
"Kamu bersama siapa? Siapa wanita itu?" tanya seorang wanita muda yang tiba-tiba menghadang mobil Rama.
Ceritanya begini. Rama menjemput Tiara ke kampus selepas ujian tadi. Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba saja ada mobil di belakang yang membunyikan klakson berkali-kali seakan memberi isyarat peringatan kepada mobil Rama. Rama sekilas melihat dari spion dan tetap santai mengendarai mobilnya.
"Abang, itu belakang kenapa? Dia kayaknya klakson ke kita deh," tanya Tiara gelisah sambil bolak-balik melihat ke belakang.
"Biarin," jawab Rama santai.
Mendadak, mobil itu mendahului mobil Rama dan langsung memotong jalan di depan Rama. Tiara pun kaget dan berteriak sekeras mungkin. Untung Rama cekatan dan sempat mengerem sehingga tidak terjadi kecelakaan. Tiara pun bisa bernapas lega.
Mobil itu pun menepi, Rama pun mengekor di belakangnya. Setelah berhenti, Rama pun bergegas keluar dari mobil tanpa mengindahkan berbagai pertanyaan Tiara yang penuh kecemasan. Rama terlihat santai meski matanya memendam kekesalan.
Keluarlah wanita sekitar 25 tahun dari mobil depan Rama. Dia langsung berlari dan memeluk Rama tanpa memedulikan tatapan orang di sekitarnya. Ia benar-benar memeluk Rama erat-erat seolah sedang melepas kerinduan yang sudah lama ditahan. Saat wanita itu hendak mencium Rama, Rama pun melengos dan wanita itu merajuk langsung melepas pelukannya.
Tiara pun membelalakkan matanya dan menelan ludah getir melihat adegan mesra Rama dengan wanita itu. Rasanya ingin berpikir bahwa wanita itu mungkin sepupu Rama namun hatinya telanjur patah sepatah-patahnya. Matanya berkaca-kaca tak dapat menyembunyikan lagi kekecewaan yang kini begitu mengoyak harapan yang baru tumbuh di hati terdalamnya.
"Kamu bersama siapa? Siapa wanita itu?" tanya wanita muda dengan tatapan sinis sambil menunjuk-nunjuk Tiara di mobil Rama.
"Dia istriku," jawab Rama dengan wajah dingin.
"Ha? Istri kamu bilang? Jadi, dia pelakor?" tuduh wanita itu.
Sebelum Rama menjawab, wanita itu terlebih dahulu berjalan cepat mendekati Tiara. Matanya nanar dan wajahnya berubah menjadi garang. Ia mengabaikan Rama yang memanggilnya dengan nama Selvi. Rama terus mengejar dan berusaha meraih tangannya namun dia selalu mengibaskan tangan saat Rama berhasil memegangnya.
Sesampainya di samping pintu mobil Rama, dia pun membuka pintunya lebar-lebar. Ia mendelikkan mata namun Tiara hanya berbalik menatapnya dengan sangsi.
"Hei pelakor, turun sekarang!" bentak Selvi sambil menarik lengan Tiara dengan kasar.
__ADS_1
Badan Tiara pun tertarik keluar dan hampir kehilangan keseimbangan karena kakinya masih nyeri. Tiara tidak sempat memberontak karena semua begitu tiba-tiba. Untung saja Rama segera datang dan menangkap tubuh Tiara yang limbung. Tiara memilih diam karena terlalu malas meladeni orang yang sudah dikuasai amarah.
"Cukup, Sel!" gertak Rama.
"Cukup apanya? Pantesan selama ini setiap aku minta kepastian, kamu selalu mengabaikan. Ternyata sudah ada simpanan. Setelah putus, langsung dapat istri ya. Hebat," sindir Selvi sambil bertepuk tangan kecil.
"Itu bukan urusanmu. Kita sudah selesai. Jangan pernah campuri urusanku lagi," tampik Rama dengan sikap tenang namun tatapan matanya sulit diterjemahkan.
"Jadi seleramu daun muda begini. Yang masih mudah sekali menyerahkan segalanya kalau udah jatuh cinta?" ejek Selvi sambil mencolek pipi Tiara.
"Pergi!" usir Rama kepada Selvi yang masih memandangi Tiara dengan tatapan benci.
"Dengan tubuhku yang molek begini saja kamu nggak terangsang, padahal cowok lain begitu menginginkannya. Bagaimana dengan dia yang tidak berbodi sama sekali? Cuma mau dijadiin peliharaan saja? Murah ya?" ucap Selvi terus melancarkan serangannya.
"Loh, kok malah membuka kedok sendiri. Berarti sudah coba merangsang lelaki yang bukan suami dong? Kok bisa tau lelaki lain menginginkannya?" ejek Tiara berusaha tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
"Kurang ajar. Jaga mulutmu! Jadi, kamu menuduhku cewek penggoda?" bantah Selvi semakin emosi.
"Baru jadi istri aja belagu," cerca Selvi.
"Udah jadi mantan aja masih belagu," sambut Tiara tak kalah pedas.
"Apa?!" teriak Selvi sambil menjambak rambut Tiara.
Tiara hanya meringis mencoba melepaskan tangan Selvi dari rambutnya. Selvi semakin membabi buta saat Tiara tersenyum penuh kemenangan.
"Selvi! Lepaskan!" hardik Rama terpancing emosinya.
__ADS_1
"Apaan sih malah membela pelakor ini. Gara-gara dia, kamu putusin aku. Gara-gara dia, kita batal menikah," sahut Selvi tak menggubris Tiara yang sudah mengaduh kesakitan.
Melihat Selvi semakin dikuasai amarah, Tiara malah tersenyum puas. Berbeda dengan Rama, ia berusaha meleraikan mereka namun begitu sulit. Ia kikuk saat beberapa pejalan kaki menatap mereka dengan berbagai ekspresi, ada yang tersenyum, ada yang bingung, ada yang menggeleng-gelengkan kepala, bahkan beberapa dari mereka pun mengomentari dengan pedas. Rama pun menahan malu sambil menahan diri untuk tidak kasar kepada wanita.
"Cewek sekarang ngeri. Kalau sudah rebutan laki, mereka bakal rela mempermalukan diri," ucap salah satu pejalan kaki.
"Iya memang," sahut orang yang ada di sebelahnya.
Rama terus mencoba melepaskan tangan Selvi dari rambut Tiara namun Selvi malah semakin tidak terkendali. Rama pun mulai terbawa emosi karena bingung harus menyikapi situasi ini.
"Cukup menyebut istriku pelakor. Kamu pikir, aku nggak tau kelakuanmu selama ini? Menjadi simpanan bosmu sendiri yang udah jelas dia beristri. Kamu pikir aku bisa dibodohi? Paham sekarang?" papar Rama dengan nada tinggi.
"Aku bisa jelaskan, Ram. Semua tidak seburuk yang kamu pikirkan. Lagian, kamu pasti masih sayang banget kan sama aku? Kita pacaran dua tahun loh," bela Selvi sambil melepaskan rambut Tiara.
Tiara pun mengusap kepalanya yang sakit. Ia segera duduk di jok mobil untuk menenangkan diri.
"Cukup! Aku nggak mau penjelasan apa pun. Yang jelas sekarang aku sudah beristri dan jangan mengganggu ketenanganku lagi," ancam Rama.
"Kamu pikir, aku akan terima begitu saja dua tahun kita yang kamu sia-siakan? Tidak semudah itu. Tidak mudah juga kamu untuk mencintai wanita lain di secepat ini. Kamu pasti akan kembali kepadaku," sahut Selvi penuh percaya diri.
"Persetan!" ucap Rama sambil kembali ke mobilnya.
Rama melajukan mobilnya lebih cepat agar segera menjauh dari Selvi. Ia tahu Selvi akan semakin banyak bicara jika terus ditanggapi. Tiara juga sepertinya sangat antusias ketika melihat Selvi terbawa emosi sehingga Rama kesulitan meleraikan mereka.
"Abang, mantanmu cantik ya? Bodinya bagus? Sayangnya, dia kasar," ucap Tiara menutupi kegundahan hatinya.
"Cukup bicara tentang dia atau kamu kuturunkan di sini!" ancam Rama.
__ADS_1
Tiara pun langsung menutup mulut rapat-rapat. Sikap dingin Rama pun kembali dengan lebih mengerikan. Berkali-kali, Rama memukul kemudi sambil menggeram kemudian menghembuskan napas dengan kasar.
...****************...