Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Kembalinya Teman Lama


__ADS_3

"Tiara, barang-barangmu di kos bagaimana? Kapan mau dibawa pulang?" tanya Bu Ina sambil menuangkan air putih di gelasnya sendiri.


"Belum tahu, Ma. Tiara sih udah bayar buat dua minggu," jawab Tiara dengan mulut masih penuh dengan makanan.


"Nanti pulang kerja, kamu kemasi barang-barangmu. Sepulang kantor, aku jemput ke sana. Nggak banyak barang-barangmu, kan?" titah Rama menginterupsi.


"Oke, Abang. Nggak sih paling pakaian sama sepatu aja. Aku nggak kayak anak kos pada umumnya," sahut Tiara cengengesan.


"Iyalah. Kalau banyak barang tentu repot bentar-bentar pindah ya?" sindir Rama bercanda.


"Habisnya Abang nyebelin sih," ejek balik Tiara merengut.


"Udah. Pagi-pagi nggak usah debat, nanti repot malah kalau telat. Lanjutkan sarapan, terus berangkatlah kalian," seru Bu Ina menengahi.


"Iya, Ma," jawab Tiara dan Rama serempak membuat Bu Ina tersenyum gemas.


"Abang sih," bisik Tiara ngeyel.


"Kok aku? Kamu lah," sahut Rama tak terima.


"Ehemm," dehem Bu Ina membuat Rama dan Tiara terdiam berhenti saling menyalahkan.


Setelah selesai sarapan, Rama dan Tiara berangkat bersama setelah berpamitan dengan Bu Ina yang sumringah melihat mereka kembali akur. Bu Ina sangat bersyukur rumahnya kembali ramai oleh celoteh Tiara yang membuat suasana lebih hidup.


"Pa, sekarang, aku udah tenang kalau suatu saat harus meninggalkan Rama. Tunggu aku ya, Pa," gumam Bu Ina dengan sebutir air mata lolos dari sudut mata kanannya.


...****************...


Di tempat lain, kericuhan terjadi di kediaman keluarga Pak Hadi. Keributan itu tentu dipicu oleh Pak Hadi dengan Arjuna. Bapak dan anak itu memang seperti gatal jika sehari saja tidak berdebat walaupun perdebatan mereka juga didominasi dengan keheningan. Hanya tatapan mereka yang begitu kentara kurang bersahabat.


"Papa tahu kamu suka dengan Tiara. Ayo kejar! Jangan kasih kendor. Segera ungkapkan atau selamanya akan kehilangan kesempatan," desak Pak Hadi menggebu-gebu.


"Nggak semudah itu, Pa. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba datang dan mengatakan suka pada Tiara. Aku saja belum tahu bagaimana perasaan Tiara kepadaku. Biarlah semua berproses secara alami. Santai saja, Pa," sahut Arjuna membela diri.


"Umur kamu dah sangat matang untuk menikah, Arjuna. Kamu ini pewaris tunggal perusahaan Papa. Mana mungkin Papa tenang kalau kamu belum mempunyai pendamping hidup. Kalau kamu cinta, perjuangkan. Jodoh nggak akan begitu saja jatuh dari langit. Arjuna, Papa sudah ingin punya menantu. Papa udah ingin menimang cucu. Rumah sangat sepi selepas kepergian Mamamu," nasihat Pak Hadi membujuk putra semata wayangnya.


"Rumah memang sepi, tetapi Papa nggak pernah kesepian, bukan? Papa malah lebih bebas bermain dengan wanita mana saja. Papa semudah itu berbicara tentang wanita karena memang itu sudah makanan sehari-hari Papa, doyan wanita. Aku nggak semudah itu, Pa. Aku nggak kayak Papa. Apa jangan-jangan Papa memaksaku mengejar Tiara karena dia incaran Papa? Untuk menutupi ambisi Papa, perasaanku tega dijadikan korban," bantah Arjuna sinis.


"Udah, Arjuna. Papa sedang malas berdebat. Kita fokuskan aja pembicaraan kita soal masa depanmu, soal perasaanmu. Papa memang tertarik dengan kinerja dan kecekatannya namun sama sekali nggak berpikir sejauh itu. Papa ini udah berkepala lima, udah nggak masanya memikirkan menikah. Sekarang, Papa tinggal memikirkan pernikahanmu, Arjuna," balas Pak Hadi meyakinkan.


"Nggak memikirkan menikah, tapi belum ada sebulan Papa tidur dengan wanita itu lagi, kan? Jangan kira Arjuna nggak tahu, Pa. Daripada Papa memaksa Arjuna menikah lebih baik Papa nikahi saja wanita itu. Memalukan. Nggak memikirkan menikah, tapi masih suka meniduri wanita. Kalau memang cinta, nikahi dia. Awalnya, aku muak karena wanita itu hanya memanfaatkan Papa untuk menjadi ATM berjalan dan memanfaatkan Papa untuk mendongkrak popularitasnya. Namun, makin ke sini, makin muak dengan tingkah kalian yang semakin amoral dan Papa juga memanfaatkannya untuk menuntaskan semua hasrat Papa. Baru sebentar dia menghilang dan aku lebih tenang, tiba-tiba hadir lagi dan membuat aku jengah melihat kalian. Sadar, Pa. Aku bersyukur Mama udah nggak ada, setidaknya tak usah lagi menahan sakit fisik dan hati karena penghianatan Papa," sarkas Arjuna membuat Pak Hadi terdiam.


Arjuna pun ikut menjeda perkataannya untuk menunggu jawaban dari Pak Hadi yang menatapnya sendu.


"Kenapa Papa diam? Nggak bisa jawab? Papa mengajarkanku tanggung jawab. Bagaimana dengan Papa?" tanya Arjuna sengit.


Pak Hadi menghela napas berat, kemudian berkata, "Papa sebenarnya juga ingin menikahinya, tetapi bukankah usia kita terpaut cukup jauh. Papa takut dia malu punya suami tua. Bahkan, dia malah lebih pantas bersanding denganmu."


"Malu mempunyai suami tua namun tak malu menidurinya. Lagian, kenapa Papa carinya yang muda? Bagaimana konsep hubungan kalian ini? Bukankah sama aja ajang pel@curan? Kalau memang Papa butuh teman hidup, carilah yang sepadan," tukas Arjuna menyorot tajam.

__ADS_1


Lagi-lagi, Pak Hadi tertegun mendengar penuturan tegas putranya. Ia pun tak tahu bagaimana perasaannya dan tak tahu bagaimana hubungan yang dijalaninya. Selama ini, ia biarkan semua mengalir dan saling memberi kepuasan tanpa satu pun yang membekaskan makna. Hanya mengikuti hawa nafsu tanpa harus memikirkan bagaimana jalan hidup mereka selanjutnya.


Sebenarnya, selama ini, hubungan Pak Hadi dan wanita itu hanya semacam simbiosis mutualisme. Wanita itu butuh relasi dan kekuatan kuasa Pak Hadi, Pak Hadi pun butuh wanita untuk memuaskan hasratnya. Lebih dari itu, mereka hanya seperti hubungan lelaki tua dengan wanita muda yang kebetulan bekerja di perusahaannya.


"Iya, Arjuna. Papa mengaku salah," sesal Pak Hadi tak berani menatap Arjuna saking kacau perasaannya.


"Ini alasan aku malas menjadi CEO. Kalau Papa fokus ke perusahaan yang satu saja, maka banyak peluang kalian bermain belakang. Kalau Papa harus bolak-balik sini, wanita itu nggak akan berani mendekati Papa. Mengapa Papa jadi begini? Aku seperti nggak mengenal sosok Papaku lagi," tegas Arjuna serius.


"Atau kamu mau menjadi CEO di Hadi Agency?" tanya Pak Hadi kehabisan kata-kata.


"Nggak! Nggak akan aku mau menjadi CEO di perusahaan jahanam itu. Perusahaan yang telah menghancurkan hati Mama. Perusahaan yang udah merenggut keharmonisan keluarga. Untuk apa aku bertahan di tempat yang menyimpan duka dan luka mendalam bagi perasaan Mama?" jawab Arjuna dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf," ucap Pak Hadi lirih dan tak seangkuh biasanya.


Arjuna pun terdiam mencoba menata perasaannya. Menatap Pak Hadi yang penuh sesal dan kebimbangan membuat Arjuna sedikit merasa bersalah telah mengeluarkan segala kepenatannya. Namun, ia melakukan itu semata-mata untuk menyadarkan kembali Pak Hadi dari tindakan menyimpangnya. Ia pun memutar otak untuk membangun topik untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka.


"Aku berharap Papa berubah. Kalau memang tak ada akhir pasti, akhiri hubungan kalian. Emang Papa mau terus terjerumus dalam perilaku yang menyimpang semacam itu?" tanya Arjuna mereda emosinya.


"Papa usahakan, Arjuna. Lalu, bagaimana denganmu dan Tiara? Hidup Papa udah hancur namun Papa ingin mengusahakan yang terbaik untukmu," tanya Pak Hadi mencoba membuka kata.


"Pa, aku butuh waktu. Lagian, Tiara nggak menunjukkan respon apa-apa terhadap sikapku. Sikap dia kepadaku sama saja dengan sikap dia kepada yang lainnya. Aku merasa dia nggak ada perasaan yang lebih terhadapku," ucap Arjuna merendahkan suara.


"Bagaimana kamu tahu perasaan dia seperti itu? Wanita itu memang suka malu-malu tak bisa menunjukkan perasaannya secara jujur sebelum mendapat kepastian dari lelaki yang dicintainya. Lelaki untuk tahu perasaan wanita harus langsung menanyakan kepadanya. Kalau kamu hanya mengandalkan perasaanmu dalam melihat sikapnya, akan banyak kemungkinan keliru dan salah sangka. Kalau dia punya perasaan terhadapmu, apakah kamu mau serius dengannya?" tanya Pak Hadi memastikan.


Sejenak, Arjuna terdiam menimbang-nimbang. Bola matanya berputar-putar penuh keresahan. Dalam hati, ia dapat merasakan getaran ganjil setiap mengingat tentang Tiara namun juga belum dapat memastikan apakah itu sekadar kagum atau memang cinta.


"Kalau memang cinta dan dia juga mengakui hal yang sama, pertahankan ia bagaimanapun keadaannya. Kenali dia dari hatinya, bukan dari yang terlihat oleh mata atau dari cerita manusia. Dengarkan ceritanya, barangkali kamu akan menemukan rahasia yang tersimpan di balik realita," petuah Pak Hadi membuat Arjuna mengangguk-angguk.


"Iya, Pa. Ya udah. Ini udah waktunya berangkar. Aku duluan ya, Pa," pamit Arjuna.


"Iya, Arjuna. Hati-hati," sahut Pak Hadi lemas.


...****************...


Sore hari, sepulang dari kantor, Tiara pun berjalan menuju tempat kosnya yang tak jauh dari PT Mekar Bogasari. Kali ini, Tiara tak sendiri. Ia berjalan bersama Nafisa yang kebetulan bertemu di lobi kantor. Sepanjang jalan, mereka pun bercerita sampai tak menyadari bahwa ada seseorang yang menguntit mereka dari belakang.


"Maaf ya, Ra. Sekarang, aku sadar bahwa tindakanku saat itu salah besar. Aku sangat malu mengakuinya namun begitu menyesal dan tak tahu bagaimana harus meminta maaf denganmu. Aku harap, kamu memaafkanku ya, Ra," ungkap Nafisa tulus sambil memilin-milin ujung kerudungnya.


"Nggak apa, Mbak Nafisa. Aku paham posisinya. Tanpa Mbak bilang tentu aku sudah memaafkan," sahut Tiara berbesar hati.


"Aku bersyukur kamu sangat berbesar hati menerimanya. Mulai hari ini, mau tidak berteman denganku?" tanya Nafisa penuh harap.


"Dengan senang hati, Mbak. Semoga Mbak Nafisa bisa mendapat lelaki yang jauh lebih baik dari Abang Rama. Mbak cantik, saliha, insyaallah mendapat yang sepadan juga," jawab Tiara tulus.


"Nggak sebaik itu, Ra. Aku masih banyak kurangnya. Hanya tertolong kerudung dan Allah menutup aib-aibku aja," sahut Nafisa malu dan menyesal, "Maafkan aku yang pernah membuat kisruh di rumah tanggamu. Aku telah menzalimimu. Aku sangat menyesal, Ra."


"Udah, Mbak. Yang lalu, biarlah berlalu. Pernah salah itu wajar, Mbak. Setiap orang pasti ada kelirunya," sahut Tiara merendahkan suara dan mencoba menghibur Nafisa yang nampak begitu bersalah.


"Setelah aku ditangani oleh psikiater, ternyata aku ternyata didiagnosis terkena Mythomania Syndrom. Aku sangat malu mengakuinya namun aku harus menjelaskan kepadamu. Bukan mau mencari pembelaan atau pembenaran terhadap sikapku saat itu namun aku harus membuka semua sejujur mungkin. Soal aku sakit sampai diangkat rahimku itu memang benar. Tentang pengusiran dan hardikan mantan suamiku beserta kekuarganya juga benar adanya. Setelah di kereta, aku bertemu dengan Rama. Entah mengapa terbesit di pikiranku untuk mendapatkannya kembali. Aku berbohong soal biaya rumah sakit yang tak bisa kubayar untuk merebut kembali perhatian Rama. Aku berakting sakit dan meminta belas kasihan Rama untuk bisa menikahiku. Aku pura-pura pingsan. Kata dokter, mungki faktor penyebabnya depresi atau trauma atas tindakan mantan suamiku dengan keluarganya dan mungkin karena penyakit sampai harus mengangkat rahim juga. Setelah Rama menolak untuk menikahiku, aku semakin frustrasi," tutur Nafisa menjeda ucapannya menahan malu.

__ADS_1


"Akhirnya, orang tuaku membawa ke psikiater dan ternyata selain mengidap depresi berat, aku juga mengidap Mythomania Syndrom. Sejak saat itu, aku didampingi terus oleh psikiater, orang tua, dan ustazah agar mendapat siraman rohani juga. Alhamdulillah, sekarang semua sudah membaik sehingga aku bisa bekerja lagi. Memang dalam doaku, aku ingin dipertemukan denganmu untuk meminta maaf sehingga berkali-kali aku gagal interview di kantor lain dan diterima di sini. Ternyata ini jawabannya. Aku sangat lega," papar Nafisa panjang lebar dan Tiara hanya menyimak sambil mengangguk-angguk sambil terus berjalan.


"Alhamdulillah kalau sudah membaik, Mbak. Semoga Mbak Nafisa selalu sehat dan semangat ya. Aku sampai nggak bisa berkata-kata. Jalan hidup yang Mbak lalui memang tidak mudah, jadi aku memaklumi tindakan Mbak saat itu. Syukurlah kalau sekarang Mbak udah bisa menerima semuanya," sahut Tiara penuh haru.


"Iya alhamdulillah masih diberi kesadaran seutuhnya setelah beberapa kali melakukan psikoterapi. Awalnya, masih harus dengan obat dan psikoterapi penanganannya. Aku sampai hampir mau lepas kerudung untuk bisa mendapatkan perhatian lelaki agar ada lelaki yang mau menerimaku," lanjut Nafisa begitu jujur.


"Ya Allah, sampai sebegitunya. Aku kadang juga terbesit keinginan berkerudung, Mbak. Namun, masih ada keraguan. Takut nanti lepas pasang berubah pikiran. Lagian, aku malu karena sikapku juga masih banyak tak baiknya," ucap Tiara menunduk.


Nafisa tersenyum dengan tatapan lurus ke depan seraya berkata, "Berkerudung itu bukan perkara baik atau tidak, berkerudung itu dalam rangka menutup aurat dan menutup aurat itu hukumnya wajib. Perkara merasa akhlakmu belum baik atau masih ragu, kewajiban tetaplah kewajiban dan kamu bisa memperbaiki seiring berjalannya waktu. Banyakin dengarkan ceramah-ceramah mungkin akan memutus keraguanmu. Sebab, ada hidayah yang Allah datangkan melalui suatu peristiwa dan ada pula yang bisa kita jemput melalui belajar serta beribadah yang tekun," ucap Nafisa sambil mengusap punggung Tiara seperti kakak sedang menenangkan adiknya.


"Oh. Begitu ya, Mbak. Apa hatiku terlalu keras ya, Mbak?" tanya Tiara polos.


"Bukan begitu. Kamu sudah mulai terbesit pemikiran seperti itu, mungkin Allah sedikit demi sedikit sedang menyusupkan hidayah di sana. Hati yang keras tentu akan sulit menerima hidayah. Pelan-pelan saja, pelajari, jalani. Hidayah itu datangnya tak terduga dan mungkin kita juga tidak menyadarinya," jelas Nafisa pelan-pelan.


Tiara hanya mangut-mangut namun begitu memahami penjelasan Nafisa dan Nafisa pun tak mempermasalahkan itu. Terlebih, mereka sudah sampai di gerbang kos. Tiara segera mengambil kunci untuk membuka gerbang itu.


Nafisa yang tak sengaja menoleh ke belakang pun menemukan sosok lelaki yang begitu dikenalnya. Ia bahkan terperangah mendapati lelaki itu juga sedang memandanginya dengan keterkejutan yang luar biasa. Setelah menyadari mereka saling bertatap begitu dalam penuh enigma, Nafisa segera menundukkan kepala mencoba mengatur detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang.


"Mbak Nafisa," panggil Tiara yang bingung dengan sikap diam Nafisa yang sangat tiba-tiba.


Tak ada jawaban maupun sahutan. Tiara pun membalikkan badan dan tak kalah kaget mendapati lelaki yang saat ini sedang mematung memandangi Nafisa. Lelaki itu kemudian berganti memandanginya dengan canggung penuh kebimbangan.


"Pak Juna, ngapain di sini?" tanya Tiara menggaruk-garuk kepala.


"Ada yang ingin aku ungkapkan padamu," jawab Arjuna kepada Tiara namun tatapannya lurus kepada Nafisa.


"Aku?" tanya Tiara sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Kamu, Mutiara Salsabila bukan Azzahratun Nafisa," jawab Arjuna beralih menatap Tiara dalam-dalam.


Nafisa semakin menundukkan kepala serasa ingin pergi dari sana namun langkahnya terasa berat seperti kakinya terikat, sedangkan Tiara dilanda penasaran selepas Arjuna mengatakan ingin mengungkapkan sesuatu. Tiara pun menyadari ada ketidakberesan dan keganjilan di sana. Tiara bisa melihat dendam sekaligus rasa yang tak bisa diterjemahkan kala menyelia tatapan Arjuna kepada Nafisa.


"Apa, Pak?" tanya Tiara mencoba mencairkan suasana.


"Setelah bertahun-tahun aku belajar susah payah melupakan seseorang yang sangat berarti dalam hati dan hidupku, kehadiranmu membuatku berdamai dengan semuanya. Semenjak bekerja denganmu, aku merasa hatiku lebih terisi dan tak merasa kesepian lagi. Aku telah melupakan semuanya dan ingin menjalani hidup baru denganmu. Tiara, aku mencintaimu. Menikahlah denganku," ungkap Arjuna setengah hati walaupun tidak berbohong sama sekali.


Nafisa sampai mengangkat wajah dan menatap Arjuna dengan sangsi. Tak kalah terpegun Tiara, sampai mengaga mendapat ungkapan cinta dari Arjuna. Ia tak menyangka sikap Arjuna yang melembut di kantor karena kehadirannya, pantas saja beberapa karyawan wanita di kantor suka menggunjingkannya.


"Maukah kamu menerima cintaku dan menikah denganku?" tanya Arjuna meraih kedua tangan Tiara dan berbicara penuh penekanan sembari melirik sekilas kepada Nafisa.


Tepat saat Tiara melepaskan genggaman Arjuna perlahan, sebuah mobil datang langsung berhenti sembarang di depan kos Nafisa dan Tiara. Sang pemiliknya turun dari mobil dengan tatapan murka.


"Tiara!" seru Rama lembut namun tegas dengan wajah merah padam


"Abang," sahut Tiara membelalakkan mata.


Nafisa dan Arjuna pun seperti mendapat kejutan lagi dengan kehadiran Rama. Keduanya bersamaan menatap Rama. Arjuna tentu yang paling tercengang di sana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2