
Abang 🐶
Angkat atau kususul kamu ke Jogja!
Audit selesai pada pukul 15.00 dan Tiara baru sempat membuka ponsel. Tentu ia dikejutkan oleh pesan Rama yang singkat, jelas, tetapi sangat mematikan nyalinya. Tiara yang semula kecewa kepada Rama dan malas berbicara dengannya, mendadak menjadi takut dan penasaran dengan apa yang sedang terjadi kepadanya.
Tiara segera memisahkan diri dari teman-temannya yang sedang beristirahat. Ia pun mencari tempat sepi di taman hotel yang tak jauh dari kamarnya menginap. Tiara pun menelepon balik Rama dengan perasaan was-was tak keruan. Benar saja, Rama langsung mengangkat teleponnya dua detik setelah panggilan itu masuk.
"Dari mana saja?" tanya Rama galak.
"Iya kerja, Abang. Kan Abang tahu sendiri, aku ke Jogja bukan main, tapi audit marketing. Abang kenapa sih?" tanya balik Tiara berusaha tetap tenang.
"Kerja? Pendekatan dengan dalih pekerjaan, kah?" sindir Rama.
"Apa sih, Bang?" tanya Tiara yang terpancing amarahnya.
"Kamu selalu menuntut aku untuk memahami perasaanmu, untuk menjaga perasaanmu, tapi apa yang kamu lakukan terhadapku? Di depanku, kamu terlihat patuh. Di luar jangkauanku, kamu begitu bebas dan tak tahu batas. Inilah mengapa aku tak ingin menyembunyikan pernikahan kita dari orang di sekitarku, tentu agar mereka paham aku sudah beristri. Dengan begitu, tak ada yang salah paham dengan sikapku dan tak ada yang berani mendekatiku lagi," papar Rama dengan nada tinggi.
"Apa maksud, Abang? Bicara to the point bisa nggak?" protes Tiara bingung.
"Oh mau to the point? Kenapa pelukan dengan Arjuna di kereta? Minimal, apakah tak malu dengan rekan kerjamu?" tanya Rama langsung menghujam ketenangan Tiara.
Tiara pun sempat terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. Selain itu, ia tak menyangka bahwa Rama akan mengetahuinya. Rasa bersalah membuat lidahnya kelu hingga sulit untuk bicara.
"Kenapa tak dijawab? Ha!" sentak Rama merendahkan suara namun begitu ketus menusuk dada.
"Maaf, Bang. Aku salah. Aku janji nggak akan mengulangi lagi," sahut Tiara sebisanya dengan berurai air mata.
"Aku tak butuh janji dan maafmu. Kalau memang kamu nggak bisa menjaga sikap, akui kehadiranku di pergaulanmu. Biar mereka yang tahu diri kalau kamu sudah bersuami. Aku tahu banyak salah kepadamu, aku pernah menyakitimu, tapi apa kamu sadar bahwa kamu juga menyakitiku? Aku ini benar-benar mencintaimu, Ra," desak Rama menahan untuk tak berkata kasar kepada istrinya.
"Kok Abang bisa tahu?" tanya Tiara sekenanya karena tak tahu lagi harus menimpali bagaimana.
Rama pun geram sendiri sambil mencengkeram sandaran samping kursi sampai bantalan busanya berlubang oleh tekanan kukunya.
"Untuk apa menanyakan itu? Itu nggak penting. Aku ini sedang mengkhawatirkan keadaanmu. Aku harap ini terakhir kali aku tahu kamu sedekat itu dengan lelaki. Aku lihat atau enggak, kuharap kamu bisa lebih menjaga diri. Kamu itu tanggung jawabku dan aku ini suamimu. Aku harus ingatkan kalau sebebas-bebasnya kamu, kamu tetap seorang ISTRI. Tanpa aku di sisimu, statusmu akan tetap sama," jawab Rama lebih merendahkan suara.
"Iya, Abang. Tiara minta maaf. Tiara bisa jelaskan," pinta Tiara memohon.
Rama pun menghela napas dan berusaha tidak hilang kendali seperti pada kasus sebelumnya. Rumah tangganya memang sedang terancam sehingga ia ingin lebih bisa bicara dengan Tiara dari hati ke hati.
"Jelaskan!" suruh Rama dengan ketus namun lebih melembutkan suara.
"Kemarin, aku tak tahu. Saat mendapat tiket dari kantor, ternyata tempat dudukku bersama Pak Juna. Awalnya saat aku meminta bertukar kursi dengan yang lain, nggak ada yang menerima karena mereka memang sedang membahas tentang audit masing-masing secara berpasangan. Aku nggak ada pilihan lain. Aku sebenarnya nggak nyaman, tapi nggak ada pilihan. Sampai saat aku kaget melihat foto mesra Abang dengan Selvi, aku nggak bisa nahan air mata. Aku nangis dan nggak bisa berhenti. Akhirnya, tiba-tiba Pak Juna mendekap aku di dadanya. Aku sebenarnya merasa sangat bersalah, tapi nggak bisa menolak karena saat itu aku benar-benar butuh sandaran mengingat aku harus patah hati sekali lagi sebelum pulih sepenuhnya. Setelah aku merasa baikan, aku pun menyesal dan memilih bertukar duduk dengan yang lain karena memang diskusi mereka sudah selesai. Abang, maaf. Tiara janji nggak akan ulangi lagi," papar Tiara dengan suara gemetar dan sungguh merasa bersalah.
"Dari tatapannya saja sudah sangat kentara dia ada rasa kepadamu. Apa kamu nggak tahu?" tanya Rama kembali meninggikan intonasi.
"Mana mungkin," bantah Tiara.
"Makanya jangan sembunyikan pernikahan kita dari duniamu, ya alasannya ini. Kamu terlalu polos dan baik dalam melihat perhatian seseorang. Kalau mereka tak tahu statusmu, mereka akan mudah mengagumi dan mendekatimu," timpal Rama tegas.
"Tapi, aku juga nggak merespon, Bang?" bela Tiara.
"Tapi, itu bisa menjadi masalah di kemudian hari. Mereka bisa mudah salah paham dengan sikapmu. Contohnya ini," debat Rama.
"Iya, Bang. Beri waktu sebentar lagi, aku perlu menyiapkan diri," pinta Tiara memelas.
"Sampai kapan?" tanya Rama menantang.
Tiara pun membisu. Otaknya tiba-tiba buntu. Tak mendapatkan jawaban dari Tiara, Rama pun menekan emosi dan berusaha tetap dalam kendali. Rama pun menyadari bahwa Tiara tak sepenuhnya salah walaupun sikapnya juga sebenarnya tak bisa lagi ditoleransi.
"Oke. Kamu hati-hati di sana. Ada yang sedang mengintaimu. Jangan ke mana-mana sendirian," ucap Rama membuat batin Tiara tersentak.
__ADS_1
"Sungguh? Siapa?" tanya Tiara penasaran.
"Entah. Yang jelas itu orang suruhan Selvi. Aku udah menemukan bukti kepalsuan foto itu, berarti besok sepulang dari Jogja akan kujemput dan kamu harus kembali ke rumah. Bagaimana aku bisa menjagamu dari orang-orang brengsek seperti itu kalau kamu berada di luar jangkauanku," jawab Rama.
"Iya, Bang," Tiara tak punya pilihan selain mengiyakan karena saat ini memang dia yang salah.
"Ya udah. Istirahatlah. Besok sampai Jakarta jam berapa?" tanya Rama meredah.
"Jam 10, Abang," jawab Tiara.
"Oke. Akan kujemput ke stasiun," titah Rama tak mau disangkal.
"Iya, Bang," sahut Tiara.
"Sayang, ayo kita berumah tangga dengan sebaik-baiknya. Jangan ada dusta di antara kita. Hadapi segalanya bersama. Sekuat-kuatnya aku, aku butuh kamu untuk menjadi sandaranku," pinta Rama.
"Iya, Abang. Maafkan Tiara yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk Abang," sesal Tiara sendu.
"Aku juga masih banyak kurang. Kita belajar bersama ya. Jangan pergi-pergi lagi, aku nggak bisa sendiri," sahut Rama.
"Iya, Bang," timpal Tiara sedikit mengendur batinnya.
Mereka pun mematikan panggilan setelah sama-sama berdamai dan bisa tenang kembali. Meskipun sangat sakit hati namun Rama merasa bersalah juga kalau harus menghakimi Tiara. Tiara telah berbicara jujur dan tak ada alasan baginya untuk membenci Tiara.
...****************...
Sesuai yang janji Arjuna, Arjuna pun mengajak Tiara dan keempat anak buahnya ke resto gudeg langganan keluarganya. Halaman depan resto itu tentu sangan kental nuansa Jawa. Arjuna memilih tempat duduk di saung yamg berdiri di atas kolam ikan karena di bangunan joglo paling depan sudah ramai pengunjung.
Saat Arjuna memosisikan diri di samping Tiara, Tiara pun menghindar halus dengan mendekat kepada Sherly untuk membahas laporan magangnya. Arjuna pun tak menanggapi dengan serius dan tidak merasa Tiara menghindarinya karena wajar Tiara bertanya tentang hal itu kepada Sherly. Melihat Tiara kembali ceria saja, hati Arjuna sudah ikut membaik dan bahagia.
Setelah seporsi nasi gudeg berbagai lauk tersaji, mereka pun menyantap penuh khikmad. Terlebih Tiara, dia sangat menikmati gudeg di sana dan terlihat paling antusias dengan berbagai rasa yang menyatu di lidahnya. Diam-diam, Arjuna tersenyum memerhatikan Tiara yang kadang senyum-senyum atau geleng-geleng saat mengunyahnya.
Arjuna tersenyum mendengar ucapan Toni yang berlebihan namun ia cukup bersyukur karena anak buahnya dapat menerima rasanya. Senyum Arjuna yang langka tentu membuat anak buahnya merasa lega sekaligus kagum karena ternyata begitu menawan kepala divisinya ketika mematikan mode galak.
"Tadi, kupikir kalian akan kurang bisa menikmati karena makanan inu didominasi manis. Syukurlah kalau kalian suka juga," sahut Arjuna lembut.
"Nggak kok, Pak. Enak banget ini. Walaupun manis, tapi gurih dan rempahnya juga terasa jadi sangat kaya rasa," timpal Sherly berani buka suara.
"Iya, Pak. Ini pertama kali saya makan gudeg, tapi saya langsung bisa merasakan kelezatan makanan ini. Awalnya agak aneh kalau dicoba satu per satu, ternyata jika dicampurkan semua dalam satu suap ya di situlah kekuatan citarasanya," sahut Kevin dengan mulut mengunyah.
"Betul, Vin. Rasa dalam satu porsi itu satu kesatuan. Kalau dimakan secara terpisah akan mengurangi kelezatannya namun jika dicampur dalam satu suapan akan menyatu menjadi kelezatan denga level yang jauh lebih tinggi," terang Arjuna begitu semangat.
"Tiara, bagaimana gudeg kali ini?" tanya Arjuna menatap Tiara penuh makna.
"Mantap, Pak Juna. Selera Anda luar biasa! Endulita pokoknya," jawab Tiara sambil mengacungkan dua jempolnya penuh minat.
"Mau nambah porsi?" ledek Arjuna tersenyum bercanda.
"Enggak, Pak. Ini aja udah kenyang. Tapi, saya penasaran dengan telur coklat yang Pak Juna makan. Enak, Pak? Selama ini saya beli pasti pakai ayam," jujur Tiara ceplas-ceplos.
"Enak ini. Mau saya ambilkan?" tawar Arjuna berbinar.
"Enggak usah, Pak. Biar saya ambil sendiri aja," sahut Tiara langsung menyambar karena tidak enak hati.
"Nggak apa. Barangkali ada yang mau nambah apa juga biar saya ambilkan atau pesankan sekalian," tawar lagi Arjuna kepada keemoat empat buahnya.
Keempat anak buahnya pun canggung namun begitu lega dengan sikap Arjuna yang mendadak sangat hangat. Mereka menjadi tidak merasa tertekan atau terintimidasi dengan sosok Arjuna yang biasanya dingin dan mudah meledak jika mendapati kesalahan anak buahnya. Arjuna juga terpaksa menawari keempat rekan kerjanya karena agar mereka tidak curiga dengan sikapnya kepada Tiara.
"Saya juga mau coba telurnya, Pak," sahut Sherly lirih.
"Oke. Itu saja?" tanya Arjuna terlihat bahagia.
__ADS_1
"Saya pengen yang kenyal-kenyal ini loh, Pak. Apa namanya?" ucap Kevin memberanikan diri.
"Oh itu kecek, kerupuk kulit sapi. Kalau dimasak untuk gudeg biasanya dibuat berkuah jadi kenyal gitu," timpal Arjuna.
"Sudah cukup?" tanya Arjuna lagi memastikan.
"Udah, Pak. Saya sudah kenyang," jawab Fara sungkan.
"Iya. Saya juga sudah kenyang, Pak," tambah Toni.
"Oke. Tunggu," ucap Arjuna sambil berdiri dan berjalan menuju dapur kecil tempat menyajikan makanan di sana.
Tak lama, Arjuna kembali dengan satu piring berisi 3 telur pindang atau telur bacem dan satu mangkuk kecil sambal kecek. Arjuna pun menyajikan di meja dan menyilakan anak buahnya untuk mengambil. Kali ini, walaupun terpaksa melayani anak buahnya namun Arjuna merasa bahagia dan sedikit lega karena bisa bercengkerama tanpa ketegangan dan kekakuan dengan mereka.
"Arjuna, kamu ternyata di sini juga," sapa Pak Hadi yang tiba-tiba menepuk bahu Arjuna.
Arjuna pun terperanjat mengetahui kehadiran papanya di sana. Pasalnya, tak ada komunikasi sama sekali di antara mereka seharian ini karena sibuk kerja. Kemudian, menyusul empat orang anggota keluarga Arjuna, yakni budhe, pakdhe, pak lik, dan satu sepupu Arjuna. Arjuna menyalami Pak Hadi dan anggota keluarganya, lalu diikuti oleh lima rekan kerjanya di sana.
"Duh Mekar Bogarasa punya karyawan muda-muda pantesan bisa berkembang pesat karena semangat kalian masih tinggi dan ilmu serta pemikiran kalian masih fresh mudah menyesuaikan zaman ya. Kenapa Arjuna ndak dijadikan CEO aja, Di?" tanya budhe Arjuna yang bernama Bu Lidya.
"Udah pernah aku tawari, tapi memang belum mau," jawab Pak Hadi melirik sekilas Arjuna yang mulai memasang wajah tak nyaman.
"Kenapa? Papamu sudah tua dan memegang dua perusahaan. Apa kamu ndak kasihan to, Le?" bujuk Bu Lidya.
"Papa masih mampu kok, Budhe. Aku belum bisa memimpin perusahaan jadi belajar dari bawah dulu. Lagian, jadi CEO itu merepotkan," sahut Arjuna tersenyum namun tatapannya tajam menghujam.
"Sudah. Tidak perlu membahas soal itu. Sekarang, kita bergabung untuk makan bersama kalian boleh?" tanya bu lik Arjuna yang bernama Bu Tika.
"Boleh, Bu Lik," jawab Arjuna berusaha ramah.
Batin Tiara dan rekan Arjuna pun menjadi tegang mendapati Pak Hadi beserta keluarganya di sana. Baru bisa bernapas lega karena perubahan sikap Arjuna, mereka harus dihadapkan dengan situasi yang lebih membuat mereka mati kutu tak tahu harus bagaimana. Menelan makanan pun serasa leher tercekik.
"Siapa saja ini nama-nama cah ayu dan cah bagus rekan Arjuna?" tanya Bu Tika sangat ramah.
"Saya Kevin, Bu."
"Saya Toni, Bu."
"Saya Fara, Bu."
"Saya Sherly, Bu."
"Saya Tiara, Bu."
Mendadak, wajah keluarga Arjuna berubah sumringah. Mereka tersenyum sambil saling tatap penuh arti. Mereka pun menggeleng dengan tatapan penuh kekaguman kepada Tiara. Walaupun tatapan mereka hanya sekilas namun cukup mengusik ketenangan Tiara.
"Oh. Ini yang namanya Tiara. Cantik ya," ucap Bu Lidya menunjukkan senyum tertulusnya.
"Terima kasih, Bu," sahut Tiara semakin merasa ada yang tidka beres.
"Berapa lama lagi magang di Bogarasa, Dek?" tanya pak dhe Arjuna yang sedari tadi diam. Ia bernama Pak Gading.
"Sekitar dua minggu lagi, Pak," jawab Tiara semakin heran karena seolah-olah keluarga Arjuna sudah sangat mengenalnya padahal ua saja baru pernah bertemu mereka.
"Salam kenal ya Mas Kevin, Mas Toni, Mbak Fara, Mbak Sherly, dan Dek Tiara. Yang sabar kalian bekerja dengan Pak Hadi dan Pak Arjuna ya," sapa Bu Tika mengalihkan pembicaraan.
Kevin, Toni, Fara, dan Sherly pun tersenyum menanggapi ucapan Bu Tika. Hanya Tiara yang diam seribu bahasa karena menyadari ada yang tidak beres dengan ucapan mereka.
"Dek Tiara sudah punya pasangan?" tanya Bu Lidya to the point sampai membuat Tiara tersedak.
Apa-apaan ini? Batin Tiara bergejolak.
__ADS_1