
"Abang, ayo maju. Di belakang banyak yang mengantre," desak Tiara mendorong tubuh Rama namun terasa begitu berat bahkan tak bergeser dari tempat.
"Sebentar, Ra," sahut Rama dengan wajah datarnya yang masih menatap Nafisa penuh makna.
Lidahnya tiba-tiba kelu seakan tak mengizinkan Rama menanyakan berbagai pertanyaan yang sedang berlarian di kepala. Matanya seakan enggan mengatup untuk memastikan bahwa sosok di depannya bukanlah mimpi belaka.
"Mau ke mana, Rama?" tanya Nafisa malu-malu.
"Mau ke Surabaya. Kamu mau ke mana?" tanya balik Rama masih dengan keheranannya.
"Aku mau pulang ke Semarang. Mau pulang ke rumah orang tua," jawab Nafisa tak berani menatap Rama di depannya.
"Bukannya Pak Latif itu dosen di Jakarta? Apa udah pindah?" tanya Rama cukup menunjukkan antusiasnya.
"Ayah udah pensiun dan memilih menghabiskan masa tuanya di kampung halaman katanya," jawab Nafisa masih berdiri enggan duduk sebelum Rama pergi.
"S... Suami mana?" tanya Rama ragu dan sebenarnya tidak ingin menanyakan itu.
Nafisa menunduk lebih dalam dengan wajah memerah. Tiba-tiba, dua bulir air mata menjatuh bebas dari matanya. Hal itu membuat Rama menyesal telah menanyakannnya.
"Tidak perlu dijawab jika memang tidak berkenan. Maaf," tambah Rama menunduk.
Tiara yang sedari tadi mengekor Rama serasa menjadi udara yang hanya ada sebagai pelengkap tanpa dianggap kehadirannnya. Entah apa yang dirasakannya, mungkin jengkel karena Rama nampak begitu peduli dengan wanita itu? Atau jengkel karena Rama tak mengindahkan ucapannya? Entahlah. Yang jelas ia ingin pergi jauh-jauh dari pemandangan yang sangat menyakiti matanya --mungkin juga hatinya.
"Aku udah cerai," jawab Nafisa lirih dan terbata-bata.
Rama tak bisa menunjukkan keterkejutannya, meskipun hanya sesaat dan kembali tenang seperti semua.
"Sudah belum kangen-kangenannya? Aku duluan deh, Bang. Malas jadi obat nyamuk. Minggir!" bentak Tiara menyela dan mendesak tubuh Rama supaya bisa dilewatinya.
Tanpa menunggu Rama mengiyakan, Tiara berlalu begitu saja dari hadapan Rama dan Nafisa. Tiara berharap Rama memanggil untuk menyusul atau mencegah namun tak jua terdengar suaranya. Malah, suara mereka di kejauhan semakin terdengar akrab dan saling menimpali tanpa beban sama sekali. Ada rasa kecewa di sudut hati terdalamnya namun segera ditepis agar tak berlarut dan membuatnya kalut. Ia menggelengkan kepala dan memantapkan langkah mencoba menghilangkan rasa aneh dalam dirinya.
"Kenapa Bang Rama begitu tunduk kepadanya? Apa dia cinta pertama yang dimaksud Bang Rama? Lalu, apa salahnya jika memang itu adanya? Kenapa aku ingin sekali marah padahal aku hanya istrinya... Ha? Hanya istrinya? Hanya istrinya? Aku ini istrinya ya?" gumam Tiara berkelit dengan pikirannya hingga langkah dan tatapannya tidak fokus ke jalan yang dilaluinya.
"Mbak," sapa seorang lelaki menarik kesadaran Tiara.
Tiba-tiba, Tiara berhenti saat disapa oleh kondektur kereta yang hendak memeriksa penumpang. Kondektur tersebut sengaja memanggil Tiara karena mengetahui Tiara sedang berjalan tanpa arah dan tujuan pasti. Matanya mengawang-awang tak memerhatikan hal di depan.
"Oh iya, Pak," jawab Tiara gugup.
"Jangan melamun, Mbak. Nanti kesambet lo. Di mana tempat duduknya?" tanya kondektur dengan ramah.
Mulut Tiara mendadak kaku seperti enggan mengatakan sesuatu. Ia pun menunjukkan dua tiket di tangannya kepada kondektur itu.
Setelah memeriksa tiket, kondektur baik hati tersebut mengantarkan Tiara ke tempat duduk yang ternyata ada di gerbong sebelumnya. Setelah sampai di tempat duduk, Tiara berterima kasih kepada kondektur itu.
Setelah mengatur kemiringan sandaran punggung dan kaki di kursinya, Tiara menyandarkan badannya dan mencoba memejamkan mata. Ia ingin segera menemui kantuknya agar dapat mengistirahatkan kepalanya dari rasa penasaran karena Rama tidak kunjung kembali kepadanya.
Apakah ini konspirasi? Jangan-jangan mengantarku hanya alibi agar mereka bisa dengan mudah kawin lari. Oh. Apakah aku akan jadi janda di umur semuda ini? Astoge. Tapi, tidak apa. Toh aku masih virgin jadi bukan masalah berat seharusnya. Tutur Tiara dalam hati.
Tak lama setelah suara penanda kereta berangkat berbunyi, Rama pun kembali. Wajahnya memang dingin namun ada kehangatan di matanya yang sengaja tak ditunjukkan. Ia duduk di samping Tiara tanpa sepatah pun kata.
"Kukira Abang masih betah di sana," celetuk Tiara membuka kata.
__ADS_1
"Apaan sih. Cuma teman lama juga," sahut Rama cuek sambil mengatur sandaran kursi dan kakinya.
"Yakin teman lama? Tapi, tatapan Abang beda?" tanya Tiara mulai penasaran.
"Biasa aja. Iya memang teman kuliah," jawab Rama dingin.
"Kelihatannya wanita saliha ya, Bang. Udah lembut. Cantik juga. Dia cinta pertama Abang yang waktu itu?" tanya lagi Tiara tak bisa lagi menahan diri.
"Kalau iya memang kenapa?" tanya balik Rama malas menanggapi Tiara.
"Abang masih sayang dia? Dia tahu Abang sudah beristri?" ucap Tiara penuh harap akan diiyakan oleh Rama.
"Kamu ngomong apa sih. Nggak jelas. Kenapa sih? Kepo banget," jawab Rama agak meninggikan intonasi namun tetap lirih suaranya agar tak mengganggu penumpang lain.
Mendengar jawaban Rama, Tiara tercengang sebentar. Dadanya sampai berdebar dan tangannya gemetar. Tiara merasa tanggapan Rama berlebihan untuk pertanyaannya yang sesederhana itu sehingga kecewa tak bisa lagi dihindarinya.
"Iya cuma tanya juga, Bang. Biasa aja kali jawabnya," gerutu Tiara memalingkan muka ke jendela.
"Iya kamu ngapain kepo juga. Soal perasaan itu privasi.Tidak semua hal bisa kamu campuri sekalipun kita sudah suami istri. Kamu pikir, aku sekanak-kanak itu menyembunyikan pernikahan kita hanya dengan alasan yang nggak make sense sepertimu? Maaf. Aku nggak sepengecut itu," sahut lirih Rama namun sangat menohok.
Ucapan Rama berhasil menyengapkan Tiara tanpa perasaan hingga ia tak berani lagi memuntahkan pertanyaaan. Ia cukup tahu diri untuk tak mengelak karena memang sudah kalah telak. Hatinya koyak-moyak diserbu oleh kata-kata tajam Rama yang teramat menyembilu. Bahkan, matanya memanas dan pandangannya mulai samar. Tak lama setelah ia menundukkan kepala, butiran bening menyungai di pipinya. Ia menggigit bibir kuat-kuat dan memelankan napas untuk menahan isaknya agar tak kentara.
Rama yang sedari tadi termakan emosi, tiba-tiba saja luluh saat melihat wajah Tiara di pantulan kaca yang menyembunyikan kesedihan mendalam. Ia menyadari kata-katanya mungkin keterlaluan namun ia juga tak paham mengapa sebegitu tak bisa mengendalikannya. Ia pun tak tahu emosi apa yang sedang ada dalam dirinya saat ini sampai melampiaskan kepada Tiara yang sebenarnya melontarkan pertanyaan-pernyataan wajar. Rasa bersalah pun menghantui pikirannya.
"Tiara," panggil Rama sambil mengusap tangan Tiara namun Tiara menepisnya.
"Maaf kalau kata-kataku keterlaluan," ucap Rama merendahkan diri dan suaranya.
Tiara bergeming. Ia berusaha tak terluka namun kenyataan telanjur merunjam batinnya hingga perih luar biasa. Matanya tak bisa berhenti mengalirkan kesedihan yang tak semestinya ada dalam dirinya.
Saat sedang bingung membujuk Tiara, ponsel Rama berdering sekali dan memunculkan pemberitahuan pesan dari kontak yang bernama Nafisa. Rama pun memilih membukanya sambil mencari cara untuk meminta maaf kepada Tiara yang sepertinya butuh waktu lebih lama dari biasanya.
Nafisa
Ram, tak menyangka takdir mempertemukan kita lagi ya. Ya walaupun semua sudah berbeda.
Rama
Iya semoga pertemuan ini akan menyambung silaturahmi kita.
Nafisa
Aku nggak nyangka kamu bisa berhenti jadi anak badung dan bisa sukses seperti ini
Rama
Tidak sehebat itu. Ini juga masih banyak belajar.
Nafisa
Istrimu cantik. Imut. Lucu juga. Aku jadi ingin berkenalan dengannya. Aku ingin tahu wanita yang bisa menaklukkan hatimu. Dia tidak cemburu kan kalau ada wanita dari masa lalumu hadir? 😂
Rama
__ADS_1
Berkenalanlah. Dia tidak tentu. Kadang ramah, kadang labil. Tapi, dia baik kok. Sepertinya nggak akan cemburu juga karena kami tetap saling membebaskan namun tetap harus punya batasan.
Nafisa
Beruntung sekali wanita yang bisa bersanding denganmu. Perhatian. Pengertian. Tidak banyak menuntut karena saling percaya.
Rama
Aku nggak sesempurna itu. Kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari aku.
Nafisa
Tapi, belum tentu mereka mau menerima keadaanku.
Rama
Jangan seperti itu. Pasti ada. Belum ketemu aja.
Nafisa
Sudahlah. Mari kita ngobrol lain waktu lagi. Temani istrimu. Takut nanti dia cemburu. Beristirahatlah. Perjalanan masih panjang.
Rama
Ok
Setelah selesai berkirim pesan dengan Nafisa, Rama tak juga menemukan cara untuk membujuk Tiara. Ia terus memutar otak sampai mendapati Tiara menatap dengan mata sembab. Saat Rama hendak mengusap pipinya yang kemerahan, segera ditangkisnya penuh kemarahan. Masih ada sisa kekecewaan yang berkilat di irisnya yang membuat penyesalan Rama semakin dalam.
"Ra," ucap Rama sambil duduk dengan tegak dan berusaha mengunci mata Tiara.
"Awas," suruh Tiara meloloskan diri dari pandangan Rama yang membuatnya tak tega mendiamkannya berlama-lama namun sakit hati telanjur menguasainya.
"Ra.Tiara," bujuk Rama sambil menggerak-gerakkan kepala ke arah mata Tiara tertuju agar dapat bertemu mata dengannya.
"Awas, Bang," suruh Tiara terdengar lemah namun memendam kekesalan.
"Sayang, jangan marah," ucap Rama tak bisa lagi menemukan cara membuat Tiara sudi memaafkannya.
Tiara menyorot Rama dengan tatapan tajam. Kemudian, ia mendengus namun sambil mengulurkan tangan ke samping wajah Rama.
Rama sangat antusias dan tutup mata sudah siap diusap Tiara. Namun, cukup lama ia menunggu dan Tiara tak juga menyentuhnya. Ia pun membuka mata penasaran. Tepat di depan matanya, Tiara menerima dua box berisi kudapan dari seorang pramugari sebagai fasilitas dari kereta yang dinaikinya. Setelah itu, pramugari itu juga menyerahkan botol air mineral kepada Rama.
"Selamat menikmati, Pak Rama dan Bu Tiara. Free flow untuk snack dan minum. Ambil saja di minibar. Di sana tempatnya," ucap pramugari itu dengan sangat sopan sambil menunjuk sebuah minibar di dekat pintu yang menghubungkan dengan gerbong di depannya.
"Baik," jawab Tiara ramah.
"Terima kasih, Pak, Bu. Semoga perjalanan Anda menyenangkan," ucap pramugari sambil berlalu dari kursi Rama dan Tiara untuk melayani penumpang lain.
Setelah pramugari itu pergi, wajah Tiara kembali masam saat melihat Rama yang terus memerhatikannya. Ia memberikan satu box kudapan kepada Rama tanpa menatap matanya. Setelah beberapa saat, Rama tak kunjung menerimanya hingga Tiara terpaksa harus mengangkat wajah untuk melihat Rama. Ia tak terkejut saat menyaksikan Rama sudah siap menerima tatapannya. Memang biasa seperti itu.
"Maafkan aku ya," mohon Rama sambil menempelkan dua air mineral di tangannya dengan posisi seperti menyembah.
Tiara mendelik sinis sambil meletakkan box kudapan ke pangkuan Rama dan mengambil salah satu air mineral di tangan Rama tanpa bicara. Ia masih sangat kesal dengan sikap Rama yang berubah-ubah membuat hatinya seakan ditarik ulur sesukanya. Tiara kembali memalingkan muka menatap jendela yang menyuguhkan pemandangan kelam di luar sana. Hanya ada lampu-lampu rumah di kejauhan dan langit yang sedikit berawan kelabu.
__ADS_1
"Memang, dia cinta pertamaku. Ra, memang kenapa kalau aku masih menyayanginya? Apa kamu cemburu?" tanya Rama mendadak serius.