Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Saranghaeyo, Ahjussi


__ADS_3

Setelah hujan reda sekitar pukul 08.00, Rama dan Tiara jalan beriringan menuju tempat parkir. Tiara nampak amat bahagia, sedangkan Rama hanya tersenyum simpul menatapnya.


"Mau ke mana kita? Ada yang ingin kamu kunjungi?" tanya Rama sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Kayaknya, aku ingin ke The Great Asia Africa. Katanya di sana bagus, kolaborasi wisata alam dengan konsep kekinian. Aku pernah kepoin di sosmed emang instagramable banget sih dan serasa keliling dua benua. Bagaimana, Bang? Abang tau tempatnya?" tanya balik Tiara meminta persetujuan.


"Belum pernah ke sana juga, tapi ayo lah. Kan ada maps," sahut Rama sambil menunjukkan aplikasi peta di ponselnya.


Setelah menemukan lokasi dan rute menuju The Great Asia Africa, Rama dan Tiara pun memulai perjalanannya. Sekitar dua puluh menit, mereka sampai di tempat tujuan. Rama segera mengurus tiket, sedangkan Tiara mengekor di belakangnya.


Setelah semua beres, Rama dan Tiara pun masuk ke kawasan wisata dengan berjalan kaki. Area pertama yang mereka lewati adalah kawasan Korea. Di kawasan itu terdapat rumah tradisional Korea dengan aksen kayu lengkap dengan dapur beserta perabotnya.


Saat di dapur rumah tradisional Korea, Tiara serasa berada di dalam drama-drama kerajaan Korea yang biasa ia tonton. Ia mengusap-usap benda di sana dengan hati-hati dan memandang segala di sana dengan penuh ketakjupan karena hampir mirip dengan yang ada di drama.


"Abang, adakah yang ingin kamu makan? Biar aku masakkan," cetus Tiara akting karena melihat perabotan dapur.


"Emang Nonaku ini bisa memasak apa?" tanya Rama tersenyum tulus.


"Samyang bisa Bang," jawab Tiara terkekeh.


"Kalau itu, aku juga bisa," sahut Rama mengangkat satu alis.


"Ya udah. Kalau bisa, berarti masak sendiri saja ya," lanjut Tiara tertawa dengan renyahnya.


Rama pun tertawa lirih mendengar canda dan tawa Tiara yang sangat natural. Ia pun begitu gemas hingga serasa ingin menggigitnya.


"Abang. Abang. Saranghaeyo, Ahjussi," seru Tiara sambil menunjukkan finger heart.


Rama pun tergelak sekaligus pura-pura kesal mendengarnya.


"Oppa bukan ahjussi. Oke?" sahut Rama.


"Kok Abang tau bedanya sih? Bukannya Abang udah tua ya," tanya Tiara polos.


"Kamu pikir aku lahir di zaman apa? Zaman purba? Zaman megalitikum? Kita ini cuma beda delapan tahun woy. Kayak gitu kan udah klise juga," jawab Rama bersungut-sungut.


"Hehe iya sih," sahut Tiara cengar-cengir.


Rama dan Tiara pun tertawa bersamaan.


Setelah puas menjelajahi kawasan Korea, mereka masuk di kawasan India yang didominasi dengan warna pink yang merepresentasikan Jaipur sebagai The Pink City. Di samping negara-negara dari seberang lautan, terdapat juga area representatif untuk Indonesia lebih berfungsi sebagai foodcourt dengan tempat duduk beragam dan saung-saung.


Setelah itu, tibalah di kawasan yang ditunggu Tiara, yakni Jepang. Disambut oleh replika dari gerbang Kuil Fushimi Inari Taisha. Kawasan tersebut dilengkapi dengan kolam beserta jembatan, pertokoan dengan arsitektur Jepang kuno, terowongan gerbang kuil, hingga aneka dekorasi khas Jepang.


Di kawasan paviliun Jepang ini terdapat spot kecil untuk gantungan Emma Card, yakni kartu yang betuliskan harapan para pengunjung. Tiara pun tak mau melewatkan dan langsung mengajak Rama ke sana. Di sana, mereka menuliskan harapan masing-masing di secarik kertas dan menggantungkannya.


Harapan Rama

__ADS_1


Semoga lancar semua dan bertahan sampai akhir


Harapan Tiara


Semoga bisa cepat skripsi


Setelah lelah mengelilingi negara-negara di The Great Asia Africa, Rama dan Tiara pun kembali ke mobil karena sangat kelelahan. Mereka beristirahat di mobil sambil memakan takoyaki yang dibeli sebelum keluar dari tempat wisata. Kepuasan tergambar betul di wajah Tiara yang sumringah. Rama pun senang karena Tiara sangat menikmati selama berada di tempat wisata.


"Abang, capek banget! Kok Abang sesantai itu dan nggak kelihatan terlalu capek," ucap Tiara lemas.


"Kamu nggak pernah olahraga jadi cepet loyo. Malu dong sama yang tua ini," sindir Rama.


"Ish. Olahraga itu melelahkan, Bang. Aku tiap abis senam malah badan pegal-pegal semua," sahut Tiara membela diri.


"Kamu berapa hari sekali?" tanya Rama.


"Dulu, ikut kelas zumba sama teman-teman itu seminggu sekali," jawab Tiara.


"Pantas badan pegal semua. Kalau kamu senamnya tiap hari malah lama-lama mengobati pegalnya dan jadi lebih bugar," jelas Rama.


"Emang iya, Bang?" tanya Tiara penasaran.


"Coba aja," suruh Rama.


"Nanti deh," sahut Tiara.


"Kapan?" tanya Rama lagi.


...****************...


"Mau ke mana lagi kita?" tanya Rama yang sudah kembali bugar.


"Terserah. Yang penting aku lapar, Abang," rengek Tiara.


"iya iya. Duuh. Kasihan. Ayo cari tempat makan. Mau makan apa?" tanya Rama sambil menjalankan kembali mobilnya keluar dari area wisata.


"Mau makan Abang," jawab Tiara merajuk.


"Loh, kok kesal? Kan aku tanya mau makan apa," tanya Rama bingung.


"Orang lapar itu jangan ditanya macam-macam, bawa aja ke tempat makan. Aku ini ohmnivora," jawab Tiara ketus.


"Baik, Nona Kecil," sahut Rama meledek.


Tiara mendengus kesal seraya langsung melengos. Kalau sedang lapar memang tingkat sensivitas perasaannya menjadi tinggi jadi dia semakin ekspresif.


Lain halnya Rama, ia hanya senyum-senyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan saat sedang lapar. Ia terus menjalankan mobilnya sambil melihat maps untuk mencari tempat makan.

__ADS_1


Saat melihat sebuah rumah makan Sunda, Tiara meminta Rama untuk berhenti. Rama pun menurutinya. Ia membukakan pintu mobil istrinya yang sudah sangat lemas, lesu, sekaligus mengantuk.


"Abang, capek banget. Gendong," rengek Tiara manja sambil merentangkan tangannya.


"Nggak usah aneh-aneh. Ayo makan atau kamu yang kumakan!" tegur Rama pura-pura mengancam.


Tiara pun menyerah dan keluar dari mobil dengan bersungut-sungut. Setelah dia mencium aroma harum masakan, tenaganya mendadak pulih seketika. Ia malah berjalan mendahului Rama sambil menarik tangan Rama sekuat tenaga agar mempercepat langkahnya.


"Giliran bau makanan aja langsung kayak orang kerasukan," ujar Rama tetap santai.


Tiara mencibir sambil terus menarik Rama. Setelah sampai di dalam, Tiara memilih tempat duduk di pinggir yang lesehan agar ia bisa meluruskan kaki. Ia dan Rama memesan ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalapannya.


"Abang nggak apa-apa makan di pinggir jalan seperti ini, kan? Perutnya bisa menerima, kan?" bisik Tiara yang duduk di depan Rama.


"Nggak apa-apa lah. Emang kamu pikir aku apaan?" jawab Rama heran.


"Iya kan kaum elite seperti Abang biasanya minimal di resto atau cafe gitu. Kadang, ada yang takut sakit perut kalau makan di pinggir jalan begini," sahut Tiara serius.


"Iya aku jarang makan di pinggir jalan karena faktor lingkungan dan kebiasaan aja. Iya bagaimana, kalau makan sendiri di pinggir jalan kan nggak seru juga," ujar Rama.


"Ih padahal seru, Abang. Aku biasa naik motor sendiri muter-muter hunting street food. Ayo kapan kita jalan-jalan cari jajan, Bang. Abang bisa naik motor kan?" ajak Tiara berapi-api.


"Bisa lah. Kamu tuh bicara seolah-olah aku datang dari planet mana," protes Rama.


"Hehe. Banyak kok temanku yang bisa naik mobil, tapi nggak bisa naik motor loh," bela Tiara.


Perdebatan Rama dan Tiara pun terhenti karena ada pramuniaga yang datang mengantar pesanan. Tiara pun membantu menatanya di atas meja dengan semangat. Setelah pesanan sudah selesai disajikan, pramuniaga menyilakan dan pamit undur diri.


Tiara dan Rama pun mencuci tangan di wastafel yang tak jauh dari tempat duduk mereka. Sekembalinya ke meja, Rama mengambil sendok garpu dan mengelapnya dengan tisu. Lain halnya dengan Tiara, ia mengelap tangannya yang basah dengan tisu dan langsung makan menggunakan tangan.


"Nggak pake sendok garpu, Ra?" tanya Rama keheranan.


"Enakan makan kayak gini kali, Bang. Kamu nggak pernah makan pake tangan langsung gini?" tanya balik Tiara.


"Iya pernah, tapi kan nggak makanan kayak gini juga. Mana pakai sambal juga. Emang, tangannya nggak panas kena sambal?" jawab Rama masih sangsi.


"Abang, lebih nikmat tau. Lagian, makan pake tangan juga banyak manfaatnya. Ayo coba aja!" bujuk Tiara.


"Nggak ah. Malas. Nanti tangannya bau," tolak Rama sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Cowok masa takut sama bau. Bilang aja nggak bisa," ucap Tiara meremehkan.


Tiara paham betul Rama sulit diprovokasi namun jika sampai diremehkan, ia takkan tinggal diam. Apalagi kalau sampai merasa harga dirinya direndahkan, ia akan nekat melakukan apa pun agar tetap terlihat cool dan keren.


"Bisa kok. Jangan meremehkan ya," sahut Rama terpancing emosinya.


Rama pun meletakkan sendok dan garpunya. Ia mulai mengambil makanan pake tangan walaupun terlihat kaku dan agak risih namun ia tetap berusaha tetap tenang dan cool. Jari-jarinya terlihat gam menyentuh nasi yang sudah tercampur dengan sambal, ayam, beserta lalapannya. Suapan pertama, ia masih agak ketakutan. Namun, selanjutnya malah ia lebih semangat dan ketagihan. Tak ada lagi raut gamang, yang ada sangat berselera dan menikmati.

__ADS_1


Tiara senyum-senyum melihat Rama sangat semangat menyelesaikan tantangan yang diberikan olehnya. Rama sangat menggemaskan ketika sedikit kalap dalam menghabiskan makanannya. Saat ini, sama sekali tak nampak CEO yang berwibawa, karismatik, dingin, dan arrogant seperti biasanya. Diam-diam, ia bahagia menghabiskan waktu berdua dengan Rama. Dia pun bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah sudah jatuh cinta kepada Om-Om yang satu ini.


...****************...


__ADS_2