Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Mengobati Luka


__ADS_3

"Ra! Tiara!" teriak Rama yang terjaga dan tidak mendapati Tiara di kamar.


Rama mencari di kamar mandi, nihil. Di ruang ganti pun sama. Kemudian, keluar kamar sambil memanggil Tiara sambil mencoba menelepon Tiara namun nomornya sudah diblokir. Rama pun menggeram menahan kemarahan dan kecemasan yang merajai kepalanya.


"Ada apa pagi-pagi teriak, Rama?" sentak Bu Ina yang terusik dan berjalan cepat ke arah Rama.


"Lihat Tiara nggak, Ma?" tanya Rama panik.


"Tiara biasanya di kamar kan jam segini?" tanya balik Bu Ina kesal.


"Nggak ada, Ma," jawab Rama frustrasi.


"Nggak ada bagaimana? Dia pergi nggak pamit? Ada masalah apa kalian?" selidik Bu Ina menyorot tajam putranya.


Eeeerrrrrggghhhh!


Bukannya menjawab, Rama malah menggeram dan mengacak rambutnya karena terlampau kacau. Ia tak menduga jika Tiara akan senekat ini dan membuat Rama semakin kesal pada diri sendiri. Selama ini, Tiara menerima sikap dingin dan cuek Rama dengan tenang. Bahkan, ketidaksukaannya pun tak pernah ditunjukkan di depan Bu Ina. Sampai Tiara berani kabur tentu sakit hatinya tak main-main lagi.


"Rama! Jawab Mama!" bentak Bu Ina tak tahan dengan sikap Rama yang jelas menunjukkan ketakharmonisan dalam rumah tangga mereka.


"Rama khilaf, Ma," jawab Rama lesu sembari menjatuhkan diri di sofa.


"Khilaf bagaimana?" sentak Bu Ina kesal bercampur resah luar biasa.


"Rama udah menuduh Tiara berselingkuh dengan atasannya," sahut Rama sembari menyeka wajahnya dengan kasar.


"Menuduh selingkuh? Kamu udah gila? Atas dasar apa kamu menuduh ya berbuat keji semacam itu?" cecar Bu Ina menunjuk-nunjuk wajah Rama.


"Iya Rama cemburu aja waktu tahu ternyata dia berangkat ke Bogor hanya berduaan dengan atasannya. Dia bilang ke sana dengan tim yang terdiri dari empat orang dan ada teman perempuan juga," terang Rama sembari menatap ubin penuh rasa bersalah.


"Mama yakin dia punya alasan. Kamu saja yang tak mau mendengarkan. Lalu, dari mana kamu tahu Tiara berduaan dengan atasannya?" tanya Bu Ina geleng-geleng kepala.


"Iya ini, Ma," ucap Rama sambil menyerahkan ponselnya yang menunjukkan chat Selvi walaupun hanya berisi foto Tiara dengan lelaki namun cukup membuat Bu Ina mendelik sinis.


"Ini nomor siapa? Kamu mencoba memata-matai dia? Kamu lebih percaya orang lain yang jelas-jelas tidak tahu persis keadaannya, hanya bermodal foto dan kamu bisa langsung menuduh istri selingkuh?" bentak Bu Ina tak habis pikir dengan kecemburuan Rama yang membabi buta.

__ADS_1


"Iya, Ma. Rama mengaku salah. Rama bukan bermaksud menuduh," bantah Rama membela diri.


"Bukan bermaksud menuduh, lalu apa? Mama nggak yakin kalau Tiara semarah ini dengan tuduhan selingkuhmu. Pasti ada sesuatu yang lebih menyakitkan yang kamu ucapkan ke dia, kan?" sangkal Bu Ina memanas.


"Iya dia muntah-muntah dan dia belum mens padahal udah masuk periodenya," sahut Rama merendah.


"Kamu tuduh dia hamil dengan atasannya? Stress dan kelelahan juga bisa menyebabkan terlambat datang bulan. Tapi, kalaupun hamil, bukankan itu kabar bagus?" tanya Bu Ina tiba-tiba mereda dengan mata sedikit berbinar.


"Mana mungkin Rama bahagia. Bahkan, Rama saja belum boleh melakukan apa-apa padanya, Ma," ucap Rama keceplosan, sejurus pun langsung menutup mulutnya yang kebablasan.


Bu Ina membeliak mendengar pernyataan Rama. Sontak saja, ia terperangah mengetahui pernikahan putranya yang separah itu walaupun sudah hampir berusia satu tahun.


"Duh. Anak bontot udah nikah bukannya bikin tenang malah nambah pusing," tukas Bu Ina sambil menggosok-gosok keningnya dan mendengus kesal seraya kembali berkata, "Ya udah. Selesaikan masalah kalian. Mama nggak mau ikut campur. Pokoknya, Mama mau Tiara pulang dan selesaikan masalah kalian. Mama nggak mau lagi Tiara minggat-minggat seperti ini."


Setelah memberi pesan kepada Rama, Bu Ina langsung berjalan ke kamar tanpa berpamitan. Wajahnya begitu lesu memikirkan gonjang-ganjing yang dibuat sepasang suami istri yang begitu membuat kepalanya seakan pecah dan hampir terbelah. Bahkan, tak menyangka kalau jarak di antara mereka masih sejauh itu.


...****************...


Satu hari, dua hari, satu minggu, dua minggu bahkan Tiara pergi dan belum ada kabar sama sekali. Bahkan, Tiara memblokir orang-orang terdekat Rama yang memungkinkan memberi tahu keberadaannya, termasuk Bu Ina dan Bayu. Ia tak memblokir keluarganya karena tak mungkin juga Rama menanyakan kepada mereka karena Rama tahu bahwa Tiara tak pernah absen di kantor magangnya.


Tiara benar-benar membuat Rama hampir gila selama berminggu-minggu. Untuk mengalihkan pikirannya dari Tiara pun, Rama lembur setiap hari namun tetap saja pekerjaannya terbengkalai sehingga Bayu dan Susan harus bekerja lebih keras untuk menutupi. Kecuali, jika pekerjaannya mengharuskannya untuk berinteraksi dengan rekan kerja samanya, tentu ia berusaha senormal dan seprofesional mungkin untuk menjaga citra perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah.


Rama yang selalu menjaga kerapian tempat kerjanya pun tiba-tiba berubah menjadi orang yang ceroboh dan membiarkan ruangannya berantakan. Rama makan pun hanya karena perutnya merasa lapar walaupun lidahnya terasa hambar. Rama tentu lebih khawatir karena kartu debit yang diberikannya tak kunjung digunakan oleh Tiara jadi semakin khawatir bagaimana keadaan Tiara di sana.


"Raa, pulang," bisik Rama sembari menekuk tangan di meja dan menyandarkan kepalanya di sana.


Tanpa terasa, setetes air mata Rama pun tak jatuh. Kemudian, menyusul tetes-tetes lainnya yang sama sekali tak bisa dihentikannya. Rama hampir putus asa mencari keberadaan Tiara yang sudah menghilang dua minggu lamanya. Ditambah lagi, Bu Ina yang semakin banyak mengomel membuat Rama malas untuk pulang lebih awal.


"Pak Rama, maaf. Saya membangunkan Bapak karena sudah larut malam. Apakah Bapak sedang ada lembur?" tanya seorang satpam yang sedang berjaga malam dan menggoyangkan tubuh Rama yang ketiduran di kursi kerjanya.


Rama pun mengangkat wajah dengan malas dan mata memerah. Satpam sedikit terkejut melihat kelopak mata bossnya yang sangat sembab seperti habis menangis namun tak bernyali untuk menanyakannya.


"Oke. Aku akan pulang Pak Muji. Tolong bereskan berkas-berkas yang berserakan di lantai ya, taruh di atas meja," suruh Rama sambil berdiri dan membawa tas kerjanya untuk dibawa pulang.


"Baik, Pak," jawab satpam yang bernama Pak Muji itu dengan tegas.

__ADS_1


Rama pun pulang setelah melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 21.00. Tentu Bu Ina sudah rehat di kamar sehingga tak ada yang cerewet menanyakan keadaan Tiara karena itu membuatnya semakin kacau.


Tiba-tiba, saat Rama sudah merebahkan badan, ponsel Rama berdering dan panggilan dari nomor tak dikenal pun mengusik ketenangannya. Ia segera menerima panggilan itu karena ia berharap ada titik terang dari orang-orang bayaran yang ditugaskan mencari keberadaan Tiara. Berkali-kali mereka menemukan kos Tiara namun Tiara cerdik dan langsung berpindan keesokan paginya.


"Halo," sapa Rama lesu.


Tak ada sahutan di sana. Hanya suara napas yang menderu resah.


"Halo," ulang Rama sedikit meninggikan suara.


"Abang, stop mencari tahu keberadaanku. Aku baik-baik aja. Aku cuma butuh waktu menenangkan diri dulu. Kalau kamu terus mengirim orang untuk mengintaiku tentu sangat mengganggu dan membuat aku semakin tak tenang," ucap Tiara lirih membuat Rama terlonjak namun ada kesedihan yang mendalam dirasakannya.


"Sayang, pulang ya. Abang jemput," ronta Rama memelas.


"Belum bisa, Bang. Tiara masih sangat sakit hati. Bagaimana mungkin Abang menuduhku sekeji itu hanya karena foto yang diberikan oleh mantanmu. Perih, Bang. Kalau tuduhan itu hanya selingkuh, it's ok lah ya. Kalau sampai Abang nuduh hamil, sama saja Abang menghancurkan harga diriku," sahut Tiara tegas.


"Iya, Ra. Aku akui, aku salah. Aku gegabah. Aku jahat. Kamu layak membenci dan menghukumku namun jangan menghilang dariku karena aku tak bisa tanpamu. Aku butuh kamu, Ra," pinta Rama memohon.


"Bang, aku udah bilang. Aku memaafkanmu, tapi kasih aku waktu buat menenangkan diri. Mengobati lukaku tak bisa secepat penyesalanmu. Mendamaikan diriku tak cukup dengan maaf dan memaafkan. Aku butuh sendiri. Tolong dipahami!" tegas Tiara.


"Iya. Oke. Tapi, katakan di mana tempat tinggalmu sekarang?" tanya Rama cemas.


"Tenang. Aku berada di tempat aman. Aku di kos khusus perempuan. Tak perlu dirisaukan. Satu lagi, putuskan kerja samamu dengan Selvi," ucap Tiara langsung mengakhiri panggilan sepihak.


Kemudian, ia membuang nomor yang digunakan untuk menghubungi Rama untuk menghilangkan jejak. Benar saja, setelah panggilan terputus dan tak bisa lagi dihubungi, Rama segera bergerak menyuruh orang untuk melacak keberadaan Tiara dengan nomor itu namun yang didapatkan hanya fakta Tiara menelepon Rama di dalam tempat magangnya.


"Bangsaaaaat! Ngurus bocil aja nggak bisa. Goblok!" sentak Rama pada diri sendiri.


Rama pun galau sendiri memikirkan ucapan Tiara yang semakin membuatnya kalang kabut kehilangan arah. Permintaan Tiara yang sederhana namun menohok karena mengundang huru-hara. Proyek dengan Hans yang baru berjalan tentu takkan mungkin dilepaskannya karena sangat penting untuk perkembangan perusahaannya dan juga sudah menggelontorkan dana yang sangat besar. Tak mungkin ia memutus kerja sama itu karena urusan pribadi namun ia juga ingin memenuhi permintaan Tiara.


"Merepotkan! Gilaaaa!" teriak Rama sambil menjatuhkan badan di kasur.



...****************...

__ADS_1


__ADS_2