
Pertengahan semester lima, Tiara mulai sibuk mengurus berbagai keperluan magang mahasiswa. Dari memilih tempat magang, perihal administrasi, sampai menentukan kelompok magang. Awalnya, Tiara ingin magang bersama ketiga sahabatnya di perusahaan besar ternama yang bergerak di bidang agribisnis, industri pangan, dan distribusi. Namun, akhirnya hanya Wanda yang menjadi parner magang di tempat itu karena Febi lebih memilih magang di perbankan dan Nia berminat di perusahaan properti yang ditawarkan oleh Bu Rita.
Butuh waktu sekitar satu bulan lamanya mereka mengurus berkas sampai mendapat respon dari perusahaan bahwa pengajuan magang mereka diterima. Tiara pun sangat bisa magang di sana karena selain dekat dengan rumah, perusahaan itu juga memang sudah besar dan ternama sehingga banyak peluang baginya menambah wawasan yang lebih luas dan dapat mempraktikkan ilmu manajemennya secara maksimal. Jadwal magang yang dipilih Tiara tentu dipilih setelah ujian semester usai karena mengantisipasi agar tidak terlalu berat menanggung tugas-tugas kuliah sekaligus magang.
Setelah merasa sangat lega, Tiara pun tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya di rumah. Bahkan saat makan malam bersama Rama dan Bu Ina, ia senyum-senyum tidak jelas bak habis dapat undian. Rama memandangnya dengan terheran-heran, sedangkan Bu Ina malah memandangnya senang seperti hiburan.
"Anak Mama lagi bahagia banget ini ya. Ada apa, Tiara?" tanya Bu Ina tersenyum membuat Tiara tersipu malu.
"Hehe. Kelihatan banget ya, Ma?" tanya balik Tiara sambil berusaha mengubah sikapnya.
"Iya bagaimana nggak kelihatan. Dari tadi kamu senyum-senyum kurang kerjaan," sela Rama sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Ih. Abang mah sirik aja. Gara-gara aku nggak mau magang di kantor Abang ya? Ih masih dendam," goda Tiara.
"Di mana pun yang penting kamu nyaman dan sesuai passion kamu jadi Tiara bisa menikmati magangnya," sela Bu Ina menengahi.
"Tuh Abang. Dengerin kata Mama. Jangan iri dengki," sahut Tiara serasa di atas awan.
Bu Ina begitu gemas melihat tingkah Tiara dan Rama yang sering seperti Tom and Jerry namun nampak betul mereka sudah saling menyayangi. Bu Ina pun tak kalah bersyukur dan bahagia karena kehadiran Tiara di tengah-tengah keluarganya bisa membawa suasana baru yang lebih hangat. Rumahnya menjadi ramai oleh keceriaan dan manjanya walaupun dia sebenarnya mandiri dan pandai menempatkan diri.
"Iya memang. Malah aku nggak repot berubah-ubah jadi bos dan suami. Eh, Ra. Ngomong-ngomong magang. Kemarin, ada yang diterima magang di kantor. Setelah aku lihat-lihat, ternyata dia satu jurusan sama kamu, tapi tingkatannya satu tahun di atasmu. Sepertinya itu temanmu," ucap Rama sambil menatap Tiara penuh keingintahuan.
Deg. Jantung Tiara tiba-tiba berdetak ganjil menerima firasat yang langsung tertuju pada satu orang.
"Namanya siapa, Bang?" tanya Tiara sejenak menghentikan makannya.
"Kenzie atau Kenzo pokoknya belakangnya ada Emanuella Pradana," jawab Rama malas mengingat-ingat keras.
Deerrr. Tiara pun menelam ludah getir. Firasatnya ternyata benar dan ada kecemasan yang hadir tanpa alasan. Tiara pun sampai heran dengan diri sendiri karena seharusnya tidak apa Kenzie magang di kantor Rama. Di sana memang sesuai dengan minat Kenzie yang pernah diceritakan di awal perkenalan mereka. Entah Tiara khawatir Kenzie akan mengetahui identitas tersembunyinya sebagai istri CEO di sana atau mungkin karena pernah ada rasa dengannya.
"Oh Kak Kenzie. Iya aku kenal, Bang. Baguslah Abang menerimanya. Dia mahasiswa teladan di kampus dan mantan presiden BEM universitas. Pernah mendapat kesempatan pertukaran mahasiswa ke luar negeri juga. Nggak diragukan deh kemampuannya," sahut Tiara detail berusaha menutupi kecemasannya namun malah ditanggapi dengan kernyitan dahi oleh Rama.
"Tahu sedetail itu?" tanya Rama sangsi.
"Iya itu kan informasi umum juga. Bagaimana nggak tahu. Dari awal masuk Tiara udah kenal. Dia juga mahasiswa populer dan enak dipandang hehe. Pasti wajarlah banyak mahasiswa yang tahu tentang dia. Apalagi kalau soal prestasi kan pasti langsung cepat beredar di seantero kampus," jawab Tiara meluruskan walaupun malah membuat Rama kian mendelik setelah kata enak dipandang keluar dari mulutnya yang lancang.
"Tapi, sepertinya ada yang aneh," ucap Rama berubah menjadi galak dan meletakkan sendok garpunya karena makanannya sudah tak bersisa.
"Abang tuh yang aneh," ucap Tiara mencebik, kemudian mengadu kepada Bu Ina untuk mencari pembelaan, "Mama, Abang yang aneh kan?"
"Iya. Cukup Rama. Biarkan Tiara makan dengan tenang, kamu diam saja menunggu kami selesai atau mau ke mana dulu. Silakan," sahut Bu Ina penuh kelembutan.
__ADS_1
"Aih. Mama tuh selalu saja membela Tiara. Anak Mama sebenarnya siapa sih," protes Rama mendadak manja.
"Ya Rama dan Tiara kan sama saja anak mama," jawab Bu Ina membuat Rama terdiam.
Tiara pun melirik sekilas ke arah Rama dengan penuh kemenangan. Lalu, Rama membalasnya dengan mendelikkan mata penuh kelicikan. Tiara jadi ngeri sendiri saat merasa ada yang tidak beres dengan tatapan Rama hingga senyumnya hilang seketika. Melihat nyali Tiara menciut, Rama pun tersenyum dengan sebelah bibir dengan penuh siasat. Bahkan tanpa kata, Rama bisa langsung mengintimidasi Tiara sampai sebegitu takutnya.
...****************...
Perdebatan sengit di meja makan ternyata auranya terbawa sampai di kamar. Dua sejoli yang tak lain adalah suami istri itu masih bertahan menjaga gengsi untuk membuka kata di antara mereka. Mulut mereka sebenarnya sudah sangat gatal ingin bicara namun keduanya tak ingin kalah dalam pertempuran diam ini.
Sesekali, mereka pura-pura tenggorokannya gatal sehingga berdehem yang terderngar wagu sekali, lalu diam lagi. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, tetapi tak ada hal berarti yang mereka lakukan di sana. Hanya sok asyik sibuk membuka chat dan grup namun tak ada yang dibalasnya juga.
Uhuk uhuk. E**rrgghh. Dehem Rama coba menarik perhatian Tiara.
"Minum sana! Berisik, Abang!" suruh Tiara yang sudah tak tahan dengan sikap Rama yang sangat caper itu.
"Ambilkan. Kan kamu lebih dekat ke nakas," sahut Rama manja.
Kalau saja bukan suami yang menyuruh, tentu Tiara akan menolaknya saat itu juga. Namun, statusnya sebagai istri membuat Tiara lebih sadar diri akan tanggung jawabnya walaupun baru bisa memenuhi hal yang sederhana saja. Dengan bersungut-sungut, Tiara mengambil segelas air minum di nakas dan membawa ke Rama yang masih duduk santai di sofa.
Saat sudah sampai ujung sofa dan hendak mendekati Rama yang berada di tengah, tiba-tiba kaki Tiara tersandung. Meskipun Tiara tak sampai terjatuh dan gelas di tangannya aman namun air di dalamnya terlontar keluar dari wadah lalu jatuh tepat di wajah Rama hingga mengalir membasahi baju dan celananya. Tiara menengguk ludah yang mendadak terasa seret di tenggorokannya.
"Kalaupun masih dendam, bisa nggak biasa aja gitu. Main siram-siram aja," sahut Rama sambil menyeka wajah basahnya.
"Iya kan aku nggak segaja, Abang," sesal Tiara menatap suaminya yang terlihat murka sungguhan.
"Dah lah. Ambilkan aku handuk!" suruh Rama dengan nada kesal.
"Iya, Bang," jawab Tiara segera berlari menuju ruangan dekat kamar mandi yang terdapat lemari sepatu serta sebagian baju dan rak gantungan handuk juga.
Tiara segera menyerobot handuk Rama dan membawanya kembali ke kamar. Saat sampai di kamar, Tiara tertegun sejenak melihat Rama bertelanjang dada bahkan sedang melepas celana tidurnya hingga tersisa boxer saja. Dengan langkah gamang, ia kembali berjalan sebelum Rama mengetahui keterkejutannya. Tiara menundukkan wajah sambil memberikan handuk kepada Rama namun Rama tak kunjung menerimanya. Tiara pun mengangkat wajah dan Rama masih sibuk mengelap badannya dengan baju basahnya.
"Abang, ini handuknya," kata Tiara mengalihkan perhatian Rama.
"Oh ini handuk buat aku. Kupikir buat siapa soalnya kamu dari tadi cuma mengacungkan, tapi nggak bilang apa-apa," sahut Rama menyebalkan.
"Iya buat siapa lagi. Di sini kan cuma ada kita berdua," decak kesal Tiara.
"Tolong dilap badanku sekalian. Kedua tanganku sibuk memegang baju dan celana," perintah Rama licik.
"Sini baju dan celana Abang, biar Tiara aja yang pegangin," bantah Tiara halus-halus.
__ADS_1
"Nggak nurut suami itu dosa," nasihat Rama yang bernada sindirian.
Kalau sudah membawa status, tentu Tiara sudah kalah telak. Tak berani juga ia melawan. Tangannya pun terulur dengan gemetar mendekati dada bidang Rama yang sudah bertengger dengan gagah di depannya. Mata Tiara tak bisa berkedip melihat gurat lekukan di dada dan perut Rama sedikit mengguncangkan kewarasannya.
Perlahan, ia bersihkan sisa basah air di dada Rama. Dadanya semakin tidak bersahabat dan berdegup sangat dahsyat. Sepanjang tangannya menyusuri lekukan demi lekukan, selama itupun doanya tak terputus meminta perlindungan Tuhan. Terlebih, saat kulit tangannya tak sengaja bersentuhan dengan kulit Rama tentu Tiara sangat kaget. Bagi Tiara, badan Rama seperti ada instalasi listriknya hingga saat kontak langsung membuatnya tersetrum hingga menjalar sampai ke nalar.
Dengan kecepatan cahaya, Rama meraih kepala Tiara dan menempelkannya ke dada agar Tiara mendengar detak jantungnya yang mirip musik underground. Tiara pun tak sempat menghindar karena tangan kokoh Rama telanjur mendekapnya begitu erat namun penuh kehangatan yang dalam arti kiasan pun dalam arti sesungguhnya.
"Kamu bisa dengar?" tanya Rama lembut.
"Apa?" tanya balik Tiara pura-pura tidak paham.
"Dasar pembual! Kamu tersangkanya, jangan mangkir ya," seloroh Rama sangat gemas sambil melingkarkan tangan di pinggang Tiara, kemudian semakin merapatkan tubuh mereka.
"Tersangka apa? Abang nggak jelas," sangkal Tiara mendongakkan kepala penuh waspada.
"Masih betah pura-pura ya? Sepertinya kata tak cukup membuatmu mau mengaku. Artinya, tubuhku yang harus bekerja ekstra," ujar Rama tersenyum dan menatap nakal istrinya.
"Abang jangan lupa janji Abang ya. Aku nggak suka pengingkaran!" ancam Tiara siaga namun tak bisa berbuat apa-apa.
Rama tak mengindahkan ancaman Tiara malah mendorong Tiara mundur hingga mentok di tembok. Tiara tak dapat menolak karena Rama mengunci tubuhnya begitu erat. Rama sedikit melonggarkan pelukannya dan mencondongkan tubuh ke arah Tiara. Kemudian, bibirnya mengecup pipi Tiara dan menyusur hingga ke telinga.
"Janji apa? Hei, Sayang. Mulutmu memang bilang enggak, tapi badanmu sudah mengizinkan," bisik Rama lirih namun berhasil membuat Tiara merinding seketika.
"Abang," panggil Tiara ragu namun memberanikan diri untuk menatap Rama dalam-dalam.
"Iya, Sayang," jawab Rama membalas tatapan Tiara penuh kasih sayang.
"Tiara akan nurut, tapi yang satu itu jangan dulu. Tiara belum siap. Tiara takut hamil, Bang," pinta Tiara memohon.
"Abang usahakan lebih hati-hati," bujuk Rama sudah sangat berhasrat.
"Maaf. Tiara benar-benar tidak siap kali ini. Mungkin lain waktu saat Tiara sudah benar-benar yakin dengan hati sendiri," jujur Tiara.
Rama menganggukkan kepala walaupun kekecewaan harus kembali ditelannya dalam-dalam. Namun, setidaknya sudah ada kemajuan sehingga ia tak ingin terburu-buru dan membuat Tiara trauma kepadanya. Toh setelah nanti berhasil mendapat hati Tiara sepenuhnya, tentu semua bisa didapatkannya dengan sukarela.
Saat Tiara menutup mata, Rama tak mau melewatkan kesempatannya. Rama segera merapatkan pinggang Tiara dan Tiara melingkarkan tangan di leher Rama. Kali ini, bukan hanya Rama yang bekerja namun mereka saling memagut bibir penuh kasih dan gairah. Bahkan, Tiara sudah berani melawan sapuan lidah Rama sehingga keduanya seakan sedang meminum anggur yang nikmat, manis, nan memabukkan.
Setengah jam mereka bermain bibir dengan berdiri, kemudian setelah dirasa mulai pegal. Mereka pun melanjutkan di atas kasur sembari saling mendekap selama setengah jam juga. Setelah itu, mereka tertidur pulas dengan saling berpelukan dan kelegaan. Tidak ada tang terjadi lebih panas di malam itu, kecuali adegan mereka di mimpi Rama yang membuat Rama harus mandi di pagi buta.
...****************...
__ADS_1