Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Sebelum Sembuh Seutuhnya


__ADS_3

Tiara merasa kurang nyaman dengan perjalanannya kali ini karena harus duduk bersebelahan dengan Arjuna. Personil audit ternyata ada penambahan satu orang, yakni Sherly. Sherly ditambahkan karena memang dia yang sudah ditunjuk dari awal oleh Arjuna untuk membimbing Tiara. Entah kebetulan atau sudah direncanakan, tiket yang diberikan oleh Arjuna ternyata bersebelahan dengannya. Sherly duduk dengan Toni dan Kevin dengan Fara.


"Kamu asli mana?" tanya Arjuna tiba-tiba dengan suara serak beratnya.


"Surabaya, Pak Juna," jawab Tiara berusaha seramah mungkin.


"Jauh ya. Di Jakarta kos atau tinggal sama siapa?" tanya Arjuna semakin penasaran.


"Untuk sementara kos karena biar dekat tempat magang. Tapi, kalau sehari-hari tinggal bersama keluarga," sahut Tiara apa adanya.


"Ada keluarga di Jakarta?" cecar Arjuna.


"Ada, Pak," timpal Tiara singkat.


"Kalau pulang, pesawat atau kereta?" Arjuna semakin ingin tahu tentang Tiara.


"Kereta. Takut ketinggian saya," sahut Tiara mulai mereda ketidaknyamanannya.


Tiba-tiba, obrolan mereka yang baru dimulai pun harus terjeda karena dering ponsel Tiara. Keduanya melihat kontak yang tertera di layar ponsel Tiara bertuliskan Abang🐶. Dengan sopan, Tiara meminta izin mengangkat telepon itu dan menghentikan dulu pembicaraannya dengan Arjuna.


"Sayang, udah sampai mana?" tanya Rama serius.


"Nggak tau, Bang. Kayaknya masih kawasan Jabodetabek," jawab Tiara semangat.


"Udah kangen. Pengen peluk," ucap Rama manja.


"Aih dasar mulut buaya," sahut Tiara cengengesan.


"Bi.....r to.... ri..." suara Rama terputus-putus karena jaringan internet memburuk.


"Abang, nggak jelas. Sambung nanti aja ya. Chat dulu aja," ujar Tiara.


"A...pa?" tanya Rama samar-samar.


Tiara pun langsung mematikan telepon karena percuma menjelaskan juga, Rama tidak akan mendengar suaranya dengan jelas. Kemudian, ia segera mengetik pesan agar suaminya tidak rewel.


Tiara


Abang sinyalnya jelek. Suara Abang nggak jelas. Nanti sambung lagi ya.


Abang🐶


Y


"Dasar kulkas tiga pintu," serapah Tiara lirih namun terdengar jelas oleh Arjuna yang sedari tadi menyimak dan memerhatikannya.


"Siapa, Ra? Abangmu?" tanya Arjuna penasaran.


"Iya, Pak Juna. Ini s___" ucapan Tiara tiba-tiba terpotong karena kehadiran Toni yang membawa laptop untuk ditunjukkan ke Arjuna.

__ADS_1


"Pak Arjuna, format laporannya seperti ini bukan?" tanya Toni sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya.


Perhatian Arjuna pun teralih kepada laptop dan melupakan percakapannya dengan Tiara. Entah mengapa ia merasa tenang saat tahu bahwa lelaki yang menelepon Tiara adalah abangnya.


Setelah Arjuna selesai berdiskusi dengan Toni, ia pun memandang takjub ke arah Tiara yang sedang menikmati pemandangan di luar kereta. Diam-diam, ia pun memikirkan apa yang diucapkan Pak Hadi tadi pagi tentang ia dan Tiara. Semakin lama, ia merasa semakin penasaran dengan Tiara karena pembawaannya yang apa adanya, manja, dan ceria namun begitu misterius sewaktu mode tenang. Bahkan, ia sama sekali tak terlihat haus atensi saat bekerja dengannya dan melakukan semuanya sebaik mungkin. Jika ada beberapa kesalahan pun, ia cekatan untuk memperbaiki dan mau belajar dari kesalahannya. Selain itu, dia tidak mudah down dengan segala kritikan sehingga Arjuna seperti mendapat angin segar dengan kehadiran Tiara. Ia menjadi lebih penasaran untuk mendalami sosok Tiara yang tak pernah menunjukkan kekaguman sedikit pun terhadapnya sehingga saat berbeda dengan kebanyakan wanita yang ditemuinya.


"Ra, mau pop mie? Yang lain beli pop mie," tanya Arjuna membuat pandangan Tiara beralih langsung berbinar.


"Boleh, Pak," jawab Tiara mengangguk-angguk sangat antusias.


Seulas senyum tipis pun tertahan di bibir dingin Arjuna karena gemas dengan sikap Tiara. Sebelum semua jelas, ia tak ingin terlalu mencolok menunjukkan ketertarikan lebihnya kepada Tiara. Selain belum mengetahui Tiara punya pacar atau belum, ia juga tak ingin Tiara menjadi canggung dekat dengannya. Kehadiran Tiara sedikit demi sedikit mengikis bayang-bayang cinta pertamanya yang terlalu kelam untuk dikenang namun muskil dilupakan.


Setelah pesanan popmie datang dan satu kopi panas miliknya, Arjuna pun membayar pesanan itu. Saat Tiara sedang menunggu pop mie-nya hangat, ia pun tercengang memergoki Arjuna sedang memandanginya sangat dalam. Arjuna pun tak kalah terkejut mendadak bersitatap dengan Tiara sampai salah tingkah sendiri.


"Ada apa, Pak Juna? Ada yang ingin Anda katakan?" tanya Tiara canggung sendiri.


"Enggak. Maaf tadi saya sedang melamun," jawab Arjuna gelagapan.


"Oh..." ucap Tiara membulatkan bibirnya.


Pletaaakkk!


Tiba-tiba, ponsel Tiara jatuh dari pangkuan ke bawah pijakan kaki kursi Rama. Refleks, Rama dan Tiara bersamaan membungkuk untuk mengambilnya. Karena gerakan mereka sama-sama cepat dan tidak memperhitungkan apakah keduanya akan melakukan gerakan yang sama, akhirnya benturan kepala mereka pun tak bisa terelakkan. Keduanya sama-sama kembali duduk tegak dan kesakitan mengusap keningnya namun terkekeh bersama. Toni, Kevin, Fara, dan Sherly sampai tertegun mendengar cekikikan mereka walaupun lirih namun terdengar begitu akrab. Teka-teki yang selama ini bersemayam di benak mereka pun seakan menemukan kunci jawaban.


"Udah biar saya ambil sendiri aja, Pak," ucap Tiara sambil membungkuk mengambil ponselnya.


"Nggak apa, Pak. Kan niatnya mau bantu saya juga," timpal Tiara ramah.


"Kamu nggak bawa bekal gudeg lagi?" tanya Arjuna mengalihkan topik pembicaraan untuk menepikan kecanggungan di antara mereka.


"Belum, Pak. Partner makan gudegku lagi sibuk di divisi SDM jadi kita jarang makam bersama lagi. Mungkin, nanti kalau sudah selesai magang. Nggak asyik makan gudeg sendiri," jawab Tiara sambil mengotak-atik ponselnya dan ia lega karena tidak kenapa-napa pasca terjatuh.


"Mumpung kita ke Yogya, bagaimana kalau nanti kita makan gudeg yang beneran asli sana. Aku dan keluargaku punya gudeg langganan yang aku jamin enak banget karena resto itu sudah berdiri sejak 1970-an gitu. Resepnya diwariskan dari generasi ke generasi hingga citarasanya masih sama dan bertahan sampai sekarang. Setelah makan gudeg ini, mungkin kamu akan lebih cinta dengan makanan yang satu itu," papar Arjuna bersemangat.


Mendengar pemaparannya yang tak ada kesan galak sedikit pun, membuat empat anak buahnya dibuat melongo dan lebih tertegun. Pasalnya, Arjuna yang mereka kenal adalah sosok yang irit bicara, malas membicarakan hal receh di luar pekerjaan, dan tidak suka berpanjang kata. Namun, semenjak kehadiran Tiara memang mereka merasakan suasana berbeda di divisi marketing. Suasana di sana tidak sehoror biasanya. Selain Tiara yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja, Arjuna juga seolah menjadi lebih jinak dan tak mudah lagi meledak-ledak.


"Wah tawaran yang sangat menarik, Pak. Boleh-boleh. Tapi, bareng yang lain juga ke sananya, kan?" tanya Tiara memastikan karena tidak mau mengulang kecerobohan yang sama.


"Memangnya kenapa kalau berdua?" timpal Arjuna sangsi.


"Iya nggak enak lah sama yang lain, Pak. Lagian, saya tidak nyaman dan tidak terbiasa juga pergi berduaan dengan lelaki selain keluarga saya. Takut ada fitnah dari orang-orang yang sok tahu, tapi suka langsung menyimpulkan," tegas Tiara.


"Nggak pernah jalan sama pacar?" tanya Arjuna sedikit ragu namun ia sangat penasaran dengan jawaban hingga harap-harap cemas menunggunya.


"Aduh Bapak. Boro-boro jalan sama pacar, pacaran aja belum pernah. Aih punya kakak cowok dua, duh posesifnya luar biasa. Tiap ada cowok yang deketin, mereka tatar sampai hilang tanpa kabar," jawab Tiara sambil mulai menikmati pop mie-nya.


Arjuna mengangkat salah satu alisnya begitu keheranan. Mau tidak percaya namun Tiara menjelaskan dengan lancar dan polosnya sehingga ia tak menyangka saja gadis secantik dan seimut Tiara belum pernah pacaran. Seperti hal yang mustahil namun ia tak bisa menyangkal juga.


"Really?" sangsi Arjuna tersenyum sebelah bibir.

__ADS_1


"Aih. Kenapa sih tiap orang yang aku ceritain aku belum pernah pacaran tuh kayak memandang aku aneh gitu? Emang aib nggak pernah pacaran ya, Pak?" tanya Tiara polos dengan mulut penuh mie.


"Bukan begitu. Iya maksudnya langka aja zaman sekarang tuh ada cewek yang belum pernah pacaran. Iya memang ada, tapi kan sebagian besar udah pernah gitu," jawab Arjuna sumringah.


"Nggak tahu aku ini. Entah cowok-cowok yang nggak mau sama aku atau takut sama masku. Tiap cowok yang deketin aku dan bertemu dengan duo masku pasti langsung ngacir, Pak Juna," terang Tiara dengan mimik serius.


"Iya berarti Masmu sayang banget sama kamu. Mereka mau melindungi kamu dari cowok-cowok nggak baik," ujar Arjuna mangut-mangut.


"Iya sih. Setelah dipikir-pikir juga ada hikmahnya, jadi aku bisa fokus dengan studiku," sahut Tiara menyetujui.


Tiba-tiba, keseruan obrolan mereka terjeda oleh bunyi pesan di ponsel Tiara. Tiara melihat sekilas di layar, ada nomor baru yang mengirim pesan berupa gambar kepadanya. Saat Tiara fokus menatap ponselnya, Arjuna pun memilih menyesap kopi sambil menikmati suasana di kereta. Meskipun, gerbong yang mereka ambil eksekutif namun cukup nyaman untuk menenangkan diri.


Awalnya, Tiara ingin mengabaikan foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal itu namun begitu penasaran karena sangat familier dengan bentuk dari foto yang masih buram itu. Jemari Tiara pun tergerak untuk mengunduhnya. Setelah itu, betapa tercengangnya Tiara melihat suaminya begitu mesra dengan mak lampir Selvi.



(Sumber: Pinterest)


"Ha?" pekik Tiara lirik menahan kepedihan batinnya yang harus kembali terluka sebelum sembuh sempurna.


Nafsu makan Tiara mendadak hilang dan langsung membuat pop mienya yang masih separuh ke tempat sampah yang kebetulan sedang didorong oleh petugas di kereta. Wajah riang Tiara sontak saja hilang berganti muram penuh amarah serta kesedihan. Matanya pun berkaca-kaca sehingga mengalihkan pandang ke luar jendela.


Mendapati sikap Tiara yang berubah seratus delapan puluh derajat, Arjuna pun merasa ganjil dan bimbang. Samar-samar, ia seperti mendengar isak Tiara yang sangat lirih dan terkamuflase oleh deru kereta.


"Tiara," panggil Arjuna lembut.


"Iya, Pak," jawab Tiara tanpa menoleh namun suaranya agak parau.


"Why?" tanya Arjuna cemas.


"I'm fine, Pak. Cuma agak lelah saja," jawab Tiara menyandarkan diri ke kursi dan menahan tangisnya.


"Ya sudah. Istirahatlah. Tidurlah. Nanti kubangunkan kalau sudah sampai," suruh Arjuna yang sebenarnya tidak percaya dengan jawaban Tiara namun tak ingin mengusiknya lebih jauh.


Serasa ingin tak percaya namun foto itu nampak nyata. Dari tampilan mereka saja sudah terlihat jika itu bukanlah foto zaman dulu, itu benar-benar tampilan mereka yang sekarang. Tiara pun pernah melihat kemeja yang dikenakan oleh Rama. Potongan rambut mereka pun sama persis seperti terakhir bertemu.


Tiara ingin menyangkal namun lagi-lagi tak punya alasan yang masuk akal. Serasa lukanya kembali disiram air garam, hati Tiara terasa perih sekali namun sudah tak bisa menangis lagi. Ia hanya bisa merintih dalam hati dan menyembunyikan semua sakit dalam sikap diamnya.


Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.


Lelaki itu memang sudah kodratnya ingin dimanja dan diberi kepuasan lahir batin. Yang setia akan kalah dengan yang selalu ada. Rasa sayang akan kalah dengan yang memberi kenyamanan. Rama telah melalui hari yang sangat berat karena kamu. Kamu yang tiba-tiba masuk kehidupannya, kemudian meninggalkan dia begitu saja. Setiap hari dia frustrasi menunggu kabarmu, setiap hari dia stres dimarahi mamanya karena kepergianmu, setiap hari dia menangis dan melelahkan diri demi melupakan kepenatan atas penderitaannya. Jangan salahkan dia kalau pada akhirnya jatuh kepada wanita yang benar-benar peduli dan mencintainya. Pada akhirnya, dia menyadari mana yang hanya tempat singgah dan mana yang menjadi rumah. Kamu itu hanya anak kecil yang sangat egois dan manja, tak memikirkan bagaimana kebutuhan lahir batin lelaki dan tak peduli dengan perasaan Rama. Lebih baik pergi selamanya darinya atau kamu akan lebih membuatnya menderita.


Tiara pun meradang membacanya hingga benar-benar tak lagi bisa menahan air matanya. Satu tetes, dua tetes, hingga mengalir begitu deras dan membuat Arjuna tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Tiara ingin sekali menjerit sekeras-kerasnya namun suaranya sontak saja hilang entah ke mana. Tak bisa lagi dijelaskan bagaimana perihnya membaca pesan itu walaupun ia tak percaya sepenuhnya namun ia sadar betul bahwa belum bisa menjadi istri seutuhnya dan yang sempurna. Melihat foto mereka saja sudah sangat mengusik ketenangannya, terlebih membaca pesan di bawahnya tentu sungguh membuatnya ingin menghilang sejenak dari dunia dan melupakan segalanya.


"Ra," panggil Arjuna sambil meraih kepala Tiara untuk menyandar ke dadanya karena tak tahu lagi bagaimana cara menenangkan Tiara.


Tiara pun tak menolak dan semakin memperdalam tangisnya yang tanpa suara. Hanya isak lirih dan suara napas lemah yang teramat memilukan. Arjuna sampai ikut berkaca-kaca mendapati Tiara yang sehancur ini karena selama ini, ia melihat Tiara sebagai pribadi yang sangat riang dan ceria.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2