Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Mencari Keputusan


__ADS_3

"Tiara," sambut Bu Ina terkejut.


Bu Ina langsung berdiri dari kursi santai di beranda dan berjalan mendekati Tiara dengan langkah cepat. Tiara langsung menyalami Bu Ina dan mencium tangannya sembari memberikan senyum tertulusnya.


"Iya, Ma," sahut Tiara.


"Alhamdulillah kamu pulang. Tadi kata Rama, kamu mau menginap di kos teman. Mama sangat khawatir sama kamu," ucap Bu Ina sambil memegang kedua lengan Tiara.


"Nggak apa-apa, Ma. Tadi niatnya mau menginap di kos teman karena ada tugas dari kantor yang harus diselesaikan bersama. Tiara kira akan sampai larut malam, tapi ternyata udah selesai jadi pulang deh," jawab Tiara berbohong untuk menjaga perasaan mertuanya yang sangat baik itu.


"Oh. Kupikir gara-gara masalah tadi pagi," ucap Bu Ina menunduk hingga kentara benar kekecewaan di raut wajahnya.


"Mama, Tiara baik-baik saja. It's okay, Ma. Nggak usah terlalu mencemaskan Tiara. Semua keputusan ada di tangan Abang. Tiara akan menerima apa pun yang menjadi keputusannya," sahut Tiara berusaha menenangkan Bu Ina yang bahkan lebih tertekan darinya.


"Ya sudah. Pembicaraan ini kita diskusikan nanti malam ya. Sekarang, Tiara istirahat dan bersih-bersih badan. Udah makan belum ini menantu cantik Mama?" tanya Bu Ina berusaha tersenyum menutupi kekecewaannya.


"Udah, Ma. Tadi di perjalanan pulang udah makan burger jadi kenyang. Makannya nanti malam aja bareng Mama biar lebih enak," jawab Tiara manja.


"Emang mulut anak Mama ini manis sekali. Bisa saja membuat Mama berbunga-bunga," kata Bu Ina lebih mereda emosinya.


Setelah berpamitan, Tiara pun pergi ke kamar dibuntuti Rama yang terlihat bahagia. Sesampainya di kamar, Tiara pun mandi dan Rama masih sabar menunggunya sambil merokok di balkon. Kelegaannya belum sempurna karena selama di perjalanan pulang, Tiara hanya membisu dan menjawab pertanyaan Rama seperlunya saja. Tetapi, setidaknya Tiara sudah mau pulang sehingga sedikit meringankan beban batinnya.


"Abaaaaang!" teriak Tiara dari kamar mandi.


Mendengar teriakan Tiara, Rama pun langsung mematikan putung rokoknya yang masih separuh dan diletakkan di asbak yang ada di sana. Rama langsung berlari menuju kamar mandi takut terjadi apa-apa dengan Tiara. Rama pun mengetuk pintu.


"Tiara, kenapa?" seru Rama khawatir.


"Hehe Abang, tolong ambilkan handuk. Lupa bawa," jawab Tiara cengengesan dari balik pintu.


"Kupikir kepentok apa, kepleset, atau jatuh gitu. Cuma soal handuk aja bikin geger," sahut Rama sedikit kesal namun tetap berjalan menuju rak handuk.


'Ih Abang. Doanya buruk nian," seloroh Tiara.


"Iya bukan doa. Cuma wasangka aja. Lagian kamu, heboh banget. Kayak penting-penting aja," gerutu Rama.


"Penting loh, Bang. Handuk melindungiku dari mata-mata buaya," sangkal Tiara meyakinkan.


"Mana ada buaya di sini," protes Rama.


"La, ini yang barusan ngomong kayak suara buaya. Bahahahahaa," tawa Tiara di kamar mandi.


"Oh jadi pengen diterkam buaya beneran. Nih aku kasih dengar suara buaya," ucap Rama tersenyum licik, ia mendekatkan wajahnya ke pintu, "Dek Tiara, sini Om bantu pakaikan handuknya. Cukup dibayar pakai kecupan kok."


"Dasar buaya kampret!" umpat Tiara.


"Tadi ngatain buaya. Giliran dikeluarkan suara buayanya malah dikatain kampret. Dasar bocah labil. Beraninya di belakang doang," sahut Rama.


"Udah ah. Aku udah dingin. Abang taruh aja handuknya di gagang pintu. Abis itu Abang pergi biar aku ambil sendiri," suruh Tiara.

__ADS_1


"Oke," jawab Rama sambil terkikik lirih.


Rama mendadak ingin membuat istrinya terkejut. Ia pun menuruti meletakkan handuk di gagang pintu namun ia tetap berdiri di depan pintu. Tak lama, Tiara mengetuk-ngetuk pintu dari dalam pelan-pelan.


"Bang. Abang. Woii Om-Om genit. Masih di sana kah?" tanya Tiara lirih.


Rama hanya diam walaupun mendengar bisikan Tiara dari dalam. Ia tetap bergeming dan tak beranjak sedikit pun dari tempat semula.


"Waah. Aman sepertinya. Tumben itu Om-Om lagi jinak. Nurut banget jadi gemas aku," ucap Tiara pada diri sendiri.


Mendengar celoteh Tiara, Rama pun tersenyum senang dan semakin gemas padanya. Rasanya, ia ingin langsung membuka pintu dan menerkamnya tanpa ampun. Namun, ditahan betul-betul hasratnya karena Tiara baru sembuh dari merajuknya. Agak repot membujuk Tiara yang tidak tentu moodnya.


Gagang pintu pun berbunyi dan pintu langsung terbuka lebar. Sepasang suami istri pun membelalakkan mata sama kagetnya. Bahkan, mereka sempat terdiam tiga detik untuk mencerna peristiwa yang sedang mereka hadapi.


Rama tentu terkejut karena pertama kali melihat badan polos Tiara yang tidak terlapisi sehelai benang pun. Ia menelan saliva gugup bahkan adiknya bereaksi seketika. Tiara mematung masih tercengang karena ternyata Rama masih berdiri di depan pintu dengan tatapan yang sangat menodainya.


"Aabaaaaaang. Abang mesum!" teriak Tiara menyambar handuk kimono di gagang pintu dan membalut badannya dengan sempurna agar terlindungi dari mata kotor Rama.


Tiara berlari ke arah Rama dengan sangat murka. Matanya berubah mode galak dan mendengus kesal seperti banteng yang siap menyeruduk Rama.


"Aaabaaaaaang!" teriak Tiara mengamuk meninju-ninju dada Rama yang beringsut mundur.


"Diam. Nanti kedengaran Mama malah takut dikira kamu kenapa-napa. Pelankan suaranya kek. Aku dengar kok," suruh Rama agak meringis karena teriakan Tiara melahirkan denging di kupingnya.


"Abang mesum. Abang jahat. Abang genit. Abang kotor. Aku benci Abang. Aku sebal. Aku marah. Aku kecewa sama Abang! Pokoknya, Abang menyebalkan," ucap Tiara memelankan suara namun tinjuannya semakin brutal saja walaupun tak sakit juga bagi Rama karena terasa seperti digelitik saja.


"Sorry. Sorry deh. Aku sengaja kok tadi," seloroh Rama semakin membuat Tiara mendelik tajam.


"Sabar. Sabar!" tutur Rama berusaha menenangkan istrinya.


"Sabar-sabar pantat Om lebar," sahut Tiara benar-benar marah bercampur malu karena Rama telah melihat tubuh polosnya.


"Kok tau?" goda Rama.


"Aih. Bebal benar Om-Om yang satu ini. Mau kucongkel matanya biar nggak liar lagi apa?" tanya Tiara menghentikan amukannya karena lelah dan napasnya sudah terengah-engah.


"Udah capek? Ini minum dulu," goda Rama sambil memberikan segelas air yang diraihnya dari nakas.


Tiara pun langsung meminum itu dan menghabiskannya dalam beberapa teguk saja.


"Capek, Bang," ucap Tiara mengembalikan gelas kepada Rama dan sejenak melupakan kekesalannya kepada Rama.


"Ya udah kalau capek. Istirahat dulu. Eh pakai baju dulu nanti masuk angin. Kalau capek, sini biar aku bantu. Aku nganggur kok," celetuk Rama membuat Tiara kembali waspada.


"Hei, Om. Cukup! Aku bisa sendiri. Awas aja kalau ngintip, aku kasih colok matanya pakai gagang pintu," ancam Tiara random sekali.


Rama terkekeh melihat ekspresi Tiara yang sok jagoan namun tetap saja ketakutan. Saat Tiara mengganti baju, Rama pun duduk di sofa penuh kelegaan. Ia benar-benar rileks oleh tingkah Tiara yang sudah kembali menyebalkan dan kecerewetannya yang meramaikan rumah.


...****************...

__ADS_1


Setelah melewati makan malam dengan lebih banyak diam, Bu Ina, Rama, dan Tiara pun duduk di ruang keluarga. Raut mereka menjadi terlihat serius dan menegang. Terlebih Bu Ina yang harus memikirkan segala hal.


"Bagaimana? Sudah ada keputusan, Rama?" tanya Bu Ina to the point.


"Rama masih tetap pada pendirian Rama dan tentu menolak lamaran itu," jawab Rama percaya diri.



(Sumber: Pinterest)


"Untuk biaya pengobatan?" tanya Bu Ina selidik.


"Kalau untuk itu, belum Rama putuskan karena ini terkait juga dengan rumah sakit jadi perlu memerhatikan prosedurnya," jawab Rama pasti.


"Maaf, Ma. Mau menyela. Untuk pengobatan, sebenarnya Tiara nggak mempermasalahkan. Toh, niatnya hanya membantu orang. Nggak ada ruginya di kita karena memang rezeki Abang dilebihkan," sela Tiara mengutarakan pendapatnya.


"Memang, kamu tidak cemburu atau sakit hati jika Rama membiayai pengobatannya?" tanya Bu Ina berusaha menemukan kebohongan di mata Tiara namun gagal dan tak menemukannya. Begitu tulus kata yang diucapkan Tiara membuatnya terharu memiliki menantu sebaik itu.


"Tidak, Ma. Lagian, mereka juga jarang komunikasi dan Abang juga kepalang berjanji. Sekadar membiayai kalau memang Abang ada uangnya tentu Tiara mendukung penuh perbuatan baik semacam itu, Ma. Setidaknya, sampai kesembuhannya. Tiara percaya Abang nggak akan menghianati Tiara. Mama nggak usah terlalu mencemaskan kami," jawab Tiara yakin.


"Baiklah kalau itu keputusan kalian. Rama, kamu sudah menghubungi orangnya?" interogasi Bu Ina semakin dalam.


"Apakah tidak sebaiknya penolakan Abang disampaikan secara langsung? Ayahnya datang jauh-jauh ke sini untuk melamar Abang, tapi masa dijawab via telepon. Sepertinya kurang sopan atau bagaimana baiknya ya, Ma? Dan, sekalian kita menjenguk Mbak Nafisanya," usul Tiara menyela.


"Lalu, apa kamu rela membiarkan Rama ke sana dan bertemu mereka?" tanya Bu Ina serius.


"Tentu Abang nggak sendirian. Biar Tiara yang menemani Abang ke sama, Ma. Tiara kan istri Abang jadi sudah seyogyanya Tiara menemaninya. Bagaimana, Ma?" papar Tiara.


"Bagaimana, Rama?" tanya Bu Ina.


"Rama sih oke. Sepertinya memang kurang sopan jika kita menolaknya via telepon. Lagian kalau kita ke sana, biar sekalian dijelaskan segamblang mungkin sehingga meminimalkan kesalahpahaman," jawab Rama menyetujui usul Tiara.


"Ya sudah. Kalau memang begitu keputusannya, Mama jadi lega. Mama mohon jangan sampai ada orang ketiga di antara kalian. Mama hanya ingin melihat kalian bahagia," tutur Bu Ina lebih lembut dan napasnya terdengar kembali merileks.


"Mohon doanya ya, Ma," sahut Rama lega.


"Sekarang, apa Tiara boleh memakan kukis di meja ini, Ma? Dari tadi Tiara menahannya," celetuk Tiara berhasil membuat Rama dan Bu Ina tertawa gemas.


"Boleh, Sayang. Kamu ini ada-ada aja tingkahnya yang bikin Mama tertawa. Udah lah. Seharian ini Mama lelah memikirkan masalah ini. Sekarang, Mama mau istirahat dulu ya," pamit Bu Ina sambi mengusap ubun-ubun Tiara dan Rama bergantian.


"Oke, Ma," sahut Rama dan Tiara serempak.


"Kapan kita ke sana, Ra?" tanya Rama sambil mengambil kukis di tangan Tiara.


"Lebih cepat lebih baik sepertinya, Bang. Tiara Jumat setengah hari dan Sabtu-Minggu libur," jawab Tiara.


"Bagaimana kalau Jumat malam kita berangkat, Sabtu siang ke sana. Sabtu malam kita pulang. Kamu Senin masuk, kan? Atau nanti kita lihat-lihat dulu jadwal keretanya," tanya Rama.


"Oke, Bang," jawab Tiara sambil mengunyah kukis sepenuh hati.

__ADS_1


"Giliran sambil makan aja jinak kamu," seloroh Rama membuat Tiara mendelik sekejap, kemudian tersenyum sangat lucu.


...****************...


__ADS_2