
Setelah Rama membelikan pembalut, Tiara menumpang toilet minimarket untuk memakainya. Untung, tadi ia membawa ganti pakaian dalam lebih jadi tidak perlu membeli juga. Ia melihat noda di celana juga hanya bulatan kecil sehingga ia tak mengganti celananya dan kembali membelitkan kemeja Rama ke pinggangnya.
Setelah semua selesai, Tiara berterima kasih kepada dua kasir minimarket yang telah mengizinkan ia menumpang ganti. Ia pun memberi mereka masing-masing satu lembar seratus ribu sebagai tanda terima kasih karena sudah sangat membantunya. Kedua kasir tersebut nampak sangat bahagia dan ia lebih bahagia melihatnya. Kemudian, kembalilah ia ke mobil dengan perasaan yang sudah jauh lebih baik.
"Udah good mood lagi?" tanya Rama.
"Ish. Ngeledek ceritanya?" tampik Tiara.
"Dah ah. Bad mood melulu. Mana aku yang jadi korban. Ini makan jajannya. Kalau nggak mau ya aku makan sendiri," suruh Rama sambil menyerahkan satu plastik camilan yang dibelinya bersama pembalut Tiara.
"Oh iya, Abang. Tadi aku ngasih kasir dua ratus ribu ya karena udah ngasih tumpangan ganti," ucap Tiara.
"Iya nggak apa-apa. Ini ambil jajannya," sahut Rama pura-pura kesal.
"Iya. Iya," sambung Tiara manyun.
Mata Tiara pun berbinar seketika melihat camilan beraneka rupa. Dengan senang hati, ia menerima bungkusan yang diberikan Rama. Ada kukis, keripik kentang, tortila, cokelat, yogurt, sari kacang hijau, air mineral, dan minuman untuk datang bulan.
"Abang beliin ini juga," ucap Tiara terkekeh sambil memegang botol minuman untuk datang bulan.
"Iya barangkali bisa mengurangi sakitmu," sahut Rama.
"Iya emang aku suka minum ini kalau sedang datang bulan. Terima kasih, Abang. Bisa tolong bukain?" pinta Tiara sangat manis.
Rama hanya membalas dengan senyuman dan membukakan botol minum Tiara. Ia berinisiatif membeli itu karena memang pernah melihat botol itu di kamar saat Tiara menstruasi di bulan sebelumnya. Setelah semua beres, Rama pun menjalankan mobilnya.
"Lho, Abang. Kok ke sini? Bukannya kita mau balik hotel?" tanya Tiara bingung karena Rama mengambil arah berlawanan dengan menuju hotel.
"Kita ke hotel juga," jawab Rama santai.
"Emang bisa lewat jalan sini?" tanya Tiara lagi.
"Emang aku bilang ke hotel yang tadi?" sahut Rama.
"Ha? Kita mau menginap di hotel lain gitu? Di mana? Ngapain ke hotel lain juga? Yang kemarin juga kan enak, Bang. Sayang kali duitnya mending buat aku traktir teman-teman, Bang," tanya Tiara seperti kereta.
"Banyak tanya. Udah nurut aja daripada mulutmu aku lakban," ancam Rama masih dengan pembawaan tenang.
Tiara berpikir sejenak. Lalu, matanya membola ketika pikiran negatifnya kembali.
"Abang jangan berani macam-macam ya sama aku," ucap Tiara mulai ketakutan.
"Niatnya sih gitu mau bercocok tanam, tapi gagal karena ladangnya lagi kebanjiran," canda Rama sambil tertawa.
Candaan Rama malah terdengar sangat mengerikan bagi Tiara. Tiara menahan napas sejenak karena otaknya langsung sinkron dengan maksud Rama. Ia berusaha mencari alternatif tafsiran lain dari kalimat yang baru saja dikatakan Rama namun tak jua menemukannya.
"Eh, Abang. Stop racuni aku dengan hal-hal mesum seperti itu. Aku ini masih kecil dan polos. Aku masih di bawah umur," kata Tiara memperingatkan.
"Lho, di bawah umur dari mananya? Kamu mimpi? Mana ada anak di bawah umur pikirannya dah kotor kayak kamu gitu," protes Rama.
"Iya kan aku mikir aneh-aneh gara-gara kamu ngomong begitu" bela Tiara.
__ADS_1
"Iya kalau polos harusnya nggak paham dong. Kan ucapanku nggak aneh-aneh. Kamu aja yang pikirannya mesum terus," tampik Rama terkekeh.
"Terserah!" sahut Tiara singkat sambil melipat tangan ke dada dan membuang muka.
"Loh yang pikirannya mesum ya diri sendiri eh marahnya sama aku. Bagaimana istriku ini," goda Rama.
"Berisik, Om. Bisa diem nggak?" jawab Tiara ketus.
Rama cekikikan melihat Tiara benar-benar terpancing amarahnya. Ia mengusap ubun-ubun Tiara, lalu berujung mengacak-acak rambut hingga dibalas dengan gigitan kecil di lengan oleh Tiara. Ia tak marah sama sekali malah semakin gemas dengan istrinya sampai ia merasa aneh dengan dirinya saat bersama Tiara. Rama tak pernah bisa bercanda selepas ini dengan orang lain.
...****************...
"Amazing!" ucap Tiara takjub.
Tiara sampai terperangah melihat hotel yang dipesan Rama. Hotelnya seperti rumah panggung kecil yang didesain terpisah dengan berbagai fasilitas dan ukuran. Pondasi dan tiang penyangganya dicor namun untuk bangunan rumahnya menggunakan kayu yang kokoh dan mengkilap. Atapnya pun tak kalah aestetik karena menggunakan atap sirap sehingga terlihat sangat menyatu dengan alam. Jendela kacanya sangat bening berhias kelambu tipis yang diikat ke samping menambah keindahan hotel tersebut. Hotel itu terletak di hutan pinus dan tak jauh dari hotel tersebut juga terdapat tanah lapang yang biasa digunakan untuk mendirikan tenda-tenda perkemahan.
Saat masuk ke hotel yang Rama pesan, Tiara semakin tak bisa berkata-kata. Di sana, terdapat satu tempat tidur Queen Bed dengan dipan kayu dan sprei berwarna coklat muda bercorak daun monstera hijau saga. Kamar tersebut dilengkapi dua buah sofa bulat minimalis berwarna dark grey dengan meja bundar kayu di tengahnya, sebuah smart tv yang tertempel di dinding dan sebuah lemari kayu multifungsi yang di dalamnya bisa untuk meletakkan pakaian sekaligus berisi kulkas mini beserta water heater. Kamar mandinya pun tak kalah aestetik dengan wastafel dan bathup dari batu alam.
"Abang, ini keren," ujar Tiara sambil merebahkan diri di kasur dan melihat langit-langit ruangan.
"Makanya jangan marah-marah dulu," sahut Rama sambil meletakkan tas jinjing di lemari.
Sekilas, Tiara melirik sinis teringat candaan Rama di mobil. Kemudian, ia menengok jendela dan terpampanglah jejeran pohon pinus dan rumput hijau. Tak jauh dari hotel yang ditempati, Tiara melihat beberapa tenda didirikan dan di sana ramai oleh pemuda yang sedang duduk melingkar. Mereka seperti sedang melakukan suatu permainan dan Tiara semakin asyik menonton mereka dari kejauhan sampai ketiduran.
Tiara pun terjaga saat hari mulai petang. Matanya mengernap-ngerjap mencari sosok Rama di kamar namun tidak jua menemukan. Ia pun duduk dengan sangat malas sambil mengucek mata untuk menghilangkan kantuk yang masih menggantung di pelupuknya. Ia berjalan gontai ke kamar mandi dan mengetuk pintunya namun tak ada jawaban.
"Ke mana perginya Si Om-Om rese itu?" tanya Tiara pada diri sendiri.
Selesai mandi, Tiara pun keluar dengan wajah berseri karena suasana hatinya ikut membaik. Bersamaan dengan itu, Rama masuk ke kamar membawa camilan yang tertinggal di mobil. Mereka pun bertemu mata hingga keduanya merasa canggung sampai bingung harus berkata apa.
"Abang, abis ini aku jalan-jalan keluar sebentar boleh? Cuma pengen cari angin segar," tanya Tiara sambil menyisir rambutnya yang basah.
"Mau kutemani?" tanya balik Rama sambil meletakkan camilan di atas meja.
"Enggak usah. Aku nggak jauh-jauh kok. Lagian Abang belum mandi, kan? Bajunya masih sama. Mandi aja dulu. Udah mau petang ini," jawab Tiara.
"Oke deh. Jangan jauh-jauh ya. Pakai jaketnya," sahut Rama.
Tiara pun mengangguk dan segera memakai jaketnya. Sangat senang ia dengan jaket selutut yang berwarna kuning pastel dan modelnya lucu serut di perut sehingga sangat sesuai dengan seleranya. Ia heran bagaimana mungkin Rama paham kesukaannya atau mungkin memang tidak sengaja saja.
Setelah mendapat izin dari Rama, Tiara keluar untuk menikmati suasana senja di sekitar hotel. Di sana, bergelantungan lampu-lampu kecil kuning dan lampu taman di beberapa titik sehingga tidak gelap dan mencekam walaupun di tengah perkebunan pinus. Malah terlihat sangat indah ketika hari telah petang.
Saat sedang asyik berjalan ke dekat perkemahan, Tiara dikagetkan oleh sebuah tangan yang menepuk pundaknya dari belakang. Ia pun berbalik badan untuk memastikan. Ternyata ada Kenzie, Haris, dan dua lelaki lagi yang tidak dikenalinya.
"Kak Ken," ucap Tiara kaget.
"Kamu ngapain di sini, Mut?" tanya Kenzie penasaran.
"Eee. Aku lagi liburan aja," jawab Tiara gelagapan.
"Sama siapa? Tumben, nggak langsung pulang Surabaya?" tanya Kenzie.
__ADS_1
"Aku abis ada acara di Lembang jadi sekalian nginep di sini aja sama keluarga. Paling minggu depan baru pulang Surabaya," jawab Tiara agak gugup.
"Mana orang tuamu? Boleh aku bertemu? Pengen say hello aja. Hehe," ucap Kenzie tersenyum.
"Eeee. Aku ke sini nggak sama mereka. Aku ke sini sama Kakakku," sahut Tiara terpaksa berbohong.
Tiba-tba, seseorang datang menyelinap di antara Kenzie dan Tiara. Tiara bisa bernapas lega saat tahu orang itu adalah Riza. Kemudian, disusul oleh Aksa dan teman kantor mereka, yakni Ranti, Imran, dan Laili.
"Mana Rama? Kenapa kamu sendiri di sini?" tanya Riza sambil menatap tajam ke mata Tiara.
"Bang Rama di sana lagi mandi, Mas," jawab Tiara lirih.
"Kakak Mutia ya?" tanya Kenzie yang tiba-tiba mengulurkan tangan kepada Riza.
"Mas, kenalin ini Kak Kenzie. Kating aku di kampus," ucap Tiara mengalihkan pandang Riza yang sangat menakutkan seakan hendak menerkam adiknya.
"Kenzie?" ucap Riza lirih dengan keheranan.
Riza pun menerima uluran tangan itu dengan senyum seperlunya. Ada kekhawatiran di mata tegasnya. Ada juga kegetiran di sikap tenangnya.
"Riza. Kakak kandung Tiara. Kok bisa samaan di sini?" lanjut Riza dingin.
"Aku ada acara BEM kampus, Mas. Lagi mengadakan outbound dan malam keakraban di sini. Tiba-tiba, bertemu Tiara yang lagi jalan sendiri," jawab Kenzie dapat kecemasan Riza.
"Oh iya," sambung Riza singkat.
"Ya udah duluan ya, Mas, Mbak, Mut. Mau lanjutin acara," pamit Kenzie dan temannya untuk kembali ke rombongan.
Aksa pun mendekat dan menepuk pundak Riza untuk lebih menenangkan sepupunya. Ia bertindak karena Tiara sudah tampak ketakutan. Aksa pun memberi aba-aba kepada tiga temannya untuk berjalan duluan ke kamar.
"Ra, mana kamarmu? Kembalilah ke kamar. Bilang Rama kalau kita mau mampir," suruh Aksa.
Tiara menunjuk kamarnya dan menuruti kemauan Aksa. Ia tahu betul saat Riza mulai galak, Aksa akan menjadi penengah dan bisa menenangkannya. Ia juga tahu sebenarnya Riza sayang sekali dengannya dan bisa bercanda namun kadang overprotektif.
"Udah lah. Adik kita udah besar. Toh tidak sengaja," ucap Aksa menenangkan saudaranya.
"Tapi, keadaan sudah beda, Sa. Tiara udah bukan bocah lagi, dia udah jadi istri. Harusnya bisa menjaga sikap," sahut Riza tak tenang.
"Iya aku tahu. Tapi, aku yakin Tiara sudah paham posisinya. Meskipun dia masih terlihat kekanak-kanakan namun dia nggak akan berani macam-macam," bujuk Aksa.
"Kamu selalu saja membela dia," protes Riza.
"Karena kadang kamu berlebihan," tampik Aksa.
Riza mengusap wajahnya dengan kasar. Ia nampak begitu kesal pada diri sendiri.
"Kenapa juga Kakek menikahkan Tiara semuda ini? Tiara juga mudah sekali mengiyakan. Harusnya dia masih menikmati masa muda, tapi malah dia harus memikul tanggung jawab besar sebagai istri. Apa sih yang ada di pikiran Kakek?" tutur Riza sangat menyayangkan keadaan.
"Udah. Udah. Aku tahu kamu khawatir soal Tiara. Tapi, pernikahan ini terjadi juga tentu atas persetujuam Tiara. Kita doakan saja semoga dia bahagia dan Rama bisa menjaganya," sahut Aksa menenangkan.
Riza pun tak bisa berkata-kata lagi. Ia menuruti saat Aksa mengajaknya mampir ke hotel Rama dan Tiara.
__ADS_1
...****************...