Lelaki Pilihan Kakek

Lelaki Pilihan Kakek
Bisul Pecah


__ADS_3

Belum juga pikiran Tiara damai dengan ciri-ciri kepribadian ganda, Rama tiba-tiba saja mengecup kepalanya. Tiara pun menahan napas sejenak dan melepaskan dengan penuh kepanikan. Keromantisan yang ditunjukkan Rama malah membuat bulu kuduknya bergidik. Bahkan, suara Tiara saja sampai enggan keluar dan ia hanya bisa bicara lewat batinnya.


Ya Tuhan, kenapa aku punya suami aneh begini? Apakah ini akibat dosaku yang sangat banyak? Bagaimana kalau aku akan diperkosa dan dibunuhnya malam ini juga?


"Sayang, belum ngantuk? Masuk yuk. Dingin nih," ajak Rama dengan senyum-senyum penuh alasan.


Tangan Tiara menjadi dingin gemetaran bukan karena udara di sana, melainkan karena terlampau cemas. Ucapan Rama sudah cukup kuat menjadi alasan bahwa tersirat niat terselubung di dalamnya.


"Abang..." ucap Tiara dengan suara bergetar.


Tiara mengeluarkan tangannya dari jaket untuk berpegangan di teralis balkon. Ia genggam erat teralis yang sedingin sikap normal Rama biasanya.


Rama pun menggenggam kedua tangan Tiara. Betapa terkejutnya ia merasakan tangan Tiara yang sangat dingin seperti ia sedang menggenggam es batu. Ia lepaskan tangan Tiara dari teralis dan membalikkan badan Tiara supaya menghadap kepadanya. Ditangkupkannya tangan Tiara sejengkal di depan bibirnya. Lalu, ia genggam tangkupan tangan Tiara dan meniupnya pelan-pelan untuk memberinya sedikit kehangatan.


Gambaran keromantisan kali ini benar-benar hancur di pikiran Tiara. Ia tak bisa merasakan keharuan malah kian mencurigakan. Ditambah lagi, tatapan Rama padanya yang sangat dalam dan penuh makna tentu membuat dia ingin pingsan saat itu juga.


"Abang, aku takut. Kamu semakin bahaya!" ucap Tiara dengan suara serak hampir menangis.


Melihat mata Tiara mulai berkaca-kaca, Rama merasakan ada yang tidak beres dengan perasaan Tiara. Ia segera melepas salah satu earbuds di telinganya dan memasang ke Tiara.


"Nggak usah mesra-mesra di depanku! Kamu pikir aku akan percaya kalau kamu sayang dia dan nggak cinta aku lagi. Kemarin, aku udah tanya Tante Ina dan udah cerita kalau pernikahan kalian hanya karena perjodohan. Pernikahanmu hanya memenuhi wasiat dari Om Arif, kan? Paling juga nanti ujung-ujungnya cerai karena susah move on," terang suara Selvi di telepon.


Tiara mengernyitkan dahi dan bernapas lega. Rasanya seperti punya bisul yang tiba-tiba pecah. Lega. Setelah bermenit-menit ia berperang dengan pikiran anehnya, akhirnya menemukan jawaban atas sikap Rama yang mendadak romantis itu. Otot-otot di badan Tiara pun merileks semuanya seperti habis menang arisan. Kali ini, ia bisa tersenyum lagi tanpa beban.

__ADS_1


"Seyakin apa kamu dengan kepercayaan dirimu itu?" tanya Rama ketus.


"Aku yakin. Toh, aku udah akrab banget sama mamamu. Dia pasti akan memberikan restu. Tak apa aku menjadi yang kedua. Kalau sudah ada aku, kamu lama-lama pasti bisa mendepaknya," jawab Selvi penuh amarah.


"Tapi, keadaan sudah beda. Tak mungkin Mama bisa memutuskan sesuatu tanpa persetujuanku. Menyerah saja daripada waktumu terbuang sia-sia untuk memperjuangkan apa yang nggak mungkin bisa kamu dapatkan lagi," tegas Rama.


"Aku tau hatimu. Kamu mengatakan ini karena sedang ada dia di depanmu, kan?" tanya Selvi sangat percaya diri.


Rama menekan dan menahan lekukan pada gagang earbuds, panggilan pun diakhirnya sepihak. Ia pun menyimpan kedua earbuds di saku jaketnya. Setelah itu, ia rapatkan jaketnya di tubuh Tiara hingga Tiara semakin terdesak ke dadanya.


"Thanks udah bantu," ucap Rama pelan sambil mengecup kening Tiara.


Mata Rama menatap tajam ke arah Selvi yang sedari tadi memata-matai mereka dari taman. Selvi nampak sangat murka dan langsung membuang muka. Tak lama, Selvi pun pergi dengan langkah cepat.


"Udah cukup atau belum acting-nya, Abang? Aku nggak bisa napas," celetuk Tiara memudarkan suasana romantis yang sedang dicipta.


Rama pun mengendurkan dekapannya hingga Tiara bisa leluasa bergerak di dalamnya.


"Emang, kamu nggak mau lanjutin yang sungguhan?" tanya Rama menggoda Tiara.


"Abang, kamu ini aneh. Tiba-tiba, cuek. Nanti, baik. Cuek lagi. Aneh lagi. Mencurigakan lagi. Kalau kamu perhatian begini, malah aku merasa terancam," jelas Tiara.


"Kok bisa?" tanya Rama sangsi.

__ADS_1


"Ya kayak ada udang di balik bakwan gitu. Ngeri dengernya malah. Atau kamu punya kepribadian ganda ya, Bang? Nanti kita ke psikiater yuk," jawab Tiara polos dan sangat jujur.


"Kamu tuh yang aneh," sahut Rama tak terima.


"Kamu tahu? Kalau tadi kamu nggak kasih tau aku pas mantanmu telepon, aku hampir nangis ketakutan. Aku curiga banget kamu punya kepribadian ganda loh, Bang. Soalnya, sikapmu bisa berubah drastis dalam waktu sesingkat itu. Jadi, aku curiga ada alter lain di dalam dirimu," ungkap Tiara runtut.


"Lalu, aku bagaimana emang?" tanya Rama antusias mendengarkan cerita Tiara yang menggelikan baginya.


"Iya masa dari sedingin kulkas tiga pintu dalam hitungan menit bisa jadi sehangat tungku. Kan susah dinalar kan susah. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku mikir kamu punya kepribadian ganda. Aku sampai takut banget loh, Bang. Di novel yang pernah aku baca, orang yang punya kepribadian ganda cenderung punya alter yang psiko gitu. Karena aku ingat itu, aku jadi takut kalau rayuanmu itu hanya untuk menarik perhatianku biar aku baper dan lengah. Abis itu, aku bakal disiksa, diperkosa, atau bahkan dibunuh," terang Tiara serius menggambarkan betul ketegangan yang telah dilaluinya.


Rama pun cekikikan mendengar pemaparan Tiara yang sangat dramatis dan nggak habis pikir istrinya akan berpikir sejauh itu. Rama semakin gemas sampai merapatkan gigi atas bawahnya dan nyengir menahan diri untuk tak memakan sang istri. Rama pun melepas dekapannya untuk bisa lebih leluasa menikmati wajah lucu Tiara yang habis dilanda ketakutan luar biasa. Ia menyeka wajah Tiara berujung mencubit hidungnya pelan


"Tadi udah bawa-bawa drama Cina, drama Korea, sekarang novel, sampai kepribadian ganda. Makanya, hidup jangan disamakan dengan fiksi. Kalau di fiksi lempeng dan monoton aja ya membosankan, makanya dibikin lebih dramatis agar lebih menarik dan membawa pembaca ke ceritanya," sahut Rama.


"Tapi, kan ada yang diambil dari kisah nyata," sangkal Tiara.


"Tapi, kan nggak semua hal di dunia bisa disamaratakan dengannya. Senyata-nyatanya kisah fiksi, tetap ada campuran imajinasi untuk menghidupkan cerita," ucap Rama.


"Kamu itu lulusan apa sih, Bang? Kok kayak paham banget soal begituan," tanya Tiara keluar dari pokok pembahasan.


"Makanya, perhatian sama suami. Jadi tau. Udah yuk masuk. Udah makin dingin," jawab Rama sambil melenggang masuk ke kamar.


Tiara pun menurut dan mengekor di belakang Rama. Ia mulai merasa cemas karena sebentar lagi adalah kali pertama ia dan Rama berbagi kasur.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2