
Fara yang hendak menanyakan perihal audit kepada Arjuna pun sontak berdiri mematung di depan Arjuna. Otaknya seakan berhenti bekerja sesaat hingga sempat tak tahu harus bagaimana melihat Arjuna yang sedang mendekap Tiara, sedangkan Tiara sedang menangis tanpa suara membuat hatinya juga tersentuh. Arjuna yang sudah melihat Fara langsung mengangkat tangan tanpa bicara sebagai isyarat agar Fara menunda pertanyaannya dan segera pergi sebelum Tiara melihatnya. Fara pun tunduk mematuhi perintah Arjuna dan tak berani berspekulasi apa pun.
Setelah merasa lega, Tiara pun menjauhkan kepalanya dari dada Arjuna. Dalam hati, tentu ia merasa sangat bersalah menangis di dada lelaki selain suaminya namun ia tak tahu lagi harus bagaimana dan tak bisa menolak respon Arjuna yang sangat tiba-tiba. Sebab, ia pun sedang merasa butuh sandaran dan tak berpikir lebih dari itu.
"Udah merasa lebih baik?" tanya Arjuna tulus.
"Udah. Maaf dan terima kasih ya, Pak," jawab Tiara malu sembari menyeka sisa air matanya.
"Nggak apa-apa. Ada apa? Keluargamu ada yang kenapa-napa? Atau kamu sakit?" cecar halus Arjuna begitu cemas.
"Nggak apa-apa kok, Pak. Hanya masalah sedikit," sahut Tiara berusaha lebih tenang.
"Iya sudah kalau begitu. Kalau kapan-kapan mau cerita, cerita aja," ucap Arjuna tak memaksa.
"Pak, bolehkah saya bertukar duduk dengan Mas Toni? Saya ingin duduk bersama Mbak Sherly. Bukannya saya tidak suka atau tidak nyaman duduk bersebelahan dengan Pak Juna, tapi saya ingin duduk dengan sesama wanita. Saya takut nanti ada yang salah paham dan jadi fitnah di antara kita," pinta Tiara penuh harap.
"Iya. Saya paham. Pindahlah," sahut Arjuna sedikit kecewa namun bertambah kekagumannya kepada Tiara karena dia sangat berusaha menjaga diri dan secara tak langsung juga menjaga nama baik Arjuna dalam konteks itu.
Dengan sopan, Tiara pun pindah duduk di belakang kursi Arjuna untuk bertukar dengan Toni. Meskipun, melihat mata Tiara sembab, Sherly tak berani berkata apa pun karena telah mendengar sendiri percakapan Tiara dengan Arjuna. Ia memilih tersenyum dan diam karena paham bahwa saat ini yang dibutuhkan Tiara hanya ketenangan.
...****************...
Pukul 15.15, Arjuna dan anak buahnya pun sampai di Yogyakarta. Mereka langsung memesan taksi online dan menuju hotel tempat mereka menginap. Setelah selesai membersihkan diri, Tiara membantu Fara dan Sherly untuk menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk kegiatan audit besok.
Selepas makan malam, Fara dan Sherly memilih beristirahat sambil scroll media sosial namun tak lama bergegas tidur karena mereka harus bangun pagi untuk menyiapkan dan memeriksa ulang kelengkapannya besok. Toni dan Kevin memilih bermain game bersama sebelum tidur, sedangkan Arjuna sibuk membaca berkas-berkas yang bermacam-macam rupanya. Tiara pun memisahkan diri sebelum kembali ke kamar yang harus ia bagi dengan Sherly dan Fara.
Tiara duduk di tepi kolam renang hotel sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menyikapi ini. Mau bertanya namun sudah telanjur malas dan terlalu sakit untuk dibahas. Jika tidak bertanya, sama saja menjebak diri dalam angan yang semu dan berputar-putar saja di prasangka sendiri. Setelah menimbang-nimbang, sepertinya lebih baik ditanyakan terlebih dahulu kepada Rama karena ia ingin belajar dari pengalaman.
Tiara segera menghubungi Rama dengan mengirim foto yang dikirimkan nomor tak dikenal. Tentu, pikirannya otomatis tertuju kepada Selvi. Ia mengirim juga pesan panjang yang sangat menyakitkan dan screenshot nomor yang menghubunginya. Satu menit kemudian, Rama langsung menelepon Tiara.
"Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri sempurna untuk Abang," sesal Tiara menahan sakit hatinya.
"Kamu nggak usah ngomong macem-macem. Percaya aku nggak?" tanya Rana cemas namun tetap tegas.
__ADS_1
"Entahlah. Sepertinya, aku memang nggak pantas buat Abang. Aku masih terlalu kekanak-kanakan buat Abang yang udah mapan dan dewasa," jawab Tiara dengan tatapan kosong menerawang ke langit hitam.
"Sayang, bagaimanapun kamu tentu aku nggak akan nuntut, kecuali kepercayaanmu terhadapku. Aku terima semua lebih dan kurangmu. Aku terima bawel dan pendiammu. Aku terima patuh dan membangkangmu. Aku terima segala tentangmu," bujuk Rama tegas namun dengan suara pelan.
"Tapi, foto itu bukankah sangat jelas untuk jadi bukti, Bang? Kamu sangat bahagia dengannya. Kalian sangat serasi dan nampak sama-sama dewasa," sangkal Tiara setengah percaya.
"Sayang, demi Allah. Aku nggak pernah foto berpose begitu dengan Selvi. Aku berani bersumpah kalau itu bukan aku. Bahkan, aku bertemu Selvi hanya dalam forum pekerjaan dan tidak pernah berfoto dengannya sedekat itu. Aku memang stres dan frustrasi, tapi aku nggak berpikir untuk pindah ke lain hati juga. Aku hadapi semua sendiri tanpa melibatkan siapa pun dalam hal ini. Nggak mencari wanita lain untuk dijadikan rumah kedua. Kamu tahu sendiri Selvi bagaimana. Setelah semua yang menimpa keluarga kita, masa kamu bisa langsung percaya dengannya? Demi Allah, aku mencintaimu," bantah Rama jujur dan mencoba meyakinkan istrinya.
Tiara memilih diam untuk sedikit menelaah lebih dalam.
"Dari masalah yang telah kita hadapi, aku belajar bahwa jika ada yang bercerita buruk tentang seseorang, tanggapi dengan bijak atau diam. Sebab, apa yang mereka lihat belum tentu tepat dan apa yang mereka dengar belum tentu benar," lanjut Rama belum menyerah.
"Tapi, foto itu jelas banget foto terbaru Abang dengannya. Masih mau menyangkal, Bang?" tanya Tiara masih sangsi.
"Akan kubuktikan kalau foto itu palsu. Tapi, jika sudah terbukti, kamu harus pulang. Selama kita masih berjauhan, banyak peluang pembenci untuk terus memisahkan," tegas Rama.
"Kalau memang Abang sayang aku, berhentilah bertemu dengan Selvi agar dia tak makin menjadi-jadi. Selama kalian masih bertemu, Selvi akan selalu memikirkan berbagai cara untuk mendekatimu. Dan lagi, banyak peluang baginya untuk merebutmu kembali," sahut Tiara dengan suara meninggi.
"Aku janji ini proyek dengannya terakhir kali. Setelah ini selesai, aku takkan bekerja sama lagi dengan perusahaan yang berhubungan dengannya. Aku mohon sedikit bersabar, Sayang," bujuk Rama melembut.
"Ini bukan masalah mana yang lebih di prioritaskan. Kalau ditanya siapa yang diprioritaskan, tentu kamu jawabannya. Tapi, aku bekerja juga untukmu, Sayang. Untuk proyek ini, aku juga udah berkorban dengan banyak uang. Tak mungkin juga tiba-tiba memutuskan sepihak dengan alasan pribadi seperti ini. Di sini, profesionalitas yang bermain peran. Dalam proyek ini, kami adalah rekan kerja Aku harap kamu paham situasinya. Aku udah berusaha menjaga perasaanmu dengan caraku. Kalau ternyata kamu merasa seperti itu, aku minta maaf belum bisa menjadi yang terbaik untukmu. Sayang, aku mohon. Jangan berhenti berjuang untuk keutuhan rumah tangga kita. Aku ingin kita bersama selamanya," papar Rama membujuk istrinya yang kian merajuk.
"Aih. Pening aku. Sakit sekali rasanya. Iya terserah Abang. Aku capek. Aku mau tidur deh, Bang. Bye!" ucap Tiara langsung mematikan panggilan sebelum Rama memberi persetujuan.
Di kejauhan, Rama mengacak rambutnya sangat frustrasi. Baru merasakan gencatan senjata dengan Tiara, tiba-tiba berdera perang kembali berkibar karena ulah mantan pacarnya. Rama sampai heran sendiri melihat fotonya dengan Selvi yang begitu sempurna pengeditannya sehingga nampak begitu nyata. Selama mereka pacaran, bahkan hanya sekali melakukan pemotretan untuk sebuah iklan. Selebihnya, tidak mengabadikan momen-momen kebersamaan mereka karena Rama lebih suka kebersamaan mereka dinikmati berdua tanpa harus publis di sosial media.
Dalam hal genting semacam ini, tentu yang pertama kali harus dihubungi adalah Bayu. Asisten pribadi dan merangkap segalanya dalam hidup Rama.
"Halo, Boss. Ada apa gerangan mengusik malam sepiku?" tanya Bayu dengan nada bercanda.
"Gawat!" jawab Rama panik.
Bayu pun menelan ludah getir. Kalau sudah begini, hidupnya yang baru rehat sebentar tentu harus kembali bekerja tanpa mengenal waktu.
__ADS_1
"Mbak Tiara?" terka Bayu langsung menyimpulkan.
"Iya. Ternyata perang belum selesai, Bay. Ada yang menghubungi dia. Nanti nomor dan fotonya kukirim ke kamu. Tolong lacak di mana lokasinya dan besok carikan IT kantor untuk meneliti foto yang kukirimkan," jawan Rama.
Tak berselang lama, sebuah kontak nomor dan sebuah foto terpampang di ponsel Bayu. Bayu pun terkejut melihat foto Rama dja Selvi yang begitu mesra. Bayu sampai terheran-heran dengan foto itu karena penampilan mereka di foto benar-benar persis dengan yang sekarang.
"Bang Rama balikan dengan dia?" tanya Bayu ragu dan terbata-bata.
"Gila. Enggaklah. Nah ini pekerjaan tambahanmu. Cari bukti kepalsuan foto itu dan lacak siapa yang menghubungi Tiara," desak Rama.
"Aduh, Bang. Aku nggak ahli dalam meneliti foto apalagi benar-benar seperti bukan editan, Bang, bantah Bayu.
"Siapa suruh kamu yang meneliti fotonya. Aku bilang panggilkan IT di kantor untuk mengurus ini. Gila! Dapat jatah aja belum udah kena marah melulu," rengek Rama tiba-tiba lupa jaga imej.
"Oke, Bang. Besok aku cariin deh. Sekarang lebih baik Bang Rama istirahat dan tenangkan pikiran dulu. Semua ini pasti akan ada solusinya," sahut Bayu berusaha menenangkan Rama agar Rama tak mengusik malam tenangnya lagi dan memaksanya kerja lembur untuk mengurus masalahnya.
"Thanks, Bay," sahut Rama tak menyadari usiran halus Bayu.
"Eh, Bang. Satu lagi mau tanya, Wanda ikut audit Mbak Tiara nggak?" tanya Bayu tiba-tiba nyeplos dan penasaran.
"Kayaknya enggak. Mereka beda divisi kalo nggak salah. Coba aja tanyakan langsung ke Wanda kan kamu punya nomornya. Kalau suka, yang agresif gitu. Nanti keburu diambil orang, baru tahu rasa," jawab Rama menasihati dalam mode galak.
Bayu sampai geleng-geleng kepala mendapati suara bossnya yang mendadak berubah dalam hitungan detik. Saat membahas Tiara, ia seperti kucing lucu yang ingin selalu dimanja. Namun, ketika membahas yang lain langsung pindah mode menggeram seakan hendak menerkam.
"Iya, Bang. Bukan suka, tapi penasaran aja," sahut Bayu cengengesan.
"Terserah kamu. Selesaikan dulu masalahku, soal kamu dan Wanda nanti bisa kita urus bersama. Aku juga bosan lihat mukamu suram kelamaan menjomblo," ejek Rama.
"Siap, Bang!" timpal Bayu penuh semangat.
Setelah Rama pamit dan mengakhiri panggilan mereka, Bayu pun baru tersadar bahwa sikapnya barusan sangat menunjukkan ketertarikannya kepada Wanda. Ia pun bahkan bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa bisa menanyakan soal Wanda kepada Rama. Bayu pun merasa bodoh sendiri. Terlebih, ia pernah berharap takkam punya pasangan yang selisih umurnya jauh namun sepertinya malam termakan omongannya sendiri.
Bodoh sekali kamu, Bayu. Kenapa malah terlalu jujur kepada Tuan Rama. Duuh kamu begitu polos ya. Kalau bos udah tahu begini, alamat bahaya. Apa yang harus kukatakan pada Wanda ataupun nona kecil? Ucap Bayu mengutuk dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...