
Di perjalanan pulang, Rama terus mengerang menahan diri untuk tak berbuat lebih terhadap Tiara. Keringatnya bercucuran di sekujur badam meskipun ac di mobil sudah disetting hampir maksimal. Tiara berkali-kali mengusap keringat Rama namun tetap saja bertambah dan semakin parah seperti mandi. Rama sampai melepas kemejanya yang sudah basah karena ia teramat gerah.
"Gerah sekali," keluh Rama bersandar di jok belakang dengan bertelanjang dada dan menyerahkan kemejanya kepada Tiara.
"Abang, ini udah dingin banget loh," sahut Tiara sampai mengambil map di tas Rama untuk mengipasi Rama.
"Selvi emang orang gila. Bagaimana kalian datang lambat sekali? Hampir hilang keperjakaanku," umpat Rama berdecak kesal sambil bergelinjangan.
"Namanya aja pakai mobil, Bos. Tadinya mau gojek, tapi Mbak Tiara maksa ikut jadi terpaksa diantar Pak Rahmat. Tapi, Pak Rahmat langsung pulang tadi," sahut Bayu.
Rama kembali menggeram dan mencengkeram jok mobil untuk meredakan nafsunya.
"Abang sakit? Mau dipeluk? Atau ke rumah sakit untuk mencari obat penawarnya," tanya Tiara cemas.
"Jangan dulu. Obat perangsangnya sedang bekerja, aku takut nggak bisa mengendalikan diri," elak Rama yang sebenarnya begitu menginginkan Tiara saat itu juga.
"Abang, obat perangsang itu apa? Kenapa kalau sedang bekerja jadi nggak mau dipeluk? Apa obat perangsang itu bikin Abang suka Selvi jadi nggak mau kudekati?" tanya Tiara polos.
Kepolosan Tiara yang sangat natural itu membuat Rama harus lebih menahan diri karena gemas. Berbeda dengan Bayu, respon Bayu langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Tiara.
"Bukan begitu, Sayang. Kamu nggak tau obat perangsang? Oh my God," tanya balik Rama terheran-heran.
"Aku tahunya perangsang buah atau sayur gitu biar cepat panen," jawab Tiara meringis.
Rama dan Bayu pun tergelak-gelak mendengar jawaban Tiara. Tentu tak habis pikir Tiara sampai tak tahu obat perangsang untuk manusia.
"Istrimu polos sekali, Bang," ledek Bayu membuat Tiara menyorot tajam.
"Inilah kenapa aku banyak PR untuk mengajarinya, Bay," canda Rama berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Ih, Abang. Apaan sih," cetus Tiara mencubit lengan Rama.
"Jangan cubit-cubit dulu. Kalau aku perkosa kamu di sini, kasihan Om Bayumu masih jomblo," ejek balik Rama tersenyum.
"Eh itu bibir kok licin sekali. Suka bener kalau ngomong," sahut Bayu panas dingin.
"Ih. Pengalihan isu. Orang aku lagi penasaran sama obat perangsang sih," desak Tiara mulai kesal.
"Bay, bagaimana menjelaskan ini?" tanya Rama melimpahkan jawaban kepada asistennya.
"Begini, Mbak. Obat perangsang itu efeknya bikin tegang, tapi bukan soal badan atau pikiran," jawab Bayu.
"Terus apa yang tegang? Aih membingungkan sekali bahasamu, Om. Pakai bahasa normal aja sih. Aku bingung ini," bantah Tiara kebingungan.
"Aduh, Nona Kecil. Yang tegang itu anunya jadi kayak bawaannya pengen nganu gitu loh. Nafsunya gede jadinya. Paham, nggak?" terang Bayu gemas.
"Oh seperti itu. Paham, Om. Berarti obatnya bikin nafsunya gede ya. Bahaya nggak? Perlu kita bawa ke dokter nggak?" cecar Tiara dengan innocent face-nya membuat Rama dan Bayu geleng kepala.
"Bahayalah. Bahaya buat kamu," sahut Rama melirik gemas kepada istrinya.
"Loh, Abang yang minum perangsang kok aku yang dalam bahaya?" tanya lagi Tiara sambil menatap Rama penuh penasaran.
"Bawel sekali istriku ini," jawab Rama bangkit dari sandarannya, kemudian kembali bertitah kepada Bayu, "Bay, putar spion depan, pakai earbuds, jangan hadap belakang."
Bayu langsung paham dan melaksanakan tugasnya, sedangkan Tiara semakin heran dan penasaran. Orang dewasa memang suka aneh, batin Tiara.
"Mari, kutunjukkan bahayanya," ucap Rama dengan mata berkilat dan tersenyum penuh makna.
Dengan gerakan cepat, Rama langsung mengul_um bibir Tiara tanpa ampun sampai Tiara megap-megap sulit meraup udara. Selain itu, tangan Rama buas bergerilya ke mana-mana. Memijit bukit kembar yang hanya lebih besar sedikit dari bola kasti namun begitu menggoda dan membuatnya semakin minat untuk *****@*. Rama pun dengan berani menarik tangan Tiara dan meletakkan di antara pangkal pahanya. Tiara pun menjerit menarik tangannya kembali dan menjauhkan kepala Rama darinya.
"Abang, gila!" tukas Tiara gemetar.
"Biar kamu nggak banyak tanya, kutunjukkan saja sekalian. Biar kamu cepat paham," sahut Rama tersenyum.
__ADS_1
"Memang, orang dewasa itu meresahkan," celetuk Tiara membuat Rama kian gemas.
Dengan gerakan cepas dan beringas, Rama berhasil merengkuh Tiara lagi ke dalam dekapannya. Hasratnya sungguh menggila dan tak dapat dibendung lagi. Bayu yang sibuk menggeleng-geleng menikmati lagu di depan seakan hanya angin lalu bagi Rama
Gerakan tangan Rama kian liar dan tak ada lagi ampunan bagi Tiara. Tiara yang semula memberontak pun akhirnya pasrah karena terlampau lelah melawan Rama yang sungguh nafsu luar biasa. Saat tangan Rama nekat menelusup ke barang paling berharga milik Tiara, Tiara pun menjerit hebat hingga telinga Rama semakin berdenging. Namun, Rama tiba-tiba menghentikan permainannya dan meraba dari luar celana Tiara dengan penasaran. Ada yang aneh dengan bagian itu seperti tertutup sesuatu yang empuk.
Setelah mengingat-ingat kejadian di kantor, Rama pun menghentikan rabaannya dan menepuk jidat sendiri. Tiara pun bingung melihat perubahan sikap Rama yang awalnya buas, tiba-tiba berganti lemas. Bukannya bahagia, Tiara malah diliputi kebimbangan luar biasa. Terlebih setelah melihat tubuh Selvi, ia merasa insecure dengan tubuh sendiri. Namun, ia juga khawatir jika Rama berbuat lebih dari itu.
"Udah berhenti efeknya, Abang?" tanya Tiara polos.
"Iya kamu lagi periode, bagaimana mungkin aku bisa meneruskannya?" tanya balik Rama kesal dan menyerobot earbuds di telinga Bayu.
"Aduh, Bos. Udah selesai enak-enaknya?" ledek Bayu dengan tatapan masih fokus ke depan.
"Gatot. Gagap total. Cari penjual kelapa muda dan air putih," perintah Rama tak bisa diganggu gugat.
"Kenapa, Bos?" tanya Bayu basa-basi dan cekikikan mendengar ucapan lemah bosnya.
"Lautan merah," jawab Rama memalingkan wajah ke jendela.
"Lo, tadi perasaan Mbak Tiara salat sama aku dan Ibu," ujar Bayu kebingungan.
"Astaghfirullah. Om, iya aku lupa. Gegara terlalu khawatir sama bosmu sampai aku lupa malah ikut salat kalian," sahut Tiara cengengesan.
"Haha hehe," cetus Rama menyelentik jidat Tiara pelan.
"Bos, mana ada penjual kelapa muda malam-malam begini," ucap Bayu menggaruk kepala.
"Pokoknya cari. Kalau perlu, kita keliling Jakarta. Pokoknya harus dapat atau kepalamu yang kubelah," ancam Rama tak mau tahu.
"Jangan lah, Bang. Aku belum nikah ini," sahut Bayu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Tiara dan Bayu sibuk melihat kanan kiri untuk mencari kelapa muda pesanan Rama.
"Itu depan ada kelapa muda kayaknya, Om. Itu di kios yang jual galon air minum juga," teriak Tiara di samping telinga Bayu sehingga Bayu sempat terkejut.
"Iya maaf, Om. Kan antusias. Kasihan suamiku," jawab Tiara dengan suara lucu.
"Jangan manis manja berbicara dengan lelaki lain," tegur Rama melirik sinis.
"Sama Om Bayu masa cemburu. Emang obat perangsang, efeknya bisa bikin cemburu buta juga ya, Om?" tanya Tiara kepada Bayu.
"Mungkin, aku juga belum pernah meminumnya," jawab Bayu terkekeh dan menepikan mobil di tempat yang ditunjuk Tiara.
"Biar aku yang turun," ucap Tiara menawarkan diri.
"Nggak!" sangkal Rama menarik tubuh Tiara hingga Tiara jatuh ke dadanya.
"Biar aku aja, Mbak. Udah malam juga, takut nanti masuk angin kalau Mbak Tiara keluar," canda Bayu membuat Tiara memanyunkan bibir kesal.
...****************...
Sesampainya di rumah, Rama, Tiara, dan Bayu pun bingung dengan adanya mobil Hans serta satu mobil yang tidak dikenal oleh mereka. Bayu membantu memapah Rama keluar dari mobil dan Tiara membawakan tas Rama mengekor di belakang. Setelah masuk ke ruang tamu, mereka dikejutkan dengan kehadiran Selvi yang menangis tersedu-sedu di pelukan Bu Rita, lalu ada Pak Bima dan Hans juga di sana. Orang di ruangan itu menatap Rama dengan pandangan masygul membuat Rama mengernyitkan dahi kebingungan.
Pak Bima tiba-tiba berlari mendekati Rama dan meninju wajah Rama hingga bibirnya pecah. Tak berhenti sampai di sana, ia melayangkan beberapa pukulan brutal ke tubuh Rama hingga Bayu kuwalahan menahan badan Rama yang memang semakin melemas. Bayu pun tak bisa menyerang balik Pak Bima karena posisinya memapah Rama jadi jalan terakhir untuk menolong Rama tentu menarik Rama dengan cepat ke samping. Namun, nahas pukulan terakhir Pak Bima meleset mengenai Tiara yang mematung di belakang Rama.
Pukulan itu sangat kuat sehingga membuat Tiara sampai terjengkang dan hidungnya mimisan. Tiara masih tercengang dan tak bereaksi apa pun mendapat serangan mendadak yang tak disengaja itu. Melihat itu, Rama tentu sangat tak terima dan semakin tak bisa mengendalikan diri. Rama mendorong Bayu untuk melepaskan diri. Rama berlari dengan mata garang mendekati Pak Bima yang berjalan penuh penyesalan hendak menolong Tiara, tetapi Rama terlebih dahulu menendang kuat perut Pak Bima hingga Pak Bima terjatuh di depan Selvi.
Rama semakin kalap dan terus mengejar Pak Bima. Pak Bima sebenarnya ketakutan, tetapi masih angkuh dan menunjukkan wajah menantang. Rama semakin kalap. Saat Rama hendak menginjak-injak Pak Bima, Tiara pun merangkak cepat dan memegangi kaki Rama agar mengehentikan aksinya.
"Cukup, Abang. Stop!" tegas Tiara.
Bu Ina sempat terdiam melihat Tiara terkena pukulan Pak Bima. Setelah kembali tersadar, ia pun langsung berlari membantu Tiara berdiri.
__ADS_1
"Pak Bima, Anda sudah keterlaluan. Kalau memang semua mau diselesaikan baik-baik, kenapa harus main tangan? Sebagai orang tua, kita harus memberikan contoh yang baik kepada anak. Kalau ada perselisihan, dengarkan dulu penjelasan dari keduanya. Bukan langsung menyimpulkan dan memposisikan anak sendiri selalu benar. Apalagi sampai menyakiti menantu saya padahal dia tak tahu apa-apa," tegur Bu Ina dengan suara meninggi.
"Tapi, saya tidak sengaja memukul menantu Ibu. Saya hanya ingin memukul anak ibu yang sudah menghancurkan masa depan anak saya. Dia harus bertanggung jawab dan membayar semuanya," bentak Pak Bima membela diri dan berdiri menantang.
"Mau memukul Rama atau Tiara, Anda tetap salah. Sikap Anda sangat tidak dibenarkan dan selamanya saya tidak akan menerima Selvi menjadi menantu saya. Camkan itu!" tegas Bu Ina menunjuk-nunjuk Selvi penuh amarah.
"Siapa yang menghancurkan masa depan Selvi? Omong kosong macam apa itu," bantah Rama dengan tatapan garang.
"Jangan berlagak bodoh. Munafik!" ucap Bu Rita berdiri menyorot sinis mata Rama.
"Kalian itu yang kenapa? Malam-malam datang langsung menyerang, memukul brutal, dan menuduh saya menghancurkan masa depan anak manja kalian. Apa kalian gila?" bentak Rama tak habis pikir dengan sikap orang tua Selvi yang tak beradap itu.
Plaaakkkkkk!
Bu Rita menampak keras pipi Rama membuat Rama bertambah murka. Kalau saja bukan wanita, tentu Rama sudah membalasnya lebih keras. Namun, Rama hanya mendelik tajam lurus ke mata Bu Rita yang melukiskan kebencian mendalam.
"Bisa-bisanya menyebut kamu gila. Bagaimana adabmu? Tak tahu sopan-santun terhadap yang lebih tua," kilah Bu Rita.
"Lalu, apa bedanya dengan Anda dan suami Anda? Apakah yang lebih muda harus sopan dan yang lebih tua bisa sewenang-wenang? Menyerang saya tanpa alasan, itukah yang dibilang paling beradab?" bantah Rama tak gentar sama sekali.
"Sudah. Duduk dulu. Mari dengarkan penjelasan Rama terlebih dahulu agar kalian puas! Anak Anda bisa saja mengarang cerita demi bisa menikahi Rama," ucap Bu Ina halus namun sangat tajam.
"Ma," isak Selvi bergelayut manja di lengan Bu Rita.
"Ibu jangan sembarangan ya," sahut Bu Rita memperingatkan.
"Kalian saja sembarangan menuduh anak saya hanya dengan bukti cerita," balas Bu Ina tenang namun tak mau kalah.
"Udah. Mari kita duduk. Kita bicarakan dengan kepala dingin daripada salinh menuduh dan masalah tak terselesaikan," imbuh Bu Ina menuntun Tiara duduk di kursi disusul dengan Rama dan Bayu.
"Semuanya sudah jelas, Ma, Pa. Untuk apa diperjelas lagi, akan membuka lukaku lagi. Aku sangat trauma," rengek Selvi.
"Saya tidak menyuruh kamu untuk menceritakan kembali, saya hanya minta penjelasan dari anak saya. Kalau memang dia salah, saya tentu takkan membelanya dan akan membuatnya mempertanggungjawabkan semuanya," sindiran halus Bu Ina sembari melirik orang tua Selvi.
"Ini ada apa, Ma?" tanya Rama bingung.
"Ini dilap dulu darahnya, Sayang," ucap Bu Ina memberikan tisu kepada Tiara, setelah itu kembali berkata, "Begini, Rama. Tadi Selvi dan keluarganya datang ke sini untuk meminta pertanggungjawabanmu," cerita Bu Ina mengawali.
"Dalam hal apa?" tanya Rama semakin penasaran.
"Kamu minum obat perangsang agar bisa menjadi alibi untuk memerkosa Selvi?" tanya balik Bu Ina to the point.
Bayu, Tiara, dan Rama pun membelalakkan mata. Bukannya tegang, mereka bertiga malah tersenyum penuh kemenangan.
"Memerkosa? Nggak terbalik? Bhahahahaaaaa," gelak Rama mendengarkan penuturan Bu Ina.
"Berani-beraninya kalian tertawa di atas penderitaan anak saya," bentak Pak Bima.
"Bapak Bima yang Terhormat, mohon maaf sebelumnya. Punya bukti apa sampai Anda menuduh saya melakukan hal sekeji itu?" sarkas Rama sesopan mungkin.
"Cerita anak saya sudah cukup membuat saya muak dengan kesombonganmu. Memerkosa wanita dengan dalih efek obat perangsang. Setelah sadar, meninggalkannya di hotel sendirian. Bajing@n memang," tutur Pak Bima yakin.
"Maa. Boleh saya menyela pembicaraan Bapak dan Ibu? Kalau ini terkait dengan kejadian di hotel, ada yang perlu saya luruskan," sela Bayu sesantun mungkin.
"Mereka pasti sudah bersekongkol untuk menutupi kelakuan Rama," elak Selvi.
Kemudian, Selvi pun pura-pura pingsan untuk menarik perhatian dan menghentikan Bayu. Namun, hanya orang tua Selvi yang cemas melihat keadaan Selvi. Bahkan, Hans hanya diam dan menyimak semua pembicaraan di sana karena Selvi hanya memintanya ikut untuk memberi kesaksian bahwa Rama pingsan selepas rapat.
Dasar ratu drama. Umpat Tiara dalam hati.
"Oke. Luruskan saja, Nak Bayu. Saya juga sudah muak mendengarkan penjelasan mereka yang berbelit-belit," sindir Bu Ina pening.
"Lihatlah. Anak saya pingsan, kalian masih tega melanjutkan pembicaraan? Kalian memanfaatkan kesempatan agar Selvi tak bisa membela diri," tukas Bu Rita khawatir membangunkan Selvi.
__ADS_1
"Tidak curang. Anak Anda pasti mendengar yang saya bicarakan," ujar Bayu tersenyum.
"Tidak! Lihatlah anak saya sampai tertekan seperti ini. Rama harus menikahi Selvi! Dia telah mengambil hal yang paling berharga milik anak saya!" tegas Pak Bima tak mau malu.