Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Antara Penyesalan dan Kebimbangan


__ADS_3

Bu Ina pun melepas pelukannya dan menatap putranya dengan tatapan murka. Bu Ina bahkan tak dapat menghentikan air matanya membayangkan bagaimana hancurnya hati Tiara saat ini.


"Rama, apa sih yang ada di pikiranmu? Mama nggak habis pikir. Ngapain juga mengurusi bahkan membiayai pengobatan Nafisa. Kamu itu udah beristri. Bersikaplah layaknya suami yang bisa dipercaya ucapannya dan dipegang janjinya. Walaupun dia cinta pertama atau temanmu, tetap saja kamu tidak pantas melakukannya," hardik Bu Ina.


"Tapi, Tiara juga sudah mengetahui pun menyetujuinya, Ma. Kami udah membicarakan ini dan sepakat membantunya karena rasa iba semata. Rama udah nggak ada perasaan apa pun kepadanya. Pertolongan Rama ini karena pure rasa pertemanan aja, Ma," bantah Rama membela diri dan mengatakan yang sejujurnya.


"Tapi, hal semacam ini tidak seharusnya kamu lakukan, Rama. Terlebih, Nafisa adalah wanita dari masa lalumu. Kalau sampai Tiara tahu bagaimana kalian dulu, apa kamu bisa menjamin dia tidak sakit hati? Kamu itu jangan gegabah mengambil keputusan. Pertimbangkan dulu matang-matang. Sebelum kamu memutuskan membiayai, apakah kamu sudah berdiskusi lebih dulu dengannya?" nasihat Bu Ina memuntahkan segala kekesalannya.


Rama berusaha mengingat-ingat kejadian di kereta. Rama pun menyadari jika memang langsung memutuskan saat mengetahui keadaan Nafisa. Lalu, ia baru menyampaikan kepada Tiara setelah ia berjanji kepada Nafisa.


"Nggak, Ma. Rama bilang setelah berjanji dengan Nafisa untuk membiayainya. Rama refleks aja karena merasa kasihan dengan Nafisa yang bingung bagaimana membiayai pengobatannya. Tiara juga bilang kasihan dan sangat mendukung Rama melakukannya padahal Tiara tahu juga bagaimana masa lalu Rama dengannya," sahut Rama masih melakukan pembelaan walaupun sedikit terbesit penyesalan.


"Nah itu. Harusnya kamu berpikir di situ. Rama buka mata dan hati kamu lebar-lebar. Belajarlah lebih peka dengan istrimu. Dia itu tanggung jawabmu. Dia itu amanah yang harus kamu jaga sebaik-baiknya. Kalau kamu sudah berjanji kepada Nafisa, bagaimana Tiara bisa menolaknya? Apa yang akan kamu lakukan jika Tiara menolak? Apakah lantas kamu akan membatalkan janji yang telah lancang kamu ucapkan? Pasti, kamu tidak akan menjilat ludah sendiri dan berusaha terus membujuk Tiara sampai dia menyetujuinya, kan?Lebih penting mana sakit Nafisa atau hati Tiara?" tutur Bu Ina berusaha memberikan pemahaman kepada Rama dengan sudut pandangnya.


Rama hanya diam dan tak menyahut penuturan Bu Ina. Rasa bersalah mulai muncul semakin nyata serta berusaha mengobrak-abrik perasaan dan pikirannya.

__ADS_1


"Tidak bisa menjawab, kan? Lebih baik, lupakan Nafisa. Kalau sudah begini, tentu lebih baik jika kamu berhenti peduli padanya. Mama yang bukan ibu kandungnya saja bisa merasakan kesedihan yang mendalam di wajah Tiara tadi. Apa kamu buta, Rama? Tiara takkan berkata tidak untuk kepedulianmu kepada Nafisa karena hati Tiara sangat lembut, meskipun kadang keras kepala. Terlebih mereka sama-sama wanita, tentu Tiara bisa sedikit merasakan kesulitan yang dialami Nafisa. Di situlah yang membuat Mama salut dengan Tiara, dia pandai menempatkan diri dan mengesampingkan egonya demi menjaga perasaan orang lain. Apa kamu pernah memikirkannya? Istri kecilmu itu sungguh wanita dewasa yang dikemas dalam gadis kecil yang ceria dan manja. Dia takkan serta merta menunjukkan perasaan sedih, kecewa, atau ekspresi lain yang membuat cemas orang terdekatnya. Dia pandai menyimpan lukanya sendiri. Tidakkah kamu memikirkan sejauh itu tentang perasaannya? Sungguh, baru kali ini Mama sangat kecewa padamu, Rama," lanjut Bu Ina menggebu-gebu sampai kering air matanya.


"Maafkan Rama, Ma," sesal Rama sampai tak bisa berkata-kata hingga hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Rama karena memang benar yang dikatakan mamanya.


Rak tak dapat membantah atau membela diri lagi di hadapan Bu Ina. Ia sadari betul semua kesalahannya. Selama ini, ia selalu mengucapkan mencintai Tiara namun tak sedikit pun memikirkan bagaimana perasaan Tiara kepadanya, bagaimana perasaan Tiara terhadap sikapnya, dan hanya mementingkan balasan cinta dari Tiara tanpa berusaha memahaminya lebih dalam.


"Minta maaf kepadanya. Buang gengsi dan harga diri. Perasaan Tiara dan keutuhan rumah tangga kalian lebih berarti. Jangan sampai terlambat karena sakitnya penyesalan itu tak punya obat," tegas Bu Ina menyorot tajam putra bungsunya.


"Ma, bagaimana dengan janji pengobatan Nafisa yang sudah kepalang aku tanggung selama ini? Apakah begitu saja aku batalkan?" tanya Rama bingung dan mengharapkan pendapat dari sang mama.


"Perhatikan saja tampilan dan cara ayahnya bicara! Apakah mereka terlihat kekurangan uang? Tidak, kan? Bahkan ketika kamu menyinggung pengobatan Nafisa, dia tidak mengharapkan materi sebagai bantuanmu. Dia malah memintamu untuk menjadi menantu. Di mana logika yang selama ini kamu utamakan? Ayah Nafisa pensiunan dosen kampus ternama. Tentu tak mungkin jika tak punya simpanan di mana-mana selama bekerja. Kenapa kamu percaya begitu saja dengan Nafisa hanya karena cerita sedih rumah tangganya? Mudah sekali luluh dengannya namun sikapmu sering dingin kepada istrimu sendiri. Kamu pikir, Mama nggak memerhatikan kalian selama ini?" jawab Bu Ina masih meluapkan emosinya yang tak kunjung reda.


"Pikirkan sendiri. Selesaikan sendiri. Kamu yang sudah memutuskan jadi kamu harus menanggung konsekuensinya juga. Mama tidak ikut campur, tapi dua hal yang Mama mohon dengan sangat. Jaga Tiara lahir batinnya dan bertanggung jawablah layaknya seorang suami. Tiara sudah meninggalkan keluarganya demi berbakti kepadamu. Jangan karena masa lalumu, dia harus menanggung kekecewaan sendirian karena tak mungkin juga dia mengeluh kepada keluarganya apalagi Mama. Kamu itu satu-satunya orang yang harus bisa mendengarkan setiap keluhnya. Kamu harus memprioritaskan dia dalam setiap pengambilan keputusan. Jika dia sampai tersakiti oleh dirimu sendiri, maka hilanglah wibawa dan harga dirimu sebagai suami. Camkan itu!" sahut Bu Ina sambil berlalu dari hadapan Rama dengan penuh kekecewaan.


Sarapan di meja makan pagi itu pun dingin tanpa tersentuh satu pun tangan. Tak ada yang sempat memikirkan perut di pagi mereka yang sudah sarat kemelut. Rama pun duduk di ruang tamu dan merenungi sikapnya selama ini. Setelah dipikir-pikir, memang tidak sepantasnya ia berjanji semacam itu kepada Nafisa hanya karena Iba. Rama juga heran dengan dirinya yang begitu mudah iba kepada Nafisa padahal jelas-jelas kisah cinta dengan Nafisa sudah menorehkan luka yang mendalam baginya.

__ADS_1


Rama pun berandai-andai jika ia tak harus berkomunikasi lagi dengan Nafisa, mungkin Nafisa takkan masuk lagi ke kehidupannya. Kebaikannya kepada Nafisa ternyata telah disalahartikan sehingga membawanya ke prahara yang teramat pelik dan menguras perasaan. Ia tentu yakin untuk tetap setia kepada Tiara namun ia masih bimbang memikirkan solusi untuk pengobatan Nafisa yang kepalang ditanggungnya.


Rama pun menyandarkan punggungnya ke sofa dan menyeka wajah penuh gelebah. Ia segera mengambil ponsel di saku celana dan menelepon Bayu.


"Pagi, Bang. Abang baik-baik saja? Jam segini belum kelihatan batang hidungnya?" sapa Bayu sangat cerewet karena berbagai divisi sudah merusuhinya pagi-pagi untuk meminta tanda tangan Rama.


"Darurat, Bay. Handle semua. Aku sedang tidak baik-baik saja," suruh Rama tanpa basa-basi.


"Why, Boskyu? Apa sedang perang dingin dengan Nona Kecilmu?" tanya Bayu kepo sekali.


"Lebih rumit dari itu, Bay. Udah lah. Kepo amat. Kapan-kapan aku ceritakan kalau mau. Udah sana kerja! Bonusmu akan kutambah bulan ini. Kalau sampai ada kesalahan, kupangkas gajimu sampai tandas" jawab Rama langsung menutup teleponnya sebelum Bayu menyahutnya.


Rama membanting ponselnya di sofa dengan pelan. Ia mengusap dari sampai ubun-ubunnya yang panas karena banyak hal yang sedang dipikirkannya.


Oh Tuhan. Baru bisa mendapat harapan dari Tiara malah sudah ada aja masalahnya. Cobaan apa lagi ini. Bantu aku meluluhkannya dan bantu buat dia percaya bahwa cintaku hanya kepadanya. Doa dan harap Rama untuk menenangkan kemelut batinnya.

__ADS_1


"Tiara, aku mencintaimu!" bisik Rama sembari memejamkan mata.


...****************...


__ADS_2