
"Ini udah hampir petang. Kalau kamu pulang dengan Rama sendirian apalagi dalam keadaan Rama seperti ini, pasti sangat mencurigakan," bantah Hans tak terima.
"Apa yang perlu dicurigai? Mama Rama kenal baik dan akrab denganku. Istrinya juga pasti tahu jika dia rapat dengan kita. Memangnya, kalian tahu rumah Rama?" bela Selvi meyakinkan.
"Lebih baik kita antar bertiga. Kamu juga pasti nggak akan kuat memapah Rama sendirian, Sel," ucap Hendra menengahi.
"Good idea," sahut Hans.
Berbeda dengan respon Selvi. Ia nampak begitu jengkel namun tak bisa berkutik lagi. Matanya menyipit dan melirik sinis ke arah dua partner kerjanya. Mau tak mau, ia harus menuruti kemauan Hans dan Hendra karena tak bisa membela diri lagi. Kepedulian Hans dan Hendra kepada Tiara tentu sangat membuat Selvi meradang.
"Oke. Karena aku nggak bawa mobil dan tahu jalannya, jadi aku yang bawa mobil Rama ya?" tanya Selvi kembali wajah tenang.
"Oke," jawab Hans dan Hendra serempak.
Hans dan Hendra pun memapah Rama sampai tempat parkir, sedangkan Selvi mengekor dengan membawa tas Rama. Sesampainya di tempat parkir, tentu begitu mudah Selvi menemukan kontak mobil Rama karena Rama suka menyimpan barang di tempat yang sama. Selvi merogoh saku tas paling depan dan langsung menemukan kunci mobil di sana.
"Oke. Kamu jalan di depan ya, Sel," ucap Hans setelah berhasil menidurkan Rama di jok belakang mobil.
"Iya," decak kesal Selvi.
"Apakah kita perlu periksakan ke dokter dulu?" usul Hans cemas.
"Nggak usah. Memang Rama biasa begini kok, Hans. Aku udah mengenal baik pribadinya," sambar Selvi.
"Oke kalau begitu," sahut Hans lebih tenang.
Sesuai anjuran Hans, Selvi pun melajukan mobil Rama diikuti dengan Hans dan Hendra mengekor di belakangnya. Selvi pun mencari cara agar dapat menghindar dari intaian Hans dan Hendra tanpa curiga. Setelah beberapa menit berpikir, ia pun mendapat ide cemerlang. Senyumnya tersimpul penuh kemenangan.
"Oke, Rama. Sebentar lagi, nggak akan ada yang mengganggu kita untuk bersenang-senang," ucap Selvi sembari menengok sekilas Rama yang masih tergeletak di jok belakang.
Selvi pun memilih jalan yang rawan macet di jam petang seperti ini. Sesuai dugaannya, jalan itu sungguh padat merayap. Walaupun tak sepenuhnya berhenti namun kendaraan harus melaju dengan sangat pelan seperti siput. Sungguh, pemandangan yang sudah lazim di kota metropolitan ini.
Seakan semesta berada di pihak Selvi, ia pun dapat mendapat celah kabur dari pandangan Hans dan Hendra di tengah kepadatan lalu lintas. Selvi bisa mendahului beberapa mobil di depannya dengan cukup brutal sampai beberapa mobil membunyikan klakson karena hampir bersinggungan dengan mobil Rama. Bahkan, Hans dan Hendra sampai kehilangan jejak karena tak senekat Selvi untuk menyerobot jalan di tengah kepadatan semacam ini.
"Gila itu Selvi," umpat Hans tak menyangka.
"Sepertinya kita kehilangan jejak, Pak," sahut Hendra yang menyerah tak berani mengejar Selvi di tengah kepadatan.
Berkali-kali, Hans mencoba menghubungi Selvi namun Selvi tidak mengangkat. Hans masih bisa berprasangka baik jika Selvi sedang fokus menyetir.
"Lalu, bagaimana kita akan mengikutinya kalau begini? Kita juga nggak tahu rumah Rama. Selvi juga nggak bisa dihubungi," tanya Hans kebingungan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pulang saja, Pak? Kita hanya perlu menghubungi Pak Bayu untuk memastikan Rama sampai rumah atau belum. Bagaimana, Pak?" tanya Hendra sopan.
"Benar juga. Percuma juga kita berusaha mencarinya di tengah kemacetan seperti ini. Mungkin, lebih baik seperti itu," jawab Hans menyetujui.
Hans pun segera menghubungi Bayu. Tak butuh waktu lama, Bayu pun menjawab panggilannya.
"Halo, Bayu," sapa Hans.
"Iya, Pak Hans," sahut Bayu di seberang telepon.
"Tadi, Rama pingsan setelah rapat. Barusan kami antar bertiga, Selvi memaksa untuk membawa Rama dan mobilnya. Bisa tolong nanti dipastikan dia sampai rumah atau belum?" tanya Hans to the point.
"Ha? Selvi? Pak Rama diantar Selvi?" pekik Bayu terperangah.
Bayu pun begitu cemas karena Rama baru saja berbaikan dengan Tiara. Kepulangannya dengan Selvi tentu akan sangat mengguncang batin nona kecilnya. Ia pun bimbang bagaimana harus menjelaskan kepada Tiara tentang situasi ini.
"Iya. Tapi, lalu lintas sedang padat dan kami kehilangan jejak," ujar Hans membuat mata Bayu sempurna membola.
"Sudah menghubungi Selvi, Pak?" tanya Bayu selidik.
"Udah. Tapi, nggak dijawab. Mungkin, sedang fokus menyetir," jawab Hans tak kalah cemas.
"Oke. Tidak apa, Pak. Nanti biar saya pastikan dulu ke rumah. Terima kasih infonya, Pak Hans," ucap Bayu sambil menyambar jaket di gantungan baju belakang pintu.
"Oke. Jangan lupa beri kabar perkembangan Rama. Saya sangat mencemaskan keadaannya. Hati-hati di jalan," pinta Hans benar-benar peduli.
"Siap, Pak. Pak Hans juga hati-hati dalam perjalanan," sahut Bayu sigap.
Di tempat lain, Bayu segera keluar rumah dan duduk diberanda setelah Hans mematikan panggilan. Bayu pun berpikir untuk memesan ojek online karena lalu lintas sedang padat, tentu menggunakan mobil bukanlah solusi yang tepat.
"Apa dulu yang harus kulakukan ini? Mencari keberadaan Bos atau menemui Nona Kecil dulu. Gawat!" gerutu Bayu pada diri sendiri.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, pilihan pertama jatuh pada Tiara. Setidaknya, dengan berkunjung ke rumah Rama, ia bisa memastikan Rama sampai rumah atau belum dan bisa menjelaskan kepada Tiara jika Selvi akan memberikan pernyataan macam-macam. Ia sangat peduli pada hubungan Rama dan Tiara karena memang tahu bagaimana lika-liku dalam rumah tangga mereka. Ia paham betul betapa cinta dan sayangnya Rama kepada istrinya sehingga tidak tega kalau mereka harus terpisah lagi karena kesalahpahaman.
...****************...
Sesampainya Bayu di rumah Rama, rupanya Tiara sudah mondar-mandir di beranda dengan memegang ponselnya dengan gelisah. Kecemasan itu pun terbaca jelas oleh mata polos Bayu sekali pun wajah Tiara terlihat lebih tenang. Melihat Bayu datang menggunakan ojek online, Tiara pun menghentikan langkah gundahnya dan menunggu Bayu yang berjalan cepat menujunya. Wajah Tiara tentu berubah lebih sendu membayangkan apa yang akan disampaikan Bayu dan berharap tak ada kabar buruk menimpa suaminya.
"Om Bayu, Abang nggak bisa dihubungi. Kenapa Om ke sini sendiri? Mana Abang?" rengek Tiara seperti anak kecil yang ketakutan ditinggal sendirian.
"Biar saya jelaskan," sahut Bayu menyilakan nona kecilnya untuk duduk.
__ADS_1
Setelah keduanya duduk, keluarlah Bu Ina dari balik pintu. Bu Ina pun tak kalah cemas melihat Bayu ke rumah tanpa Rama bersamanya. Bu Ina langsung bergabung duduk bersama mereka setelah berteriak kepada Bi Siti untuk membuatkan minum Bayu. Sebenarnya Bayu tidak minat untuk mendapatkan jamuan namun sungkan untuk menolak pemberian.
"Rama nggak apa, Nak Bayu?" tanya Bu Ina lembut.
"Begini. Tadi Hans telepon saya bahwa Bang Rama pingsan setelah rapat selesai. Lalu, diantar pulang oleh Pak Hans, Hendra, dan Selvi. Karena Selvi memaksa, akhirnya ia yang membawa Rama dan mobilnya. Di tengah kemacetan, Hans dan Hendra yang mengekor mereka malah kehilangan jejak. Oleh karena itu, Pak Hans menghubungi saya untuk memastikan Bos udah pulang apa belum. Saya kira, mereka sudah sampai rumah duluan, tapi ternyata belum. Mungkin, sedang terjebak macet di jalan," papar Bayu.
Bu Ina dan Tiara pun tercengang mendengar Rama pingsan, lalu diantar pulang oleh Selvi. Wajah Bu Ina pun merah padam memendam kekesalan. Bagaimana mungkin ia tak murka mengetahui itu, bahkan Tiara belum genap sehari pulang ke rumah namun sudah disuguhi kabar seburuk ini.
Bu Ina dan Bayu pun sama-sama menatap Tiara yang menunduk. Rautnya berubah sendu dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuknya. Tak ada kemarahan di paras ayunya, hanya ada kecewa yang sangat jelas sedang menguasai dirinya. Tak ada kata yang keluar, hanya deru napas yang memberat menahan penat.
"Oke. Kita tunggu dulu kepulangan Rama," ucap Bu Ina menenangkan.
"Iya, Bu. Saya sudah mengerahkan orang-orang kepercayaan Bos untuk melakukan pencarian. Kalau saja ponselnya menyala, tentu saya sudah dapat melacak posisinya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa kepadanya," sahut Bayu berusaha santai.
"Apa Abang masih sayang dengan Selvi?" cetus Tiara spontan membuat Bu Ina dan Bayu terpegun sejenak.
"Nggak, Sayang. Rama itu benar-benar sayang dan cinta kamu," sahut Bu Ina sembari mengusap punggung menantunya.
"Bang Rama itu sangat sayang pada Mbak Tiara. Waktu ditinggal Mbak Tiara, Bang Rama udah kayak orang nggak waras," imbuh Bayu.
"Kalau sudah begini, aku harus bagaimana? Ketika Abang sakit begitu, malah Selvi yang ada di dekatnya dan menjaganya," sangkal Tiara tenang namun memendam kepedihan mendalam.
"Iya karena mereka rapat bersama. Wajar, Sayang. Lebih baik kita doakan Rama semoga cepat pulang dan tidak kenapa-napa," ujar Bu Ina merangkul menantunya.
"Tapi, Tiara nggak bisa tenang. Tiara membayangkan hal tidak-tidak terjadi kepada mereka," balas Tiara menatap mata Bu Ina.
"Iya, Sayang. Mama pun khawatir, tapi Mama juga tidak tahu kita harus berbuat apa. Kita doakan Rama aja ya," sahut Bu Ina memeluk menantunya.
Bayu pun memainkan ponselnya dengan gelisah karena orang-orang kepercayaan Rama tak kunjung memberi kabar, sedangkan Tiara semakin diam namun teramat mengkhawatirkan. Setelah Tiara, Bu Ina, dan Bayu melaksanakan salat Isya berjamaah, Bayu pun dikejutkan oleh ponselnya yang memperlihatkan pesan Rama.
Segera ia menyambar ponsel di meja ruang tamu keluarga Rama dan membuka pesan itu antusias. Matanya terbelalak melihat Rama mengirim foto Selvi yang sudah bertelanjang dada memunggungi Rama di kejauhan. Bayu langsung menyimpulkan bahwa mereka sedang ada di hotel.
"Ada kabar dari Abang, Om?" tanya Tiara yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Bayu.
Bayu pun terkejut luar biasa sampai lidahnya kelu kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Tiara. Selain itu, ia juga bingung bagaimana akan menjelaskan keadaan Rama karena Rama hanya mengirimkan foto Selvi yang bertelanjang dada tanpa sepatah kata pun. Hal itu tentu akan menyuguhkan prasangka macam-macam dan sangat menyayat hati nona kecilnya.
"Om," pinta Tiara mengharapkan jawaban.
Apa yang harus kukatakan padanya? Aku tak tega menunjukkan ini. Ronta batin Bayu.
...****************...
__ADS_1