
Selepas subuh keesokan hari, Tiara pun tak mengikuti Rama untuk kembali menjemput mimpi. Tiara pun turun hendak ke dapur namun langkahnya terhenti ketika melihat Bu Ina duduk termenung di meja makan. Tiara sempat memerhatikan sembari berjalan pelan mendekati mertuanya. Sepertinya ada yang sedang Bu Ina renungkan begitu dalam sampai tak menyadari kehadiran Tiara. Akhirnya, usapan tangan Tiara bisa menarik kembali kesadaran Bu Ina.
"Mama, kenapa? Jangan melamun," tutur Tiara lembut sembari menatap tulus ibu mertuanya.
"Nggak, Sayang. Mama bersyukur kamu dan Rama sudah akur. Rasanya tak ada beban lagi kalau nanti Mama harus tutup usia. Titip Rama ya, Sayang. Dia memang manja dan sering menyebalkan karena kerap sulit menahan ledakan emosinya namun percayalah bahwa dia anak yang baik, bertanggung jawab. Paling penting, dia itu sayang banget sama Tiara. Mama bisa merasakannya," sahut Bu Ina seraya mengelus tangan Tiara dan menggenggam erat untuk mengisi ulang energinya.
Tiara duduk berlutut dan menggenggam erat tangan Bu Ina. Tiara mendongak menatap kedua mata Bu Ina yang menyimpan kekosongan yang mendalam.
"Iya, Ma. Janganlah berkata seperti itu. Tiara masih ingin dimanja Mama. Tiara masih mau diajarin masak juga. Mama harus lebih semangat lagi menjalani hidup. Semangat, Ma," kata Tiara dengan wajah ceria.
"Iya mungkin Mama hanya lelah. Rasanya, semakin ke sini Mama itu sering rindu Papa, Sayang. Mama bersyukur kamu di sini. Kamu benar-benar menjadi pengganti Papa. Kamu yang dengerin semua cerita Mama, kamu yang suka nemenin Mama, kamu yang sangat manja kepada Mama. Selepas kepergian Papa, kehadiran kamu yang membuat Mama nggak kesepian lagi," jawab Bu Ina dengan tatapan menerawang ke depan tanpa tujuan.
"Iya doakan saja Papa, semoga tenang di sana. Mama juga jangan sedih lagi. Melihat anak-anak Mama sukses, melihat cucu Mama tumbuh dewasa, Mama emang nggak mau bertemu dengan anak Abang dan Tiara?" ucap Tiara berusaha menghibur Bu Ina walaupun dalam hatinya tentu merasa bersalah telah meninggalkan Bu Ina selama setengah bulan.
Mendengar kalimat terakhir Tiara, Bu Ina pun tersenyum lebar. Sorot matanya tak lagi redup dan tatapannya lebih hidup. Bu Ina pun mengusap kepala Tiara penuh kasih sayang. Tiara pun meletakkan kepalanya di pangkuan Bu Ina dengan manja.
"Syukurlah. Mama tunggu kabar bahagianya walaupun sebenarnya kamu bisa bertahan dengan Rama saja sudah sangat membuat Mama bahagia. Nggak usah terburu-buru, kamu yang penting fokus kuliah dulu dan raih cita-citamu. Jangan lupa, minta izin dan rido suami. Itu kunci kesuksesan istri di dunia sampai akhirat," nasihat Bu Ina sungguh menyentuh hati Tiara.
"Insyaallah, Ma," sahut Tiara terisak membenamkan wajah di pangkuan Bu Ina karena mendadak air matanya menjatuh tanpa sengaja.
"Lho lho lho. Kenapa, Sayang?" tanya Bu Ina mengangkat kepala Tiara cemas.
"Tiara terharu mendengar nasihat Mama. Selama ini, Tiara belum bisa menjadi istri yang baik buat Abang," jawab Tiara tersedu-sedu.
"Bertahap, Sayang Mama. Nggak ada yang namanya istri yang sempurna. Terlebih, kalian sebelumnya belum saling kenal jadi wajar masih dalam masa penyesuaian. Mama dulu sama Papa juga nggak bisa langsung akur. Bertengkar, akur, lebih memahami. Begitu terus siklusnya. Nggak ada batas maksimal dalam mempelajari ilmu berumah tangga. Setiap pasangan punya pengalamannya masing-masing jadi ya selama masih bersama tentu banyak kemungkin untuk belajar hal-hal baru dari segala yang dialami bersama. Mama pernah mendengar ungkapan sedahsyat apa pun badai di depan, jangan pernah melompat dari kapal. Hadapilah karena di depan perjalanan masih panjang dan badai itu hanya sementara. Jadi sebesar apa pun masalah kalian, jangan pernah lari dan berhenti memaafkan. Selagi bukan tentang kekerasan atau perselingkuhan, jangan menyerah karena itu hanya bumbu dalam hubungan yang membuat kalian menjadi lebih tanggu di masa depan," pesan Bu Ina sangat lembut.
Tiara hanya bisa mengangguk dengan air mata yang berderai-derai mendengarkan pesan Bu Ina yang begitu sampai merasuk ke dalam sanubari.
"Tiara sayang Mama," ucap Tiara memeluk pinggang Bu Ina.
"Iya. Mama juga sayang banget sama Tiara," sahut Bu Ina mengelus bahu Tiara.
"Nyonya, mobil sudah siap. Mau berangkat sekarang?" tanya Pak Rahmat yang tiba-tiba datang.
Tiara pun langsung melepas pelukannya dan menyeka sisa air matanya. Bu Ina membantu Tiara berdiri.
"Iya, Pak. Ini sudah siap," jawab Bu Ina.
"Mama mau ke mana?" tanya Tiara penasaran.
"Mama ada urusan. Kamu jaga rumah ya. Titip anak manja Mama juga. Duuh kalo weekend suruh olahraga, tapi kerjaannya tidur terus itu anak," jawab Bu Ina dengan wajah gemas.
"Iya udah. Mama hati-hati yaa. Cepat pulang. Tiara masih kangen," sahut Tiara sambil mencium tangan Bu Ina.
"Duh ini manja sekali anak, Mama. Jadi nggak tega pergi. Ya udah kembali ke kamar aja, istirahat lagi temenin Rama. Kamu pasti capek beberapa hari ke luar kota," ucap Bu Ina mencubit pelan pipi Tiara.
"Nggak lah, Ma. Pengen belajar masak aja hehe," sahut Tiara.
__ADS_1
"Yakin mau belajar sendiri?" tanya Bu Ina ragu.
"Nggak lah, Ma. Bahaya kali aku belajar masak sendiri, bia meracuni orang serumah. Aku cuma mau minta diajarin Bi Siti bikin nasi goreng," jawab Tiara semangat.
"Iya udah. Semoga nggak gosong ya, Sayang," ledek Bu Ina.
"Idih, Mama. Belum juga mulai udah ditakut-takutin," sungut Tiara pura-pura merajuk.
"Iya. Udah lah. Mama berangkat dulu ya, Sayang. Bilang Rama juga kalau Mama pergi, mungkin akan seharian," pesan Bu Ina.
"Siap, Mama Cantik," hormat Tiara kepada Bu Ina.
Selepas mengantar Bu Ina pergi, Tiara pun merecoki Bi Siti di dapur yang sedang sibuk membersihkan peralatan sisa makan semalam.
"Mau apa, Non? Mau minum?" tanya Bi Siti.
"Nggak, Bi. Aku mau masak nasi goreng buat sarapan," jawab Tiara percaya diri.
"Oh iya, Non. Bahannya ada di kulkas. Bumbunya mau pakai yang instan atau bumbu ulek?" tanya Bi Siti.
"Emang ada macam-macam bumbu nasi goreng ya?" tanya balik Tiara bingung.
"Iya, Non. Kalau Tuan Rama biasanya minta yang bumbu ulek, katanya lebih gurih dan wangi," jawab Bi Siti.
"Iya udah. Yang kayak kesukaan Abang aja deh. Bantuin ya, Bi. Tahu sendiri kan kalau aku masak sendiri bagaimana bahayanya. Bikin kopi aja pakai micin," ujar Tiara cengengesan membuat Bi Siti tersenyum geli.
"Ini yang harus aku persiapkan dulu apa, Bi?" tanya Tiara sambil membawa pisau dan mengacungkannya kepada Bi Siti.
Bi Siti sampai terlonjak ke belakang walaupun jarak pisau itu masih jauh darinya namun cukup mengagetkan. Bi Siti sampai mengelus dada membuat Tiara meringis dan menurunkan pisaunya.
"Non, ngagetin aja. Sekarang, ambil nasi dulu di rice cooker secukupnya biar udah adem pas dimasak. Kalau kesukaan Tuan Rama biasanya pakai sosis, ayam, kacang polong, dan sawi. Ditambah telur rebus matang sempurna," instruksi Bi Siti membuat Tiara pening bukan main.
"Bi, satu-satu," rengek Tiara sambil mengambil nasi, kemudian bertanya lagi, "Nasinya segini, Bi?"
"Itu porsi untuk tiga orang biasanya. Kalau mau buat berdua, kurangi," jawab Bi Siti sambil melanjutkan cuci piring.
"Iya udah segini aja. Emang Bi Siti nggak mau apa merasakan masakanku?" tanya Tiara manyun.
"Mau lah, Non. Bibi malah berterima kasih dimasakin sama majikan," jawab Bi Siti bahagia.
"Setelah ini ambil sosis ya. Sosisnya berapa, Bi? Jawab detail, bukan terserah. Aku ini nggak bisa mengira-ngira dalam masakan, Bi," tanya Tiara lagi.
"Dua aja. Ayam filetnya ambil yang di chiller ya, Non. Ambil 2 aja," jawab Bi Siti.
Tiara pun melakukan sesuai instruksi Bi Siti tanpa bicara karena sambil mengingat-ingat yang harus dilakukan. Bi Siti pun sudah selesai mencuci piring, lalu membantu mengambilkan daun sawi, cabai, serta kacang polong juga karena Tiara memang belum paham macam-macam sayur. Setelah itu, Bi Siti membantu Tiara mengupas bawang merah, bawang putih, dan membantu mengulek bumbunya karena Tiara sudah mencoba, tapi ternyata bawang putihnya loncat-loncat terus. Akhirnya, Tiara memotong bawang merah dan toping sambil banyak bertanya kepada Bi Siti. Bi Siti pun dengan sabar dan telaten menjawab pertanyaan Tiara yang tak berjeda seperti gerbong kereta.
Setelah bahan masakan siap, Bi Siti pun memberi instruksi untuk memasukkan satu per satu bahan. Setelah bahan tercampur, Bi Siti menyerahkan garam sedikit, kaldu jamur, dan kecap asin. Setelah semua tercampur, terakhir masukkan kecap sampai berwarna kecoklatan. Jangan bayangkan Tiara memasak dengan rapi, tentu nasi berceceran di kompor, di keramik dapur, sampai ada nasi masuk ke kantong celemek yang dipakainya.
__ADS_1
"Bi, tolong cicipi. Udah enak belum?" tanya Tiara cemas sendiri.
Bi Siti pun mengambil sendok dan mencicipinya.
"Kurang kecap manis sedikit sepertinya, Mbak," jawab Bi Siti jujur.
"Seberapa, Bi? Tapi, udah enak" tanya Tiara gugup.
"Udah enak kok, Non. Satu sendok makan aja kecapnya," jawab Bi Siti.
Setelah menambahkan kecap, Tiara pun meminta tolong Bi Siti untuk mengaduk lagi nasi gorengnya karena tangannya masih terasa pegal sisa permainan yang diajarkan Rama semalam. Setelah matang, Di Siti juga dimintai tolong untuk membereskan dapur yang diacak-acak olehnya. Tiara segera membagi nasi goreng itu ke tiga piring dan dua piring dibawa ke meja makan.
Dengan semangat menggebu, Tiara berlari menaiki anak tangga untuk membangunkan suaminya karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Tiara pun tercengang karena butuh waktu satu setengah jam untuknya membuat satu hidangan nasi goreng saja.
"Abang, ada kabar gembira" bisik Tiara manja di telinga Rama yang berpura-pura tidur.
Mendengar itu, Rama pun langsung membuka mata dan begitu antusias. Matanya mengerling genit dengan senyum tersimpul penuh makna.
"Ada apa? Palang merahmu udah selesai?" tanya Rama penuh minat.
"Aih, Abang. Selalu saja otaknya mesum. Ini lebih penting tentunya, Bang," ejek Tiara.
"Apakah ada kabar yang lebih menggembirakan selain dapat jatah?" goda Rama membuat Tiara melompat ke kasur dan mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.
"Omes. Omes. Otak mesum. Kabar gembiranya, Abang kumasakin nasi goreng. Yuk sarapan," ajak Tiara memaksa Rama untuk duduk.
"Nggak beracun, kan?" ledek Rama.
"Paling kukasih obat perangsang. Puas?" sahut Tiara kesal.
"Kalau kamu yang kasih tentu aku sukarela memakannya," jawab Rama nakal.
"Aih. Abang ini banyak cakap. Ayolah keburu nasi gorengnya dingin jadi nggak enak," desak Tiara sambil turun dari ranjang dan menarik tangan suaminya.
"Aku nggak cuci muka dulu ini?" tanya Rama menggoda.
"Nggak usah. Udah ganteng. Udahlah pokoknya," paksa Tiara sampai Rama hampir terjatuh dari kasur.
"Seenak apa sih masakanmu sampai seantusias ini?" goda Rama sambil berdiri mendekati Tiara.
Tiara pun langsung mengibaskan tangan Rama dan berlari sembari bersungut-sungut. Rama pun menepuk jidat penuh sesal telan melontarkan candaan itu. Rama lupa jika Tiara suka mood swing kalau sedang halangan. Menyinggung sedikit aja begini jadinya. Rama berlari mengejar Tiara.
"Duh salah ngomong. Bibir. Bibir. Ngapain sih suka nggak punya rem," sesal Rama menepuk-nepuk bibirnya.
"Ra, tunggu. Aku tadi cuma bercanda," bujuk Rama namun tak digubris sama sekali oleh istrinya.
Baru mau dapet enak, udah ada tanda-tanda perang dunia lagi. Gumam Rama dalam hati.
__ADS_1
...****************...