
"Ra, maaf. Aku menyesal udah keterlaluan sama kamu. Aku terlalu terbawa emosi. Maafkan aku. Jangan pergi dan menghilang lagi, Sayang," sesal Rama menangis di pangkuan Tiara.
Rama tak lagi meninggikan gengsi karena sudah menyadari sepenuhnya bahwa memang Tiara sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Rama tak sanggup menghadapi kenyataan Tiara tak di sisinya, meskipun ia pun mengakui kesalahannya.
"Aku tahu, ucapanku akan menjadi luka yang mungkin akan membekas selamanya di hatimu. Tapi, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan yang ada. Aku berjanji nggak akan gegabah lagi. Percayalah, aku sungguh mencintaimu. Aku ingin rumah tangga kita tetap utuh. Jangan pergi lagi," ratap Rama mengepalkan tangan untuk menguatkan diri.
"Abang, aku nggak ke mana-mana. Tiara masih tetap milik Abang. Cuma, Tiara minta waktu sedikit lagi untuk menenangkan diri karena rasanya masih sakit hati sekali. Walaupun belum bisa menjadi istri seutuhnya, tapi Tiara selalu berusaha menjaga diri dan kehormatan untuk Abang seorang. Suatu saat, Tiara pasti akan berikan jiwa raga Tiara sepenuhnya. Abang sabar dulu ya," sahut Tiara menitikkan air mata.
"Aku nggak akan memaksa Tiara soal itu. Aku hanya ingin kamu tetap di sisiku. Maafkan aku, Sayang. Pulanglah kapan pun kamu mau. Aku akan sabar dan setia menunggumu. Jangan lupa kabari Mama. Mama sangat mencemaskanmu," rengek Rama sambil menengadahkan wajah untuk bersitatap dengan Tiara.
Melihat pipi Rama yang sudah basah dengan wajah memerah, Tiara pun dapat merasakan ketulusan Rama kepadanya. Tatapan sendunya semakin mengiris batin Tiara karena nampak sangat lelah dan kantung matanya menghitam menandakan jam tidurnya tidak teratur. Bahkan, wajahnya tampak lebih tirus seperti jarang makan.
"Iya, Bang. Tiara udah menghubungi Mama. Mama udah lebih tenang sekarang. Tinggal Abang yang harus lebih tenang. Maafkan Tiara yang udah bikin Abang dan Mama cemas ya," ucap Tiara sembari mengusap pipi Rama dengan lembut.
"Abang pantas dihukum seperti ini kok, Ra. Bahkan, kamu boleh membenciku, tapi nggak mau kamu pergi dariku," sahut Rama semakin dalam menatap Tiara.
"Husstt," bisik Tiara sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Rama, kemudian bertanya, " Abang mau kuberi tahu sesuatu?"
"Apa?" tanya Rama mengernyitkan dahi.
"Sini berdiri," jawab Tiara membimbing Rama berdiri.
Rama pun menuruti kemauan Tiara dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan Tiara padanya. Bisa bertemu Tiara lagi saja sudah menjadi anugerah yang luar biasa harus disyukurinya. Terlebih saat Tiara lekat menatap matanya tentu membuat penyesalan dan rasa sayangnya tertaut semakin dalam.
"Aku udah coba berkali-kali membenci Abang, tapi ternyata nggak bisa kulakukan. Bahkan, sakit hati yang kurasakan sama sekali nggak membuat aku berpikir untuk menyerah. Aku hanya perlu waktu aja buat berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Aku pasti pulang, tapi belum sekarang," tutur Tiara serius sambil memegang lengan suaminya.
Rama pun mengangguk karena tak punya pilihan selain mengiyakan. Tentu, ia sangat bersyukur karena Tiara nggak menghindarinya.
"Sekarang kita makan yuk. Kalau Abang kurus, nanti gimana mau jaga Tiara," bujuk Tiara.
Akhirnya, seulas senyum tipis Rama pun menghiasi wajah sembabnya. Rana turut tersenyum karenanya. Setelah itu, mereka pun menikmati hidangan yang sudah dipesan Tiara. Mereka pun dapat menikmati makanan dengan damai dan tenang. Tanpa obrolan atau kemesraan, hanya tatapan mereka yang sesekali bercakap tentang sakit, kasih, dan kerinduan.
"Oh iya, Bang. Hampir lupa. Tiara mau izin ikut audit ke Yogyakarta. Ini surat tugasnya. Di situ tercantum siapa saja yang ditugaskan ikut. Ada Pak Arjuna juga. Apa Abang mengizinkan?" tanya Tiara.
Sebenarnya, mengingat rasa cemburunya sempat membabi buta saat mengetahui Tiara dengan Arjuna tentu membuat Rama sedikit keberatan. Namun, pengalaman ini tentu sangat berarti untuk magang Tiara dan ia masih merasa bersalah sehingga sungkan untuk menolak.
"Iya aku izinkan. Yang penting jangan terlalu kelelahan dan jangan telat makan. Hati-hati ya, Sayang," ucap Rama dengan berat hati namun mencoba mengikhlaskan.
"Nggak apa dengan Pak Juna?" tanya Tiara ragu.
"Nggak masalah. Aku percaya kamu," jawab Rama tenang.
__ADS_1
"Terima kasih Abang," ucap Tiara sangat girang.
"Tapi, untuk kerja sama dengan Selvi. Maaf. Aku belum bisa menurutimu. Banyak yang harus dilakukan dan banyak prosedur yang harus dilalui. Abang usahakan segera didiskusikan lagi dengan Hans bagaimana baiknya. Kemungkinan terburuknya ya sampai proyek ini selesai. Bagaimana, Ra?" ungkap Rama gamang.
"Oke, Abang. Tidak apa. Tapi, setelah ini, jangan lagi bekerja denga dia," jawab Tiara sedikit kecewa namun ditahan sekuat tenaga.
"Oke. Siap. Kuantar pulang ya? Seenggaknya dengan mengetahui tempat tinggalmu, aku jadi lebih tenang," pinta Rama memohon.
Tiara pun mengangguk.
"Ra, boleh aku peluk kamu?" tanya Rama penuh harap.
Tiara pun hanya membalas dengan senyum dan anggukan. Rama segera berjalan cepat ke arah Tiara, sedangkan Tiara berdiri menyiapkan diri untuk menerima dekapan Rama. Bagaimanapun, ia sama kosongnya harus berjauhan dengan suaminya. Rama pun langsung merengkuh Tiara ke dadanya, menciumi ubun-ubun Tiara, serta mengusap lembut punggung Tiara dengan sentuhan lembut.
"Miss you so much, Ra," bisik Rama membuat Tiara membalas pelukan Rama dengan melingkarkan tangan di badan Rama.
"Abang jaga diri baik-baik selagi Tiara belum pulang. Jaga Mama juga biar nggak kesepian. Ayo pulang, Bang," ucap Tiara sambil menghidu aroma tubuh Rama yang sangat menenangkannya.
"Aku masih ingin memelukmu," bantah Rama manja.
Tiara pun menuruti kemauan Rama. Sebenarnya, tentu sangat kasihan dan merasa menjadi istri yang jahat karena meninggalkan suami namun ia benar-benar masih menahan sakit hati yang sangat luar biasa. Kalau mungkin hanya dituduh selingkuh mungkin masih bisa diterima, tetapi tuduhan itu sampai mengarah hamil tentu sangat menyakitkan bagi wanita. Ia tak menyangka Rama pernah berpikir semurah itu tentangnya.
Dengan malas, Rama pun mau tak mau harus melepas pelukannya. Ditatapnya mata Tiara sangat dalam membuat Tiara terpaksa berpaling karena jika dibiarkan, maka ia takkan bisa menyembunyikan air matanya lagi. Tatapan Rama masih melukiskan keresahan sekalipun Tiara sudah memaafkan. Ada yang masih belum tuntas dalam diri Rama karena ia merasa Tiara belum sepenuhnya baik-baik saja.
...****************...
Sebelum pulang ke kos, Tiara dan Rama terlebih dahulu mampir ke supermarket untuk membeli perlengkapan Tiara, dari perlengkapan mandi sampai perihal perut. Rama sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Tiara namun Tiara seakan masih memberi batas yang sulit ditebas. Setelah semua lengkap, mereka pun masuk mobil kembali.
Tak disangka, Rama tak langsung melajukan mobilnya. Ia malah menghadap Tiara dan menatapnya penuh damba. Rama memegang kedua pipi Tiara sebelum sempat melengos menghindari bersitatap dengannya.
"Ra, tatap aku!" pinta Rama semakin menajamkan tatapnya lurus ke mata Tiara.
"Untuk apa, Bang. Ayo pulang!" ajak Tiara mengalihkan pembicaraan dengan menundukkan pandangan.
"Lihat aku dulu!" tegas Rama selembut mungkin.
Tiara terpaksa menatap Rama yang tatapannya sudah menghujamkan pertanyaan yang langsung menyentak batinnya. Mata Tiara pun memanas.
"Kamu yakin, kamu baik-baik saja?" tanya Rama pelan-pelan.
Itulah pertanyaan yang selalu menjadi titik kelemahannya ketika batinnya sedang terguncang. Terlebih, tatapan Rama menyorot tajam membuatnya semakin tak bisa menyembunyikan perasaan. Mendadak, air mata berjatuhan tanpa bisa dikendalikan. Saat Rama ingin memeluk Tiara yang menangis di sampingnya, Tiara terlebih dahulu menahan dengan kedua tangan mengepal di bahu Rama.
__ADS_1
"Abang jahat!" tangis Tiara sambil memukul pelan bahu dan dada Rama yang pasrah menerima sikap Tiara.
"Maaf," sahut Rama menyesal.
"Abang tega. Aku kecewa. Aku marah. Aku sakit. Selama ini Abang bentak,aku masih sabar. Abang cuek, aku bisa terima. Apalagi saat Abang baik dan perhatian, Tiara tentu sangat bahagia dan berharga. Saat aku sadar bahwa aku sudah mencintai Abang, tiba-tiba Abang sendiri yang menghancurkan perasaan yang aku bangun. Kalau saja Abang hanya menuduhkan selingkuh, tentu aku masih bisa membela diri dan takkan sekecewa ini. Tapi, apa? Abang menuduhku hamil dengan lelaki lain, bukankan itu sangat merendahkan dan menghancurkan harga diri aku sebagai wanita juga sebagai istrimu? Bagaimana mungkin suami menuduh istri dengan tuduhan sekeji itu hanya berbekal bukti foto dari MANTAN? Abang brengsek! Suami macam apa Abang ini?" umpat Tiara sambil tersedu-sedu mengeluarkan kepenatannya yang sudah dipendam lama.
"Maaf, Ra. Aku khilaf," sahut Rama kehabisan kata-kata.
"Tiara tentu sudah memaafkan Abang dari awal karena membenci Abang juga tak bisa kulakukan. Tapi, maaf tak lantas meredakan sakit dan luka yang sudah telanjur menganga. Mungkin seiring berjalannya waktu, semua akan berangsur merapat namun takkan sepenuhnya menutup karena luka di hati itu akan membekas selamanya." tegas Tiara dengan suara gemetar namun sadar sepenuhnya dengan perkataannya.
Sejenak Tiara menghela napas panjang dan berat, kemudian kembali berkata, "Menuduh berzina! Sungguh tak menyangka perkataan itu akan keluar dari mulut Abang. Rasanya ingin menyerah dalam hubungan ini. Hatiku sudah sakit sekali. Bahkan, aku tak bisa menjelaskan bagaimana sakitnya direndahkan dan dipandang murah oleh suami sendiri. Ditegur dengan nada tinggi saja sudah cukup membuat batin istri hacur, Bang! Paham?"
Rama hanya menunduk dan pasrah. Tiara semakin brutal memukuli dada Rama hingga Rama sedikit meringis kesakitan namun tak menahannya karena ia pun tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Tiara karena perkataan lancangnya.
"Bodoh sekali aku. Sudah direndahkan. Sudah dianggap wanita murahan. Tapi, aku tak bisa berhenti mencintaimu walaupun udah dibuat kecewa dan perih luar biasa. Aku benci diriku sendiri yang terlalu buta dalam mencintai. Tak peduli pikiran dan perasaanku koyak di sana-sini namun mencintaimu selalu punya ruang sendiri yang membuatku tak sanggup pergi. Kalau saja aku belum telanjur mencintaimu, mungkin takkan terasa sesakit ini. Abang bajingan! Setan! Brengsek!" serapah Tiara yang mulai melemas namun mengeratkan kepalannya hingga tangannya gemetar menahan emosi dalam dirinya.
Rama hanya diam tak bisa menyahut ucapan Tiara yang sangat melukai kewarasannya. Ditatapnya mata sang istri yang nanar namun ada ketulusan yang terus bersinar. Rama merasa bersalah bukan main namun tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan istrinya yang telanjur terluka.
Tiara pun menunduk dengan napas yang masih berat namun otot di wajah dan lehernya mulai mengendur. Ia pun mulai mengatur napas serta menyeka air mata di pipinya.
"Sudah, Ra? Aku harus bagaimana?" tanya Rama lembut dan hati-hati.
"Antar aku pulang. Aku ingin sendiri dulu. Terlalu lama dekat dengan Abang membuat aku teringat semua dan teramat pedih rasanya sampai membuaku trauma. Abang, aku mau sendiri. Aku ingin menata hati dan berdamai dengan segala sakit ini. Tolong, Abang jangan ganggu aku dulu!" pinta Tiara mengalihkan pandangannya dari Rama.
Rama pun segera menuruti apa yang dikatakan Tiara karena tak ingin membuat istrinya semakin tersiksa. Pikiran dan perasaannya pun seakan remuk tak berbentuk. Semua kacau balau namun berusaha tak terlihat lemah di depan Tiara karena Tiara mungkin lebih tersiksa dengan traumanya.
Sepanjang perjalanan menuju kos, Tiara pun perlahan tenang. Isaknya mulai mereda. Menyisakan masa sembab dengan hidung dan bibir yang menebal pun memerah.
Sesampainya di depan kos, Rama pun membantu Tiara membawa belanjaannya namun hanya sampai gerbang karena kos tersebut adalah kos muslimah sehingga tak diperkenankan ada lelaki masuk jika bukan dalam keadaan darurat.
"Abang antar sampai sini saja. Di sini kos muslimah. Nggak boleh ada lelaki masuk," ucap Tiara dengan suara parau.
"Oke. Kamu jaga diri baik-baik ya___Sayang," ucap Rama ragu melontarkan panggilan kesayangannya kepada Tiara karena merasa tak pantas setelah apa yang dilakukannya kepada Tiara.
Tiara mengangguk sambil menerima dua bungkus besar belanjaannya untuk dibawa masuk ke dalam kos. Saat Tiara sedang membuka gembok gerbang kos, tiba-tiba suara familier mengagetkan Rama dan Tiara.
"Rama," ucap seorang wanita berkerudung yang sudah mematung di samping Rama.
Tiara pun urung membuka gembok karena penasaran dengan wanita yang menyapa suaminya. Tatapan Tiara menjadi kecut setelah mengetahui wanita yang sedang mematung di samping Rama dengan tatapan penuh rasa kepada Rama. Ia semakin meradang sampai menjatuhkan dua kresek belanjaannya.
"Nafisa," sahut Rama yang melongo kebingungan.
__ADS_1