
"Abang kenal dia?" tanya Tiara penasaran.
"Kenal. Dia dulu satu geng denganku, bisa dibilang dia anak buahku. Ya dia anak yang sangat cerdas, makanya bisa satu angkatan denganku," jawab Rama menjadi dingin.
"Berarti kalian dekat dong, Bang?" tanya Tiara antusias.
"Dulu begitu," sahut Rama lesu.
"Lalu?" Tiara semakin penasaran
"Setelah kami mencintai wanita yang sama, semua menjadi beda. Kami menjadi rival untuk mendapatkan cinta Nafisa. Di antara kami, tidak ada yang mau mengalah sampai akhirnya Nafisa meresponku. Saat tahu aku akan melamar Nafisa, persahabatan kami bubar. Lalu, dia memilih melanjutkan magister ke luar negeri untuk melupakan cinta pertamanya__ mungkin tentang aku juga. Tetapi, pada akhirnya, di antara kami tidak ada yang bisa mendapatkannya juga," terang Rama sendu.
"Apa kalian tak ada keinginan saling berbaikan dan menjalin komunikasi kembali?" tanya Tiara ikut bersedih mendengar kisah mereka.
"Kalau aku tentu ingin, tapi sulit juga membujuknya karena sudah telanjur patah hati. Dia memang sangat keras dan sulit memaafkan keadaan. Aku pun tak salah dan tak pernah curang karena aku tak memaksa Nafisa untuk meresponku. Jadi, aku pun tak mau kalau harus meminta maaf padanya. Mungkin memang sudah jalannya begini," sahut Rama mencoba membangkitkan semangat lagi.
"Dasar! Sama-sama galak. Sama-sama keras kepala. Sama-sama nyebelin. Sama-sama sombong. Sebenarnya, kalian itu cocok. Jadian aja gimana?" hibur Tiara melenyapkan kesenduan suasana.
"Ini mulut kayaknya emang harus diservis setiap hari biar nggak rusak ya," timpal Rama sambil mencomot sekilas bibir Tiara gemas.
"Iya kalian cuma gara-gara wanita bisa sampai bubar persahabatannya. Pada akhirnya, persahabatan kalian bubar dan semua sia-sia. Dasar cowok-cowok labil," omel Tiara cerewet.
"Dulu, mana mikir begitu. Sebenarnya, sudah kesepakatan di persahabatan kami bahwa tak boleh mencintai wanita yang sama namun saat mengetahui wanita yang kita taksir sama, tidak ada yang mau mengalah ataupun memendam demi persahabatan. Kita lebih memilih menjadi rival," papar Rama malu-malu mengingat masa lalunya.
"Gitu amat ya. Duh rumit emang. Untung aku nggak ngerasain begituan. Mau aku bantu baikan nggak? Mumpung aku lagi magang di sana. Barangkali dengan berbaikan dengan Abang, dia bisa punya belas kasihan kepadaku," kata Tiara nyengir.
"Katanya nggak mau pakai orang dalam dan memanfaatkan koneksiku," sindir Rama membuat Tiara meringis.
"Iya kan aku cuma mau membantu menyambung silaturahmi, Abang," bela Tiara kepada diri sendiri.
Rama pun melepas pelukan Tiara dan menatap istrinya tak percaya.
"Terus aku harus minta maaf gitu? Nggak. Orang aku nggak salah. Untuk apa minta maaf. Kalau Nafisa menolaknya tentu bukan salahku," bantah Rama mentah.
"Iya udah. Emang batu ketemu batu ya udah susah," ujar Tiara sambil meletakkan ponsel di meja, kemudian kembali berkata, "Aku berarti harus menyiapkan baju ganti. Sebentar ya, Bang."
"Ke mana?" tanya Rama mencekal lengan Tiara yang hendak beranjak.
"Menyiapkan ganti buat dibawa besok, Abang," jawab Tiara sambil berusaha melepaskan tangan Rama.
"Kok baju ganti? Katanya sehari," ucap Rama manja.
"Oh iya Tiara belum bilang ya. Ternyata acaranya dua hari. Yang hari kedua ada workshop gitu buat karyawan jadi sekalian disuruh ikut. Lumayan belajar lagi, Bang," sahut Tiara antusias.
Berbeda dengan Rama yang langsung berdiri dengan raut tak suka yang sangat kentara. Rama menyorot Tiara dalam-dalam membuat Tiara terbungkam.
"Sesantai itu kamu meninggalkanku dua hari? Nggak!" tolak Rama mendadak galak.
"Abang ini labil amat. Tadi bilang bagus buat nambah pengalaman. Sekarang, malah melarang. Ayolah Abang. Boleh ya. Ini kesempatan langka loh, Bang," bujuk Tiara memelas.
"Kupikir tadi hanya sehari jadi oke. Ini menginap di luar kota. Bersama lelaki lain juga. Kamu pikir aku tenang melepasmu di sana? Bagaimana kalau ada yang modus dan macam-macam padamu?" sahut Rama menakut-nakuti.
__ADS_1
"Kalau Abang suka macam-macamin Tiara, bukan berarti Abang bisa menyamaratakan dengan lelaki lainnya. Tiara bisa kok menjaga diri. Abang, ini udah tugas penting pertama aku. Abang, mengertilah. Tiara mau belajar lebih. Lagian bagaimana aku menolak bos galak itu. Sungguh, mencari masalah. Kalau aku dapat nilai jelek untuk magang, emang Abang mau tanggung jawab?" desak Tiara tak mau menyerah.
"Iya aku tanggung jawab. Nanti kamu magang lagi aja di kantorku, kuberi kamu A+ sekalian," timpal Rama enteng.
"Aih. Abang egois," ucap Tiara sambil mengibaskan cekalan tangan Rama hingga terlepas.
Tiara pun meranjuk dan melompat ke kasur untuk menyembunyikan diri di dalam bedcover. Dia menangis sesenggukan sangat nelangsa membuat Rama menjadi tidak tega. Namun, berat juga jika harus berjauhan dengan Tiara walaupun hanya dua hari. Terlebih, di sana dia bersama dengan lelaki lain juga jadi ia merasa tidak nyaman dan tenang.
Kehadiran Arjuna yang sangat tiba-tiba saja sudah berhasil mengguncang ketentraman batinnya. Apalagi harus melepas Tiara walaupun hanya sementara, tentu semakin menambah kemelut jiwanya. Namun, melarang Tiara juga sama saja akan menabuh genderang perang dan mungkin memang itu kesempatan langka bagi Tiara. Rama menjadi serba salah sendiri dan tak tahu harus bagaimana.
Bukannya membujuk Tiara, ia malah memilih keluar dari kamar dan merokok di beranda untuk menenangkan dirinya. Hal itu tentu membuat Tiara semakin kesal karena ia merasa Rama tak memikirkan perasaan dan kemauannya. Tiara pun menghentikan tangisnya karena tak mau menangisi pria egois seperti Rama. Rama pergi malah menjadi peluang dia untuk tetap mengemas pakaian untuk dibawa besok. Diizinkan atau tidak, Tiara tetap mau berangkat karena ia ingin belajar profesional dan mencari pengalaman.
Sampai Tiara selesai berbenah pun Rama tak jua kembali dan menampakkan muka menyebalkannya. Tiara menunggu sampai tertidur di sofa lengkap dengan bedcovernya.
...****************...
Alarm Tiara berbunyi dan Tiara terjaga seketika. Ia bingung karena masih berada di tempat semula dan Rama belum juga terlihat hilalnya. Tiara melihat ke ranjang pun tak ada bekas untuk tidur karena semua barang di atasnya masih dalam posisi sama. Tiara pun sangat murka karena sebegitu tak pedulinya Rama kepadanya hingga membiarkannya menunggu sampai tertidur, bahkan sampai terjaga pun tak menampakkan diri walaupun sebatas jejak. Daripada kesal dan marah tidak jelas, Tiara pun memilih mandi dan segera melaksanakan ibadah rutinnya.
Di ruang makan, Rama sudah duduk dengan mata panda yang nampak jelas tercetak di kantung matanya. Bu Ina pun menyusul Rama dan terkejut melihat mata putranya yang seperti terjaga semalaman.
"Mata kamu kenapa? Kamu nggak tidur, Rama?" tanya Bu Ina sambil mengusap kelopak mata putranya yang menghitam.
"Tidur, Ma. Cuma sering kebangun karena tingkah menantu kecil Mama. Tidur di sofa, nggak tega mau bangunin karena kemarin kayak ya banyak kerjaan dia sampai kecapekan. Dibiarkan aja di sofa nanti repot, dia tidurnya udah kayak kincir angin. Nggak lama pasti udah menggelinding. Jadi Rama jagain aja sambil tidur-tidur. Kalau dia hampir jatuh, Rama bangun. Iya beginilah hasilnya. Rama banyak bangun tentu bisa membayangkan bagaimana tingkah menantu Mama saat tidur, kan?" terang Rama sedikit emosi.
"Kenapa tidur di sofa? Sedang ada masalah?" tanya Bu Ina.
"Nggak tahu, Ma. Yang jelas, hari ini Tiara ditugaskan untuk mengikuti audit marketing ke Bogor sekalian nambah besok buat workshop di sana. Dia kelihatan antusias dan membujuk Rama untuk mengizinkan, tapi Rama masih bingung. Walaupun ada teman perempuan, tapi tetap saja di sana bersama laki-laki jadi Rama setengah melarang karena khawatir aja," jawab Rama segamblang mungkin.
"Bagus dong. Anak magang udah disuruh ikut audit seperti itu. Berarti kinerja Tiara diperhitungkan di sana. Kalau Tiara antusias, kenapa nggak kamu izinkan? Ini pasti pengalaman pertama dia dan buat dia lebih semangat menjalani magang serta kuliahnya. Tiara anak baik, dia tidak akan macam-macam. Biarkan dia belajar seluas-luasnya. Sebelum pernikahan kan kita sudah berjanji takkan membatasi Tiara jadi jangan sampai kecemburuanmu mengecewakan Tiara bahkan menyia-nyiakan kesempatan emas dan menyia-nyiakan peluang Tiara," nasihat Bu Ina berusaha membuka pikiran Rama.
"Iya kalau kamu mengizinkan sih Mama pasti mendukung. Kasihan dia," jawab Bu Ina santai
"Iya udah mungkin bisa kupertimbangkan" sahut Rama sambil mengeratkan dasinya.
Kembali pada kesibukan Tiara di kamar, ia sedang memeriksa barang bawaan di tas laptop dan pakaiannya. Tiara pun heran karena Rama tak kunjung kembali ke kamar. Semarah itukah Rama? Bukankah harusnya ia yang marah karena keegoisan Rama? Tiara pun tak mau ambil pusing dan berjalan keluar kamar menggendong tasnya yang membuncit.
Setelah sampai di ruang makan, betapa terkejutnya ia mendapati Rama sudah duduk dengan setelan jas kerjanya. Tampilannya sudah rapi dan bertambah tampan di mata Tiara. Kekesalan Tiara pun berubah menjadi haru biru karena Rama menunjukkan persetujuannya dengan sikap walaupun belum terucap. Dengan semangat, Tiara berjalan mendekati Rama dan Bu Ina yang sudah menunggunya.
"Abang kok udah rapi?" tanya Tiara menyembunyikan kebahagiaannya.
"Lama sekali, katanya nyuruh aku bangun pagi malah kamu baru datang ditunggu dari tadi," jawab Rama ketus.
"Rama," ucap Bu Ina melirik sengit kepada putranya, kemudian tersenyum manis saat beralih ke Tiara, "Sini, Sayang. Ayo kita sarapan. Kamu harus punya amunisi ekstra buat tugas keluar pertamamu."
"Terima kasih, Ma," ucap Tiara sambil menyendok nasi yang sudah Bu Ina siapkan untuk menantunya.
Selepas sarapan, ternyata Bayu sudah menunggu di beranda dan sudah siap membuka pintu mobil untuk bos sekaligus bos kecilnya.
"Tuanku Abang Rama, ada apa gerangan? Sepertinya netra Anda sedang tidak baik-baik saja. Seperti habis begadang dan melalui malam yang syahdu," goda Bayu kepo sambil membuka pintu mobil.
"Syahdu matamu!" sahut Rama ketus.
__ADS_1
Rama hanya melirik sengit ke arah Bayu, kemudian menyusul Tiara yang sudah duduk anteng di dalam. Bayu hanya terkikik lirih melihat respon tuannya yang tentu tak seindah pertanyaan yang terlontar darinya.
"Abang izinin aku, kan?" tanya Tiara memastikan.
"Kalau nggak izinin, ngapain dianterin juga, Bocah!" jawab Rama ketus.
"Hehe. Terima kasih udah izinin, Abang," ucap Tiara sambil mencubit pipi Rama.
"Iya. Tapi harus terus berkabar dan menjaga diri," titah Rama.
"Oke, Abang. Ngomong-ngomong, kelopak matanya kenapa?" tanya Tiara sambil mengusap kantung mata Rama dengan hati-hati.
"Tadi malam ada yang nggak sadar diri aja. Tidur di sofa padahal tidurnya udah kayak gasing aja ke sana-ke sini, muter sana muter sini. Ampuh deh. Kalau nggak dijagain paling dah nggelinding sampai Afrika," decak kesal Rama.
"Jadi semalaman Abang jagain aku?" tanya Tiara terharu.
"Nggak. Setan yang jagain kamu," jawab Rama pura-pura galak.
"Terima kasih, Setan," ledek Tiara tersenyum gemas menatap Rama.
"Apa? Kamu ngatain aku setan?" tanya Rama mendelik.
"Tadi kan kata Abang yang jagain aku setan jadi aku berterima kasih kepada setan dong," jawab Tiara semakin menggoda suaminya.
"Tuan dan Nona yang terhormat. Saya ini bukan angin loh yang cuma lewat dan nggak iri sama keakuran kalian. Kalian nggak kasihan, jiwa jomblo saya meronta-ronta melihat keuwuan kalian?" protes Bayu.
"Makanya cari pacar. Istri lebih baik. Jadi nggak kerja terus yang dipikirkan!" sahut Rama mengejek.
Aduh tuanku ini sangat tidak sadar diri. Padahal dia yang membuat jadwalku padat sekali. Ronta Bayu dalam hati.
Tiba-tiba di tengah perjalanan, sebuah motor berhenti mendadak tepat di depan mobil Bayu sehingga Bayu terpaksa harum mendadak menginjak rem kuat-kuat.
Siiiiittttttttttt!
Bayu tak dapat menghindari lagi dan bagian depan mobil tetap harus mencium ekor motor karena jarak yang terlalu dekat. Untuk banting setir pun terlalu berbahaya karena lalu lintas cukup padat. Walaupun tidak kencang menabraknya namun cukup membuat motor itu roboh dan sang pemilik turut terbawa motornya.
Rama terdorong ke depan namun tetap aman karena sit belt-nya terpasang, sedangkan Tiara yang malas memasang sit belt pun terjerembab ke depan dengan wajah menabrak kursi di depannya karena tidak sempat refleks berpegangan atau menahan diri.
"Om Bayu, ada apa? Sakit," rintih Tiara sambil mengusap-usap hidungnya yang terbentur cukup keras sampai membuat matanya berair.
"Maaf, Mbak. Duuuh mati kita!" sahut Bayu sambil menyeka wajah sangat gelisah dan keringat dingin mulai membasah, terlebih klakson-klakson di belakang mereka sudah bersahut-sahutan penuh ancaman.
"Turun, Bay. Sebelum kita diamuk massa. Tiara diam sini aja ya. Nggak usah ngeyel. Ini lagi darurat. Jangan menghambat atau kamu akan terlambat," ajak Rama berusaha tenang dan melepas sit belt-nya.
Rama dan Bayu pun turun sambil menangkupkan tangan meminta maaf kepada pengguna jalan yang terganggu oleh kejadian itu. Menepikan mobilnya pun tak mungkin karena lalu lintas sedang cukup padat. Beberapa orang di pinggir jalan juga berdatangan menolong orang yang ditabrak Bayu.
Tiara hanya menatap kerumunan orang dari dalam mobil dengan cemas. Sepertinya parah sampai Rama dan Bayu tak kunjung kembali. Walaupun mereka berangkat lebih pagi, jika keadaannya begini tentu sangat mengkhawatirkan jiwa raganya.
Setelah empat menit bernego dengan saksi kejadian di sana, motor sang pengendara dibawa oleh beberapa orang yang sudah dibayar Rama. Saat kerumunan mulai sepi, Tiara melihat wanita pemilik motor itu tergelak di jalan masih lengkap dengan helmnya. Dada Tiara berdesir saat kepala wanita itu dipangku oleh Bayu dan kaca helmnya dibuka.
Haaaa!
__ADS_1
Tiara nekat membuka pintu mobil dan melompat keluar dengan air mata yang tiba-tiba menyungai begitu saja.
...****************...