
"Ada perlu apa dengan istriku?" tanya Rama menyorot tajam Arjuna.
Arjuna tentu semakin tercengang. Arjuna menatap Tiara dan Nafisa secara bergantian. Keningnya berkerut seakan meminta penjelasan.
"Istri? Nafisa? Maaf, aku udah move on. Tenang saja, di sini aku berkepentingan dengan Tiara kok," jawab Arjuna berusaha tetap tenang namun menyorot Rama tajam.
Nafisa dan Tiara pun saling bertatapan dalam diam.
"Yang kamu pegang tangannya kan Tiara. Kenapa malah sampai Nafisa? Istriku itu Tiara lah. Sepenting apa urusan kalian sampai kamu berani memegang tangannya?" sahut Rama cemburu.
"Tiara? Istrimu?" tanya Arjuna membelalakkan mata.
"Iya. Memang, kenapa?" tanya balik Rama tak suka.
"Dia masih kuliah, kan? Lagian, bukannya dulu kamu melamar Nafisa?" ucap Arjuna masih terperangah namun terbesit kembali dendam yang pernah dipendamnya dalam-dalam.
"Soal masa lalu, kamu bisa tanyakan sendiri ke Nafisa. Dia lebih punya hak untuk menjelaskan semuanya. Tentang aku dan Tiara, ya apa masalahnya kalau menikah saat kuliah? Memang, Tiara nggak pernah cerita?" balas Rama sambil merangkul pinggang Tiara membuat Arjuna menatapnya murka sampai tak bisa berkata-kata.
"Abang," ucap lirih Tiara sambari mengusap-usap dada Rama untuk meredakan emosi dan kecemburuan yang begitu kentara ditunjukkan suaminya itu.
Entah kejutan macam apa lagi yang didapatkan Arjuna dapatkan selepas memutuskan untuk menambatkan hati kepada Tiara. Lagi-lagi, ia harus kembali meraup kekecewaan dalam hal wanita untuk kedua kalinya. Nahasnya, mereka ada kaitannya dengan lelaki yang sama.
Entah perasaan apa yang dirasakan Arjuna saat itu. Marah, kecewa, dendam, malu, pedih, dan ia pun tak tahu persis rasa macam apa yang telah memporak-porandakan hatinya. Arjuna sampai tak dapat berkata-kata setelah mengetahui wanita yang belakang mengisi kekosongan batinnya, ternyata sudah menjadi kepunyaan orang lain. Bukan sekadar pacar, tetapi seorang istri. Sungguh malang nasib kisah cintanya yang harus dipangkas sewaktu baru tumbuh tunas. Jangan ditanya bagaimana sakitnya, tentu sangat luar biasa.
Bertemu Nafisa saja sudah cukup membuka luka lama dan dendam kesumat Arjuna pada Rama. Apalagi, mengetahui Tiara adalah istri Rama tentu dadanya semakin bergemuruh. Ia pun menyadari kecerobohannya yang langsung memutuskan untuk jatuh hati kepada Tiara tanpa terlebih dahulu mencari tahu tentang seluk-beluknya. Kemudian, bayangan Pak Hadi pun terlintas di benaknya. Tak mungkin seorang Pak Hadi seteguh itu membujuk Arjuna untuk mendekati Tiara tanpa memahami asal-usulnya.
Papa berhutang penjelasan. Gumam Arjuna menahan malu dan amarah.
"O, iya, Pak Juna. Besok laporan auditnya akan saya taruh di meja ya," tutur Tiara tiba-tiba membuat ketiga orang di sekitarnya terkejut dan tatapan mereka penuh tanya.
Tiara terpaksa berbohong untuk mencairkan kebekuan suasana di antara mereka. Ia paham betul bagaimana hubungan Rama dan Arjuna yang belum baik-baik saja setelah memperebutkan Nafisa. Dalam suasana setegang itu, tentu bukan hal tepat jika terlalu jujur karena mungkin akan membuat Rama salah paham dan Arjuna pun akan merasa malu. Keadaan semacam itu tentu akan semakin memperkeruh hubungan Rama dan Arjuna. Tiara bertekad jujur kepada Rama setelah Rama kembali tenang.
"Kalau udah nggak ada perlu lagi, saya pamit ya, Pak. Saya mau berkemas. Misal ada yang mau dibicarakan lagi dengan Mbak Nafisa, besok temui saja dia di divisi keuangan. Sekarang, saya mau minta tolong Mbak Nafisa untuk membantu berkemas," imbuh Tiara membuat Nafisa tak kalah heran.
"Nafisa di divisi keuangan? Di Bogarasa?" tanya Arjuna kembali mendapat kejutan beruntun tanpa bisa memahami harus bahagia, bingung, atau bagaimana.
"Iya, Pak," jawab Tiara.
"Ayo, Ra! Aku bantu berkemas," ajak Nafisa yang memang sudah tidak nyaman dengan suasana di sana, gerah dan menegangkan.
"Abang tunggu sini dulu ya," ucap Tiara sambil melepaskan tangan Rama dari pinggangnya.
"Iya, Sayang. Cepat ya. Udah sore ini," sahut Rama lebih lembut membuat kuping Arjuna panas dan hatinya begitu meradang.
"Oke. Aku juga akan kembali ke kantor. Permisi," pamit Arjuna tanpa basa-basi dengan raut kecewa dan kesal yang seakan siap ditumpahkan.
...****************...
Di perjalanan pulang, masih tergambar jelas kecemburuan di wajah Rama. Berkali-kali, Tiara membuka kata namun Rama menanggapi dengan malas. Mungkin, ada yang sedang dipendam. Mungkin juga, ada yang sedang berusaha diredakan. Atau mungkin ada banyak pertanyaan namun sulit atau enggan diutarakan.
"Abang," panggil lembut Tiara sembari meraih punggung tangan Rama dan menggenggamnya perlahan.
(Sumber: Pinterest)
"Apa, Sayang?" sahut Rama dengan nada sedikit kesal.
"Aku boleh cerita soal tadi?" tanya Tiara menatap Rama penuh harap.
"Boleh," jawab Rama serius dan menunjukkan minat.
"Tadi Pak Juna bilang cinta sama aku," ucap Tiara memulai bercerita.
"Itu, kan? Apa kubilang? Dia itu ada maksud mendekatimu. Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau sudah menikah? Kalau kamu jujur dari awal, nggak akan kejadian begini," sambar Rama menyela.
"Makannya Abang dengerin dulu jadi nggak salah paham," bantah Tiara sedikit emosi.
"Iya," sahut Rama merengut.
"Udah lah. Males aku. Nggak jadi. Batal dah," rajuk Tiara melipat tangan ke dada dan membuang pandang ke luar jendela.
"Nggak, Sayang. Ia maaf. Aku nggak motong ceritamu lagi. Ayo cerita lagi," bujuk Rama yang seketika luluh ketika menyaksikan istrinya bersungut-sungut mengibarkan bendera perang.
"Udah males ah," sahut Tiara ngambek.
"Sayang, maaf ya. Aku udah nyoba menahan diri, tapi sulit untuk nggak cemburu. Suami mana yang nggak cemburu tangan istrinya dipegang lelaki lain dengan tatapan penuh makna seperti itu," sesal Rama tulus berharap rajukan Tiara mereda.
__ADS_1
"Iya cemburu boleh, buta jangan! Aku kan mau mencoba meluruskan, tapi Abang menyambar seenaknya," maki Tiara menoleh dan menyorot Rama sinis.
"Iya, Sayang. Maaf ya," sahut Rama meraih tangan Tiara dan menciuminya berkali-kali tanpa mengurangi konsentrasinya dalam mengemudi.
Tiara pun menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Aku merasa Pak Juna nggak sepenuh hati mengungkapkannya. Meskipun, memang tulus namun sepertinya tak sepenuhnya benar. Terlebih saat melihat aku bersama Mbak Nafisa, mulut Pak Juna berkata padaku namun matanya bicara lebih banyak kepada Mbak Nafisa. Dia memang mengatakan cinta aku bukan Mbak Azzahratun Nafisa, tapi aku merasa ada yang ganjil dengan ungkapannya. Seakan ada ketidaksiapan yang terlalu dipaksakan. Mungkin, dia masih sakit hati atau bagaimana, aku nggak tahu persisnya. Semua kata yang diungkapkan padaku seolah spontan diucapkan tanpa berpikir panjang. Seperti ada yang sedang ia tutupi. Mungkin, dia masih ada perasaan kepada Mbak Nafisa ya, Bang?" terang Tiara serius.
"Tapi, dari awal aku lihat foto kalian, dari cara dia natap kamu, aku merasa dia memang ada rasa denganmu. Cuma, mungkin dia belum sepenuhnya yakin. Kemudian, tadi kebetulan bertemu Nafisa. Mungkin, ada dendam tersendiri ketika Nafisa menolaknya mentah-mentah. Nah, itu bisa saja sebagai ajang balas dendamnya. Sebenarnya dia belum siap, tetapi keberadaan Nafisa mendorongnya untuk lebih dini mengatakan cinta," sahut Rama.
"Betul juga sih, Bang," ucap Tiara menyetujui pernyataan Rama.
"Untung aku datang di waktu yang tepat. Kalau aku belum datang, apa yang akan kau katakan padanya?" tanya Rama penasaran.
"Iya menerimanya lah. Lumayan sugar Omku makin banyak," canda Tiara membuat Rama mendelik sengit kepadanya.
"Ra, awas ya!" ancam Rama malah membuat Tiara tergelak.
"Lagian, Abang itu pertanyaannya ngawur. Ya jelas jawabannya Tiara cukup milik Abang lah. Walaupun Abang itu aneh, suka marah dan ngambek, udah tua, sombong lagi, tapi untung ganteng, CEO, dan ya 50 persen perfek buat jadi suami ideal lah," goda Tiara sambil cekikikan.
"Ini sebuah pujian atau celaan sebenarnya ya, Puan Sayang?" tanya Rama sembari tersenyum geli.
"Abang bisa menilai sendiri lah ya. Aku hanya jujur," sahut Tiara sambil menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Rama pun tersenyum, lalu menoleh sebentar untuk mencium kening sang istri tercinta. Tiba-tiba, keromantisan itu tak bertahan lama karena dering ponsel Rama mengganggu suasana. Tiara mendesis sambil mengangkat kepala dari bahu Rama dan merogoh ponsel di saku Rama. Ia melihat nama Bayu tertera di sana. Rama memberi aba-aba untuk menjawab dan menyalakan pengeras suara.
"Halo, Bos. Gawat! Kantor darurat!" teriak Bayu memekakkan telinga.
"Ada apa?" tanya Rama santai.
"Aduh. Bahaya! Bagaimana ini?" tanya balik Bayu.
"Makanya jangan panik biar nggak bego," hardik Rama mulai kesal.
"Selvi berulah di kantor, Bos. Cepat kembalilah! Gawat banget ini," ucap Bayu penuh kepanikan.
"Iya udah. Suruh security mengusirnya. Ngapain repot-repot!" decak kesal Rama.
"Nggak sesederhana itu, Bos. Dia bilang sama semua karyawan di kantor kalau dia dihamili Bos. Kalau Bos nggak mau tanggung jawab, dia mau bunuh diri," tutur Bayu dengan napas terengah-engah.
"Iya biarkan aja dia bunuh diri. Dia juga nggak punya bukti aku yang menghamilinya. Kalau ada karyawan yang menanggapi dan berkomentar macam-macam tentangku, tinggal kupecat saja kan beres. Dia mau hamil, mau bunuh diri, nggak ada urusannya denganku," tegas Rama tak mau ambil pusing.
"Biarkan saja. Sejauh mana keberaniannya. Dia hanya sedang mencari atensi dan depresi. Dia nggak akan senekat itu juga," jawab Rama.
"Tapi, apa nggak memengaruhi reputasi kantor kita kalau dia mati di sini karena meminta pertanggungjawaban Bos?" tanya Bayu yang sudah tak sabar.
"Ayo lebih baik kita ke sana. Kasihan juga dia, Bang. Dia pasti sangat putus asa dengan kehamilannya. Aku sebagai wanita, rasanya tak tega," bujuk Tiara.
"Ngapain kasihan sama setan macam dia itu. Setelah yang dia lakukan kepada kita, kamu masih percaya dengan dramanya?" sahut Rama menyangsikan.
"Sayang, kita nggak tahu sefrustrasi apa dia. Barangkali dari gertakan itu, dia bisa nekat benar-benar bunuh diri di sana. Emosi dia lagi nggak stabil, dia bisa melakukan apa saja tanpa berpikir panjang. Seenggaknya, Abang kelihatan di kantor agar bisa meluruskan huru-hara di sana. Tunjukkan kalau Abang punya kepedulian sebagai sesama manusia. Ikhlaskan semua yang telah dia lakukan kepada kita," nasihat Tiara.
"Aku udah muak dengan semua dramanya," bantah Rama sengit.
"Tapi, kalau Abang nggak di sana malah terkesan Abang melarikan diri, kan? Terkesan Abang benar-benar tak bertanggung jawab. Kita luruskan bersama. Abang hubungi orang tuanya, kalau perlu panggil unit damkar untuk membantu kita. Bagaimana?" tanya Tiara penuh harap.
Rama masih menimbang-nimbang, sedangkan Bayu hanya diam menunggu jawaban atasannya dengan batin berdebar-debar. Seisi kantor sudah heboh. Ada yang sudah berdiri di halaman dengan histeris untuk melihat Selvi yang sudah berdiri bersandar pagang pembatas rooftop. Beberapa mengawasi di pintu rooftop karena Selvi mengancam jika ada yang berani mendekat.
Bos, ayolah. Keburu dia lompat, repot urusannya. Gumam batin Bayu.
"Oke. Bayu, kamu panggil damkar. Tetapi, bagaimana aku menghubungi orang tuanya? Aku udah nggak ada kontaknya," titah Rama.
Terdengan hembusan napas lega Bayu di seberang sana.
"Siap, Komandan!" jawan Bayu tegas.
"Eh. Aku kayaknya ada kontak Bu Rita. Beliau kan dosenku," sahut Tiara sangat cekatan.
"Oke. Lakukan tugas, Bayu! Awasi jangan sampai kecolongan," mandat Rama langsung dijawab siap oleh asisten pribadinya.
...****************...
Tak butuh waktu lama, Rama dan Tiara sampai di halaman kantor yang sudah ramai oleh karyawan. Beberapa terlihat cemas memandang ke atas. Beberapa sedang bercakap entah tentang apa saja. Terangnya, mereka semua langsung diam ketika melihat Rama keluar dari mobil bersama istrinya. Namun, beberapa dari mereka memandang Rama penuh tanya.
"Ada apa kalian lihat-lihat? Mau dipecat?" tegur Rama galak.
Semua karyawannya menunduk dengan takut. Tak ada yang berani menyahut.
__ADS_1
Tiara memegang kedua pipi Rama dan menatapnya dalam-dalam seraya berkata dengan penuh kelembutan, "Sudah, Sayang. Tenang dulu. Kita selesaikan semua baik-baik. Marah-marah hanya akan membuang tenaga dan menguras emosi aja. I love you, Abang Rama. Kalau Abang nggak melakukannya, tunjukkan dengan jantan dan penuh wibawa. Di sini, kita gunakan rasa kemanusiaan."
Ketegangan di wajah Rama pun mengendur. Ia segera memeluk istrinya untuk menguatkan diri dan menghilangkan ketakutan yang sebenarnya bersemayam dalam dirinya. Dalam hati kecilnya, tentua ia takut dipandang sebelah mata oleh karyawannya. Di antara mereka, tentu ada yang percaya begitu saja. Ia tak tahu cara untuk meluruskan semuanya dan mengembalikan nama baiknya.
Karena merasa tak baik-baik saja, Rama segera mengajak Tiara untuk masuk ke ruang kerjanya. Sebelum itu, ia menghubungi Bayu dan Susan untuk membantu menemui damkar dan orang tua Selvi yang mungkin sebentar lagi datang.
Tak berselang lama, datang pula unit damkar dan kedua orang tua Selvi dengan raut panik. Bayu pun keluar dari pintu lobi dengan tergesa-gesa. Unit damkar pun segera mengambil tindakan setelah berbincang dengan Bayu beberapa saat. Berbagai peralatan penunjang untuk menolong Selvi. Orang tua Selvi berkali-kali menanyakan Rama kepada Bayu namun Bayu belum mengizinkan mereka untuk menemuinya.
Di ruang CEO Dewantara Group, Rama langsung memeluk istrinya begitu erat dan menghidu rambut istrinya untuk mencari ketenangan di sana. Tiara yang mendengar debaran jantung Rama pun langsung peka dan membalas pelukan Rama sambil mengusap punggungnya.
"Bagaimana kalau mereka tak percaya kepadaku dan berpikir aku melakukan hal sekeji itu?" tanya Rama dengan suara bergetar dan menunjukkan sisi terapuhnya.
"Bagaimana pun penilaiannya, itu hak mereka. Yang penting, Tiara percaya Abang, Om Bayu percaya Abang, orang yang sudah memahami Abang tentu takkan percaya dengan drama wanita itu," jawab Tiara menguatkan.
"Kenapa keadaannya jadi serumit ini? Aku muak dengan drama ini. Aku capek, Sayang. Tak bisakah kita hidup tenang?" ucap Rama dengan buliran air mata menyungai di pipinya.
"Abang yang tenang. Nanti ada jalan, Sayang. Kita doa aja sama Allah, semoga semua bisa segera teratasi," sahut Tiara sambil melepas pelukannya dan segera menyeka air mata di pipi suaminya.
"Aku takut, Sayang," rintih Rama menunduk.
"Ada Tiara. Kita hadapi bersama. Kita harus saling support dan menguatkan. Tenangkan diri dulu ya, Bang," sahut Tiara membimbing suaminya untuk duduk di sofa.
Setelah Rama duduk, Tiara pun mengambilkan segelas air dingin untuk membantu menenangkan Rama. Tiara menyusul duduk di samping suaminya dan mengusap lembut kedua pipinya. Dengan gerakan cepat dan malu-malu, Tiara pun mengecup bibir Rama berharap itu dapat memudarkan kecemasan dalam diri Rama.
"Tiara sayang Abang," ungkap Tiara tulus dengan tatapan yang sangat dalam.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu di ruangan Rama dan Tiara pun beranjak untuk membukanya. Didapatinya Susan dengan raut panik luar biasa.
"Ada apa, Mbak Susan?" tanya Tiara.
"Mbak Tiara dan Pak Rama, ayo kita ke rooftop untuk membantu evakuasi Mbak Selvi. Petugas Damkar masih berusaha keras karena orang tua Mbak Selvi saja tak bisa membujuk anaknya. Mungkin, kehadiran Pak Rama bisa mengalihkan perhatian Mbak Selvi agar lengah dan mudah dievakuasi," jawab Susan runtut dan lancar.
"Iya udah. Kita akan segera ke sana. Mbak Susan duluan aja. Kita menyusul ya," jawab Tiara dengan tenang diiringi seulas senyum.
Selepas kepergian Susan, Tiara segera mendekat Rama yang sudah berdiri dengan penuh keyakinan. Ketenangan Tiara benar-benar memberi energi positif baginya sehingga ia sudah lebih kuat dan siap menghadapi situasinya.
"Ayo, Bang!" ajak Tiara sambil menggandeng tangan Rama.
Rama pun mengangguk dan tersenyum tulus kepada Tiara. Sepanjang perjalanan mereka sampai di rooftop, tak sedetik pun mereka melepas genggaman itu untuk saling menguatkan. Dalam ketenangan sikap Tiara, juga tersirat berbagai kekhawatiran yang sulit diungkapkan.
Setelah keluar dari pintu rooftop, Selvi yang sudah berdiri di atas pagar pembatas pun tersenyum. Namun, sewaktu melihat Rama menggandeng Tiara yang berjalan di belakangnya, wajah Selvi berubah muram dan merengut penuh kekecewaan. Bu Rita pun langsung berlari ke arah Rama dengan air mata berderai-derai, kemudian berlutut di depan Rama penuh harapan.
Tiara segera bergerak cepat dan membimbing Bu Rita berdiri lagi. Dengan lemas, Bu Rita berdiri dengan tangisan yang semakin memilukan.
"Nak Rama, tolong bujuk Selvi untuk nggak melakukan hal senekat ini," pinta Bu Rita menunduk.
"Hancur sudah hidupku. Lebih baik mati daripada selamanya menanggung malu karena kehadiran anak ini. Rama tak mau bertanggung jawab dan lebih memilih bocah ingusan itu," teriak Selvi berdrama.
Rama pun menyorot tajam Selvi yang benar-benar menguras kesabarannya. Bahkan, Tiara yang awalnya kasihan menjadi ikut kesal mendengar penuturan Selvi yang malah semakin keterlaluan.
"Dia hanya terlalu stress, makanya ucapannya ngawur. Tolong maklumi," ronta Bu Rita penuh kesedihan.
"Udah cukup, Ma. Jangan mengemis tanggung jawabnya. Biarkan aku mati dan nggak mempermalukan keluarga," teriak Selvi.
"Cukup, Selvi!" bentak Pak Bima.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Rama dengan wajah angkuhnya.
"Nikahi aku!" seru Selvi tak kalah garang.
"Jangan berharap!" bantah Rama tenang.
"Aku akan mati," ancam Selvi dengan senyum sinis.
"Ayo, lakukan! Aku akan menjadi saksi kematian sia-siamu," tantang Rama.
"Sebelum aku mati, aku hanya ingin minta maaf kepada Mama dan Papa. Maaf anakmu belum bisa menjadi anak yang membanggakan. Kalian harus bahagia," pesan Selvi.
"Nak Rama, tolong bantu bujuk Selvi. Jangan sampai di nekat," pinta Bu Rita sedih dan semakin panik.
Pak Bima yang awalnya jengah dan jengkel puh akhirnya luluh dan berlari berlutut di hadapan Rama. Bu Rita pun menyusul demikian. Rama dan Tiara mencoba membimbing mereka namun mereka bersikeras untuk tetap dalam posisi itu.
"Tolong nikahi Selvi. Kami tahu itu bukan anakmu. Tetapi, kami mohon belas kasihan dari kamu, Rama. Tolong nikahi Selvi untuk menghentikan tindakan nekat dia! Cuma kamu yang menjadi harapan satu-satunya. Tolong nikahi dia walaupun hanya sementara atau berpura-pura. Dia anak semata wayang kami. Harapan dan mimpi besar kami ada padanya. Nikahi dia untuk menyadarkan dia dari kesalahan dan kekeliruannya. Kami memohon dengan sangat. Kalau tak cinta, menikahlah untuk membantunya lepas dari masa keterpurukan ini," pinta Pak Bima penuh kerendahan.
"Nak Tiara, tolong izinkan Rama menikahi Selvi sementara waktu. Sampai dia bisa tenang dan menerima keadaannya. Sebagai sesama wanita, tentu kamu tahu betul bagaimana hancur perasaannya. Dia melakukan ini tentu kerena emosinya sedang tidak stabil. Dia ini antara sadar dan tidak sadar," imbuh Bu Rita.
Rama dan Tiara mengerutkan kening. Keduanya menunjukkan ekspresi masygul membuat orang-orang di sekitar mereka pun semakin berdebar. Terlebih, melihat Selvi yang semakin mendekati tepi batas pagar dan siap melompat dengan wajah tersenyum ganjil.
__ADS_1
...****************...