
"Kak Ken, boleh minta waktunya untuk bicara sebentar?" tanya Tiara yang mendapati Kenzie sedang melamun di meja kerjanya.
Kenzie pun terhenyak dan tergagap mendengar pertanyaan Tiara yang tiba-tiba. Pasalnya, kehadiran Tiara pun luput dari perhatiannya sehingga begitu terkejut melihat Tiara yang sudan berdiri penuh harap. Sejujurnya, Kenzie masih sangat kecewa entah dengan dirinya sendiri yang bertahun-tahun memendam cinta dalam diam atau Tiara yang enggan terus terang sejak awal. Bahkan, Kenzie sampai rela memundurkan jadwal magangnya demi bisa KKN dengan Tiara. Ia sudah menyusun rencana untuk dapat satu kelompok dengan wanita pujaannya itu. Namun, takdir menghempaskan mimpi tertingginya hingga jatuh bebas ke dasar jurang.
"Nanti kalau bos marah, berpengaruh ke nilaiku, Mut," sahut Kenzie beralasan.
"Aku udah bilang kok sama Abang," bujuk Tiara sedikit memaksa.
Mendengar kata abang disebut oleh Tiara, hati Kenzie semakin hancur. Namun, tak ada yang bisa Kenzie sangkal karena memang tembok di antara mereka juga terlalu tinggi. Menjalin hubungan dengannya tentu hanya melahirkan bimbang tentang ke mana hubungan akan diarahkan.
"Ke kantin di roof top yuk!" ajak Tiara lebih lega walaupun sedikit tidak tega melihat ekspresi Kenzie yang sangat kentara kekecewaannya.
"Ayo," jawab Kenzie mengalah walaupun lemas bahkan semangatnya seakan habis dipangkas habis-habisan.
Kenzie berjalan mengekor Tiara dengan gontai. Beberapa karyawan memandangi mereka dengan tatapan masygul. Terlebih para wanita fans Rama dan baru-baru ini muncul fans Kenzie juga, mereka semakin iri kepada Tiara yang bisa dekat dengan dua lelaki tampan sekaligus. Mereka pun saling berbisik dan bertanya namun tak berani berspekulasi lebih lantaran terlalu bahaya jika sampai ke telinga Rama yang tak segan memecat karyawan yang berani menyenggol keluarganya.
Sesampainya di kantin roof top, Tiara memesan jus sirsak untuk dirinya dan jus alpukat untuk Kenzie. Kenzie menunduk memandangi meja kala duduk berhadapan dengan Tiara. Di sana, hanya ada mereka berdua karena memang belum jam istirahat belum tiba.
"Kak Ken, untuk soal tadi. Maafkan ya. Tapi, aku boleh minta tolong lagi?" tanya Tiara memohon.
"Lupakan. Minta tolong apa?" tanya balik Kenzie malas.
"Aku minta tolong. Rahasiakan dulu tentang status hubunganku dengan Bang Rama. Please!" pinta Tiara sambil menangkupkan tangan di depan wajah.
"Mengapa harus disembunyikan? Bukankah itu hal yang membahagiakan?" sangsi Kenzie berusaha tetap tenang dan menatap Tiara sangat dalam.
"Iya suatu saat akan kupublikasi, tapi memang belum untuk saat ini. Aku belum siap aja," jawab Tiara tak berani menatap Kenzie.
"Kalau belum siap, kenapa harus menikah secepat ini? Harusnya, nikmati dulu masa mudamu karena setelah menikah tentu duniamu berbeda. Karena perjodohan? Kalau belum siap, apa tidak bisa menolak dari awal?" tanya Kenzie sangsi.
"Udah wasiat. Awalnya, emang perjodohan dan sekadar menjalankan wasiat. Lama-lama, kami bisa bertahan dan mulai memahami peran masing-masing," jawab Tiara lebih halus.
"Tapi, kalau disembunyikan seperti ini malah bisa menimbulkan kesalahpahaman. Bagaimana kalau ada yang berusaha mendekatimu? Bagaimana kalau sikap ramahmu disalahpahami sebagai perhatian oleh orang yang mengagumimu? Akan ada korban atas kebohonganmu sekali pun tak kamu sengaja," cerocos Kenzie terbawa suasana.
"Siapa juga yang mengagumiku sampai sebegitunya. Tidak udah berlebihan. Toh, aku hanya meminta tolong untuk menjaga rahasia ini sementara. Suatu saat juga aku akan membuka semuanya. Jadi, please, Kak. Nggak usah berpikir macam-macam, bahkan sampai segitunya," timpal Tiara sewot.
"Bukan apa-apa. Aku hanya kecewa. Kamu tentu tahu persis bagaimana perasaanku padamu. Kamu tahu bagaimana harapanku untuk bersamamu selama ini. Kalau kamu bilang dari awal, setidaknya aku sadar diri dan tak berharap lebih untuk mencari solusi supaya kita bisa bersama. Sikap manismu, perhatianmu, bahkan tutur lembutku terasa begitu istimewa di mataku hingga harapanku meninggi seiring berjalannya waktu. Tapi, di sini aku tak menyalahkanmu sama sekali. Mau diam-diam atau terang-terangan tentang kehidupan tentu itu hakmu. Aku hanya kecewa pada diri sendiri yang gagal membaca keganjilan hubungan kalian dari saat kita bertemu selepas nonton itu," papar Kenzie dengan mata berkaca-kaca namun ditahan sekuat tenaga.
"Maaf, Kak Ken. Kalaupun aku belum menikah, tetapi tembok kita terlalu tinggi. Walaupun aku pernah begitu mengagumimu, bahkan mungkin mencintaimu, tapi aku cukup sadar diri untuk tak berharap lebih perihal kedekatan kita. Perasaan kita mungkin sama, amin kita sama, tapi iman yang membuat kita tak bisa bersama," sahut Tiara menunduk.
"Kalau kamu memberiku kesempatan untuk berjuang bersama, tentu aku akan mencari solusi untuk hubungan kita. Kalau sejak awal kamu mau denganku, tentu aku sudah sangat serius denganmu," sangkal Kenzie.
"Mau serius yang bagaimana, Kak? Kalau orang tua kita tahu tentu sulit juga mendapat restu mereka. Aku di masjid, Kak Ken di gereja. Bagaimana kita bisa selaras dan sejalan? Harapan kita mungkin sama, tapi kiblat kita aja udah beda, Kak. Mau dibawa ke mana hubungan kita?" bantah Tiara sedikit meninggi.
"Kita bisa bicarakan. Salah satu dari kita bisa mengalah," cetus Kenzie meyakinkan.
"Tapi, aku nggak mungkin mengalah. Kalau memang mau denganku, tentu kamu harus mengikuti keyakinanku. Lagian, udah lah. Semua udah lewat, Kak. Kamu pasti bisa dapat yang jauh lebih baik dari aku," timpal Tiara mulai malas.
"Tapi, perasaanku padamu masih sama, Mutia," protes Kenzie.
"Tapi statusku udah beda, Kak," bela Tiara tak mau kalah.
__ADS_1
Kenzie menghela napas dalam, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Berkali-kali, diulangi teknik pernapasan itu dan berangsur membaik suasana hatinya.
"Oh iya. Kamu udah jadi istri orang hebat. Pak Rama sangat pantas bersanding denganmu. Kalian sangat serasi dan terlihat sempurna sekali. Mungkin butuh waktu untuk bisa melupakanmu, tapi aku akan selalu mendoakan agar rumah tangga kalian selalu harmonis dan bahagia," ucap Kenzie mereda.
"Terima kasih, Kak," sahut Tiara sekenanya.
"Sebelum aku benar-benar melupakanmu, apakah aku boleh mengungkapkan sesuatu?" tanya Kenzie pura-pura tersenyum.
Tiara pun mengangguk pelan.
"Mutiara, maafkan aku yang terlambat datang dan terlalu pengecut sehingga tak pernah berani memberimu kepastian. Maafkan aku yang sudah menyalahartikan semua sikap, tutur lembut, dan perhatianmu seakan kamu mengistimewakanku selama ini. Awalnya, aku mungkin begitu takut sewaktu mengetahui kamu sangat mengagumiku karena aku tak tahu bagaimana harus menyikapimu. Takut jika suatu saat akan menyakitimu dan mengecewakanmu. Jadi, maafkan aku yang sempat menghindarimu. Saat ini, aku sadar betul bahwa perasaanku padamu tak sekadar kekaguman semata namun aku bisa memastikan jika ini adalah cinta. Aku punya harapan besar tentang masa depan kita. Aku punya harapan besar agar kita bisa bersama. Aku terlalu percaya diri bahwa kamu masih sangat mencintaiku. Akan tetapi, kenyataan telah menebas semuanya. Menghempaskan semua harapan sampai ke titik terendah di kehidupanku. Aku kecewa, tapi bukan padamu. Aku kecewa pada diriku sendiri. Untuk terakhir kali, aku ingin mengatakan ini dan takka mengulangi lagi," ucap Kenzie menjeda ucapannya, sedangkan Tiara masih menatap Kenzie dengan mata berkaca-kaca.
Tiara tak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Entah simpati, empati, iba, kasihan, atau apa pun itu. Yang jelas, Tiara seakan dapat merasakan kepedihan lelaki yang pernah merajai hatinya selama beberapa tahun itu. Walaupun ternyata masih ada sedikit getaran ganjil yang timbul namun ia tetap meyakinkan diri sendiri bahwa Kenzie hanyalah masa lalu yang mengenalkan kepadanya tentang cinta.
"Mutiara, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maafkan aku yang tak tahu kapan bisa berhenti mencintaimu. Namun, aku yakin bahwa aku akan menemukan kebahagiaanku seperti kamu menemukan Pak Ramamu. Aku berjanji akan menjaga rahasia kalian sampai waktunya tiba. Semoga kamu selalu bahagia dan doakan aku juga bisa menemukan wanita sepertimu. Terima kasih udah dengerin sisi rapuhku," lanjut Kenzie sembari tersenyum namun matanya menitikkan beberapa buliran air yang sengaja dilepaskannya.
"Bukan wanita sepertiku, tapi wanita terbaik untukmu. Aku nggak sesempurna itu. Kamu pantas mendapat yang lebih dari aku. Terima kasih untuk ungkapanmu. Aku sampai tak tahu bagaimana harus membalasnya namun aku pun berdoa untuk kebahagiaanmu," sahut Tiara tak bisa berkata-kata lebih dari itu karena memang ia sadar betul statusnya sebagai istri.
Sebenarnya, banyak juga yang ingin diungkapkan Tiara terhadap Kenzie namun ia memilih memendam dalam-dalam dan menganggapnya masa lalu belaka. Tak ada yang perlu dibahas lagi tentang perasaannya kepada Kenzie karena semua sudah usai. Tiara dan Kenzie pun menunduk memandangi minumannya masing-masing sembari sibuk menenangkan diri.
"Sayang," panggil Rama mengusap punggung Tiara.
Tiara dan Kenzie pun tersentak hebat mengetahui kehadiran Rama yang sangat tiba-tiba. Bahkan, keduanya serempak mengangkat wajah dan menatap Rama dengan keterkejutannya. Rama berusaha tetap menenangkan diri walaupun hatinya sungguh meradang karena telah mendengar ungkapan cinta Kenzie kepada Tiara. Untung saja, Tiara tak menanggapi lebih sehingga ia bisa mengendalikan kecemburuannya. Rama sebenarnya takut jika Tiara masih menyimpan rasa kepada Kenzie namun tak berani mengutarakan karena menyadari statusnya sebagai istri.
"Iya, Abang," sahut Tiara lembut dam menatap Rama dalam-dalam.
"Kamu kuantar pulang sekarang? Atau mau ikut rapat bersama Bangn Jaya Group?" tanya Rama memberikan pilihan.
"Mau pulang sekarang atau masih ada yang mau dibicarakan dengan Kenzie?" tanya Rama sedikit cemburu.
"Udah selesai kok, Pak. Ada yang masih harus saya kerjakan juga. Jadi, saya pamit ya, Pak Rama, Mutia," jawab Kenzie menyambar karena sangat tidak nyaman berada di tengah-tengah Rama dan Tiara.
Setelah Rama memberi izin, Kenzie pun pergi dengan langkah berat menahan sakit luar biasa. Rasanya seperti mimpi mengetahui Tiara sudah bersuami dan tak pantas lagi untuk dicintai.
"Kenapa panggilannya sangat berbeda dengan yang lain? Panggilan sayang?" tanya Rama selidik.
"Apaan sih Abang. Bukannya itu wajar? Dia memanggilku Mutia. Kan memang namaku Mutiara. Kalau dia panggil aku honey, darling, sweety, barulah kamu patut cemburu," jawab Tiara menegaskan.
"Aku nggak cemburu, Ra," bantah Rama tak terima.
"Kalau nggak cemburu, terus apa namanya?" tanya Tiara memancing.
"Iya kan cuma tanya aja," jawab Rama menutupi kegugupannya.
"Terserah. Yang penting, antar aku pulang dulu. Aku udah kangen sama Mama," desak Tiara.
"Nggak kangen sama aku?" tanya Rama berharap.
"Nggak. Abang nyebelin. Sana lah, rapat terus-terusan sama mak lampir," jawab Tiara ketus.
"Iya bagaimana lagi. Emang ini udah telanjur jalan proyeknya. Jangan cemburu gitu," bujuk Rama memohon.
__ADS_1
"Iya kan sah-sah aja aku cemburu. Aku ini istrimu, dia mantanmu," tekan Tiara sambil berdiri dan menyorot tajam ke mata Rama.
"Sayang," panggil Rama sambil menggenggam kedua tangan Tiara namun Tiara mengibaskan pelan-pelan.
"Udah. Ayo pulang! Aku pengen dimanja sama Mama," ajak Tiara merajuk.
"Nggak pengen sama aku?" goda Rama.
"Hisss," desis Tiara sambil melirik sinis Rama.
"Kangen, kan?" rayu Rama sambil menggelitik pinggang Tiara.
Tiara pun tak bisa menahan tawanya. Saat Tiara terkikik dan menghindar, Rama semakin menjadi-jadi menggodanya.
"Abang, stop. Malu. Ini di kantin bukan di kamar," ucap Tiara memberontak kala Rama berhasil mendekapnya erat.
"Tapi, ini kan kantorku jadi bebas dong aku mau ngapain. Lagian, kamu juga istri dan akan kutunjukkan pada semua kalau aku bangga memilikimu," ucap Rama sambil menatap manja istri yang ada di dekapannya.
"Gombal," sahut Tiara menyembunyikan pipinya yang merona dan mengalihkan pandangannya kepada selain Rama.
Tentu, ia sangat bahagia mendengarkan ungkapan Rama yang memang tulus apa adanya. Tiara pun memberontak dan melepaskan diri dari Rama karena beberapa pegawai kantin berbisik-bisik seraya memandangi mereka sekilas namun berkali-kali mengulanginya. Tiara tak berani menatap mata Rama karena tentu tak baik untuk kesehatan jantungnya.
Mendapati Tiara salah tingkah dan gugup, Rama pun mencolek pinggang Tiara hingga Tiara menghindar kegelian. Terpaksa Tiara harus memukul dada Rama agak keras untuk menghentikan gelitikan Rama.
"Ih, Abang. Malu dilihat orang. Abang, ini di kantor. Abang harus profesional," protes Tiara pura-pura merajuk dan melipat tangan di dada.
"Iya kenapa? Mau di kantor, di rumah, di jalan, di kolong jembatan, di mana pun, kamu kan tetap istriku," sahut Rama melirik manja istrinya.
"Aih. Abang, ayo pulang aja!" ajak Tiara menarik tangan Rama untuk pergi dari kantin.
"Kenapa buru-buru? Bukankah kamu mau lebih lama denganku?" ledek Rama membuat Tiara berhenti dan melepaskan genggaman tangannya.
"Katanya tadi mau rapat sama mantan, malah terus-terusan menggodaku," tukas Tiara lirih namun sangat tajam.
"Sayang, ayo ikut aja lah daripada cemburu begini," ajak Rama.
"Ogah," tolak Tiara telak.
"Iya kalau nggak mau, nggak usah bilang begitu," bujuk Rama tak nyaman dengan ucapan Tiara.
"Iya udah. Ayo pulang Abang. Aku beneran capek," desak Tiara kembali menarik tangan suaminya yang masih berbasa-basi.
"Iya. Iya. Duh kalau dah rewel, susah ini," sahut Rama mengalah.
"Jadi, aku menyusahkanmu? Ya udah, aku pulang sendiri aja," simpul Tiara melepaskan genggamannya dengan kasar dan memanyunkan bibirnya.
"Duh salah ngomong lagi. Bukan begitu, Sayang. Ya udah ayo aku antar pulang. Kamu udah kangen Mama, kan?" tutur Rama mencoba meredam emosi Tiara.
"Nggak usah. Pulang sendiri aja," sahut Tiara sambil terus berjalan cepat tanpa memedulikan panggilan suami yang mengekornya dengan susah payah.
...****************...
__ADS_1