Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Salah Paham


__ADS_3

Malam dilewati Tiara dan Rama dengan damai. Tanpa kemesraan menjelang tidur. Tanpa ucapan selamat malam. Hanya ada sisa lelah perjalanan di wajah lelap mereka yang tidur berjauhan saling memunggungi di tepi kasur. Beberapa kali Rama bangun karena selimut tergulung ke badan Tiara. Beberapa kali juga ia membenarkannya namun Tiara tetap mengulangi hal yang sama. Saat Tiara bangun untuk salat Subuh, semua masih normal aman terkendali. Kemudian, ia memilih tidur lagi setelah menyerah membangunkan Rama yang tidurnya seperti orang pingsan.


Tiba-tiba, Tiara terjaga karena tidak bisa menggeliat. Badannya serasa diikat dan tak bisa bergerak namun hal itu membuatnya terasa lebih hangat di pagi yang begitu dingin. Kelopak matanya seolah membeku hingga enggan membuka. Tangan Tiara tergerak untuk meraba benda besar di depannya dan merasakan seperti sebuah tubuh manusia.


Tiara langsung membuka mata saat merasa ada yang ganjil di depannya. Benar saja, Tiara tertidur di dekapan Rama. Karena kaget, Tiara pun refleks mengguncang Rama hingga membuat Rama terjaga dari mimpinya.


"Abang, mesum!" teriak Tiara sambil mendorong suaminya sekuat tenaga.


Rama yang belum sepenuhnya sadar pun tak punya kesiapan untuk menahan serangan Tiara. Ia pun jatuh ke lantai dalam posisi duduk karena tangannya sempat refleks menahan agar tak jatuh dalam posisi terlentang. Setelah terduduk di lantai, ia langsung memegangi pinggang dan pantatnya bergantian karena pegal-pegal.


"Apaan kamu sih, Ra? Nggak usah lebay deh," seru Rama emosi.


"Iya Abang ngapain peluk-peluk aku? Kan aku kaget," tanya Tiara sambil turun dari kasur.


Tiara mengulurkan tangan dengan penuh penyesalan. Ia merasa kasihan kepada Rama dan ingin membantunya berdiri. Namun, Rama menepis tangannya dan memilih berdiri sendiri meski pelan-pelan.


"Nggak usah! Aku bisa sendiri," ucap Rama ketus.


Rama pun berdiri dengan mencondongkan badan ke depan untuk menahan pegal di pinggang dan pantatnya. Setelah itu, dia berjalan menuju rokok dan koreknya di meja samping televisi.


"Kamu bisa nggak sih biasa aja. Kita ini udah suami istri. Lagian, tadi malam kan kamu yang deket-deket aku. Kamu yang melanggar batas yang kamu bikin sendiri. Kamu yang mendekat mencari tempat hangat. Kenapa jadi aku yang salah dan aku yang jadi korban?" decak kesal Rama.


Tiara melihat ke tempat tidur, ia pun menyadari kalau memang ia yang mendekat ke arah Rama. Ia pun hanya tertunduk diam mendengar omelan Rama karena ia mulai merasa bersalah dan Rama juga terlihat sangat marah. Ia sama sekali tidak berani menatap Rama karena takut melihat tatapan tajam Rama. Sesal tentu sedang menguasai perasaannya namun bagaimana lagi karena semua sudah terjadi.


"Sekali lagi aku peringatkan. Kamu nggak usah khawatir aku akan berbuat macam-macam tanpa persetujuanmu. Kalau kamu anggap pernikahan ini hanya mainan atau sekadar perjodohan hitam di atas putih, terserah. Bagiku, pernikahan ini sungguhan dan aku akan menjalankan peran sebagaimana mestinya. Kamu juga nggak usah terlalu kekanak-kanakan dan melebihkan hal yang sebenarnya sepele. Tolong, bersikaplah lebih dewasa!" tegas Rama penuh penekanan.


Mendengar peringatan dari Rama, Tiara tak bisa lagi berkata-kata. Meskipun yang dikatakan Rama memang ada benarnya, tetapi hatinya sudah telanjur hancur dan tersinggung dengan ucapan Rama yang penuh penekan seolah kesalahannya sulit dimaafkan. Matanya memanas dan pandangannya mulai buram. Ia tundukkan lagi kepala lebih dalam untuk menahan air mata yang sudah menggantung di sudut matanya.


"Udah. Mandi sana biar gantian. Aku mau merokok dulu di depan," suruh Rama merendahkan suaranya.


Tiara pun mengangguk dan Rama berlalu dari hadapannya. Selepas kepergian Rama, Tiara pun membiarkan air matanya menjatuh dan menangis tanpa suara. Tiara segera mengambil baju ganti dan berlari ke kamar mandi sebelum tangisnya tak terlihat oleh Rama. Di sana, tangisnya semakin pilu dan terisak hingga ia menggigit bibir agar rintihannya tak terdengar sampai keluar.

__ADS_1


Selama ini, Tiara memang sangat dimanja keluarganya. Tidak ada yang bicara sekeras itu padanya sehingga ia teramat terluka dengan sikap dan ucapan Rama. Meskipun, Rama memang selalu dingin dan cuek namun ia baru kali ini merasa sakit hati sampai di dada terasa sesak sekali.


Setelah selesai mandi, Tiara merasa suasana hatinya lebih baik walaupun matanya sangat merah dan sembab seperti habis disengat lebah. Ia ngeri sendiri melihat pantulan dirinya di cermin hingga bingung bagaimana harus menunjukkan wajahnya di depan Rama.


Pelan-pelan, Tiara memberanikan diri keluar dari kamar mandi dan Rama masih berdiri di balkon sambil merokok. Ia segera berlari ke koper untuk meletakkan pakaian kotornya ke tas yang sudah disiapkannya. Setelah itu, ia mulai memakai skincare dan menambahkan bedak tipis serta lipstik untuk menutupi bekas tangisnya.


...****************...


Sebatang rokok telah habis, Rama pun menghirup udara pagi Lembang yang sangat sejuk. Emosinya kian mereda, meskipun pinggang dan pantatnya masih agak nyeri jika dibawa bergerak. Ia masuk ke kamar dan mendapati kamar sudah rapi namun tak menemukan Tiara di sana. Ia pun masih berpikir Tiara akan segera kembali sehingga ia menunggunya sambil mandi.


Setelah Rama selesai mandi, Tiara belum juga kembali. Terbesit dalam pikiran Rama tentang rasa khawatir sekaligus menyesal telah bicara sekeras itu kepada Tiara. Ia sedikit menyayangkan sikapnya namun ia merasa jika tidak dengan cara itu, Tiara akan sulit menyadari kesalahannya. Kadang, sikap kekanak-kanakan Tiara memancing amarahnya karena suka berbuat semaunya, suka membantah, dan hanya ingin dimengerti tanpa mengerti lebih dulu.


Rama keluar kamar terburu-buru setelah berbenah diri dan mengikat rambut sekenanya. Ia tak sempat berpikir mau mencari Tiara ke mana namun ia tetap berjalan dan berharap segera menemukannya. Tidak lucu kalau sampai Bu Ina atau orang Tiara menelepon dan ia harus mengatakan Tiara minggat setelah dimarahi olehnya. Saat sampai di lobi, ia tak sengaja menemukan Tiara yang sedang duduk seorang diri di resto hotel yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mempercepat langkah untuk mendekati Tiara.


Tiara tak menyadari Rama duduk di depannya karena sedang asyik dengan ponsel. Penyesalan Rama semakin dalam saat melihat wajah Tiara yang sangat sendu dengan bekas tangis yang masih nampak walaupun sudah dipoles make up. Rama pun meletakkan ponselnya di meja dan barulah Tiara menyadari kehadirannya. Tiara mengangkat wajahnya dan menatap Rama.



(Sumber: Pinterest)


"Mau makan apa? Biar aku ambilkan," tanya Rama harap-harap cemas.


Tiara menggelengkan kepala. Ia hanya diam, meski tatapannya masih lekat kepada Rama.


"Makan. Nanti sakit," bujuk Rama memohon.


Tiara menggelengkan kepala lagi. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya keluar untuk melihat taman yang dilihatnya kemarin dari kejauhan. Perlahan-lahan, ia lepaskan tangannya dari genggaman Rama. Rama pun membiarkan walau sempat sejenak menahannya.


Tanpa bicara, Rama pun berdiri. Ia berjalan menuju tempat penyajian sarapan. Diambilnya semangkuk sereal, segelas susu, dan semangkuk salad buah ukuran kecil untuk Tiara. Untuk dirinya, ia mengambil secangkir kopi susu panas, satu porsi waffle, dan satu buah croissant.


Setelah makanan sudah tertata di meja, Tiara masih diam dan menatap taman walaupun pikirannya menerawang jauh entah ke mana. Rama pun dibuat buntu oleh sikap diam Tiara yang ternyata lebih rumit.

__ADS_1


"Makan. Udah kuambilin, nanti mubazir," bujuk Rama hampir putus asa.


"Nanti," jawab Tiara dengan suara parau dan sama sekali tidak menengok ke arahnya.


"Tiara," panggil Rama.


"Iya," jawab Tiara masih dengan sikap dinginnya.


"Tiara, lihat aku!" pinta Rama.


"Untuk apa?" tanya Tiara.


Rama beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke samping Tiara. Ia memegang bahu Tiara dan memutar badanya dengan paksa agar Tiara mau melihatnya. Setelah berhasil membuat Tiara berbalik, perasaannya semakin tak menentu mendapati Tiara telah berkaca-kaca dan sedang menahan air matanya. Rama usap kedua pipinya dengan lembut.


"Maafin aku. Aku udah terlalu kasar bicara padamu. Aku minta maaf ya," ucap Rama menatap tajam ceruk mata Tiara.


Tiara pun mengangguk dan dua tetes air lolos dari sudut matanya. Sebelum air mata itu menjatuh, Rama terlebih dahulu menghapusnya.


"Udah lebih tenang?" tanya Rama.


"Udah," jawab Tiara tersenyum tulus.


"Ya udah. Sarapan dulu ya," bujuk Rama.


"Iya, Abang," sahut Tiara kembali ceria.


Setelah berterima kasih kepada Rama yang telah mengambilkan sarapan, Tiara menuangkan susu ke mangkuk serealnya dengan semangat. Perlahan-lahan, bekas tangisnya memudar tersamar oleh matanya yang kembali bersinar.


Rama pun kembali ke tempat duduknya dengan penuh kelegaan. Akhirnya, ia bisa bernapas lagi dengan tenang.


__ADS_1


(Sumber: Pinterest)


...****************...


__ADS_2