
"Terserah apa katamu lah. Kamu memang suka berspekulasi sendiri. Percuma juga aku jawab kalau nggak sesuai dengan keinginanmu. Aku capek dan mau istirahat. Sudah belum keponya?" sindir Rama emosi.
Tiara pun tak menyahut sindiran Rama dan beranjak dari tempat duduknya. Tanpa berucap dan menatap, Tiara melenggang menuju pintu.
"Hei, mau ke mana?!" teriak Rama menyusul Tiara dan segera menghadang di pintu agar Tiara tak bisa membukanya.
"Apaan sih, Bang. Ya aku udah nggak kepo. Terus kenapa lagi?" tanya Tiara gusar.
"Ditanya malah main nyelonong aja. Pamit kek. Aku ini suamimu," jawab Rama jengkel.
"Ya udah. Tiara pamit, Bang. Cuma mau keluar. Mau cari angin segar! Udah awas, Bang. Aku mau lewat," tegas Tiara merajuk.
"Memang aku mengizinkan?" tanya Rama ketus.
"Abang, nggak usah banyak tingkah deh. Lagi badmood ini. Kena semprot baru tau rasa," jawab Tiara ngeyel.
"Tidur! Istirahat!" titah Rama singkat namun tak mau diganggu gugat.
"Tiara nggak ngantuk. Abang aja yang tidur sana!" bantah Tiara melengos menghindari tatapan Rama.
"Kamu habis perjalanan jauh. Ayo setidaknya istirahat," ajak Rama lebih mengendur.
"Bisa nggak sih nggak usah terlalu mengatur aku. Aku ini udah besar. Udah tahu apa yang mesti dilakukan," protes Tiara tak terima.
"Nggak bisa lah. Kamu itu istri aku, sah-sah aja aku ngatur kamu karena diatur aja kamu suka ngeyel dan bandel. Bagaimana kalau dibiarkan, bisa jadi urakan. Nggak. Pokoknya nurut!" titah Rama tak mau disanggah.
"Abang! Stop!" tegur Tiara.
"Tiara! Nurut!" sahut Rama tak kalah galak.
"Abang," bujuk Tiara pura-pura mengendur.
"Tiara," balas Rama sedikit manja namun matanya mendelik penuh ancaman.
__ADS_1
Mau tak mau, Tiara pun menuruti titah suaminya daripada makin panjang praharanya. Ia berjalan mencak-mencak sambil mencibir menirukan perintah Rama tanpa suara. Ia pun berbaring di kasur dan menggulungkan diri di bedcover dengan muka cemberut yang tenggelam di dalamnya. Ia berguling-guling kian kemari berusaha membuat Rama ramah agar mengusirnya namun Rama malah menahan tawa cukup terhibur melihat istrinya sudah seperti rollcake.
Rama terlampau gemas menyaksikan kelakuan istrinya yang sedang merajuk hingga memilih melompat ke kasur dan mengungkung tubuh Tiara dengan kedua pahanya. Tiara pun tak bisa berkutik di dalam gulungan bedcover saat ada tubuh menindihnya. Tangan mulai gelisah di dalam dan mencoba menyibak gulungan bedcover agar dapat menyumbulkan mukanya.
Saat kepalanya bisa keluar dengan napas tersengah-engah, Rama langsung saja menyambar bibir Tiara tanpa ampun sampai Tiara sulit mendapat udara. Tangannya yang masih dalam gulungan selimut hanya dapat memberontak kecil dan menggeliat seperti ulat. Rama menyudahi sejenak permainan bibirnya. Lalu, sedikit menjaga jarak agar dapat leluasa memandang wajah istrinya yang kini sudah memerah dengan napas terengah-engah mendapat serangan mendadaknya.
" Makanya, jangan bandel. Istri kok nggak percayaan sama suami. Ngeyelan lagi," celetuk Rama memasang wajah galak, tapi manja.
"Iya abisnya Abang. Tinggal jawab iya atau enggak aja susah amat. Pakai marah-marah pula. Istri mana yang nggak dongkol kalau dimarahin suaminya," cerocos Tiara kembali mendapat keberaniannya.
"Istri yang lain kalau dibilangin perasaan nurut, lemah lembut, dan ditegur dikit itu takut. Lah kamu, udah ngeyel, ngamuk, suka main pergi-pergi aja," ucap Rama dengan nada lembut nan gemas.
"Iya kan aku bukan istri yang lain, aku istri Abang. Kalau beda ya maklumi. Di luar sana, banyak istri yang lebih kejam. Ada juga yang bunuh suaminya karena suaminya bawel suka marah-marah," sahut Tiara tak mau kalah.
"Emang ada? Mana beritanya? Istrinya siapa? Di mana kejadiannya?" bawel Rama semakin membuat Tiara berang namun tangan dan kakinya masih dikunci oleh Rama.
"Ada lah__ di kepalaku soalnya aku ngarang! Puas? Nih baru diomongin udah bawel banget kan. Tanya nggak ada jeda dah kayak gerbong kereta. Udah lah Abang. Awas. Sadar diri dong badan Abang berat banget. Aku bisa gepeng lama-lama," desak Tiara yang sudah sangat gerah terkungkung di dalam selimut.
"Iya Abang duluan. Jadi suami kok suka marah-marah," bantah Tiara belum menyerah.
"Ini anak bisa aja jawabnya ya. Aku habisi baru kapok kayaknya," ujar Rama semakin gerah dengan polah istrinya.
Tanpa basa-basi, Rama langsung mendaratkan bibirnya di ceruk leher Tiara yang setengahnya masih tertutup selimut. Tiara menggelinjang berusaha melepaskan diri namun tubuh Rama merapat semakin mengikis jarak membuat Tiara tak bisa berbuat banyak. Tiara pun memekik kegelian namun masih ditahan. Kesempatan pun datang di saat dia sudah mulai lelah dan ingin pasrah dengan permainan Rama, bahu Rama tiba-tiba bertengger di bibirnya dan mata Tiara berkilat melihatnya. Segera Tiara memanfaatkan kesempatan dan langsung menggigit bahu Rama hingga memekik dan melepaskan sapuan bibirnya di leher Tiara.
"Aww!" Pekik Rama sambil mengusap bahunya yang digigit Tiara. Walaupun masih terbalut kaus namun taring Tiara cukup dalam menancap di permukaan kulitnya hingga berbekas tanpa luka dan darah.
"Rasain, Om-Om Mesum. Curang banget mainnya gini. Kalau aku diserang dalam gulungan selimut kan berarti Abang pengecut. Kalau berani, lawan aku jangan dengan badan kayak lontong begini," siasat Tiara mencoba mengelabuhi Rama.
Rama pun berpikir jika memang benar ucapan Tiara ada benarnya. Serangan tanpa perlawanan sepertinya terlalu monoton kurang menantang. Di samping itu, Rama juga tahu akal bulus Tiara yang punya seribu cara untuk kabur darinya. Tapi, sepertinya kalau Tiara memberontak dan hendak kabur akan lebih seru permainan mereka karena jika Rama mampu menaklukkan Tiara tentu akan ada kepuasan tersendiri.
Dasar bocah! Om-Om kok dilawan. Jam terbangmu aja masih min sekali.
Rama pun melepaskan kungkungannya di tubuh Tiara dan duduk di samping istrinya. Tiara langsung membuka selimut dan bernapas lega. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat karena permainan Rama di lehernya membuat gerah bodi dan gerah dalam tanda kutip juga.
__ADS_1
"Akhirnya, aku bebas dari suami durjana," celetuk Tiara sambil duduk dan merentangkan tangan penuh kebebasan setelah lima belas menit dipenjara oleh suaminya.
Dengan hati-hati, Tiara menurunkan salah satu kakinya dari ranjang. Sangat halus gerakannya agar Rama tak menyadarinya. Ia pura-pura ramah dan cengengesan kepada Rama malah membuat Rama curiga. Saat Rama lengah sedikit melirik bekas gigitan di bahunya, Tiara pun melompat dari ranjang dan berlari sekencang mungkin menuju pintu.
Bukan Rama namanya kalau tak bisa mengalahkan langkah Tiara. Bahkan dalam beberapa langkah saat Tiara sudah satu senti lagi meraih kunci, Rama sudah memeluknya dari belakang dan mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara.
"Klise sekali taktik kaburnya. Terlalu mudah dibaca, Ra. Main kejar-kejaran kok sama mantan ketua geng. Sama aja cari mati, Sayang," bisik Rama, lalu mencuri kecup di kuping Tiara.
"Oke, Abang. Kali ini, Tiara menyerah. Capek bang. Kita damai ya," nego Tiara mengajak gencatan senjata karena lahir batinnya sudah terancam hukuman eksekusi.
"Siapa suruh memberontak sampai lari-lari. Kalau kamu nurut dan menjadi anak manis kan malah kamu terima nikmat dan enaknya. Apa yang bisa kamu jadikan jaminan kalau kamu nggak kabur lagi?" sahut Rama tak mau diakali lagi oleh istrinya.
Tiara pun memutar badan di dalam dekapan dan mendongak menghadap Rama. Tiara menatap mata Rama dalam-dalam.
"Sini. Muka Abang. Aih tinggi amat, udah tau istrinya pendek. Ngapain tinggi segala," suruh Tiara sambil menggerutu.
"Iya ini kan udah takdir. Ini ada apa?" Rama melonggarkan dekapannya dan mencondongkan badan ke Tiara.
"Tutup mata Abang. Aku malu kalau Abang melek gini. Tatapan matanya mematikan nyali," desak Tiara manja sambil memegang kedua pipi Rama.
Rama pun senyum-senyum sendiri mendapat perlakuan manis dari istrinya. Sepertinya Tiara sudah belajar banyak dan menangkap semua yang diajarkannya. Tentu, ini akan menjadi kesempatan bagus untuk Rama meningkatkan level pelajaran Tiara. Ia menuruti instruksi Tiara dengan semangat dan sepenuh hati.
"Awas aja kalau kabur," ancam Rama sembari menutup mata cengengesan.
"Enggak, Bang. Tiara masih di sini. Abang siap-siap ya. Duuuh aku jadi deg-degan," sahut Tiara sambil tersenyum jahil.
Rama ikut berdebar menunggu momennya. Satu tangan Tiara beralih ke tengkuk Rama membuat pemilik tengkuk itu panas dingin tidak sabaran. Perlahan, Rama merakan hembusan napas Tiara menghangatkan bibirnya. Sebelum bibir mereka saling berpagut, tiba-tiba Tiara menabok bibir Rama yang sudah monyong-monyong kepedean.
Setelah menjahili Rama, Tiara pun cekikan sambil berlari dan melompat ke kasur. Ia sangat girang bisa mengerjai suaminya. Kemudian untuk melindungi diri dari serangan balik Rama, Tiara kembali menggulung badannya dengan bedcover sampai tak terlihat anggota tubuhnya. Sudah seperti kepompong atau lontong juga boleh terserah reader aja bayanginnya bagaimana hehe.
Mengetahui kejahilan Tiara, Rama pun berlari dan turut melompat ke kasur kembali mengungkung tubuh Tiara dengan gemas. Akhirnya, pagi itu mereka lalui dengan canda tawa bukan adegan mesra yang membuat panas dingin kepala. Mereka saling melempar bantal dan serapah namun keduanya tersenyum sangat bahagia. Entah siapa yang tidur duluan, yang jelas mereka kelelahan dan tidur saling memeluk penuh kasih sayang
...****************...
__ADS_1