
Sesampainya di rumah, Bu Ina langsung menyambut kepulangan Tiara, Rama, dan Bayu dengan penuh kecemasan. Bu Ina menitikkan air mata melihat Tiara yang dipapah oleh Rama karena kakinya mulai agak bengkak dan agak sulit untuk berjalan. Bu Ina segera memegang lengan Tiara dan membantunya duduk di sofa ruang tamu.
"Sayang, mananya yang sakit?" tanya Bu Ina dengan suara parau.
Tiara menatap mata Bu Ina merah dan sembab. Ia pun paham jika Bu Ina tentu sudah menangis sedari tadi. Tiara pun tersenyum sebisanya, meski sekujur badannya nyeri luar biasa.
"Tiara udah baik-baik aja, Ma. Nggak usah terlalu khawatir ya. Ini paling keseleo, tadi tertimpa motor," jawab Tiara tenang.
Bu Ina menatap dan mengusap sekitar luka Tiara dengan lembut. Hati Bu Ina benar-benar hancur melihat menantunya terluka. Ia menyesal tidak bisa menjaga Tiara sampai ia terluka. Membayangkan suasana yang dialami Tiara saja rasanya tak kuasa.
"Pasti sakit ini ya, Ra?" tanya lagi Bu Ina lesu.
"Sakit sedikit, Ma. Tapi, udah mendingan kok. Untung tadi Bang Rama datang tepat waktu," jawab Tiara sambil tersenyum menahan ngilu di kakinya.
"Ya udah. Habis ini langsung tidur aja ya. Mama kompres pakai es dulu kakinya mau?" ucap Bu Ina perhatian.
"Nggak usah, Ma. Udah malem. Mama istirahat aja biar aku yang urus Tiara," sela Rama.
"Ya udah. Cepet istirahat ya mandinya besok aja. Mama ke kamar dulu," pamit Bu Ina sambil mencium kening Tiara.
"Bang Rama, aku lanjut kerja dulu ya. Urus aja Mbak Tiara biar semua serahin aja sama aku," kata Bayu.
"Ya udah. Thanks, Bay," jawab Rama.
Bayu pun pergi ke ruangan kerja Rama karena ia akan menginap di rumah Rama untuk lembur projek. Datanglah Bi Siti membawa es batu atas perintah Bu Ina. Rama pun menyuruh Bu Ina meletakannya di kamar.
"Di kompres di kamar aja ya? Biar kamu sekalian istirahat," usul Rama.
Tiara pun mengiyakan karena memang badannya terasa remuk. Tiara menurut saja saat Rama menggendongnya ke kamar karena kakinya memang semakin berat dan sakit untuk berjalan.
Setelah sampai di kamar, Rama merebahkan Tiara di kasur. Ia segera mengambil handuk kecil di lemari untuk membalut es batu. Dengan telaten, Rama pun mengompres kaki Tiara. Sesekali Tiara nyengir kesakitan dan Rama pun menghentikannya sejenak.
"Besok, kamu izin kuliah dulu ya," pinta Rama.
"Enggak, Bang. Besok aku ada ujian penting," sanggah Tiara lembut.
"Ya sudah. Besok diantar Pak Rahmat ya pakai mobil Mama. Aku ada meeting jam tujuh. Mulai sekarang, kamu nggak boleh berangkat sendiri. Titik!" tegas Rama dengan mimik serius.
Tiara pun mengangguk lemah. Tak lama setelah itu, Tiara pun tidur sebelum Rama selesai mengompres kakinya. Tergurat jelas kelelahan di wajah Tiara yang terlelap. Sesekali, Tiara merintih dalam tidurnya hingga air mata meleleh dari sudut matanya. Kadang juga Tiara berteriak, lalu kembali tenang.
__ADS_1
Rama teramat pilu menyaksikan istrinya semenderita itu. Namun, ia pun tak tahu bagaimana menenangkan Tiara saat merintih dalam tidurnya. Ia hanya memandang Tiara dari sofa dan berdoa untuk kesehatan istrinya.
...****************...
Keesokan hari, Rama menyuruh Bi Siti untuk membantu Tiara menyiapkan diri ke kampus. Rama sudah pergi dari rumah dari pukul 06.00 karena ada meeting penting jadi tidak sempat membantu Tiara. Bi Siti hanya membantu memegangi Tiara saat berjalan dan memasukkan berkas Tiara ke tas.
Selepas sarapan bersama Bi Ina, Tiara berjalan tertatih-tatih ke teras dibantu oleh Bu Ina dan Bi Siti. Pak Rahmat yang sedang memanaskan mobil segera membuka pintu belakang mobil untuk menyilakan nyonya besar dan nyonya kecilnya masuk. Sebelum mereka masuk ke mobil, datanglah mobil Rama berhenti di depan mobil Bu Ina.
Rama keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa menghampiri Tiara. Tiara dan Bu Ina pun menatapnya keheranan.
"Biar aku aja yang antar Tiara. Mama di rumah aja," suruh Rama dengan suara tegas.
"Kamu katanya meeting?" tanya Bu Ina.
Bu Ina menyilakan Rama untuk menggantikannya memegangi lengan Tiara dan memberi isyarat ke Bi Siti untuk melakukan hal yang sama. Rama pun menggantikan posisi ibunya dan meminta tas Tiara yang dibawa Bi Siti untuk ditaruh di jok belakang mobilnya.
"Sudah aman semua sama Bayu, Ma. Rama langsung berangkat ya, Ma," jawan Rama.
"Ya sudah. Tiara berangkat ya, Ma," ucap Tiara sembari menyalami mertuanya.
"Iya. Hati-hati ya, Anak Mama," sahut Bu Ina ramah.
Di perjalanan, Tiara merasa suasana di antara ia dan Rama sudah tak sekaku biasanya. Meskipun Rama masih irit bicara namun sikapnya sedikit lebih hangat dan bersahabat. Tiara merasa agak lega karena Rama mulai mau berbincang dengannya lebih lama.
"Abang, memang tidak apa meetingnya ditinggal?" tanya Tiara tersenyum bahagia.
"Nanti Abang menyusul dan nanti siang kujemput lagi. Tadi Mama tidak tenang kalau kamu berangkat jadi ngeyel minta anterin kamu. Ya daripada Mama capek mondar-mandir sana sini mending aku aja," jawab Rama mulai dingin lagi.
Dalam hati, Tiara sangat kecewa sudah berharap jika sikap Rama kepadanya murni karena keinginannya, bukan karena orang lain. Namun, ternyata hati Rama memang masih sulit ditaklukkan. Tiara menunduk lesu sambil memandangi luka di tangannya yang mulai kering bagian luarnya.
"Maaf ya. Jadi Abang repot," ungkap Tiara penuh ketulusan.
"Kamu itu tanggung jawabku, sudah seharusnya aku melakukan semua ini," bantah Rama.
Tiara pun tidak menyahut apa pun sehingga suasana di mobil Rama kembali sunyi. Hanya ada deru napas mereka karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka pun terlihat canggung satu sama lain.
"Pulang jam berapa?" tanya Rama saat mulai masuk ke area kampus Tiara.
"Jam setengah dua, Bang," jawab Tiara seperlunya.
__ADS_1
Rama pun mangut-mangut dengan ekspresi datarnya. Rama terus melajukan mobilnya pelan-pelan ke gedung F. Sesampainya di sana, Rama pun memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Sebelum membantu Tiara turun dari mobil, Rama pun mengambil tas Tiara di jok belakang dan menggendongnya di satu pundak. Ia tak peduli dengan tatapan aneh para mahasiswa di sana dan tetap bersikap cool yang berkarisma.
Rama memapah Tiara untuk keluar dari mobil dan berdiri. Awalnya, Tiara menolak saat Rama menawarkan bantuan untuk diantar sampai kelas namun setelah dia hampir terjatuh saat Rama lepaskan, Tiara pun hanya pasrah. Ia tak menghiraukan lagi tatapan teman-temannya yang beraneka ragam karena rasanya ia tak mampu juga berjalan terlalu bertumpu pada diri sendiri.
Sebelum masuk ke gedung, ternyata tiga sahabat Tiara sudah berlari menujunya. Mereka mendekat tentu tidak hanya penasaran dengan kondisi Tiara namun juga ingin melihat Rama lebih dekat. Wajah Rama tiba-tiba berubah menjadi datar, dingin, dan terkesan galak.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Nia penasaran.
"Panjang ceritanya. Sekarang, lebih baik kayaknya kalian bantu aku jalan deh ke kelas," sindir Tiara halus.
"Ini Abang kamu, Ra?" ucap Febi sambil memandang Rama dengan genitnya.
"Iya. Ini Bang Rama," sahut Tiara.
"Kenalin, Bang. Aku Febi, sahabat terbaik Tiara," celetuk Febi sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman Rama.
Nia dan Wanda hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Febi. Tiara malah memandangnya lucu.
"Ya," jawab Rama sambil menjabat tangan Febi dengan malas.
Mendengar jawaban sesingkat itu, Febi pun menelan ludah getir. Ia merasa malu dengan sikap agresifnya yang dibalas sangat pasif oleh Rama. Ternyata memang benar yang dikatakan Tiara, dia memang kulkas tiga pintu. Namun, itu malah membuat Febi sangat penasaran dengan sosok Rama yang langka itu.
"Abang pulang aja. Biar aku ke kelas dibantu mereka," suruh Tiara.
"Oke," jawab Rama sambil melepaskan tangannya dari Tiara.
Tanpa salam, pamit, atau pun permisi, Rama lalu begitu saja dari hadapan Tiara dan tiga sahabatnya. Sahabat Tiara pun hanya melongo melepaskan kepergian Rama yang sebegitu diamnya. Entah terpesona atau terheran-heran yang mereka rasakan.
"Gila. Pacar dia apa ya nggak darah tinggi menghadapi sikapnya," cetus Wanda sambil membantu memegangi lengan Tiara.
"Entahlah," sahut Tiara.
"Tapi, dia sangat menarik. Manusia langka. Aku jadi semakin penasaran dengannya," imbuh Febi sambil tersenyum-senyum.
Diam-diam, Tiara merasa ganjil dengan perasaannya setelah mendengar pernyataan Febi tersebut. Ia merasa tidak suka jika Febi penasaran dengan suaminya, entah memang tak ingin rahasianya terbongkar atau memang ada rasa lebih dari itu.
Setelah kejadian penodongan, Tiara menjadi sadar bahwa Rama sebenarnya perhatian namun lebih ditunjukkan dengan sikap. Tiara pun sangat terkesan dengan kejadian tadi malam seakan sakitnya memberi berkah pada hubungan mereka. Tiara mulai melihat ada harapan untuk hubungan mereka, tidak sekadar memenuhi wasiat.
__ADS_1
...****************...