kelar nugas.


Abang 🐶


Aku jemput. Kamu tunggu. Jangan pulang sendiri


Tiara


Nggak usah. Aku berani sendiri.


Abang,🐶


Aku ganti baju dulu. Tunggu abis ini otw.


Tiara pun hanya membaca pesan Rama dan pamit kepada ketiga sahabatnya yang belum selesai mengerjakan tugasnya. Mereka pun mengiyakan dan menyuruh Tiara hati-hati karena sudah malam. Sebenarnya, Wanda menawari Tiara untuk menginap di kosnya namun karena ada makalah untuk besok pagi yang masih di rumah jadi ia memutuskan untuk pulang saja.


Di tengah perjalanan saat melewati jalan sepi, Tiara merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Ia mulai merasa tidak tenang hingga jantungnya berdebaran. Ia melihat ada sebuah sepeda motor yang memang di belakangnya sejak lima menit lalu. Tiara curiga mereka menguntitnya karena saat Tiara memelankan laju motornya, mereka pun tidak menyalip sama sekali.


Pikiran Tiara mulai kacau hingga tangannya gemetaran. Ia menyesal telah membantah Rama dan sekarang tak tahu bagaimana ia harus menghadapi mereka. Ia mencoba berpikir positif jika motor itu kebetulan memang searah dengannya.


Tiba-tiba, motor itu pun mempercepat lajunya untuk mendahului Tiara. Awalnya, Tiara lega karena sudah tidak ada lagi yang membututinya. Namun, nahas malah motor itu berhenti dan memotong jalan di depannya. Tiara pun menarik remnya kuat-kuat dan menghindari motor tersebut dengan banting stir ke kiri.

__ADS_1


Motor Tiara pun menabrak trotoar tidak terlalu keras namun cukup membuat Tiara hilang keseimbangan hingga roboh dan menimpa kakinya. Saat Tiara sedang mencoba menarik kakinya dari bawah motor, kedua orang yang memotong jalan Tiara tadi pun mendekati dengan menodongkan pisau belati. Tiara pun terbelalak. Mulutnya tiba-tiba seakan-akan terkunci hingga tak bisa berteriak.


"Serahkan barang-barangmu atau pisau ini yang bicara," ancam salah satu orang yang membawa belati dan mengacungkannya di wajah Tiara.


Orang yang satunya sudah menegakkan motor Tiara dan sudah siap-siap untuk membawanya.


Tiara pun meneteskan air mata tanpa suara karena sangat ketakutan. Ia ingin meminta tolong namun tidak ada kendaraan yang lewat saat itu. Tangan dan kaki Tiara seolah lumpuh mendadak dan sulit digerkakkan.


"Hei, serahkan barang-barangmu!" paksa orang itu lagi sambil berusaha menarik tas Tiara.


"Silakan kalian bawa motornya, tapi kalau tasku jangan. Ini berisi data-data penting," sahut Tiara dengan suara lirih.


"Alah banyak bacot. Sini," bentak orang itu.


Tas Tiara pun berhasil direbut oleh si penodong karena si penodong berhasil menggoreskan belati di tangan Tiara hingga membuatnya tak berdaya. Si penodong melakukan itu karena ada sebuah mobil mendekatinya sehingga ia harus segera kabur. Tiara semakin larut dalam tangisnya namun tak lagi bisa bersuara.


"Tolong!" ucap lirih Tiara.


Saat mereka hendak membawa motor dan tas Tiara, sebuah mobil berhenti menghadang mereka. Dua orang keluar dan langsung menyerang dua penodong dengan menendang motor yang mereka kendarai hingga roboh sebelum sempat kabur. Dengan pandangan yang mulai kabur, Tiara pun melihat dua orang yang menghajar penodong itu adalah Rama dan asistennya di kantor, Bayu. Tiara pun melihat satu orang lagi keluar dari mobil dan berlari mendekatinya adalah Pak Rahmat.


ia melihat orang itu melukai tangan Tiara. Setelah Rama berhasil meninju perut orang itu, akhirnya orang itu menyerahkan tas Tiara dan buru-buru kabur dengan temannya.


Rama pun menyerahkan tas Tiara kepada Bayu dan segera berlari mendekati Tiara yang sudah tak berdaya. Rama pun melepas kaosnya untuk membalut luka di tangan Tiara agar darahnya berhenti mengalir.


"Kuat ya. Kita ke rumah sakit untuk mengobati lukamu," ucap Rama sambil menggendong Tiara yang sudah sangat lemas.


Rama membawanya masuk mobil. Bayu pun langsung ikut masuk ke mobil dan melajukannya ke rumah sakit, sedangkan Pak Rahmat membawa pulang motor Tiara. Selama di perjalanan, Tiara terus menangis lirih dengan mata yang melukiskan ketakutan yang teramat sangat. Rama paham pasti kejadian ini sangat membuatnya trauma.


Rama pun merengkuh kepala Tiara ke dadanya. Ia pun begitu cemas melihat keadaan Tiara seperti ini. Berkali-kali, Bayu terkena omelannya saat mobil tak bisa melaju cepat karena lalu lintas padat.


"Dasar anak bandel. Aku kan sudah bilang jangan pulang sendiri. Susah amat dibilangin sih," ucap Rama yang sebenarnya marah pada diri sendiri.


"Abang, maaf," sahut Tiara lirih sambil mencengkeram lengan Rama.

__ADS_1


Tanpa keraguan, Rama pun memberanikan diri untuk memeluk Tiara. Tiara pun tidak menunjukkan penolakan.


"Ya sudah. Tidak apa. Kamu sudah aman. Lain kali nurut," timpal Rama mulai tenang.


Tiba-tiba, badan Tiara dingin dan melemas. Rama pun memegangi badan tiara yang sudah tak sadarkan diri di pelukannya.


Sesampainya di rumah sakit, Tiara pun diperiksa di IGD. Setelah lukanya dibersihkan, Tiara tak kunjung sadar.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rama begitu cemas.


"Tenang, Pak. Luka Bu Tiara tidak terlalu dalam hingga tidak perlu ada jahitan. Nanti cukup rajin dibersihkan saja pakai air hangat dan jangan ditutup dengan plester apa pun. Oleskan saja salep ini ke lukanya. Untuk kakinya, sedikit terkilir jadi saya pasang perban elastis untuk meredakan sakitnya. Nanti kompres juga pakai es yang dibalut handuk selama 15-20 menit. Kurangi aktivitas berat yang terlalu memberatkan kaki. Lalu, untuk obatnya bisa langsung ditebus di apotek depan. Sudah saya resepkan di sana," jawab dokter yang menangani Tiara.


"Tapi, kenapa dia belum sadar juga, Dok?" tanya Rama lagi.


"Dia terlalu shock dengan yang dialaminya tadi. Wajar kok seperti ini. Sebentar lagi juga siuman dan boleh langsung pulang. Ada yang ingin ditanyakan lagi, Pak?" tanya balik sang dokter.


"Cukup, Dok. Terima kasih," jawab Rama sambil melirik ke arah Tiara yang mulai membuka mata.


Setelah dokter itu pamit untuk melanjutkan pekerjaan, Rama pun memberikan kartu atm kepada bayu dan menyuruh Bayu untuk menebus obat Tiara, sedangkan ia berjalan menuju Tiara yang sudah kembali kesadarannya. Tiara pun bingung melihat ke sana kemari. Saat mendapati Rama sedang berjalan menujunya dengan memakai kaos yang sudah terkena darah Tiara, barulah ia bisa bernapas lega.


"Abang, ayo pulang. Mama pasti sangat khawatir menunggu kita," ajak Tiara yang mencoba duduk dengan susah payah.


Rama membantu Tiara duduk. Ia pun duduk di belakang Tiara agar Tiara bisa bisa menyandarkan punggungnya.


"Sabar. Kamu istirahat dulu di sini. Bayu sedang menebus obatmu," jawab Rama datar namun lebih hangat dari biasanya.


"Maaf ya, Bang," sesal Tiara menunduk.


"Hmm," jawab singkat Rama.


"Makasih ya, Bang," tutur Tiara tulus.


"Sudah kewajibanku melindungimu, makanya nurut," tegas Rama.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2