
Glekkkk...!
Rama menelan saliva dengan tubuh bergetar melihat istrinya yang sedang berlenggak-lenggok dengan baju haram yang diberikannya.
"Abang," ucap Tiara sembari menoleh ke sumber suara dengan tersipu malu dan menghentikan lenggak-lenggoknya di depan cermin.
Rama masih terperangah sampai kehabisan kata-kata untuk menjelaskan bagaimana perasaannya. Terangnya, sekujur badannya menegang melihat badan istrinya terpampang nyata. Tiara seakan sengaja tak memasang tali baju luarannya sehingga mengekspos tubuhnya dengan baju dalaman yang transparan itu.
Dengan langkah ragu, Tiara mendekati Rama yang masih terdiam di tengah pintu. Walaupun masih ada ketakutan dalam dirinya namun kewajibannya sebagai istri tentu membuatnya harus berani mengambil langkah. Terlebih, di luar sana, banyak yang mengidam-idamkan suaminya sehingga ia pun tak ingin suaminya sampai jatuh ke wanita lain.
Tiara pun memberanikan diri untuk merapatkan tubuhnya dengan Rama dan melingkarkan tangan ke leher Rama. Tiara sedikit berjinjit untuk bisa mendekati telinga Rama.
"Jadikan Tiara milik Abang seutuhnya mulai malam ini, ya. Tapi, setelah ini, Abang harus terima kalau Tiara akan lebih posesif karena nggak mau ditinggalin Abang," bisik Tiara lembut.
Mendengar bisikan Tiara, tentu bulu di sekujur tubuhnya meremang dan menarik kembali kesadarannya bahwa yang terjadi bukanlah mimpi. Tiara benar-benar akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Rama. Bukannya langsung melahap istri yang sudah ditunggu-tunggunya namun Rama malah berkaca-kaca terharu mendengarnya. Rama bahkan memeluk Tiara dengan lembut dan setulus mungkin karena salut dengan keberanian istri kecilnya itu.
"Kamu yakin, Sayang?" tanya Rama memastikan sambil menempelkan bibirnya di kening Tiara agak lama.
"Yakin, Abang. Tapi, kalau aku hamil bagaimana?" tanya balik Tiara begitu polos.
"Kenapa harus bingung? Kan, kamu punya suami," jawab Rama mengerutkan kening.
"Tapi, teman-temanku kan belum tahu tentang pernikahan kita," sahut Tiara cemas.
"Aku akan tahan dulu. Atau kamu mau kita menggelar resepsi biar pernikahan kita terpublikasi?" tanya Rama berusaha mengurai kebimbangan di wajah Tiara.
"Resepsi ribet nggak, Bang?" tanya balik Tiara.
"Iya tentu ribet, tapi kan nanti banyak yang bantu. Mau besar-besaran atau yang sederhana, aku terserah kamu aja," jawab Rama.
"Nggak usah mewah-mewah. Yang penting teman-teman dan orang terdekat kita tahu, Bang. Mungkin, sebagai bentuk rasa syukur kita bisa kita adakan pengajian sambil mengundang juga anak yatim," cetus Tiara.
"Ide bagus. Lalu, kapan prosesinya?" tanya Rama dengan suara manja.
"Yang penting setelah aku selesai magang. Paling aku selesai dalam dua minggu lagi. Cukup nggak waktunya?" tanya Tiara meminta pendapat.
"Cukup lah. Kamu mau minta resepsi besok juga aku bisa atur," jawab Rama dengan entengnya.
"Abang nggak malu punya istri kecil kayak aku. Aku belum lulus. Belum punya gelar. Belum bisa membang..." ucap Tiara terpotong oleh tingkah nakal Rama.
Sebelum Tiara kembali merendah, Rama terlebih dahulu menggigit bibir Tiara yang ranum dan menggoda. Setelah Tiara diam, ia pun melepas gigitan kecilnya dan meraih kedua pipi Tiara untuk menatapnya dalam-dalam.
"Aku cuma butuh kamu. Jadilah dirimu sendiri tanpa memaksakan diri. Bertumbuhlah sebagaimana mestinya dan aku akan menemani setiap prosesnya. Kamu sudi menjadi istriku saja rasanya sudah sangat bangga," sahut Rama sembari mengusap lembut pipi sang istri.
"Terima kasih, Abang. Aku semakin siap untuk menyerahkan seutuhku kepadamu," ungkap Tiara dengan tatapan penuh kasih kepada Rama.
"Aku akan menjagamu semampu dan sebisaku," sahut Rama dengan tatapan manis.
Rama pun membimbing Tiara ke kamar mandi untuk wudu bersama. Perlahan-lahan, Rama pun menggendong Tiara dan berjalan santai menuju tempat tidur. Ia tak ingin terburu-buru karena ingin membuat Tiara rileks dengan permainan terbaru mereka. Walaupun ia sudah sangat ingin ******* habis istrinya namun masih bisa menahan diri karena melihat ketegangan di wajah Tiara.
Setelah sampai di samping ranjang, Rama menurunkan Tiara pelan-pelan. Kemudian, ia menyalakan lampu tidur remang-remang dan mematikan lampu utama agar lebih syahdu suasana yang terbangun di antara mereka. Rama pun mendekati Tiara yang masih duduk di tepi ranjang. Ia berdiri di depan Tiara yang begitu jelas menatapnya dalam keremangan.
"Tapi, karena ini pertama. Mungkin, akan sedikit sakit nggak apa?" tanya Rama meyakinkan.
"Iya aku tahu, Abang. Aku siap kok," jawab Tiara mengangguk-angguk.
Rama pun memegang ubun-ubun Tiara untuk berdoa sebelum mengeksekusinya. Tiara pun paham dan menunduk. Rama pun membaca surat Al-fatihah dan Al-ikhlas dilanjutkan takbir dan tahlil masing-masing 3 kali. Kemudian, dilanjut dengan doa khusus.
"Bismillahi Allahumma jannibna asy-syaithaana wa jannibi asy-syaithaana maa razaqtanaa," lafal Rama ditirukan Tiara dengan suara lirih.
__ADS_1
"Aamiin," suami istri itu pun mengaminkan serempak.
Setelah selesai berdoa, Rama pun membimbing Tiara untuk berdiri. Rama memegang dagu Tiara hingga Tiara agak menengadah. Posisi itu tentu sangat memudahkannya untuk memagut lembut sepasang bibir mungil nan berisi milik istrinya. Rama benar-benar membawa Tiara dalam permainan yang sangat halus hingga Tiara berani merapatkan tubuhnya dan mengalungkan tangan di leher Rama. Keduanya menutup mata sembari memperdalam permainan serta menyelami perasaan di antara mereka.
Ketika tangan Rama mulai bergerilya memijit kepunyaan Tiara bagian atas, sebuah des@han kecil pun lolos dari mulut Tiara yang terbungkam membuat Rama sejenak membuka mata dan menatap istrinya dengan penuh gairah. Bahkan, Tiara merapatkan diri ke tubuh Rama hingga ia menabrak bagian paling vital kepunyaan Rama yang sudah menegang dan siap menerkamnya kapan saja.
"Abang," ucap manja Tiara masih dalam permainan bibir mereka.
"Iya, Sayang," sambut Rama berbalik menatap Tiara yang sudah terlebih dahulu membuka mata dan menatapnya.
Keduanya pun menjeda permainan karena Tiara menatap Rama sangat dalam. Rama pun membalas tatapan itu dengan sangat manis dan manja.
"Makasih udah mau sabar menunggu aku siap untuk mendapat hakmu yang seharusnya sudah kuberikan dari malam pertama kita," tutur Tiara lembut.
"Tak masalah. Selagi kamu masih mau bersamaku, seberapa lama pun akan kutunggu dengan senang hati," sahut Rama tersenyum tulus sembari merapikan anak rambut yang berantakan di dahi Tiara.
"Kenapa malah Abang jadi nggak seagresif biasanya? Apa Abang udah bosan sama Tiara karena menunggu terlalu lama?" tanya Tiara malu-malu.
"Oh. Jadi, kamu mau aku yang agresif. Oke. Siapa takut," jawab Rama merasa sangat tertantang.
Tiara yang tak bersiap-siap pun terkejut menerima serangan mendadak Rama. Rama menggendong Tiara dan merebahkan di kasur. Ia langsung menyingkap baju haram milik istrinya dan mengecup-ngecup kecil setiap lekuk tubuh istrinya tanpa ampun. Bahkan, ia tak memedulikan Tiara yang menggelinjang kegelian sampai meronta-ronta agar Rama menghentikan penyusuran panasnya. Bahkan, jambakan Tiara di rambut Rama tak lantas membuat Rama jera dan malah membuatnya semakin menggila untuk menguasai tubuh istrinya yang manis nan legit. Tangan dan bibirnya bekerja sama untuk membuat Tiara semakin tak berdaya.
"Abang, stop!" ronta Tiara sambil merem-melek menahan geli di setiap kulit yang bersentuhan dengan bibir Rama.
"Hanya melakukan sesuai permintaanmu," sahut Rama menjeda sejenak keganasannya untuk melihat ekspresi lucu sang istri yang sudah pasrah dengan wajah memerah.
"Geli," bantah Tiara dengan suara berat.
"Tapi kamu menikmati. Lihatlah betapa pasrahnya wajahmu," goda Rama sambil mengungkung tubuh Tiara di bawah tubuhnya.
Rama pun menyingkap pakaian Tiara hingga jelas menunjukkan bagian paling vital di tubuhnya. Gairah Rama kembali berkobar hingga dengan hitungan detik saja, ia bisa menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Katanya boleh," balas Rama dengan tatapan penuh syahwat yang tak bisa lagi dibendungnya.
Tak menunggu waktu lama, Rama segera menggarap lahan milik Tiara dengan penuh kehati-hatian karena baru pernah dibuka untuknya. Walaupun dengan gerakan perlahan, tetap saja Tiara merintih kesakitan sampai tak sengaja mencakar lengan Rama saat Rama berusaha menembus bagian paling dalam kepemilikannya.
"Sakit, Bang!" rintih Tiara dengan bulir air lolos dari kedua sudut matanya.
Rama segera menghapus air mata istrinya dengan rasa tidak tega, "Iya. Pelan kok. Nanti lama-lama nggak sakit kok."
Rama pun berhenti bergerak sejenak untuk memberi waktu Tiara agar terbiasa dengan sakitnya kali ini. Setelah Tiara mengangguk tanda Rama boleh melanjutkan, segera ia mulai lagi permainan dengan cara lembut sambil menciumi istrinya untuk memberikan kenyamanan agar tak terfokus pada panas dan nyeri di ladangnya yang sedang digasak oleh benda pusaka Rama.
Perkenalan intim itu pun berlangsung dengan begitu khikmad nan romantis. Penuh dengan kata-kata manis yang beberapa kali terlontar bak anggur merah yang melenakan dan semakin memabukkan kedua insan. Hingga, suasana kamar yang sudah berantakan tak keruan pun seakan membuat mereka berada di surga dunia yang sulit dijelaskan. Saling bertatap penuh cinta. Saling berpeluk mesra. Saling bertukar peluh dan rasa. Saling membimbing untuk sampai di puncak kenikmatan yang tiada tara.
Malam itu pun mereka lalui dengan sangat syahdu dan permainan diakhiri dengan dekapan hangat hingga terlelap bersama. Tiara yang sudah lemas menerima gempuran bertubi-tubi dari Rama, langsung nyenyak di dada bidang Rama. Rama pun tersenyum menerima tingkah manja Tiara dan semakin terharu saat melihat noda merah di sprei di belakang Tiara.
Keduanya pun menjemput mimpi di dalam selimut yang sama. Walaupun mereka terkapar tak berdaya namun wajah mereka nampak begitu tenang dan merona bahagia. Mulai malam ini, ikatan mereka pun semakin kuat dan terasa sempurna sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai.
...****************...
"Sayang, bangun," panggil Rama yang sudah begitu segar dengan rambut basah dan handuk yang terlilit di pinggangnya.
"Masih ngantuk. Badanku serasa remuk," sahut Tiara yang masih malas membuka mata, bahkan untuk menggeliat pun seakan tak punya tenaga.
"Iya nanti setelah subuh tidur lagi boleh. Maaf ya udah bikin kamu capek. Sekarang, mandi dan subuh dulu," ucap lembut Rama sambil duduk di samping perut Tiara dan mengusap-usap pipi Tiara dengan tangan dinginnya hingga Tiara refleks membuka mata.
"Abang, aku lelah sekali hari ini. Kamu ini luar biasa sekali tenaganya. Mana gampang pulih begini. Aku benar-benar dibuat tak berdaya. Apa aku nggak masuk kerja dulu, ya?" tanya Tiara sambil meringkuk dan menggeser kepala untuk bersandar di pangkuan Rama.
"Iya udah kalau nggak masuk kerja. Nanti, biar aku yang izin ke Arjuna kalau kamu sakit," jawab Rama mengusap rambut istrinya.
__ADS_1
"Eh, tapi jangan. Hari ini, aku harus mengurus beberapa berkas ke kampus untuk dimintai tanda tangan dan pengesahan dari kantor. Ada laporan juga yang perlu aku kerjakan. Aku masuk aja deh. Aku nanti nebeng Wanda," sangkal Tiara.
"Nggak. Aku nggak izinin," bantah Rama tegas.
"Ini tugas penting loh, Bang," ucap Tiara ngeyel sambil duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku nggak izinin kamu sama Wanda. Aku yang akan mengantarmu. Kalau perlu, Wanda juga ikut sekalian saja. Aku pun remuk sekujur badan. Biar nanti Bayu yang membawa mobil," sahut Rama.
"Nah. Seperti itu boleh juga deh. Yang penting enak lah," jawab Tiara tersenyum sekenanya.
"Mau yang enak lagi?" goda Rama dengan tatapan genit.
"Heee... Niat bikin prahara ini Om-Om. Mending aku mandi aja," seloroh Tiara membuat Rama terkikik lirih.
Saat baru beranjak dari kasur, Tiara masih menggulung diri di dalam selimut. Baru satu langkah berjalan, ia nyengir dan menunduk seperti sedang menahan sakit. Rama segera bangun dan memegangi pundak Tiara dengan cemas.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rama.
"Perih, nyeri, sakit. Susah buat jalan, Bang," jawab Tiara meringis.
"Apanya? Udah istirahat dulu," titah Rama tegas.
"Yang perih itu ladangku yang tadi malam kamu obrak-abrik," sahut Tiara melirik genit.
"Jangan melirik seperti itu. Atau mau kugarap lagi pagi ini," ucap Rama menahan diri.
"Janganlah. Bagaimana aku sampai kamar mandi kalau jalan aja rasanya perih begini," gerutu Tiara.
Tanpa ba-bi-bu, Rama melepas selimut di tubuh Tiara hingga Tiara sempat menjerit kecil.
"Aku udah melihat semuanya. Aku udah mencicipi setiap bagian tubuhmu. Percuma saja kamu tutupi," cetus Rama membuat Tiara mencibir.
Kemudian, Rama menggendong Tiara dan meletakannya di bathup yang sengaja sudah diisi dengan air hangat untuk mandi Tiara.
"Mau kubantu mandi?" rayu Rama nakal membuat Tiara mendelik kesal.
"Makasih, Bang. Nggak usah repot-repot. Aku bisa sendiri. Aku anak mandiri," tolak Tiara mentah.
"Nggak repot kok. Paling jadi lebih sibuk aja," goda Rama semakin membuat Tiara bersungut-sungut.
"Udah sana Abang pergi saja!" usir Tiara sambil mencipratkan air ke wajah Rama.
"Yakin bisa sendiri?" goda Rama semakin gemas melihat istrinya kesal.
"Berisik, Abang. Udah pergi!" teriak Tiara galak.
Rama pun keluar dari kamar mandi dengan senyum yang begitu puas. Ia masih terbayang kejadian selamam yang membuatnya serasa terbang di awang-awang. Tak menyangka jika sudah mendapatkan Tiara seutuhnya. Saat Rama baru mau memakai baju, tiba-tiba ia terkejut dengan teriakan Tiara.
"Aw. Sakit!"
Rama langsung berlari ke depan pintu kamar mandi karena takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Ada apa, Ra? Kamu jatuh?" tanya Rama khawatir.
"Nggak, Bang. Aku cuma pengen pipis, tapi perih banget," jawab Tiara.
"Oh. Iya udah. Sabar dulu. Besok normal lagi insyaallah. Namanya aja buka kelambu," ucap Rama menenangkan.
"Hisss" desis Tiara.
__ADS_1